Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Ayu? Gadis Kecil itu?


__ADS_3

"Kek... ada yang ingin aku bicarakan." ucap Marco.


Sore itu, seperti biasa setelah pulang kerja Leon selalu mengajak ngobrol kakek dan neneknya di taman belakang sambil menikmati kopi hitam buatan Sania.


"Ada apa? Ada masalah di perusahaan?" Tanya kakek penasaran.


"Tidak, kek... semua berjalan baik. Malah saham kita semakin mengalami peningkatan yang signifikan." Sahut Leon. "Ada yang harus aku sampaikan pada kakek dan nenek." Sambungnya membuat Adam dan Sania kompak mengerutkan kening.


"Ada apa?" Tanya nenek mulai curiga. Leon menarik napas panjang dan menunjukkan senyum manisnya agar kakek dan nenek tidak terlalu tegang.


"Aku harus kembali ke Indonesia, nek..." Ujar Leon pelan. Ia menyadari keputusan ini akan membuat kakek dan neneknya bersedih hati namun ini sudah menjadi keputusan Leon.


Mendengar keputusan Leon, raut wajah Adam dan Sania langsung berubah. Adam meletakkan gelas minum dan memandang sendu pada Leon.


"Kenapa? Apa kau marah pada kakek dan nenek?" Tanya kakek dengan suara pelan.


Dengan cepat Leon menggenggam tangan adam.


"Kakek... kakek tidak pernah sedikitpun menyakiti atau hanya sekedar menyinggung perasaanku. Aku justru merasakan kasih sayang kakek dan nenek yang begitu tulus untukku." Tutur Leon pelan. "Aku harus kembali ke Indonesia karena papa membutuhkanku, kek. Aku harus membantu papa mengurus perusahaan." sambungnya jujur.


"Kalau kamu pulang ke Indonesia, lalu bagaimana perusahaan di sini? Hanya kamu harapan kami untuk meneruskan GTA Corp." Suara nenek terdengar sedikit bergetar. Leon menarik napas tidak tega melihat dua orangtua yang sudah merawatnya dari remaja. Ia memeluk Sania yang sudah tidak bisa menahan tangis. Ada rasa bersalah dalam hati Leon.


"Nenek... perusahaan akan baik-baik saja karena ada Jordan yang akan menggantikanku." Ujar Leon sambil mengusap lembut punggung tua Sania.


Mendengar nama Jordan, Sania langsung menjauhkan tubuh dan menatap Leon penuh interogasi.


"Jordan? Kamu yakin dia bisa memimpin GTA Corp?" Tanya Sania tak percaya.

__ADS_1


"Tidak, Leon... kakek tidak akan mengijinkan Jordan mengambil alih GTA Corp." Tegas kakek. "Kalau kamu memutuskan untuk melepas GTA Corp, kakek yang akan kembali memegang kendali. Tapi tidak dengan Jordan." Ucap kakek sedikit menaikkan nada. bicara. "Karakter dan gaya hidup Jordan hanya akan membuat perusahaan hancur." Sinis Adam.


Leon tersenyum mendengar ucapan kesal Adam. Ia mengerti mengapa Adam tidak mempercayai Jordan, padahal sepupunya itu juga cucu kandung Adam. Kehidupan masa lalu Jordan yang cukup kelam membuat hilang kepercayaan Adam pada laki-laki itu. Padahal tanpa kakek ketahui, Jordan sudah menghentikan kehidupan malamnya dan membantu Leon di perusahaan. Itu juga karena usaha Leon yang membantu Jordan meninggalkan dunia kelamnya.


"Kek... setiap manusia pasti bisa berubah. Kakek percaya kan kalau Jordan juga bisa berubah?" Tanya Leon meminta pendapat Adam. Laki-laki tua tak langsung menjawab, hanya memasang wajah datar seakan tak suka mendengar nama Jordan.


"Kek... tanpa sepengetahuan kakek, aku sudah mengajaknya bergabung ke GTA Corp. Selama dua tahun terakhir ini, Jordan menjadi asisten pribadiku setelah asisten lama mengundurkan diri. Bahkan enam bulan terakhir aku memberinya peluang untuk mengurus beberapa pekerjaan krusial. Dan kakek tau..." Leon tersenyum melihat ke arah kakek dan neneknya. "Dia mengerjakan semua pekerjaan dengan sangat baik. Beberapa tender besar dipegang langsung oleh Jordan dan perusahaan mendapatkan keuntungan yang lumayan besar." Pungkas Leon menjelaskan keadaan Jordan pada kakek dan nenek mereka. "Karena itu aku sudah tidak ragu lagi melepaskan GTA Corp untuk dipegang dan dikelola oleh Jordan. Dan kakek harus ingat satu hal..." Leon menjeda ucapannya dan memandang wajah kakek dengan senyum menggoda. "Jordan juga cucu kandung kakek yang pastinya sifat dan karakternya menurun dari kakek. Jadi, kakek harus memberinya kesempatan untuk membuktikan bahwa ia bisa berubah dan bisa memberikan yang terbaik untuk kakek dan neneknya yang cantik ini." Celetuk Leon sambil mencubit gemas dagu sang nenek. Alhasil, ia mendapat cubitan kesal dari Sania.


Adam dan Leon tertawa lucu melihat Sania mendelik mata kesal Leon dan dalam hitungan detik kecupan sayang pun mendarat di pipi sang nenek.


"Nenek selalu saja cantik dalam suasana apa pun." Goda Leon yang malah dicibir Sania.


"Sok gombal kamu... padahal masih aja jomlo akut." Ledek si nenek cantik itu. Tawa kakek pun pecah mendengar ledekan istrinya dan giliran Leon yang kesal dan manyun. "Gombalan kamu tuh tidak bisa menangkap satu aja hati perempuan, ya?" Sindir Sania merasa senang melihay cucunya kesal.


"Ck... awas saja kalau aku menikah nanti aku tidak akan mengundang nenek dan kakek." Ancam Leon pura-pura marah.


"Awwww... kok aku dicubit, nek?" Sebuah cubitan mendarat di paha Leon yang kebetulan mengenakan celana pendek.


"Menikah? Emang ada yang mau sama dia? Dingin, datar melebihi oenguin kutub." Giliran Adam yang meledek cucunya dan membuat Sania tertawa lebar.


"hmmmm... dinginnya sama kayak kakek dan Marco. Lupa, ya?" Balas Sania pada Adam, suaminya.


Leon senang melihat kakek dan neneknya sudah bisa menerima Jordan untuk memimpin GTA Corp. Ia bisa kembali ke Indonesia tanpa beban pikiran. Tinggal saja ia harus bisa mendekatkan kembali hubungan Jordan dengan kakek dan neneknya yang sempat terputus karena kelakuan Jordan yang masih kekanak-kanakan, menurut kakek. Hobi Jordan dengan dunia malam dan suka membayar perempuan untuk tidur dengannya membuat kakek murka dan sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk masuk dalam GTA Corp.


Leon kembali menggenggam tangan Adam dan Sania. Dilihatnya wajah keriput kedua orangtua itu.


"Aku akan segera kembali ke Indonesia tetapi aku janji akan selalu meluangkan waktu untuk menjenguk kakek dan nenek di sini." Tutur Leon lembut. "Aku janji Jordan akan melakukan yang terbaik untuk GTA Corp. Jika tidak... aku yang akan menghajarnya dengan tanganku sendiri." Imbuhnya meyakinkan Adam dan Sania. "Aku juga akan terus mengontrolnya dari jauh."

__ADS_1


Walaupun berat Adam harus merelakan Leon kembali ke orangtuanya karena biar bagaimana pun Marco membutuhkan putranya untuk meneruskan perusahaan bonafidnya di Jakarta.


"Iya, nak... kakek percaya padamu. Memang sudah saatnya kakek mempercayai Jordan. Apalagi kamu sudah membimbing dan dia juga sudah menjadi asistenmu. Artinya sudah banyak hal yang ia pahami tentang bisnis." Imbuh kakek. Leon tersenyum senang.


"Ya udah... kita masuk, yuk. Sudah gelap." Tak terasa matahari sudah sampai di tempat peraduannya tanpa mereka sadari karena asyik membahas si Jordan.


Setelah makan malam, Leon masuk ke dalam ruang kerjanya untuk segera menyelesai semua pekerjaan sebelum menyerahkan pada Jordan. Namun, ia sedikit terkejut saat nada dering telepon selulernya terdengar.


"Hai, kak.... kangeeen." Suara cempreng seorang perempuan terdengar sekaligus menampakkan wajah imutnya di seluler Leon. Siapa lagi kalau bukan Ninda Guatalla, adik satu-satunya Leon yanh kini sedang menekuni dunia kedokteran.


"Dasar centil." Balas Leon datar.


"Ck... dasar penguin kutub." ketus Ninda kesal. Kakaknya tidak pernah merasa antusias jika menerima telepon darinya. "Kakak tuh nggak pernah kangen aku, ya? setiap kali ditelepon pasti datar." Protes Ninda sambil memperlihatkan bibir manyunnya. Leon tersenyum kecil mendengar rengekan adiknya.


"Katakan... ada apa?" Tanya Leon tak menjawab pertanyaan Ninda.


"Kak... aku ditugaskan praktek ke desa terpencil sebelum melanjutkan pasca sarjana, tapi papa nggak ngasih ijin, kak." Keluhnya sedih. "Kakak ngomong sama papa, ya? Pleaseeee..." Pintanya sambil memohon dan menangkup kedua tangan di dada. "Aku harus ke sana, kak. Aku ingin membantu ibu-ibu di desa terpencil bisa melahirkan dengan normal dan sehat." Keluhnya sedih.


"Emang kamu bisa?" Ledek Leon sengaja menggoda adiknya.


"Iiiiiih... kakak meremehkan aku?" Serang Ninda sewot tak terima diremehkan sang kakak. "Aku udah belajar selama ini sampai harus berantem sama papa, ya. Kemana-mana dijaga sama orang-orangnya papa. Diantar jemput kayak anak TK. Terus kk remehin aku?" Sambungnya masih tak terima. Leon tak bisa menahan tawa. Ia memalingkan telepon seluler menjauh dari wajahnya agar tak terlihat oleh Ninda. Adiknya ini memang salah satu orang yang bisa membuat Leon tertawa. "Makanya cepat nikah. Supaya kalau istri kk hamil nantinya aku yang bantu melahirkan." Sewotnya dengan wajah garang.


"Ah... kakak nggak akan pakai dokter kayak kamu." Seru Leon masih terus memanas-manasi Ninda.


"Iiiih... papa sama kakak sama aja. Nyebelin." Gerundel Ninda tidak suka. "Ya udah... percuma ngomong sama kakak. Aku mau belajar sama Ayu. Bye, kak." Sebelum menutup panggilannya, Ninda sempat memperlihatkan wajah Ayu pada Leon. Gadis manis itu sedang asyik membaca buku sambil menopang dagu. Ia tak menyadari ada sepasang mata yang menatapnya dari jauh.


"Ayu? Gadis kecil itu?"

__ADS_1


Klik! Sambungan telepon terputus. Tidak ada wajah manis itu lagi. Padahal sejumlah pertanyaan masih bersarang di kepala Leon tentang gadis yang dipanggil nama Ayu oleh Ninda.


"Anaknya bibi Rossa?" Gumam Leon penasaran.


__ADS_2