
Di usia yang baru mau memasuki tujuh bulan, baby Leon semakin aktif dan cerdas. Beberapa kata sudah bisa diucapkan, bahkan bayi mungil itu sudah sangat paham perkataan orang-orang di sekitarnya. Rossa, sang art keluarga Guatalla dipercaya untuk menjaga baby Leon saat mamanya harus menemani sang papa ke luar kota atau menghadiri undangan jamuan makan malam bersama klien. Tak disangka, hubungan Rossa dan baby Leon sudah sangat dekat. Rossa benar-benar mengurus dan menyayangi baby Leon seperti anaknya sendiri.
Seperti malam ini, Marco harus menemui klien yang mengajaknya makan malam di sebuah restoran mewah. Marco tak pernah mau pergi sendiri jikalau mendapat undangan makan malam oleh klien atau siapa saja. Ia selalu mengajak Icha, sang istri tercinta, sekaligus memperkenalkan pada sesama pengusaha.
"Udah, sayang?" Tanya Marco yang baru saja selesai memasang dasi. Sedangkan Icha masih duduk manis di depan cermin besar meja riasnya.
"Udah..." Sahut Icha lembut sambil menaruh kuas wajah di atas meja. Dandanan sederhana yang selalu membuat Marco jatuh cinta setiap kali melihatnya.
"Kamu cantik banget..." Ujar Marco terpana melihat Icha memakai gaun sebatas lutut dengan dandanan sederhana, namun aura kecantikannya benar-benar terpancar. Marco selalu tidak bisa menahan diri jika melihat Icha seperti ini. Ia langsung merangkul pinggang Icha dan memberikan satu kecupan manis di bibirnya.
"Kenapa sih? Kayak baru lihat aja..." Wajah Icha memerah dan menunduk malu. Tatapan Marco selalu membuat hatinya bergetar kencang. Marco memegang dagu Icha dan mengarahkan ke matanya hingga mereka saling bertatapan.
"Kamu cantik." Puji Marco. Ia mengelus lembut pipi Icha. "Aku mencintaimu..." Lanjutnya mengungkapkan perasaannya. Walaupun sudah berkali-kali mendengar ucapan itu, namun ketulusan Marco dalam ungkapannya tidak pernah berubah. Dan Icha bisa merasakan ketulusan cinta suaminya.
Cup.
Dengan berjinjit, Icha membalas kecupan di bibir suaminya dan memberinya senyuman manis.
"Aku juga selalu mencintaimu, suamiku..." Lirih Icha lembut. Marco tersenyum mendengar suara manja istrinya.
"hmmm... kita nggak usah ketemu klien aja, ya? Aku pengen kamu." Bisik Marco ke telinga Icha membuat wanita cantik itu tertawa lucu. Ia mencubit pelan tangan Marco.
"Udah janjian, sayang... kasian klien kamu nunggu di sana." Balas Icha berbisik. "Ntar malam aja, ya..." Icha menyadari jika ******* suaranya semakin menyiksa Marco.
"Ck...." Marco mendesah kesal. Tak menunggu lama, ia menggendong Icha dan membawa ke tempat tidur.
"Sayaaaang... kamu mau ngapain?" Icha menjerit kaget merasakan tubuhnya sudah melayang ke udara. "Kita mau ketemu klien kamu, sayaaang." Seru Icha ketika merasakan tubuhnya sudah terjatuh di tempat tidur. Marco tak memperdulikan teriakan Icha, ia mengambil telepon seluler dan menelepon seseorang.
"Ray, kau temui tuan Han. Katakan aku tidak bisa memenuhi undangannya." Perintahnya pada Raymond. Terdengar napas Marco seperti tersengal membuat Raymond yang sudah menunggu selama satu jam pun terheran. Kakek yang sedang menemani Raymond di ruang keluarga ikut mengerutkan kening mendengar percakapan cucu dan asistennya
"Ada apa, tuan? Apa anda sakit?" Tanya Raymond kuatir. Kakek memberi kode pada Raymond menanyakan apa yang terjadi, namun Raymond hanya mengendikkan bahu menandakan tak paham ada apa sebenarnya.
"Ck... kau tidak perlu tau. Sekarang pergi temui tuan Han." Marco langsung memutuskan sambungan telepon. Ia membuka jas dan dasi yang sudah dipakai, lalu membuang begitu saja.
"Ada apa?" Tanya kakek penasaran.
"Tuan membatalkan pertemuan dengan klien. Padahal tadi tuan sudah bersiap. Entah apa yang terjadi." Sahut Raymond bingung. Spontan saja kakek tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"hahahahahahaha... kau harus segera menikah, Ray.. agar kau tau kenapa Marco bisa saja dengan tiba-tiba membatalkan janjinya." Ujar kakek di tengah tawa. "Wah... sepertinya aku akan mendapatkan seorang cucu lagi." Sambung kakek berbisik ke telinga Raymond. Awalnya ia yang bingung menjadi paham apa maksud ucapan kakek barusan.
Raymond menepuk jidatnya merasa heran dengan tingkah Marco sekaligus mengutuk kebodohannya karena tidak mengerti arti napas tersengal Marco tadi. Tak ingin membuang waktu, Raymond segera pamit pada kakek untuk pergi ke restoran tempat pertemuan klien perusahaan.
Kakek menuju meja makan untuk menikmati makan malam sendiri karena ia menyadari apa yang sudah 'terjadi' di kamar cucunya, sudah pasti mereka tak akan turun untuk ikut makan malam.
"Siapkan makan malam untuk Marco dan Marissa... mereka akan makan tengah malam nanti." Perintah kakek yang langsung dituruti oleh Hartini. Sedangkan Rossa sedang asyik bermain dengan baby Leon di kamar bayi mungil itu, mengira kedua orangtua baby Leon sedang keluar bertemu klien.
Apa yang terjadi di kamar suami istri itu...😛???
"Sayang... kamu harus temui tuan...hmmmmpt." Marco menutup mulut Icha dengan bibirnya. Icha yang tidak kuat melawan Marco hanya bisa pasrah. Kalau saja tadi ia tidak menggoda Marco pasti kejadiannya tak akan begini. Marco harus membatalkan pertemuannya dengan klien gara-gara tergoda dengan ******* Icha di telinganya. Nasi sudah menjadi bubur. Icha harus melayani suaminya yang sudah terkadung gairah. Gaun mahal yang dipakainya tadi sudah terbuang begitu saja di lantai.
Marco benar-benar membuat Icha kewalahan melayani kemauannya. Ia menjamah seluruh tubuh Icha dan memberikan sensasi yang luar biasa bagi tubuh Icha. Ya, ia paling tidak bisa menahan hasratnya ketika mendengar suara ******* Icha, meskipun Icha hanya sekedar menggoda saja.
"Sayaaaaang..." Icha mendesah panjang merasakan ada sesuatu yang keluar dari dalam tubuh dan membuatnya bergetar hebat. Hingga mereka meraih suatu puncak kenikmatan bersama.
Marco memeluk tubuh Icha dan mengecup lama keningnya. Ia mengambil selimut, menutupi tubuh mereka yang tanpa sehelai pakaian pun.
"Lapar, sayang..." Keluh Icha dalam dekapan Marco. Laki-laki itu tertawa kecil.
"Mandi dulu, lalu kita ke bawah untuk makan." Ujar Marco. Ia melirik ke arah jam dinding besar di sudut kamar, pukul 11 malam. Hampir 4 jam ia mengurung Icha dalam kenikmatan. Tersirat segurat senyum bahagia di bibirnya.
"Sayang... kalau aku hamil lagi, gimana?" Tanya Icha dengan wajah cemberut. Sebenarnya, ia masih kesal karena Marco membatalkan janji dengan salah satu kliennya gara-gara tidak bisa menahan hasrat dalam dirinya.
"Bagus dong... aku memang ingin memiliki banyak anak." Sahut Marco senang. Ia semakin mengeratkan pelukan di pinggang Icha yang sedang duduk membelakangi Marco. "Aku ingin memiliki 4 anak. Boleh?" Tanya Marco penuh harap. Icha yang awalnya kesal menjadi lucu sendiri dengan ucapan Marco. Lucu karena ia membayangkan bagaimana repotnya memiliki banyak anak namun menyenangkan.
"Iya, aku juga pengen banyak anak." Mereka tertawa bahagia bersama. Selesai membersihkan diri, Marco dan Icha bergandengan tangan menuruni tangga menuju dapur. Icha langsung sibuk menyiapkan makan malam mereka.
"Sayang... Bagaimana dengan Valencia?" Tanya Icha penasaran. Ia memanaskan semua lauk dalam oven listrik.
Mendengar pertanyaan Icha, Marco menarik napas dan membuangnya kasar.
"Aku hanya menunggu kejujurannya tentang kejadian di Malaysia." Sahut Marco serius. "Aku ingin kedua orangtuanya mengetahui hal yang sebenarnya dari mulut Valencia sendiri." Sambungnya menatap wajah Icha. "Selanjutnya aku akan memberitahu siapa ayah dari janinnya." Sambung Marco.
"Kasian calon bayinya, sayang..." Ujar Icha sedih. "Ia harus terlahir tanpa ayah." Tangannya terus bergerak mengambil piring. Marco berdiri di samping Icha sambil melipat tangan di dada. Ia bersandar pada meja tembok dapur.
"Kalau saja Valencia mengakui kesalahannya dan mau menerima Rama sebagai ayah dari bayi yang ia kandung, Rama pasti mau bertanggungjawab." Papar Marco mengingat percakapannya dengan Rama, anak buah Raymond yang menggantikan peran Marco saat kejadian malam panas di Malaysia.
__ADS_1
"Ia pemuda yang baik dan bertanggung jawab. Beban hidup yang membuat ia terpaksa menerima tawaran Ray menggantikan aku malam itu." Sambung Marco. "Asal Valencia bisa menerima keadaan Rama yang serba kekurangan, Rama pasti bertanggung jawab." Papar Marco meyakinkan Icha.
"Kamu harus membantu jelasin itu ke papanya Valencia." Pinta Icha.
"Pasti. Asal Valencia sudah mengakui yang sebenarnya." Sahut Marco yakin. "Aku tidak suka tante Riska datang dan menuduhku yang bukan-bukan. Itu artinya Valencia belum jujur tentang obat perangsang maupun obat tidur yang ia taruh dalam gelas minumku." Marco mulai terpancing emosi mengingat kejadian yang hampir saja membuat hubungan mereka berantakan. Icha memeluk erat suaminya. Ia pun tak bisa membayangkan jika malam itu Marco yang meniduri Valencia.
"Aku selalu berdoa saat kamu jauh dariku." Lirih Icha lembut. "Dan aku tau, Tuhan memihak pada cinta kita." Icha memberi senyuman manis pada Marco agar laki-laki itu kembali tenang dan tidak mengingat kejadian naas itu.
"Sekarang kamu harus bisa yakinkan om Christo dan tante Riska untuk menikahkan Valencia dan Rama sebelum bayi mereka lahir." Tutur Icha. Marco hanya mengangguk namun masih terlihat ragu.
"Aku akan usahakan tapi aku nggak Janji. Agak susah merubah karakter Valencia. Ia terlalu suka meremehkan orang. Apalagi pemuda miskin seperti Rama." Tukas Marco.
Bukan tanpa alasan Marco mengatakan hal itu. Enam tahun menjalin hubungan, sudah pasti Marco sangat hafal dengan karakter dan tabiat Valencia. Ia terlalu angkuh dan sombong dengan menganggap remeh semua orang yang berkekurangan. Enam tahun Marco selalu mengingatkannya namun nihil. Itu yang membuat Marco agak sangsi jika Valencia mau menerima Rama sebagai ayah dari bayi yang dikandungnya.
...----------------...
Berbeda dengan Marco yang sedang menikmati surganya dunia, Raymond terpaksa menemui tuan Han seorang diri. Ia harus mencari alasan yang tepat kenapa Marco mendadak tak bisa menemuinya.
"Selamat malam tuan." Sapa Raymond dengan mengulurkan tangan pada tuan Han yang ditemani seorang gadis muda nan cantik jelita.
"Tuan Ray... anda sendiri?" Tanya tuan Han jeran karena melihat Raymond datang seorang diri.
"Maaf... tuan Marco sedang ada acara keluarga. Beliau tidak akan bisa meninggalkan keluarga walaupun ada yang penting di perusahaan. Baginya, keluarga segala-galanya." Sahut Raymond datar. Itu hanya alasannya saja tetapi tidak ada yang salah dengan ucapan itu. Marco memang sangat mencintai keluarga kecilnya. Ia akan meninggalkan pekerjaan penting sekalipun jika Icha menginginkan sesuatu yang harus ia kerjakan. Walaupun, Icha juga seorang istri yang pengertian.
Terlihat wajah kecewa tuan Han, namun Raymond tak peduli. Tanpa disuruh, Raymond menarik satu kursi dan menaruh pantat di atasnya.
"Oya... ini siapa?" Tanya Ray menunjuk seorang gadis cantik yang nampak lesu mendengar Marco tak jadi datang.
"Perkenalkan, ini putri saya. Namanya Harumi." Gadis itu mengulurkan tangan menerima uluran tangan Raymond. "Ia baru belajar menjadi pengusaha. Saya selalu membawanya bertemu pengusaha-pengusaha hebat agar ia bisa belajar secara langsung." Lanjutnya. "Sayangnya, tuan Marco tak bisa datang malam ini. Padahal, Harumi ingin belajar banyak dari beliau."
Raymond hanya tersenyum sinis.
hmmmm... lagu lama. Menjadikan anak gadis mereka sebagai tumbal untuk menarik simpatik tuan Marco.
Raymond hanya berkata dalam hati.
"Tuan sedang menikmati waktunya bersama istri dan anak mereka. Yaaaa... jika istrinya meminta sesuatu, tuan paling tidak bisa menolak. Walaupun harus meninggalkan pekerjaan penting di perusahaan." Tandas Raymond sengaja membuat panas suasana.
__ADS_1
"Tuan Marco sangat mencintai istrinya..." Sambungnya lagi.