Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Kamu pikir aku tempat percetakan...


__ADS_3

Kehidupan rumah tangga Icha dan Marco berjalan semakin harmonis. Baby Leon yang semakin lincah di usianya yang ke dua tahun membuat hari-hari mereka semakin berwarna. Namun sudah dua hari ini baby Leon rewel karena sang pengasuh, Rossa, sedang kembali ke kampung halaman karena harus mengurus pernikahannya dengan pemuda kampung yang dijodohkan orangtua mereka. Kedekatan Rossa dan baby Leon memang sudah membuat batita itu merasa nyaman dan tak mau dilepas.


"Nanti kita ke kampungnya bi Rossa, ya. Leon jangan nangis lagi dong." Sudah hampir sejam Icha membujuk putra mungilnya untuk berhenti menangis.


"Leon mau bibi Osa, mam..." Rengek anak kecil itu.


"Iya, sayang... nanti kita ke tempatnya bi Osa, ya. Kita bawa hadiah buat bibi." Mendengar kata hadiah babay Leon mulai terdiam


"Hadiah apa, mam?" Tanya Leon polos.


"Leon maunya apa?" Icha balik bertanya. Perasaannya sedikit lega karena baby Leon sudah mulai mau diajak bicara.


"Mobil remote." Jawab bayi itu riang. Icha langsung tertawa lucu.


"Kok mobil remote? Itu kan mainan anak laki-laki. Bibi Rossa kan perempuan, tidak bisa bermain mobil-mobilan dong." Jelas Icha lembut.


Terlihat Leon terdiam sambil berpikir. Icha pun langsung memcium anaknya dengan gemas.


"Kamu tuh gemasin banget sih." Dengan gemas Icha mencium pipi montok Leon. "Ya udah... mama bikinin susu, ya. Udah waktunya Leon bobo siang." Icha mengangkat tubuh mungil itu dan diletakkan di atas tempt tidur. "Leon tunggu di sini, mama mau buatin susu. Okey?" Ucap Icha sambil mengangkat telapak tangan tepat di depan Leon. Dengan riang anak laki-laki itu memukul pelan telapak tangan Icha dengan telapak tangannya sendiri.


Kamar Leon sudah dilengkapi mini bar untuk meletakkan segala susu dan minuman kesehatannya. Tentu saja itu semua dipersiapkan oleh Marco, ayahnya. Karena itu Icha tidak perlu lagi ke dapur hanya untuk sekedar membuat minuman untuk Leon. Ia pun bisa mengontrol pergerakan Leon sambil membuat susu.


"Anak mama udah ngantuk, ya...." Tanpa menunggu lama Leon segera menerima botol susu dan menikmatinya sambil berbaring lalu terlelap tanpa suara. Icha tersenyum bahagia melihat perkembangan putranya ini. Makin lincah dan rajin bertanya tentang apa saja yang ada di sekitarnya. Tiba-tiba Icha teringat Rossa, gadis muda yang sudah hampir 5 tahun bekerja mengurus rumah tangga di mansion ini.


"Coba aku telepon dia deh." Ucap Icha seorang diri. Ia mengambil telepon genggam lalu mengontak nomor Rossa.


"Walaikumsallam..... Ros..." Icha membalas setelah terdengar suara menyapa dari seberang. "Kamu gimana kabar?" Tanya Icha ramah.


"Alhamdulillah, nyonya... saya sehat. Nyonya baik-baik aja kan?" Rossa balik bertanya.


"Alhamdulillah... baik. Hanya saja si baby Leon nyari'in kamu terus. Rewel sepanjang hari ini." Beber Icha. Terdengar tawa kecil di seberang telepon.


"Mungkin karena aku juga kangen baby Leon, nya... makanya dia rewel." Sahut Rossa sedih.


"Ya sudah... kamu jaga kesehatan, ya. Supaya tetap fit sampai hari H nanti." Pungkas Icha menasehati.


"Tapi nanti nyonya dan baby Leon datang, kan?" Tanya Rossa berharap mendapatkan jawaban yang sesuai keinginannya.


"Pasti dong. Pasti kita datang." Sahut Icha dan disambut sorakan kecil dari Rossa. "Oya, hampir lupa... Siang ini papanya Leon mengirimkan semua keperluan pesta kamu, dari kostum sampai dekorasi." Sambung Icha.


"Alhamdulillah... makasih banyak, nyonya. Maaf, merepotkan." Rossa jadi malu diperlakukan layaknya keluarga oleh majikan sendiri.


"Sama-sama... nggak perlu sungkan. Kamu juga keluarga kami, jadi kami wajib membantu semua kebutuhan kamu." Tanpa Icha ketahui, Rossa meneteskan air mata bahagia di sana. Ia tak menyangka, begitu baiknya Sang Khalik mempertemukannya dengan orang-orang baik. "Ya, sudah... kamu istrahat, ya. Aku mau masak makan siang untuk dibawa di perusahaan." Setelah mengucapkan salam, Icha menghentikan pembicaraan dan langsung menuju ke dapur. Mumpung si mungil lagi tidur, Icha tak mau membuang kesempatan untuk segera memasak makan siang Marco.


"Nyonya..." Sapa Hartini ketika melihat Icha muncul di dapur. Icha membalas sapaan itu dengan senyum ramah.


"Bibi udah masak untuk makan siang?" Tanya Icha.


"Udah, nyonya..." Jawab Hartini sopan. Namun, Icha bisa melihat ada segurat sedih di wajah wanita parih baya itu.


"Ada apa, bi? Kok murung?" Tanya Icha penasaran.

__ADS_1


"Bibi hanya teringat Rossa, nya... udan biasa bareng dia tiba-tiba dia nggak ada, rasanya seperti kehilangan sekali." Lirih Hartini sendu. Icha tertawa kecil mendengar penuturan Hartini.


"Ih... Si bibi. Aku pikir ada masalah berat apa sampai bibi nggak ada semangat begitu. Ternyata masalah kangen si Rossa toh." Goda Icha pada asisten rumah tangganya. "Jangan sedih, bi... justru bibi harus doain dia, supaya dia tetap sehat sampai hari H dan rumah tangganya diridhoi Allah." Nasehat Icha dengan lembut. Memang, tak ada jarak antara majikan dan bawahan di mansion semewah ini. Itu semua karena sikap Icha yang tidak pernah merasa menjadi majikan dan selalu berbaur dengan semua asisten rumah tangga.


"Tapi kan bibi jadi nggak ada teman, nyonya... apalagi kalau Rossa nggak balik lagi ke sini." Rengek Hartini sedih. Icha pun tertawa lucu melihat ekspresi perempuan itu.


"Tenang aja... Rossa akan balik lagi ke sini." Pungkas Icha sambil tangannya memotong daging seekor ayam dengan lincah.


"Hah? Nyonya serius?" Hartini masih tak percaya. Icha mengangguk cepat sambil melemparkan senyum manis untuk meyakinkan Hartini.


"Serius, bi... Rossa akan tetap bekerja di sini. Bahkan suaminya juga akan tinggal di sini." Tutur Icha sambil terus melanjutkan acara masak memasak. "Tuan meminta suami Rossa menjadi sopir di sini, biar mereka tidak hidup terpisah." Jelas Icha. Hartini tersenyum senang.


Mereka terus bercerita sambil memasak. Hingga menjelang pukul 12, Icha pamit ke kantor Marco membawa bekal makan siang suaminya. Tak lupa juga baby Leon yang sudah bisa berjalan sendiri berada di samping Icha.


"Ayo, nak... kita ke kantor papa." Dengan semangat batita itu berjalan sambil memegang tangan Icha menuju bagasi.


"Silahkan, bu." Icha segera masuk dalam mobil ketika dipersilahkan sopir pribadinya. Baby Leon juga sudah duduk manis di samping ibunya.


"Kita mau ketemu papa.... holeeeeee." Teriak Leon heboh sendiri dalam mobil. Ia terlalu aktif di usianya yang baru menginjak dua tahun.


Perjalanan memakan waktu hanya 35 menit. Icha segera masuk dalam lobi dan langsung disambut sekuriti dan beberapa staf.


"Hai, boy...." Terdengar suara laki-laki memanggil Leon.


"Uncle Leimoooon..." Dengan langkah yang masih terseok-seok, Leon melepaskan pegangan Icha dan berlari ke arah Raymond.


"Pelan-pelan, Leon...." Teriak Icha kuatir.


Hup!


"Jagoan Om Raymond mau ketemu papa, ya?" Tanya Raymond lembut.


"Iya, Leon mau ketemu papa. Leon mau antal makan siang papa." Jawab Leon semangat membuat Raymond tertawa gemas.


"Ayo, om antar ke ruangan papa." Leon mengangguk senang.


"Ayo, cha..." Ajak Raymond dan langsung masuk ke dalam lift diikuti Icha.


"Aku pikir kamu lupa kalau ada aku di sini." Sungut Icha kesal melihat Raymond hanya menyambut Leon dan terkesan cuek pada Icha.


"hahahahaha.... maaf, maaf... kamu tau sendiri kan kalau sudah ada si montok ini, aku bisa lupa segalanya." Sahut Raymond lucu melihat wajah kesal Icha. Ia mencium perut Leon berulang kali sampai bocah imut tertawa terpingkal-pingkal karena kegelian.


Lift terbuka. Raymond melangkah keluar, begitu juga Icha. Seorang sekuriti yang khusus bertugas di lantai dua puluh lima di mana ruangan CEO berada, menyambut kedatangan istri pemilik perusahaan elit ini.


"Selamat datang, nyonya... mari, silahkan." Dengan menunduk hormat, ia memberi jalan pada Icha.


"Makasih, pak QOdir. Ini makan siang buat bapak. Saya yang masak sendiri." Icha memberikan sebuah tempat makan dua susun pada sekuriti itu.


"Aduh, nyonya... jangan repot-repot. Nanti saya cari makan sendiri aja." Tolak psk Qodir merasa tak enak hati menerima kebaikan nyonya muda ini.


"Nggak baik menolak rejeki, pak... ambil ini dan bapak boleh istrahat untuk makan. Saya nggak terima alasan apapun." Tegas Icha tetapi masih terdengar kelembutan suaranya. Dengan malu hati, pak Qodir menerima kotak makanan itu.

__ADS_1


"Saya ke ruangan CEO dulu, ya. Selamat makan." Icha melangkah menuju ruangan pimpinan setelah mendapat anggukan hormat dari sekuriti tadi.


"Ya Allah.... terimakasih untuk orang baik ini. Berikanlah ia umur panjang dan kebahagiaan selalu ya, Allah..." Gumam Qodir sambil menatap Icha yang sedang melangkah ke depan.


"Selamat siang..." Suara Icha membuat Marco yang sedang bersenda gurau dengan putranya terdiam lalu melemparkan senyum manis untuk perempuan cantik ini.


"Siang, sayang..." Sahut Marco. Ia berjalan mendekati Icha dan mengecup bibir mungil sang istri sambil menggendong Leon. "Kok baru masuk?" Tanya Marco.


"Masih ngobrol sama pak Qodir. Aku juga membawa makan siang untuknya, tapi dia nolak. Ya, udah... aku paksa aja." Celetuk Icha membuat Marco tersenyum bahagia. Ia sudah tak heran dengan sifat Icha yang suka berbagi dengan orang-orang kecil. Bahkan di dalam mobil pribadi mereka terdapat banyak sekali makanan ringan yang sengaja disiapkan untuk anak-anak jalanan. Dalam dompetnya juga selalu tersedia jutaan uang cash untuk diberikan kepada orang-orang tua di pinggir jalan. Marco tak pernah mempermasalahkan hal itu, justru ia mendukung istrinya dalan berbuat kebajikan.


"Wulan sama Raymond ke mana, sayang? Kok aku nggak lihat mereka di depan." Tanya Icha. Ia hanya merasa heran karena tadi Raymond yang menjemputnya dan baby Leon di lobi, tapi sekarang ia sudah terlihat lagi.


"Raymond lagi memeriksa laporan yang dibuat Wulan di ruangannya." Sahut Marco. Ia hanya manggut-manggut mengerti sambil menyiapkan makan siang mereka.


"Ayo makan, sayang..." Ajak Icha. Mereka pun menikmati makan siang bersama sambil memantau baby Leon yang sedang asyik sendiri dengan mainan-mainan yang disiapkan Marco.


"Sayang.... Wulan Raymong gimana hubungan mereka?" Tanya Icha di sela makan siang mereka.


"Gara-gara sibuk dengan urusan Rama dan Valencia sampai aku lupa mengatur hubungan mereka." beber Marco. Ia terus menikmati makan siang buatan istrinya. "Setelah urusan Rossa, aku akan mengurus pernikahan mereka." Lanjutnya serius.


"Aneh ya, sayang... mereka yang kedapatan tidur berduaan, malah Rama dan valencia yang lebih dulu nikah..." Tandas Icha dengan tertawa lucu.


"Ya mau gimana lagi... Rama yang lebih dahulu menghasilkan anak..." Sahut Marco sekenanya. Mereka tertawa bersama dan terus melanjutkan makan siang hingga Icha kembali membereskan piring kotor bekas makan.


Baby Leon yang sudah capek bermain sudah tertidur pulas di kamar pribadi Marco setelah Icha memindahkan dari karpet berbulu halus tempat bermainnya ke atas tempat tidur.


Hup!


Tangan Marco melingkar manis di pinggang istrinya. Dan seperti biasa, ceruk leher Icha akan selalu menjadi sasaran empuk untuk dicium Marco.


"Baby Leon udah dua tahun, yang..." Bisik Marco pelan.


"Terus?" Tanya Icha tak mengerti.


"Sudah saatnya ia mempunyai teman bermain. Kasian setiap hari dia bermain sendiri." Kelit Marco. Icha yang sudah paham maksud pembicaraan langsung tersenyum.


"Terus??" Tanya Icha lagi.


"Kita harus mencetak adik untuknya." Goda Marco. Icha mencubit pelan tangan Marco yang masih asyik melingkar di pinggangnya.


"Kamu pikir aku tempat percetakan yang bisa mencetak anak." Protes Icha pura-pura kesal. Marco tertawa pelan.


"Gimana? Kita udah bisa mencetak anak sekarang?" Tak peduli dengan omelan Icha, Marco mendorong pelan tubuh mungil itu hingga tertidur di atas karpet cantik berbulu halus.


"Awas baby Leon terbangun, yaaang...." Sungut Icha menolak dada Marco yang sudah mulai melakukan aksinya.


"Sssst.... makanya kamu jangan berisik. Mendesahnya pelan aja." Icha memukul gemas dada Marco yang terus menggodanya.


Kalau sudah begini Icha hanya bisa pasrah. Keinginan Marco yang paling tidak bisa ditolaknya, ya ini... Walaupun ia harus menahan diri untuk tidak mendesah karena takut mengganggu tidur dari anak mereka.


"Sayaaaaaaang...." Marco tertidur lemas setelah berhasil mencetak beberapa gol ke gawang istrinya. 🙈🙈🙈

__ADS_1


__ADS_2