Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Waktu Berdua.


__ADS_3

Hari ini tidak seperti biasa tepat pukul


tiga sore Marco sudah sampai di mansion. Ia disambut istri yang sedang menggendong baby Leon di taman samping rumah.


"Tumben, sudah pulang?" Tanya Icha setelah memberi ciuman di bibir dan pipi suaminya. Itu aturan yang dibuat Marco yang bisa mengurangi rasa capek dan lelah setelah seharian bekerja, menurut Marco sih.


"Udah nggak ada yang perlu dikerjakan jadi aku pulang terlebih dahulu. Raymond masih stand by sampai jam pulang kantor." Jawab Marco yang menyerahkan tas kerja ke tangan Icha dan mengambil alih baby Leon. Bayi gembul itu berjingkrak senang menyambut dekapan hangat sang papa yang selalu bisa menyempatkan waktu meski sibuk mengumpulkan pundi-pundi uang keluarga.


"Makan apa aja sih anak papa sampai gembul begini... hmmmm!?" Marco mencium gemas perut putranya sambil berjalan masuk ke dalam mansion diikuti Icha.


"Rossa.... kamu boleh istrahat. Kasian dari tadi diajak main sama baby." Ucap Icha lembut pada art yang sekarang merangkap baby sitter mengurus anak Marco dan Icha. Awalnya, Marco hendak mencarikan seseorang yang bisa membantu Icha mengurus baby Leon, namun Rossa menawarkan diri karena gemas pada bayi laki-laki itu. Icha pun dengan senang hati menyetujui karena ia sudah mengenal dan percaya pada Rossa. Terbukti, selama 7 bulan ini Rossa mengurus baby Leon dengan sangat baik. Ia menyayangi anak kecil itu seperti anak sendiri. Makanya tidak heran jika baby Leon sangat dekat dengannya.


"Iya, non..." Sahut Rossa hormat. "Pantas aja baby Leon nggak mau tidur siang, kayaknya dia udah feeling deh kalau kembarannya mau pulang cepat hari ini." Canda Rossa sebelum melangkah masuk melalui pintu dapur.


"Kamu kenapa? Kayak yang Ada masalah." Tebak Icha melihat segurat garis Lelah walaupun Marco bersama baby Leon. Marco tersenyum. Ia tahu istrinya ini paling peka kalau Marco lagi ada masalah. Dan Icha akan selalu menjadi tempat cerita Marco tentang semua masalah perusahaan maupun di luar perusahaan.


"Nggak apa-apa. Hanya ada sedikit masalah dengan Valencia." Sahut Marco jujur. Ia meletakkan baby Leon di tempat tidur lalu ia mulai membuka dasi dan jas.


"Valencia kenapa?" Tanya Icha ikut kuatir.


Cup


Bukannya menjawab, Marco malah mengecup singkat bibir Icha yang sedang duduk di pinggir tempat tidur sambil memantau pergerakan baby Leon yang sudah mulai aktif.


"Aku mandi dulu. Setelah itu kita duduk santai dan aku akan menceritakan semuanya." Tanpa menunggu jawaban Icha, Marco mengedipkan mata genitnya lalu berbalik melangkah menuju kamar mandi.


"Genit..." Celutuk Icha sengaja kesal dan dibalas dengan tawa oleh Marco. Icha pun ikut tersenyum bahagia. Ia senang karena Marco selalu mau berbagi cerita tentang apa pun dengannya. Icha juga selalu berusaha menjadi pendengar yang baik dan memberi solusi jika dibutuhkan.

__ADS_1


"Pa-pa-pa-pa..." Suara baby Leon menyadarkan Icha dari lamunan. Bayi tujuh bulan itu sudah mulai bisa mengeja beberapa kata.


"Papa lagi mandi, sayang... Kenapa? Masih kangen sama papa, ya?" Icha memang selalu mengajak baby Leon berbicara agar anak kecil itu terbiasa mendengar kata setiap hari. Ia terus bermain kata dengan putra tampannya sembari menunggu Marco selesai.


"Mba'... anterin kopi sama teh jeruk seperti biasa ke kamar, ya. Aku sama tuan mau minum sore di balkon kamar aja. Jangan lupa cemilan kesukaan beliau." Selesai berbicara pada Hartini melalui intercom dalam kamar, Icha mengambil baby chair lalu mendudukkan baby Leon ke atasnya. Ia segera ke kamar ganti menyiapkan pakaian rumah untuk Marco.


Cup.


Satu kecupan hangat mendarat di leher jenjang Icha diikuti lingkaran tangan pada pinggangnya. Icha hanya tersenyum tanpa menoleh karena ia tahu siapa pelakunya. Ia terus memilih pakaian untuk Marco.


"Terimakasih... sudah mau terus bertahan di sampingku, mengerti pekerjaanku, tidak pernah protes dengan waktuku yang lebih banyak di luar dari pada menemani istri dan anakku. Terimakasih, sayang." Ungkapan perasaan Marco membuat Semakin melebarkan senyum dan berbalik menghadap Marco.


Cup!


Diberinya satu kecupan balasan di bibir Marco.


"Terimakasih mau bekerja keras untukku dan anak kita. Terimakasih sudah menjadi suami yang bertanggung jawab dan jujur. Walaupun kamu selalu menghabiskan waktu di luar namun aku percaya, hati dan pikiranmu tetap untukku dan baby Leon." Imbuh Icha membalas ungkapan Marco. "Aku harap kita tetap berkomunikasi dengan baik dan selalu berlaku jujur di mana pun kita berada. Agar rasa percaya masing-masing kita terus terjaga." Marco menantap mata cantik Icha dengan penuh cinta. Tidak ada yang bisa membuatnya sebahagia ini selain memiliki seorang istri berhati mulia seperti Icha.


"Anak-anak?" Tanya Icha sambil mengerenyitkan kening. Marco cepat mengangguk.


"Iya... anak-anak." Jawabnya cepat. "Adik-adiknya baby Leon." Sahut Marco menggoda Icha. "Narendra, Miranti, Ressania, Renadam... hmmm... siapa lagi, ya?" Marco melihat. ke langit-langit kamar sambil memikirkan nama. "Awwwww..." Tiba-tiba ia menjerit pelan merasa cubitan di perut telanjangnya.


"Banyak banget..." Sungut Icha melototkan mata.


"Ya, sama kayak Leon menggantikan kakek. Adik-adiknya juga harus menggantikan nama kakek neneknya dong." Sergah Marco.


"Udah ah... pake baju sana. Kasian anak kamu ditinggal lama-lama." Protes Icha hendak melangkah ke luar namun lagi-lagi pelukan Marco menghentikan langkahnya. "Apalagi sayang?"

__ADS_1


"Kapan kita buat adik-adiknya baby Leon?" Bisik Marco tepat di telinga Icha membuatnya menggeliat karena geli.


"Jangan mesum, ya... pake baju dulu!" Bukannya mendapat jawaban, malah Marco mendapat cubitan kecil di tangan. Icha segera melepaskan tangan Marco dan berlari keluar sebelum dikejar suami mesumnya itu.


"Lho... baby Leon kemana?" Icha melihat baby chair milik ananknya kosong namun sudah tersaji dua gelas minuman hangat dan cemilan di meja kecil balkon kamar. "hmmmm... pasti ulahnya Rossa ni. Sehari aja nggak gendong Leon, nggak bisa dia." Gumam icha sambil berjalan menuju balkon yang menghadap langsung ke taman mansion, hingga dari atas bisa melihat dengan jelas orang-orang di bawah.


"Tuh kan.... kakek aja paham memberi waktu untuk kita." Lagi-lagi tangan Marco tiba-tiba terparkir di pinggang ramping Icha. Mereka melihat kakek sedang bercanda dengan baby Leon. Ada segurat bahagia dalam tawa kakek. "Terimakasih sudah memberi kebahagiaan untuk kakekku." Lirih Marco menempelkan pipi ke pipi Icha. Ia merasakan lengkap sudah kebahagiaan hidupnya ketika melihat kakek bisa tertawa lepas bersama cicitnya.


"Beliau juga kakekku..." Sanggah Icha tak terima karena Marco hanya mengatakan kakeknya saja. Tentu Marco langsung tertawa lucu melihat reaksi Icha. Marco menarik lembut tangan Icha membawa ke meja balkon. Mereka duduk berhadapan dan menikmati teh sore sambil melihat pemandangan sekitar taman di mana kakek sedang asyik menikmati teh sore sambil bermain bersama baby Leon, tak lupa si Rossa tetap stand by menjaga tuan mudanya itu.


"Valencia sudah bertemu Rama, ayah biologis bayinya." Ucap Marco setelah meneguk kopi hangat. "Aku akan membantu Om Christo untuk mengatur pernikahan mereka." Sambungnya. Icha sedikit terkejut mendengar penuturan Marco.


"Rama? Anak buah kamu itu?" Tanya Icha tak percaya. Marco memgangguk dan kembali meneguk kopi hitam kesukaannya. "Valencia mau?" Tanya Icha ragu dengan pernikahan Valencia.


"Mau tidak mau dia harus mau." Tegas Marco. "Aku harap Om Christo bisa memberi pengertian pada Valencia, karena ia harus bersyukur laki-laki biologis calon cucunya adalah laki-laki baik dan bertanggung jawab walaupun dari keluarga sederhana. Rama juga hidup dalam perasaan bersalah setelah ia meniduri Valencia." Jelas Marco, lalu ia menceritakan latar belakang Rama yang tinggal hanya berdua dengan ibunya setelah ayahnya meninggal lima tahun lalu. Rama menjadi tulang punggung untuk ibunya dan bekerja apa saja bermodalkan ijazah SMA. Ia berkenalan dengan Rano dan menjadi orang kepercayaan Rano karena kejujuran dan semangat kerjanya.


"Jadi... dia mau meniduri Valencia malam itu karena dibayar?" Tanya Icha penasaran. Marco mengangguk dan menarik napas panjang.


"Untungnya ada Rama malam itu... aku tidak bisa membayangkan jika Rama tidak menggantikanku...." Marco seperti masih trauma dengan kejadian naas di Malaysia. Ia selalu takut membayangkan jika Icha dan baby Leon pergi meninggalkannya.


"Maka dari itu aku ingin membantu menghilangkan rasa bersalahnya selama tujuh bulan ini." Imbuh Marco. "Aku juga sudah bicara dengan Om Christo dan ia menyetujui rencanaku." Sambung Marco.


"Semoga aja Valencia bisa menerima Rama, ya... kasian bayinya." Ucap Icha turut merasakan apa yang dialami Oleh Valencia.


"Aku sudah tekankan pada Om Christo bahwa mau tidak mau Valencia harus mau." Tegas Rama. Ia menyesap kopi pahit hingga tandas. "Oya, sebentar malam aku ada janji mempertemukan om Christo dan Rama di restoran x. Kamu dan baby Leon juga ikut, ya. Sekalian kita makan malam di luar. Ajak Rossa juga." Pungkas Marco. Icha menganggukkan kepala serta memberi senyuman manis pada Marco. Ia senang karena sudah lama mereka tidak makan malam bersama di luar.


"Tapi.... " Marco bangun dari duduknya dan tanpa memberitahu Icha, ia menggendong tubuh istrinya dan membawa ke tempat tidur.

__ADS_1


"Aaaaah.... sayang, kamu mau ngapain?" Jerit Icha kaget. Ia memeluk erat leher Marco.


"Sebelum kita makan malam di luar, aku ingin menikmati makan sore denganmu." Tawa disertai ******* Icha pun terdengar karena tangan nakal Marco mulai menyentuh bagian tertentu tubuh Icha. Marco benar-benar membuat Icha melayang sore itu. Mereka menikmati cinta dan akan terus membangun cinta di antara mereka.


__ADS_2