
Mr. LG mengajak keluarga inti Guatalla dan keluarga Icha untuk berkumpul di ruang tamu. Tidak banyak yang dipanggil kakek, cukup orangtua kandung Marco, orangtua kandung Icha, kakek serta Marco dan Icha sendiri, sang calon pengantin.
"Minggu depan kalian akan menikah. Karena itu, Marissa akan tetap tinggal di sini, mempersiapkan diri dan istrahat yang cukup. Sedangkan Marco kembali ke Jakarta, selesaikan pekerjaan kamu dalam satu dua hari ini, lalu persiapkan diri dan juga istrahat yang cukup," Pungkas kakek mengultimatum. Icha mengangguk setuju, tetapi tentu saja tidak dengan Marco. Ia menggeleng keras tanda tak setuju dengan pernyataan kakek.
"Kok gitu sih, kek? Apa salahnya Marissa ke Jakarta? Lagian dia kan harus bekerja juga." Protes Marco lantang. Semua yang berkumpul tersenyum geli, kecuali mama Sania. "Ayolah, kek." pinta Marco memelas. Membayangkan berpisah saja, ia tak sanggup. Apalagi harus berpisah sungguhan.
Kakek mengetahui perasaan cucunya karena harus berpisah dengan Icha. Sebenarnya, ia juga tidak tega memisahkan mereka, tetapi menurut kakek, sebaiknya Icha tetap tinggal dengan orangtuanya sampai hari-H nanti, agar gadis itu bisa istirahat dan mempersiapkan diri tanpa gangguan anak nakal ituπ
"Marissa akan tetap di sini, Marco." Tegas kakek. "Apa kamu tega membiarkan Marissa terus bekerja, sedangkan ia harus mempersiapkan diri menjelang pernikahan kalian?" Lanjut kakek.
Marco membenarkan ucapan kakek, tetapi selama seminggu tidak bertemu, tidak memeluk gadisnya, apa ia akan sanggup? Oh, my God... Marco mengusap wajahnya kasar.
"Sabar, bro'... nanti juga tiap hari elu bisa meluk dia." Mario, si sepupu, berbisik menggodanya. Ia tertawa geli melihat wajah kesal Marco.
"Bisa kan, Marissa?" Tanya kakek meminta persetujuan Marissa. Dan tentu saja gadis itu mengangguk setuju. Sebelum menikah dan meninggalkan papa Rendra dan mama Tanti, ia ingin tinggal dan menghabiskan waktu bersama kedua orangtuanya.
"Iya, kakek... Marissa akan tinggal dan mempersiapkan diri di sini." Ucap Icha lembut.
Melihat Icha mengangguk setuju, Marco mendelik tak suka. Ia menatap Icha kesal. Icha yang menyadari arti tatapan calon suaminya, tertawa mengejek Marco.
"Kamu dengar itu? Marissa saja paham apa maksud kakek." Ditambah lagi si kakek meledek dirinya, maka lengkaplah penderitaan Marco. Ia menarik napas kesal karena tidak mempunyai dalil untuk protes. Ia harus menerima dan merasakan satu minggu hari-harinya akan tanpa Icha.
"Pak Rendra dan Ibu Tanti... ada yang mau dibicarakan? Silahkan!" Tandas kakek melihat orangtua Icha yang terdiam dan hanya menyimak.
"Tidak ada, tuan... Kami hanya mau berterimakasih karena mr. LG sudah mempersiapkan semua dengan baik." Ungkapan tulus dari calon mertua Marco. "Kami jadi tidak enak hati, sebenarnya. Karena, semua sudah ditangani keluarga Guatalla. Kami hanya terima bersih saja." Lanjut pak Rendra menunduk malu. Icha melihat papanya, ia menggenggam tangan laki-laki paruh baya itu untuk menguatkan.
"Marissa akan menjadi bagian keluarga kami. Bahkan, saya sudah menganggap ia sebagai keluarga saya semenjak ia masuk dalam kehidupan Marco. Ia akan menjadi cucu saya juga. Karena itu, selagi saya hidup, saya yang harus bertanggungjawab atas pernikahan mereka." Tegas kakek. Semua mata dan telinga hanya fokus pada kakek. "Bukannya saya tidak menghargai pak Rendra dan ibu Tanti sebagai orangtua Marissa. Tetapi, justru ini sebagai tanda terimakasih saya karena sudah mengijinkan cucu saya menikahi putri kalian, sebagai tanda terimakasih saya karena kalian sudah menghadirkan seorang perempuan luar biasa untuk menemani cucu saya di sepanjang hidupnya nanti." Kata-kata kakek membuat semua yang mendengar terpana. Ibu Tanti menangis dan memeluk Icha dengan terisak. Ia tidak menyangka, pengusaha kaya raya itu memiliki hati yang sangat mulia. Kakek tua itu sangat paham bagaimana cara menghormati dan menghargai seorang perempuan.
"Saya, orang pertama yang akan menghukum dan mengutuk Marco, jika suatu saat ia mengecewakan Marissa." Ancam kakek tegas. "Tetapi, saya juga yang menjamin 1000% bahwa Marco tidak akan pernah mengkhianati cintanya." Lanjut kakek tersenyum dan menoleh ke arah Marco. "Saya dan Marco adalah laki-laki sejati yang mencintai pasangan kami sampai maut yang memisahkan," Ucap Kakek bangga dan terus lantang bersuara. Ia kembali teringat mendiang istrinya yang sudah terlebih dahulu dipanggil Yang Maha Kuasa.
Semua keluarga yang mendengar, serentak menganggukkan kepala. Mereka adalah saksi hidup bagaimana kakek dan nenek Marco hidup dengan penuh cinta kasih, sampai maut yang memisahkan mereka. Adam dan Jerry, kedua anak kandung kakek adalah orang yang melihat, menyaksikan dan merasakan bagaimana ketampanan dan kesuksesan ayah mereka dengan harta melimpah dan sangat terpandang saat itu digilai banyak perempuan, tetapi tidak ada satu pun dari perempuan-perempuan penggoda itu yang berhasil memalingkan cinta kakek pada nenek.
__ADS_1
"Saya juga orang pertama yang akan menghancurkan siapa saja yang berani menganggu rumah tangga mereka." Mama Sania dan papa Adam tersentak kaget mendengar ancaman kakek. Mereka menyadari bahwa ucapan kakek itu sengaja menyindir mereka.
Kakek terdiam sejenak. Ia menunduk dalam.
"Umurku mungkin tidak akan lama lagi. Namun, dengan melihat kebahagiaan Marco, aku sudah rela jika Tuhan mau memanggilku." Tiba-tiba kakek menjadi sendu. Marco yang mendengar ucapan kakek langsung merangkul bahu kakek.
"Tetapi, aku tidak ragu lagi untuk pergi jauh. Karena, semua tentang kebaikan dan keburukan hidup sudah aku ajarkan bahkan menerapkan dalam hidup Marco. Karena itu, aku berharap apa yang sudah aku ajarkan pada Marco bisa menjadi contoh untuk Mario dan Maria." Ada sebuah harapan dalam kalimat yang dilontarkan kakek.
Mario dan Maria, sepupu Marco, menggangguk patuh. Selama ini, mereka tidak terlalu dekat dengan kakek karena merasa ajaran kakek terlalu kolot. Tidak pas dengan kehidupan anak muda jaman sekarang. Sampai akhirnya mereka menyesal karena selalu saja terpuruk dan kalah bersaing dengan Marco.
Melihat semua orang dalam ruangan itu menangis, kakek langsung tertawa terbahak-bahak. Ia berusaha mencairkan suasana.
"Kenapa kalian menangis?" Tanya kakek melihat ke semua mata. "Tenang saja, aku belum mati. Aku masih mau melihat cicitku lahir. Maka dari itu, Marco dan Marissa, kalian harus segera memberiku cicit yang banyak." Semua pun ikut tersenyum bahagia. Marissa tertunduk malu, apalagi Marco menggodanya dengan mengedipkan sebelah mata.
"Ayo, kita bersenang-senang. Besok kita akan berpisah sementara waktu." Kakek bangun dari duduknya menuju meja jamuan yang sudah tersedia dengan banyak menu makanan. Semua pun larut dalam kebahagiaan malam ini.
"Aku heran... kenapa ayah begitu menyukai perempuan itu sampai-sampai mau membiayai seluruh acara pinangan dan nikahan." Sania berbisik ke telinga Adam. Dari tadi ia hanya bisa terdiam menyaksikan apa yang terjadi. "Bisa melonjak nanti. Belum jadi istri aja udah belagak, gimana kalo dia jadi istri anak kita, dad." Ia masih berusaha menghasut suaminya.
"Kita liat aja nanti setelah ayah nggak ada." Sanggah Sania dengan kesal.
"Kamu kira Marco akan membiarkan kamu menyentuh istrinya? Kamu tidak mendengar apa kata ayah tadi? Ayah dan Marco itu satu jiwa dan satu pemikiran. Mereka tidak akan segan membasmi semua bentuk hama yang mengganggu kebahagiaan istri mereka." Adam masih terus menyadarkan istrinya untuk tidak bertindak terlalu jauh, karena itu akan membuatnya menyesal seumur hidup.
Sania mendelik kesal pada Adam. Ia mengira Adam akan mendukung niatnya untuk menolak Marissa, si gadis miskin itu untuk masuk dalam keluarga Guatalla. Tetapi, ternyata nyali Adam menciut juga saat mendengar ancaman kakek tadi.
Di lain pihak.... Icha yang sedang asyik menikmati kue talam bersama Wulan dan Arin tersentak kaget saat tangannya ditarik menjauh oleh seseorang.
Marco menarik tangan Icha dan mengajaknya ke taman bunga milik mama Tanti di belakang rumah. Ia sengaja menghindari banyak orang.
"Kayaknya kamu senang banget berpisah denganku?" Tuduh Marco sesampainya di tempat sepi. Icha melipat kedua tangan di dada dan tersenyum menggoda calon suaminya.
"Hanya seminggu, sayang... " Sahut Icha santai.
__ADS_1
"Seminggu? Hanya kamu bilang?" Sergah Marco kesal. Icha mengangguk sengaja tidak memahami apa kata Marco. "Ck... jangan-jangan kamu emang nggak cinta sama aku, makanya menganggap enteng seminggu itu." Umpat Marco makin jengkel.
Icha yang sudah tidak bisa menahan tawanya langsung pecah tertawa. Ia segera melingkarkan tangannya di pinggang Marco sebelum laki-laki itu bertambah emosi.
"Kalo aku nggak cinta, aku bakal nolak kamu tadi." Jawab Icha tenang. "Kira-kira tadi kalo aku nolak kamu, gimana ya?" Icha sengaja memutar bola matanya seakan sedang memikirkan jawaban dari pertanyaannya sendiri.
Kali ini Marco tidak membiarkan gadis itu terus meledeknya. Dil*m*tnya bibir Icha tanpa ampun. Gadis itu sedikit kaget tapi langsung tertawa sesaat. Ia pasrah menerima l*m*t*n Marco.
"Sudah aku bilang tidak ada penolakan. Aku akan memaksamu untuk menikah." Desisnya geram pada Icha setelah menjauhkan bibirnya. Lagi-lagi gadis itu tertawa. Ia sepertinya sangat menikmati kekesalan Marco malam ini.
"Katanya mau nikahin Yumiko... dia udah lama lho tergila-gila sama aku." Ledek Icha mengulangi kata-kata Marco tempo hari. "Valencia aja deh... dia kan seksi." Lanjutnya lagi masih meledek Marco. "Ternyata, ditinggal seminggu aja udah cengeng." Godaan Icha berhasil membuat Marco tersenyum.
Ia langsung menarik Icha jatuh dalam dekapannya. Dikecup kening dan kepala Icha berulang kali.
"Iya, aku nyerah, sayang... aku ngaku kalah. Aku nggak kuat harus pisah selama seminggu." Lirihnya sendu. Icha melingkatkan tangannya erat pada pinggang Marco, mengelus lembut punggung lelakinya.
"Kamu pikir aku nggak bakalan kangen?" Ujar Icha bertanya. "Aku juga pasti kangen kamu, sayang. Tapi, ijinkan aku seminggu ini bersama papa dan mama, sebelum aku meninggalkan mereka dan menghabiskan sisa hidupku bersama kamu." Ucapan Icha membuat Marco merasa sangat egois. Ia lupa bahwa Icha mempunyai keluarga yang menyayanginya juga.
"Maaf... maafkan aku.Aku terlalu egois, sayang." Sesal Marco. Ia mengecup kepala Icha penuh penyesalan.
Icha mengangkat kepala dan melemparkan senyuman manis pada Marco. Pria tampan itu mengusap lembut bibir Icha.
"Seminggu aku akan kehilangan vitaminku ini..." Icha langsung tertawa dan menyubit perut Marco.
"Enak aja... emangnya bibir aku vitamin C." Rajuk Icha. Mereka terus menyalurkan kasih sayang antara mereka.
Tanpa mereka sadari, kakek sedang menatap dua sejoli itu dari jauh.
"Rasanya aku ingin hidup 100 tahun lagi menikmati indahnya cinta bersamamu, sayang.... " Ucap kakek merasakan sentuhan tangan nenek di sampingnya.
πππ Kakeknya lagi menghayal ya, gaeeezzz... π
__ADS_1