Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Suatu saat nanti ia akan menjadi bos besar.


__ADS_3

"Nggak nyangka ya, sayang... akhir cerita Valencia harus menikah dengan laki-laki yang menghamilinya karena kecerobohan sendiri." Dengan manja Icha bersandar di dada Marco setelah mengarungi lautan kenikmatan berdua. Tanpa mengenakan pakaian mereka masih asyik berpelukan dalam selimut tebal.


"Belum berakhir, yang... justru ini awal badai perjalanan rumah tangga mereka." Sahut Marco sambil mengelus lengan Icha. "Masih akan ada banyak drama yang dibuat Valencia." Icha mengerutkan kening tak mengerti. "Pernikahan mereka dilakukan karena terpaksa, bukan berdasarkan cinta. Aku berharap Rama bisa bertahan." Imbuh Marco cepat merespon wajah tak paham istrinya.


"Aku liat Rama orangnya baik." Ucap Icha.


"Sangat baik malah." Sahut Marco cepat menyetujui ucapan Icha. "Coba kamu bayangkan kalau yang menghamilinya laki-laki lain, belum tentu mereka mau bertanggung jawab." Marco menarik napas panjang. "Maka dari itu, aku berharap Valencia bisa melihat sisi baik dari Rama. Kalau nggak yaaa.... dia sendiri yang akan menyesal." Icha mengangguk menyetujui perkataan Marco.


"Udah ah... mandi, yuk. Aku mau main sama Leon." Tanpa banyak tanya, Marco menggendong tubuh Icha dan membawanya ke kamar mandi.


"Awww..." Icha teriak karena kaget tiba-tiba merasakan tubuhnya melayang di udara. Ia mencubit gemas dada Marco.


"Kamu kok makin berat sih?" Goda Marco membuat Icha melototkan mata tak suka. "hahahaha..." Marco terbahak melihat ekspresi istrinya. "Dasar perempuan... dikatain berat badan aja langsung sensi."


"Ya iyalah..." Ujar Icha manyun. "Emang aku makin berat ya, sayang?" Tanyanya kepo.


"Dikit..." Marco meletakkan Icha ke dalam bathtube lalu menekan tombol untuk mengisi air. Ia juga memasukkan sabun cair beraroma mawar kesukaan Icha. "Tapi tetap cantik. Malah tambah seksi." Lanjut Marco sambil memeluk tubuh Icha dari belakang. Icha hanya tertawa bahagia mendengar gombalan Marco.


Hanya membersihkan badan saja membutuhkan waktu lebih dari satu jam. Itu karena ulah Marco yang kembali mencumbu sang istri. Dengan pasrah, Icha meladeni keinginan suaminya. Mereka kembali merajut kenikmatan dalam bak mandi bertembok marmer mahal. ******* kedua makhluk berbeda jenis kelamin itu semakin membuat mereka terangsang untuk terus meraup kenikmatan.


"Aaaaaaah... nikmat banget, yaaaang." Akhirnya ******* panjang terdengar dari kedua bibir mereka.


"Makasih, sayang..." Marco mengecup bibir Icha yang terlihat lelah memejamkan mata. Ia membantu membersihkan tubuh sang istri yang terlihat sangat lelah.


15 menit kemudian, mereka keluar dari kamar mandi dengan handuk baju masing-masing. Icha menyiapkan pakaian ganti Marco sebelum ia memakai pakaian rumahnya sendiri.


"Hai, kek..." Sapa Marco ketika mereka sudah berada di taman belakang. Baby Leon yang melihat kehadiran kedua orangtuanya langsung mengoceh senang dan mengulurkan tangan pada Marco.


"Hei anak papa... sudah pintar ngoceh ya sekarang." Marco menyambut uluran tangan baby Leon dan segera menggendong putra sulungnya itu.


"papapapapa..." Terdengar ocehan Leon. Semua tertawa bahagia mendengar suara lucu bayi gembul itu.


"Kakek bahagia... masih diberi kesempatan oleh Allah untuk melihat kalian bahagia terlebih bisa melihat tumbuh kembang cicit kakek." Gumam kakek pelan. Ia mengelus lembut kepala Leon yang sudah sangat aktif.


"Kakek memang harus lebih lama hidup untuk melihat cicit-cicit kakek." Imbuh Marco cepat. Kakek tertawa mendengar celetukan Marco.


"Emang kalian mau memberikan kakek cicit lagi?" Tanya kakek senang.


"Pasti dong, kek..." Sahut Marco cepat. Icha mendengus kesal mendengar jawaban Marco yang tanpa kompromi dengannya.


"hahahahahahaha... lihat tuh wajah Marissa." Tawa kakek makin menggema melihat raut wajah kesal Icha.


"Nggak papa, non... tenang aja. Aku siap menjaga adik-adik baby Leon." Sambar Rossa yang sedari tadi menjaga Leon.


"Ck... kamu lagi." Kesal Icha pada Rossa. Semua tertawa bahagia.


"Kakek berharap Adam dan Sania bisa merasakan kebahagiaan ini." Lirih kakek sendu.


"Pasti, kek... suatu saat daddy dan mommy akan merasakan kebahagiaan ini." Pungkas Icha memberi semangat pada kakek. Ia tak ingin melihat pria tua bersedih hati. "Sayang... Gimana kalau kita ke Amerika ketemu opa dan oma Leon?" Tanya Icha. "Leon udah jalan 9 bulan tapi belum bertemu opa dan omanya." Sambung Icha lagi.


"Daddy dan mommy yang mau ke sini, sayang... Kemarin daddy meneleponku di kantor." Sahut Marco pelan.

__ADS_1


"Oh ya? Adam tidak memberitahu kakek." Seloroh Kakek tak percaya.


"Iya, kek... daddy baru menyelesaikan proyek besar di sana, makanya baru bisa ke sini." kata Marco.


"Adam pasti sangat senang bisa bertemu dengan cucunya." Ujar kakek tersenyum.


"Bibibibibi..." Terdengar Leon memanggil Rossa dengan sapaan bibi.


"Iya, ganteng.... bibi di sini. Mau ngemil?" Tanya Rossa lembut.


Kakek dan Marco terpana melihat perkembangan baby Leon yang sudah semakin banyak kosa kata.


"Mam... sang..." Ujar Leon dengan lucunya.


"Iya... udah waktunya makan pisang, ya... udah lapar ya gantengnya bibi ini." Ternyata Leon sudah bisa meminta makanan kesukaannya pada Rossa. Marco tertawa bahagia melihat perkembangan Leon.


"Udah pintar ngomong, ya..." Ujarnya takjub.


"Udah dong... papa aja yang sibuk terus. Iya kan, nak?" Icha menggenggam tangan Leon yang terus saja mau melangkah. Sedangkan Rossa menuju ke arah dapur untuk menyiapkan ngemil buat Leon.


"Selamat sore tuan, nyonya... Ini teh sorenya." Hartini datang dengan membawa nampan berisi tiga cangkir teh dan setoples kue nastar buatan Icha. "Baby Leon tunggu bibi Rossa, ya." Hartini mencium gemas tangan Leon.


"Makasih bi..." Ucap Icha ramah.


"Sama-sama, non." Hartini kembali ke dapur.


"Bagaimana dengan Rama?" Tanya kakek.


"Masih menjadi asisten kamu?" Tanya Kakek merasa heran.


"Masih, kek. Om Christo belum mengajaknya masuk perusahaan mereka." Marco berbicara sambil terus melihat tingkah Leon yang menggemaskan. "Lagian biar Rama mencari pengalaman di GT Corp dulu sampai ia mampu berdiri sendiri." Lanjut Marco. Ia mengambil segelas teh dan menyesapnya dengan nikmat. Teh beraroma lemon itu terasa hangat sampai ke dalam perut.


"Iya, kamu benar. Biarkan Rama belajar di GT Corp dulu." Kakek mendukung keputusan Marco. "Terus bimbing dia sampai ia mampu menjadi seorang pemimpin." Lanjut kakek serius.


"Pasti, kek." Janji Marco.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu di kediaman Christo, perdebatan sedang terjadi di dalam sebuah kamar. Suami istri yang baru tiga hari sah membentuk rumah tangga.


"Pokoknya aku nggak mau pindah dari sini. Kalau kamu mau pindah ya kamu pindah aja sana. Emang Kamu nggak pantas tinggal di rumah mewah seperti ini." Kalimat sarkas itu keluar dari mulut Valencia. Rama menggeleng kepala melihat sikap Valencia. Namun, senyum manis tetap ada pada bibirnya.


"Kamu itu istri aku. Setelah menikah, kamu menjadi tanggung jawabku." Rama tetap membalasnya dengan volume suara rendah. Tak ada marah. Tak ada benci. Ia hanya merasa Valencia masih harus terus dibimbing menjadi layaknya seorang istri.


"Jangan sok bertanggung jawab kamu. Emangnya kamu punya apa??? Lagaknya bertanggung jawab." Ketus Valencia meremehkan suaminya. Rama menarik napas berat.


"Kenapa semuanya kamu ukur dengan harta?" Tanya Rama pelan. Valencia menatap nyalang pada Rama.


"Memangnya kalau nggak ada harta kamu bisa apa?" Sewot Valencia. "Buktinya karena uang kamu mau saja kan meniduriku?" Sambungnya ketus. Lagi-lagi Rama harus menarik napas berat dan membuangnya kasar.


"Tidak bisa kah kamu berpikir lebih postitif dari pada hanya soal uang dan harta? Bisa saja ini jalan Allah untuk mempertemukan kita." Jelas Rama masih dengan sabar.

__ADS_1


"Kepedean kamu! Itu takdir yang salah. Lagian Tuhan tau karakter seperti apa yang aku inginkan. Bukan pria miskin seperti kamu." Tekan Valencia kesal. Rama menatap mata bulat Valencia. Cantik. Tapi sayang, belum kelihatan ada cinta untuknya di mata itu. Yang ada hanya amarah dan kebencian.


Valencia salah tingkah ditatap oleh laki-laki yang sudah berstatus suaminya. Tak dipungkiri jikalau laki-laki miskin ini sangat bertanggung jawab hingga mau menikahinya. Namun, status sosial masih menjadi permasalahan utama bagi Valencia. Tak pernah sekalipun ia bermimpi akan menikah dengan laki-laki yang jangankan harta, rumah saja masih kontrak dengan ibunya.


"Ngapain kamu lihat aku begitu?" Sentak Valencia tak suka. Rama tersenyum. Manis. Pikir Valencia sesaat.


"Kamu nggak capek dari tadi marah-marah? Kasian anak kita. Mending sekarang kamu istrahat." Dengan lembut Rama terus mengambil hati Valencia. Ia menyadari bahwa wanita seperti Valencia harus dihadapi dengan lembut, maka dengan sendirinya pasti suatu saat hatinya akan luluh.


"Nggak perlu kamu ajarin aku." Valencia berjalan pelan menuju sofa untuk duduk. Benar kata Rama. Dengan keadaannya seperti ini, marah pun terasa sangat melelahkan.


Rama mengambil air putih dan memberikan pada Valencia.Walaupun kesal, Valencia tetap menerima gelas berisi air itu karena memang ia sedang sangat haus sekarang. Rama tersenyum simpul melihat Valencia yang menghabiskan banyak air.


"Sekarang istirahatlah. Aku harus bersiap-siap. Tuan Marco menyuruhku untuk bertemu klien di restoran x jam tujuh malam nanti." Rama membuka koper pakaian dan mengambil baju untuk dipakai. "Untunglah nggak kusut." Gumamnya pelan sambil melihat baju kemeja berwarna biru langit di tangannya.


Ya, Valencia tidak mengijinkan Rama memakai lemari dalam kamarnya. Tidur pun tak boleh di tempat tidur. Rama harus tidur di sofa kamar. Namun, Rama bukan laki-laki manja yang harus mengeluh karena diperlakukan sedemikian buruk oleh istri sendiri. Ia yang hidup susah dari kecil, sudah terbiasa tidur di kursi bahkan di lantai yang dingin. Apalagi sekarang ia sedang mengambil hati sang istri dan berusaha mendapatkan cintanya. Ia tak mau terlihat manja dan cengeng.


Semua pergerakan Rama tak lepas dari penglihatan Valencia. Ada segurat rasa aneh dalam hati namun ia pun tak paham apa arti dari rasa itu. Apa jangan-jangan Valencia merasa kasihan dengan laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya itu karena harus tidur di sofa dan selalu menerima semua perlakuan buruknya?


Ah.... masa bodoh.


Valencia berbalik badan membelakangi Rama. Ia menutup mata ketika pinggangnya yang mulai terasa sakit.


"Kamu kenapa?" Secara reflek Rama memegang bahu Valencia ketika mendengar sedikit keluhan sakit dari mulut istrinya. "Apa yang sakit?" Tanya Rama kuatir. Bukannya mendapat jawaban malah tangannya ditepis kasar oleh Valencia.


"Nggak usah pegang-pegang!" Bentak Valencia tak suka. Rama segera menjauhkan diri. Valencia bangun dari duduknya dan berjalan menuju tempat tidur. Ia harus berbaring sebentar untuk melepas lelah dan meluruskan otot pinggang yang terasa nyilu.


Rama hanya terdiam melihat Valencia. Ia pun segera mandi dan bersiap menuju restoran tempat bertemu klien dari Jepang. Sebelum keluar dari kamar, ia mendekati Valencia yang sudah terlelap dalam mimpi.


Cup


Dikecupnya kening dan perut besar Valencia.


"Aku pergi." Bisiknya pelan.


Ia menyadari jikalau kehadirannya belum diterima oleh sang istri bahkan keluarga besarnya. Namun, demi anak dalam kandungan Valencia, ia harus bertahan. Bahkan ia bertekad untuk mendapatkan cinta dan diterima oleh Valencia.


Tak lama kemudian, ia keluar dari kamar menuruni tangga.


"Mau kemana, Rama?" Suara ayah mertua mengagetkannya.


"Mau ketemu klien dari Jepang, pa. Tuan Marco ada tugas lain hingga ia memerintahkan saya untuk menggantikan." Jawab Rama sopan. Christo mengangguk pelan.


"Oh ya, pa... mungkin aku pulang agak larut. Titip Valencia ya, pa. Dia belum makan. Sekarang dia lagi tidur."


"Ya, pasti... nanti papa bangunkan untuk makan malam. Kamu hati-hati." Imbuh Christo ramah. Rama bersyukur karena ayah mertuanya sudah menerima kehadirannya dalam rumah ini.


"Aku berangkat, pa." Pamitnya dan segera berlalu.


"Mau ke mana dia malam-malam begini? Kayak bos besar aja." Cibir Riska menyindir Rama.


"Kamu tenang aja... suatu saat ia akan menjadi bos besar." Timpal Christo tanpa melihat Riska dan langsung pergi begitu saja menuju ruang kerjanya.

__ADS_1


"Cih... bos besar." Dengus Riska kesal.


__ADS_2