
Raymond keluar dari dalam mobil dan dengan terburu-buru membuka pintu belakang, ia menunduk dan memapah Marco yang dalam keadaan mabuk. Berry pun datang membantu Raymond membawa Marco masuk ke dalam kamar.
"Apa yang terjadi?" Tanya Berry setelah meletakkan tubuh Marco di atas tempat tidur.
"Semenjak nona Marissa pergi, tuan sering mabuk. Tapi, baru kali ini tuan minum di kantor. Biasanya tuan minum di balkon kamar sana." Sahut Raymond sambil membuka kasut Marco dan menunjuk ke arah balkon.
Berry membuka pintu kaca menuju balkon dan betapa terkejutnya ia melihat puluhan botol wine dengan kadar alkhohol yang tinggi.
"Astafirullah... sejak kapan dia bisa minum minuman haram ini?" Gumam Berry pelan. Ternyata, tanpa mereka ketahui tiap malam Marco duduk sendiri di balkon dan menikmati minuman beralkohol seorang diri.
Niatnya untuk mencari Icha dihalang oleh perintah kakek pagi tadi saat mereka sarapan.
"Biarkan Marissa menenangkan diri dulu. Jangan kamu ganggu dia sampai hatinya benar-benar tenang."
Flash back
Ucapan kakek pagi tadi terdengar seperti tidak boleh dibantah. Marco terdiam. Baru dua hari Icha menghilang, hari-harinya terasa gelap dan hampa. Ia berangkat ke perusahaan dengan hati gundah gulana.
"Aku tidak ingin bertemu siapa pun dan batalkan semua meeting dengan klien." Perintahnya pada Raymond dan langsung masuk dalam ruang kerja. Aura dingin dapat Raymond rasakan. Ia hanya mengangguk hormat dan patuh pada perintah.
Marco melempar tasnya ke atas sofa, membuka jas, melepaskan dasi dan membuangnya ke sembarang arah, lalu membantingkan diri ke atas sofa.
"Maaf, sayang... maaf..." Gumamnya penuh penyesalan. "Kamu di mana?" Airmata jatuh di pipi kiri Marco. Ia yang paling sulit mengeluarkan airmata, kini baru merasa arti kehilangan orang yang dicintai. Ia tak sampai menangis ketika dulu Valencia tak membalas chat ataupun tak menerima panggilannya karena sibuk pemotretan. Ia tak pernah menangis saat harus berpisah dengan Valencia berjarak-jarak jauhnya, bahkan beda negara dan berbulan-bulan lamanya. Tapi kini, baru dua hari Icha pergi, ia merasa seakan-akan dunianya runtuh. Apalagi, kakek mendukung kepergian Icha.
"Maaf, sayang... maaf... aku mohon pulanglah." Marco semakin terisak. Ia bangun masuk ke dalam kamar pribadinya, membuka kulkas mini dan mengambil satu botol alkohol. Setelah dibuka, ia meneguk langsung alkohol itu hingga setengah botol. Ternyata, ia telah menyiapkan berbagai minuman beralkohol tinggi di sana.
Hingga menjelang sore, Raymond kuatir karena Marco benar-benar tak menampakkan batang hidungnya. Ia membuka pintu ruangan CEO namun terkunci.
"Sial... Pintunya terkunci." Raymond semakin panik. Ia yakin sudah terjadi sesuatu pada Marco di dalam sana. Segera ia berlari masuk dalam ruang kerjanya mencari kunci cadangan.
Raymond membuka pintu dengan tergesa-gesa. Setelah terbuka, ia segera masuk dan mencari keberadaan Marco.
"Tuan..." Teriak Raymond saat melihat semua barang Marco terlempar begitu saja di sofa tamu. "Di mana dia?" Gumamnya panik. Ia menuju ke kamar dan membuka pintu.
"Tuan... astafirullah." Betapa terkejutnya Raymond melihat Marco terkapar di lantai kamar dengan masih memegang satu botol alkohol yang sudah kosong. Ia semakin panik ketika melihat bukan hanya satu botol saja, melainkan 8 botol minuman beralkohol yang sudah kosong.
"Ya ampun, tuan... kau benar-benar ingin bunuh diri, rupanya." Ia keluar kamar mengangkat intercom dan menekan nomor untuk memanggil seseorang.
"Dandi... cepat naik ke lantai 25, ruang CEO." Tak menunggu jawaban Dandi, sekuriti perusahaan, Raymond langsung meletakkan intercom dan kembali ke kamar. Diangkatnya tubuh Marco dan membawanya ke tempat tidur. "Aku harus menelepon dokter Gita." Ia mengambil telepon genggam di saku celananya dan mencari nama dokter Gita, dokter keluarga Guatalla.
"Dokter, cepat ke perusahaan GT Corp. CEO sedang sakit dan membutuhkan pertolongan." Perintahnya dengan panik dan langsung menutup panggilan bertepatan dengan datangnya Dandi dan Danang, sekuriti perusahaan.
"Apa yang terjadi, tuan?" Tanya Dandi kaget melihat pimpinan perusahaan tak sadarkan diri di tempat tidur dengan penampilan urakan.
"Tuan Marco mengkonsumsi alkohol terlalu banyak." Sahut Marco sambil membuka sepatu dan kaos kaki Marco.
"Oh... sebentar, tuan. Saya ke pantri." Tanpa memberitahu alasan Danang bergegas lari ke pantri. Raymond yang bingung harus berbuat apa hanya mondar-mandir menunggu kedatangan dokter Gita.
"Tuan... berikan ini pada pimpinan. Ini untuk menetralisir alkohol dalam tubuhnya." Danang datang dengan napas ngos-ngosan menyerahkan segelas air pada Raymond.
"Apa ini?" Tanya Raymond penasaran.
__ADS_1
"Ini air lemon, tuan." Jawab Danang.
Sekarang, Raymond bingung bagaimana cara Marco minum kalau ia tak sadarkan diri.
Melihat Raymond yang kebingungan, Danang tak tinggal diam. Ia melangkah mendekati Marco, mengangkat kepalanya agak tinggi dan menyuruh Raymond memasukkan air lemon menggunakan sendok ke mulut Marco.
Dandi bergerak cepat menolong Danang yang keberatan menahan kepala Marco seorang diri.
Raymond terus memasukkan air lemon itu sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya terdengar suara keluhan Marco.
"Alhamdulillah.... Tuan?" Panggil Raymond. Marco memegang kepalanya menahan sakit. "Tuan... ayo, minum sedikit lagi." Raymond hendak menyuapi air lemon namun ditolak Marco.
"Di mana Marissa?" Tanya Marco lemah. "Panggilkan istriku. Kenapa kalian di sini? Harusnya Marissa yang ada di sini." Racaunya tanpa sadar. Danang dan Dandi saling tatap. Mereka tak mengerti apa maksud tuan dengan istri.
"Tuan... tuan terlalu banyak minum alkohol, sebaiknya tuan istrahat dulu. Sebentar lagi dokter Gita datang." Raymond menenangkan Marco yang hendak bangun mencari Icha.
"Ck... aku mau kalian memanggil Marissa. Di mana dia?" Desak Marco menolak tangan Raymond. Namun, karena keseimbangan tubuhnya tidak stabil, Marco tak bisa melawan 3 orang yang menahan tubuhnya.
Ceklek!
Dandi, Danang dan Raymond spontan melihat ke arah pintu yang Dibuk seseorang.
"Dokter... tolong!" Raymond langsung memberi jalan agar dokter Gita mendekat untuk memeriksa Marco.
"Sayang... kamu datang? hahahaha... aku tau kamu nggak akan ninggalin aku." Marco kembali meracau melihat dokter Gita.
"Tuan... minum dulu." Mungkin karena dikiranya dokter Gita adalah Marissa, istrinya, tanpa banyak protes ia menghabiskan air lemon dalam satu tegukan.
"Tenanglah... aku di sini." Mendengar suara dokter Gita, Marco tenang. Semua hanya melihat dengan sendu. Banyak pertanyaan dalam kepala mereka, kecuali Raymond. Terlebih dokter Gita. Dia sangat tahu bahwa Marco bukan peminum. Bahkan Marco tak biasa menyentuh Alkohol.
"Ada sebenarnya, Ray?" Tanya dokter Gita ingin tahu.
Raymond tak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang dan mengusap pelan wajahnya. Ia masih mencari kata-kata yang tepat untuk menceritakan apa yang sebenarnya membuat Marco mabuk seperti ini.
"Siapa Marissa? Kenapa ia menyebut 'istriku'?" Dokter Gita terus mendesak Raymond untuk menjawab.
"Ya... Marissa, istri tuan Marco."
Bagai disambar geledek, Gita menutup mulut tak percaya.
"Marissa? Istri? Lalu, Valencia?" Tanya Gita penasaran. Sebab, selama ini yang ia tahu dan hampir semua yang orang yang mengenal Marco mengetahui bahwa Valencia tunangannya Marco.
"Tuan menikahi Marissa, bukan Valencia." Sahut Raymond pelan.
"Bagaimana bisa?" Tangkas Gita cepat.
"Saya pikir anda tak perlu tau terlalu banyak, dokter. Anda cukup memeriksa tuan saja." Tegas Raymond yang terganggu dengan tingkah dokter Gita
"Oh... maaf..." Ia menurunkan volume suara. "Saya hanya kaget saja, Ray." Alasannya.
"Bagaimana keadaan tuan Marco?" Tanya Raymond datar agar dokter itu berhenti kepo soal Marissa dan Marco.
__ADS_1
"Untung cepat diberikan air lemon tadi. Itu bagus untuk menetralisir alkohol dalam tubuh." Sahut dokter Gita. "Aku tidak bisa memberikan obat atau pun suntik penenang karena ia meminum alkohol."
"Kapan tuan akan sadar?" Tanya Raymond ingin tahu.
"Sebentar lagi akan sadar kok. Setelah sadar bawalah ia pulang." Dokter Gita berdiri dan pamit kembali ke RS. Raymond hanya mengangguk fsn mengucapkan terimakasih.
FLash back end.
Mr. LG alias kakek sedang asyik berbicara dengan seseorang melalui telepon genggam. Wajahnya sumringah menunjukkan rasa bahagia yang teramat.
"Jaga baik-baik calon cicitku. Minta saja pada Santini apa saja yang ingin kamu makan." Ucap kakek senang mengetahui kehamilan Icha.
Icha benar-benar membuat kejutan untuk kakek. Bagaimana tidak? Ia merahasiakan soal kehamilannya, malah ia mengajak kakek bermain 'petak umpet' lewat kotak batu zafir itu. Untung saja kakek cepat membukanya. Jikalau tidak, mungkin kakek tak akan mengetahui soal kehamilan cucu mantunya itu.
"Kamu benar-benar membuat kakek jantungan dengan testpack itu....hahahahaha." Tawa lepas kakek menandakan kebahagiaan yang tak bisa dibayar dengan apapun. "Tapi, kakek senang. Kakek akan berdoa pada Tuhan meminta umur panjang, agar dikasih waktu sedikit saja sampai melihat cicit kakek kelak." Wajah keriputnya sedikit bergetar menahan haru. "Jaga diri baik-baik, nak... jangan kuatir soal suamimu. Ia anak yang baik, yaaaa... walaupun sedikit nakal." Senyum kembali terpancar di wajah tuanya. "Dia sudah mulai galau sekarang karena ketidakhadiranmu. Tapi, biarkan saja. Kakek ingin dia mencaritahu sendiri kebenarannya agar ia semakin dewasa dalam mengambil keputusan. Kakek akan terus memantau keadaannya." Terang kakek panjang lebar. Kadang ia tertawa, kadang mimik wajahnya mulai sendu, kadang wajah jahilnya muncul.
"Ya... makan apa saja yang cicitku inginkan." Kakek masih asyik bercerita dengan Icha.
Ceklek!
Ia spontan menoleh ingin tahu siapa yang datang. Walaupun ia tahu, yang berani masuk ruang kerjanya tanpa mengetuk terlebih dahulu hanyalah Berry, asisten kepercayaannya.
"Ada apa, Ber? Kenapa wajahmu kusut begitu?" Tanya kakek setelah mengakhiri percakapan dengan Icha. Berry menarik napas berat.
"Sepertinya kita harus mengakhiri drama ini, tuan. Kasihan tuan Marco." Imbuh Berry. Kakek mengerutkan kening tak mengerti.
"Kenapa dengan Marco? Ulah apa yang sudah ia perbuat?" Tanya kakek oenasaran.
"Ternyata, akhir-akhir ini dia sering mengkonsumsi alkohol, tuan... dan itu tidak baik untuk kesehatannya ke depan." Kakek sedikit terkejut mendengar cerita Berry. "Sekarang dia ada di kamarnya, tuan. Raymond mengantarnya pulang dalam keadaan mabuk parah." Tak menunggu lama kakek langsung beranjak menuju kamar Marco.
"Apa yang terjadi?" Tanya kakek kuatir melihat keadaan Marco yang masih tertidur pulas tak sadarkan diri. "Kenapa bisa begini?"
"Semenjak kepergian nona, tuan mulai minum alkohol. Tapi, hari ini tuan minum terlalu banyak. Hingga tak sadarkan diri begini." Jelas Raymond. "Tapi, tuan besar tidak perlu kuatir... Dokter Gita sudah menanganinya sebelum dibawa pulang." Lanjutnya menenangkan kakek yang terlihat cemas. "Tadi juga sudah diberi air lemon untuk menetralisir alkohol dalam tubuhnya, tuan." Sambungnya menjelaskan. Kakek menarik napas panjang. Ia hanya menggelengkan kepala melihat keadaan Marco.
"Bersihkan tubuhnya dan ganti pakaiannya. Kalau ia sudah sadar, suruh ia berendam agar pengaruh alkoholnya berkurang." Perintah kakek langsung dijawab Raymond dengan hormat.
Lelaki tua berwibawa itu keluar dari kamar Marco dan menuruni tangga menuju dapur. Berry tetap setia mengikutinya dari belakang.
"Hartini...." Panggil kakek. Dengan tergopoh Hartini berlari kecil menghadap kakek. Jarang mendengar kakek memanggil namanya membuat Hartini seperti mendapatkan doorprize jutaan rupiah.
"Iya, tuan besar..." Jawabnya menunduk sopan.
"Buatkan Marco bubur ayam. Antarkan ke kamarnya." Perintah kakek.
"Baik, tuan... saya akan buatkan." Ia segera berbalik masuk dalam dapur dan mengerjakan sesuai perintah tuan besar.
"Tuan... anda jangan terlalu capek dan banyak pikiran. Istirahatlah! Tuan Marco akan kami urus dengan baik." Saran Berry melihat kakek naik turun tangga dan sudah terlihat kelelahan.
Kakek menganggukkan kepala. Ia berjalan menuju kamarnya. Ia memang harus beristrahat sejenak.
"Bantu Ray mengurus Marco. Dan jangan lupa pantau terus tingkah laku Sania." Perintah kakek sekaligus mengingatkan Berry akan tugasnya. "Entah di mana dia jam begini belum pulang, sedangkan Marco memerlukan perhatiannya." Umpat kakek kesal. Ia naik ke tempat tidur, menyandarkan punggungnya pada dashboard.
__ADS_1
"Tenang, tuan... tidak usah kuatir soal nyonya Sania. Anak buah kita akan terus memantaunya dari jauh. Mereka selalu melaporkan semua tindak tanduknya padaku." Berry mengambil bedcover dan menutup sebagaian tubuh kakek. "Anda tau, tuan... sekarang dia lagi di rumah Valencia menggunakan berlian batu zafir itu. Ia memamerkan berlian palsu itu pada Valencia dan kedua orangtuanya." Beber Berry sambil tersenyum lucu. Kakek pun ikut tertawa mendengar cerita Berry.
"Hahahahahaha... dasar bodoh."