Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Curhatan Leon.


__ADS_3

Seminggu sudah Leon sengaja tidak mencari tahu tentang Ayu. Ia ingin menata hatinya terlebih dahulu. Agar ia tahu apa yang sebenarnya terjadi pada hati dan perasaannya.


Namun sepertinya ia harus mengakui jika ia bukan saja penasaran namun hatinya pun sudah jatuh pada gadis manis itu. Entah dari mana awalnya, yang pasti selama seminggu ini semua pekerjaannya sedikit berantakan, ia pun kehilangan fokus hingga semua pekerjaan ditangani Rayhan.


"Sayang... di mana Leon?" Tanya Marco pada Icha yang sedang menyiapkan makan malam bersama bibi Hartini.


"Mungkin di ruang kerjanya, pa. Kenapa?" Tanya Icha heran karena tak biasa Marco menanyakan Leon.


"Mau bicara soal pekerjaaan saja." Jawab Marco lalu mengecup pipi istrinya dan pergi begitu saja.


"hmmmm... udah tua juga tuan tetap romantis ya, nya." Goda Hartini yang tak bisa menahan tawa melihat Icha mendelikkan mata pada Marco karena mencium pipinya di depan Hartini.


"Tua-tua keladi, bi. Tidak ada rasa malunya sama sekali." Omel Icha. Hartini tertawa lebar.


"Ngapain malu, nya. Memangnya bibi orang baru di sini? Dari dulu juga bibi udah sering lihat nyonya dicium tuan." Seloroh bibi. "Justru bibi senang karena bibi bisa menjadi saksi cinta suci tuan dan nyonya." Lanjutnya bangga. Mendengar pujian Haritini, Icha tertawa senang.


Memang sudah menjadi kebiasaan dari awal mereka menikah, Marco selalu menunjukkan rasa sayang pada Icha dengan mengecup pipi atau pun kening Icha. Dan ia tidak malu lakukan itu di depan banyak orang.


Icha terus sibuk menyiapkan makan malam bersama dua asisten rumah tangganya, sedangkan Marco sedang mengajak Leon, putranya berbicara.


"Bagaimana pekerjaanmu?" Tanya Marco yang ikut berdiri di balkon ruang kerja Leon.


Mendengar pertanyaan Marco, Leon menunduk. Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana yang dipakainya. Ia menyadari, akhir-akhir ini banyak pekerjaan yang diselesaikan oleh Rayhan.


Tak mendapat jawaban dari Leon, Marco berdiri menghadap putranya itu.


"Ada apa?" Tanya Marco lembut. "Ada masalah dengan hatimu?" Tebak Marco seakan mengerti apa sedang dirasakan Leon. Ia tertawa pelan melihat wajah Leon yang sedikit salah tingkah.


"Papa juga pernah merasakan apa yang kamu rasakan. Banyak melamun, tidak fokus pada pekerjaan, malas melakukan apa-apa." Bebernya tentang masa lalu. "Dan kamu tau siapa yang sudah membuat papa seperti itu dulu?" Tanya Marco. Leon melihat wajah Marco seperti merasa tertarik ingin mendengar cerita selanjutnya.


Marco mendekatkan wajah ke telinga Leon hendak berbisik sesuatu.


"Mama kamu yang sudah membuat papa gila waktu itu." Bisik Marco pelan yang spontan saja membuat Leon tertawa lebar. Akhirnya ia paham jika papanya sedang menggodanya saat ini. Pengalaman masa lalu Marco membuat ia memahami apa yang sedang dialami putra kebanggaannya itu. "Karena memang kelemahan laki-laki seperti kita ini ya perempuan seperti mama kamu itu." Lanjutnya.


Marco senang akhirnya bisa melihat kembali senyum Leon yang hilang belakangan ini. Namun, begitulah cara Marco mendekati anak-anaknya. Kadang tanpa ia sadari, ia masih saja mempelakukan mereka seperti anak kecil.


"Siapa perempuan beruntung itu yang sudah membuat jagoan papa ini jadi uring-uringan begini?" Tanya Marco menggoda Leon.


Leon membuang pandangannya ke arah lain. Ia malu pada laki-laki yang disapa 'papa' ini. Tetapi, sepertinya ia tidak bisa menutupi hal ini dari beliau.


"Saran papa... kejar dia sampai dapat. Luluhkan hatinya dengan perjuanganmu. Percayalah... tidak ada perempuan yang bisa menolak pesonamu." Tukas Marco mendukung putranya. Itu juga salah satu strateginya untuk bisa mengajak Leon terbuka dan jujur. Dan benar saja. Leon pun terpancing dengan ucapan Marco.


"Tapi sepertinya dia berbeda, pa. Dia tidak tertarik dengan pesonaku." Lirih Leon kecewa.


"Oh ya? Kenapa kau mengambil kesimpulan begitu?" Tanya Marco Penasaran. Ia juga ingin tahu siapa perempuan yanga berani menolak anaknya ini.


"Sudah beberapa kali bertemu namun dia selalu menghindar. Dia seperti tidak sudi melihat wajahku." imbuh Leon sedih. "Dia akan langsung pergi menjauh ketika melihatku." Lanjutnya lagi.


"hahahahahaha...." Terdengar suara tawa Marco memenuhi ruangan kedap suara ini.

__ADS_1


"Ck... ayolah, pa!" Seru Leon kesal. Ia melangkah menuju sofa dan membanting diri dengan kasar. "Aku tau aku tidak sama seperti papa yang bisa mendapatkan mama dengan mudah." Kesal mendengar suara tawa sang papa, Leon pun protes dan marah.


"Hei... apa kau bilang? Mendapatkan mama dengan mudah?" Timpal Marco cepat. "Papa pun mendapatkan cinta mama dengan susah payah. Mama selalu menolak dengan cara menghindari papa seperti wanitamu itu." Sambungnya bersemangat. "Tapi papa tidak menyerah. Papa terus berjuang mendapatkan mama. Sampai akhirnya papa menyadari satu hal." Tandas Marco bercerita.


"Apa?" Penasaran juga Leon jadinya.


"Para wanita itu sengaja menghindar, padahal hatinya hanya untuk kita." Cetus Marco.


"Ck... tapi dia beda, pa." Keluh Leon. Marco memegang pundak Leon yang sedang duduk bersandar pada sofa dengan wajah lesu.


"Dengar... ada banyak faktor kenapa sampai seorang wanita menghindari laki-laki. Salah satu faktornya adalah dia ingin melihat perjuanganmu dalam mendapatkan hatinya. Namun, ada juga yang tidak ingin jatuh cinta lebih dalam lagi pada laki-laki itu karena menurutnya dia tidak pantas untuk laki-laki itu." Beber Marco. "Kamu bisa melihat dan menilai sendiri dari sikap wanita itu."


Leon menarik napas berat. Ia masih ragu untuk melangkah lebih jauh lagi.


"Siapa wanita itu?" Tanya Marco penasaran. Leon melihat ke arahnya. Tersirat ragu jikalau papanya akan marah atau tidak akan setuju jika ia menyebut nama Ayu.


"Dia bukan dari kalangan kita, pa. Dia wanita sederhana." Gumam Leon pelan.


"hahahahaha.... jangan melihat wanita dari hartanya. Kamu akan kecewa nanti. Lihatlah dari hatinya." Nasehat Marco. "Mama bukan dari kalangan kita, tapi kau bisa melihat dan rasakan sendiri kan. Cinta dan kasih sayang mama sangat kaya, tidak bisa dibandingkan dengan jumlah harta kita." Sambung Marco bijak.


Leon mengangguk setuju. Memang cinta dari sang mama tidak bisa dibandingkan dengan apapun di dunia ini.


"Papa tau dan kenal wanita itu." Imbuh Leon. Kali ini Marco mengerutkan kening.


"Kenal?" Ulang Marco sambil mengingat berapa banyak teman wanita Leon. "Tidak ada satu pun teman wanitamu yang papa kenal. Kau belum pernah mengenalkan seorang wanita pada papa." Protes Marco.


Leon tersenyum kecut.


"Lalu? Siapa wanita itu?" Desak Marco yang semakin penasaran.


Leon terdiam sesaat.


"Anaknya bibi Rossa..." Aku Leon.


Marco melongo tidak percaya. Gadis manis, lembut dan anggun sama seperti namanya itu sudah membuat putranya jatuh cinta.


"Ayu?" Marco tak percaya jika anak dari mantan asisten rumah tangganya yang dimaksud Leon.


"hahahahahaha...." Pecahlah tawa Marco karena tidak menyangka jika gadis sederhana itu mampu membuat Leon tidak berdaya.


"Ck... come on, pa. Aku tidak lagi bercanda." kesal Leon melihat Marco seakan mengejek dirinya.


"Pantas saja kalau kamu uring-uringan." Ejek Marco.


Leon menyandarkan kepala pada sandaran sofa dan menutup mata. Ia hanya menahan kesal pada laki-laki separuh baya ini.


"Dia anak yang baik. Kejar dia sampai dapat. Papa mendukungmu." Pungkas Marco membuat Leon segera membuka mata dan menatap Marco tak percaya.


"Papa tidak kecewa?" Tanyanya tak percaya.

__ADS_1


"Kenapa harus kecewa? Dia anak yang baik. Dari turunan orang baik pula." Sanggah Marco.


Senyum Leon seketika terbit di wajah tampannya. Ia memeluk Marco dengan bahagia.


"Terimakasih, pa." Ucapnya haru. Ia merasa beruntung terlahir dari seorang ayah yang hebat seperti Marco.


"Kejar dia sampai dapat." Pungkas Marco sambil menepuk pundak Leon untuk memberi semangat. "Bila perlu sedikit pakai kekerasan." Bisik Marco. Leon mengerutkan kening. "hahahahaha...." Lagi-lagi Marco tertawa melihat ekspresi Leon. "Bukan kekerasan dalam arti sebenarnya." Lanjut Marco. "Sudahlah... nanti juga kau akan tau bagaimana cara mendapatkan hatinya. Asalkan jangan menyerah." Timpal Marco memberi semangat.


Mendapat dukungan dari sang papa membuat jiwa Leon kembali hidup setelah beberapa hari ini terasa mati karena memikirkan gadis pujaan hatinya.


"Ayo... sudah waktunya makan malam. Mama pasti sebentar lagi akan memanggil kita." Ajak Marco.


Dengan semangat baru, Leon mengikuti langkah Marco keluar dari ruang kerjanya menuju ruang makan.


"Eh... baru saja mama mau panggil kalian untuk makan malam." Kata Icha ketika melihat dua laki-laki kesayangannya sudah tiba di ruang makan. "Ngobrol apa saja sih sampai lama begitu?" Tanya Icha ingin tahu.


"Urusan laki-laki, sayang." Jawab Marco lalu mengecup pipi Icha.


Leon tertawa pelan melihat tingkah sang papa. Namun justru ia bangga pada laki-laki tua itu yang selalu menunjukkan rasa sayang pada mamanya.


"Aku lihat, papaaaaa..." Protes Ninda yang baru turun dari tangga lantai dua.


"Cemburu?" Goda Marco. Ninda memasang wajah masam pada Marco.


Marco yang sudah duduk di kursi utama, terpaksa harus berdiri dan memeluk anak gadisnya itu dan mencium keningnya dengan lembut.


"Kalian semua kesayangan papa." Bisiknya sambil memeluk erat anaknya.


"Dasar manja." Ejek Leon.


"Yeee... kakak sirik." Balas Ninda lalu duduk di kursi yang biasa ia tempati.


Icha hanya tersenyum bahagia melihat kasih sayang antara mereka yang terus terjaga hingga usia perkawinan mereka hampir memasuki tahun ke tiga puluh.


"Dari rumah Ayu tadi, nak?" Tanya Icha di sela acara makan malam mereka.


"Iya, ma..." Sahut Ninda singkat.


Mendengar nama Ayu, Marco langsung melirik ke arah Leon yang sengaja tidak peduli pada percakapan Icha dan Ninda.


"Besok ajak Ayu ke sini, ya. Anak itu sudah lama sekali tidak ke sini. Mama kangen loh sama dia." Ujar Icha.


"Iya, ma... nanti dikasih tau." Imbuh Ninda. "Udah sering diajak, tapi dia selalu bilang lagi sibuk. Padahal kalau Ninda main ke rumahnya, tidak ada tuh pekerjaan berat yang membuatnya sibuk." Cibir Ninda.


"Semenjak kakak kamu datang dari Amerika, Ayu tidak pernah ke sini lagi." Marco sengaja menggoda Leon dengan menyindirnya. "Jangan-jangan Ayu takut sama wajah dingin kakakmu." Lanjutnya sambil melirik Leon. Yang dilirik berusaha bersikap santai dan terus menikmati makan malamnya. Ia tahu, papanya sedang iseng menggodanya.


"Kayaknya begitu deh, pa. Makanya Ayu tidak pernah ke sini lagi." Ninda pun ikut mencibir Leon.


Marco tersenyum lucu melihat ekspresi Leon antara malu dan kesal tapi tetap berusaha bersikap biasa.

__ADS_1


"Nanti besok Ninda ajak Ayu ke sini setelah kakak ke kantor deh." Pungkas Ninda. "Supaya tidak bertemu kakak." Lanjutnya sambil mengejek Leon.


Semua tertawa mendengar ocehan Ninda. Leon hanya tersenyum tipis hingga tak bisa dilihat oleh yang lain.


__ADS_2