Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Aku akan menjadi seorang Ayah?


__ADS_3

Tiga setengah jam perjalanan Lembang Jakarta tidak terlalu terasa lama bagi dua insan yang saling mencintai ini karena banyak hal yang mereka ceritakan dan saling berbagi. Sampai di mansion, sudah pasti kakek yang menyambut mereka dengan senyum sumringah di wajah keriputnya.


Icha memeluk kakek dan mencium tangannya. Begitu juga Marco.


"Bagaimana perjalanan kalian? Apa anak nakal ini merepotkanmu?" Tanya kakek pada Icha. Marco tersenyum mendengar mendengar kakek menyebutnya 'anak nakal'. Itu julukan dari dulu yang sudah disematkan pada Marco.


"Nggak, kek... hanya agak manja dikit." Bisik Icha tapi masih didengar oleh Marco.


"Aku dengar, sayang..." Protes Marco membuat kakek tertawa lepas.


"Entah penyakit apa yang sudah dideritanya sampai bisa menjadi laki-laki manja seperti itu." Goda kakek sambil memberi senyum lucu pada Icha. "Mulai sekarang kakek mengganti namamu menjadi lelaki manja, bukan anak nakal lagi." Ejek kakek menggoda Marco.


"Ck... terserah kakek." Ketus Marco. "Ayo, sayang... kita ke kamar. Aku mau istrahat." Tanpa pamit Marco menarik tangan Icha masuk ke dalam kamar. Marco semakin kesal mendengar suara tawa kakek yang sepertinya sangat bahagia dengan penyakit yang dialaminya.


"Aku siapin air hangat, ya. Kita mandi. Yapi, ingat! Mandi aja. Nggak boleh lebih." Ultimatum Icha yang langsung ke kamar mandi menyiapkan air hangat untuk mereka mandi bersama. Sedangkan Marco tertawa dan membanting dirinya di sofa sambil sandaran. Matanya menatap langit-langit kamar dengan sejuta pertanyaan di sana.


"Sayang... ayo, mandi. Kok ngelamun?" Marco tak menjawab. Ia masuk ke dalam kamar mandi disusul Icha dan mereka mandi bersama. ingat, hanya mandi ya! Tidak lebih.


Setelah merasa segar dan berganti pakaian, Icha menuruni anak tangga menuju dapur.


"Bi..." Sapa Icha.


"Eh, non... udah pulang. Bibi kangen banget." Hartini langsung memeluk Icha tanpa sungkan. Icha pun membalas erat pelukan asisten rumah tangga itu. "Non sehat?" Tanya Hartini senang.


"Alhamdulillah... sehat. Seperti yang bibi lihat." Hartini melihat Icha dari atas sampai bawah. Keningnya berkerut.


"Non sedang hamil?" Tebak Hartini karena merasa aneh dengan bentuk tubuh Icha. Dengan senyum, Icha menganggukkan kepala. Hartini melebarkan matanya tak percaya.


"Selamat ya, non... akhirnya rumah ini akan ramai dengan suara anak kecil." Hartini melompat senang. "Pantes aja, tuan Marco sering mual bahkan muntah. Menu di rumah ini juga diganti semua karena tuan nggak bisa makan." Seru Hartini heboh.


"Ssssttt... pelan-pelan, bi. Tuan Marco belum tau. Aku masih merahasiakan dari dia." Bisik Icha.


"Lho.... kenapa?" Tanya Hartini heran.


"Aku sengaja mau buat surprise untuknya." Sahut Icha senang.


Hartini hanya memberi kedua jempol pada Icha mendukung rencana nona mudanya.


"Bibi buka tas yang tadi di bawah mang Danang ke dapur, ya. Ada susu ibu hamil di sana. Bibi bikinin, ya." Ujar Icha meminta tolong. "Buatin tuan Marco jus jeruk. Dia lagi suka yang asam-asam sekarang..." Icha berbisik sambil tertawa lucu. Mereka berdua tertawa bahagia bersama.


Matahari mulai menurun menuju peraduannya ketika Icha kembali ke kamar dan melihat Marco yang sedang menikmati indahnya langit sore di balkon kamar.


Hup!

__ADS_1


Marco menoleh ke kanan. Ia tersenyum ketika tangan sang istri memeluk pinggangnya erat.


"Kenapa sih, sayang? Dari tadi wajah kamu gelisah. Ada apa?" Tanya Icha lembut.


Marco menarik napas panjang. Ia menarik tangan ke depan dan gantian memeluk Icha dari belakang. Ia mencari kenyamanan dalam ceruk leher istrinya.


"Aku nggak tau apa yang terjadi dengan diriku akhir-akhir ini." Lirihnya pelan. "Tapi, kalau sampai aku mengidap satu penyakit yang aneh dan mematikan, apakah kau akan pergi meninggalkanku?" Ada nada getir dalam ucapannya. Icha mengerutkan kening. Sepertinya Marco benar-benar kuatir akan apa yang ia alami akhir-akhir ini.


Icha berbalik memandang wajah tampan suaminya, mengelus pipi hingga ke bibir Marco dan menghadiahi satu kecupan manis di sana. Lalu, ia mengambil tangan kanan Marco dan menaruh di atas perutnya.


"Kamu memang sedang terkena satu penyakit, sayang. Tapi, bukan penyakit mematikan." Gumam Icha penuh misteri. "Kamu terkena couvade syndrome. Dan itu semua gara-gara bayi kamu di perut aku." Ucap Icha. "Dan aku minta maaf, sudah merahasiakan hal penting ini dari kamu."


Marco terpana berusaha mencerna kata-kata Icha. Ia menatap mata Icha dengan raut wajah kebingungan karena tak percaya. Icha tersenyum melihat wajah tegang suaminya. Kembali ia mengecup bibir Marco agar laki-laki itu tersadar dari lamunannya.


"Kamu akan jadi seorang ayah, sayang." Bisik Icha ke telinga Marco. Ia menaruh tangannya di atas tangan Marco yang sedang berada di perutnya.


Marco menelan saliva yang terasa kering, matanya berkedip tak percaya akan ucapan Icha.


"Aku? Aku akan menjadi seorang ayah?" Tanyanya masih tak percaya. Icha mengangguk cepat menyakinkan Marco.


"Iya, sayang... kamu akan menjadi seorang ayah." Icha mengulang kalimat itu lagi demi meyakinkan suaminya.


"Kamu hamil?" Seru Marco mulai mengerti Maksud Icha. "Kamu hamil anak aku?" Tak menunggu lama, ia langsung berlutut dan menyerang perut Icha dengan ciuman kebahagiaan.


"Kamu nggak bohong, kan? Kamu benaran hamil anak aku? Makasih, sayang... makasih sudah hadir di perut mama." Ia terus memberi ciuman pada perut Icha. Rasa bahagia sangat terlihat dari ekspresi Marco


"Makasih, sayang..." Bisiknya dengan suara serak. Icha mengelus punggung Marco menenangkan suaminya yang sedang menangis bahagia. "Aku akan jadi seorang ayah." Ia berkata dalam tangisan.


"Sudah berapa bulan? Kok kamu nggak bilang-bilang ke aku?" Tanya Marco sekalian protes. Icha tersenyum.


"Masuk minggu ke enam." Sahut Icha lembut. "Waktu aku tau aku hamil, kita sedang ada masalah. Aku putuskan untuk menghindari kamu karena aku nggak mau kita bertengkar terus yang akan membuat kandunganku bermasalah nantinya." Jelas Icha pelan. Marco memeluk Icha dan memberi kecupan di kepalanya.


"Aku minta maaf... Aku minta maaf sayang." Sesal Marco mengingat kesalahannya yang membuat Icha harus pergi menjauh dengan beban yang ia pikul sendiri.


"Nggak perlu minta maaf, sayang. Kayaknya Tuhan sudah membalas kamu lewat anak kita deh." Icha tersenyum menggoda Marco. "Makanya kamu terkena couvade syndrome. Aku yang hamil, kamu yang ngidam." Mereka tertawa bersama. Tawa bahagia di sore yang indah. Mereka terus berpelukan sambil menikmati matahari yang sebentar lagi sudah menghilang.


"Nggak apa-apa aku yang ngidam. Biar kamu nggak kesusahan sendirian."


Marco terus memeluk Icha dari belakang sambil mengelus perut Icha yang sudah mulai kelihatan.


"Pantas aja kamu makin berisi. Perut kamu juga udah makin kelihatan." Ujar Marco senang. "Kamu juga makin hot kalau kita lagi bertempur di ranjang." Bisik Marco mesum membuat Icha memukul tangannya dengan gemas.


"Mesum kamu ih." Protes Icha. Marco tertawa dan mengecup leher Icha berulangkali.

__ADS_1


"Besok kita ke dokter, ya?" Ajak Marco. "Aku mau liat anak kita."


"Iya, besok kita ke dokter. Sekarang kita masuk, yuk. Anginnya mulai dingin." Pungkas Icha mengajak Marco masuk.


"Hei... anak papa. Nakal kamu, ya. Masih kecil aja udah kerjain papa. Awas kamu. Papa bakal kalahian kamu nanti." Marco tiduran di paha Icha dan mengajak ngobrol janin dalam perut istrinya. Icha tertawa mendengar ocehan Marco.


"Emang papa mau kalahin aku apa?" Tanya Icha berperan seperti anak kecil.


"Nanti kita basket, ya. Papa pasti kalahin kamu." Jawab Marco senang.


"Ya udah.... aku juga akan membuat papa ngidam terus sampai aku lahir, mau???" Ancam Icha membuat Marco mendelikkan mata padanya menunjukkan ia tak setuju pada ancaman Icha.


"hahahahaha... yeeeee, papa kalah. Papa kalah, nak." Seru Icha girang sambil mengelus perutnya.


Marco mencium perut Icha dengan sayang.


"Iya deh... papa kalah. Anak papa ini harus lebih segalanya dari papa." ujarnya mengalah. "Sayang... buatin aku gudeg, ya. Aku pengen." Tiba-tiba Marco meminta Icha membuatkan makanan khas Jogya itu. Icha langsung mengiyakan permintaan suaminya.


"Ya udah... aku ke dapur, ya." Ujar Icha agar Marco bangun dari tidurannya.


"Hati-hati ya anak papa. Jaga mama." Marco sekali lagi memberi kecupan ke perut Icha. "Aku ke ruang kerja kakek, kalo udah siap gudegnya, panggil aja."


Mereka pun keluar kamar menuju ke tujuan masing-masing.


"Ber... kakek ada?" Berry yang sedang menonton televisi di ruang keluarga langsung menoleh ke arah suara.


"Ada, tuan. Lagi di tempat biasa." Jawab Berry. Tempat biasa yang dimaksud Berry adalah ruang kerja kakek.


Tok... tok.. tok...


Marco membuka pintu ketika mendengar perintah dari dalam sana untuk masuk.


Melihat cucunya yang datang, kakek langsung menyambutnya dengan senyum Rkasih sayang.


"Kenapa? Wajahnya cerah sekali." Seloroh kakek. "Dapat tender baru?"


Marco duduk di sofa di samping kakek. Ia menunduk dan tak lama Marco menangis dan memeluk kakek.


"Terimakasih... kakek masih ada sampai sekarang untuk temani aku, mendukung aku dan kuatkan aku saat aku jatuh." Ia menangis dalam pelukan kakek. "Aku akan menjadi ayah, kek. Aku senang. Aku bahagia, kek." Ungkap Marco dalam tangis bahagia.


Kakek tersenyum dan membalas pelukan Marco. Ia mengelus punggung Marco.


"Selamat ya... akhirnya kamu bisa merasakan menjadi seorang ayah." Kakek memberi selamat atas kehamilan Icha. "Jadilah teladan bagi anak-anakmu. Buat mereka bangga memiliki ayah yang hebat sepertimu." Pesan kakek padanya.

__ADS_1


Marco tertawa kecil mendengar ucapan kakek. Ia mengangguk dan meyakinkan kakek bahwa ia berjanji akan menjadi ayah yang hebat bagi anak-anaknya.


"Sekarang kamu sudah tau perubahan mood dan selera makan kamu karena apa?" Goda kakek. Marco tertawa, lucu pada diri sendiri yang mengira bahwa ia terkena penyakit langka. "Anak kamu itu pasti akan menjadi anak yang cerdas dan lihai seperti kakek. Lihat saja, masih dalam perut mamanya saja, mereka sudah pintar mengerjaimu." Kakek tertawa lepas mengejek Marco. Namun, kali ini ia tak marah. Justru ia senang karena sedari dini ia sudah menjadi ayah yang berguna untuk anaknya.


__ADS_2