Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Rahasia Icha.


__ADS_3

Waktu terus berputar tanpa peduli keadaan dan situasi di sekitarnya. Ia tidak peduli saat Marco dan Icha yang masih bertahan di tempat masing-masing dengan perasaan saling merindukan. Ia pun tak acuh saat Icha harus terluka untuk yang kedua kalinya.


Belum lagi Valencia, yang masih tak mau menyerah untuk meyakinkan Marco tentang cinta mereka yang pernah terjalin selama 6 tahun. Ia belum mengetahui bahwa hati dan perasaan Marco sudah tertutup rapat untuknya. Saat ini hanya ada nama Marissa Lebrina yang terpatri di hati dan otaknya. Setiap hari ia masih datang ke kantor Marco dan mengemis cinta pada Marco. Namun, hati Marco benar-benar sudah tertutup untuknya.


"Aku akan ke kota x, kek." Ucap Marco saat mereka sama-sama sedang menikmati sarapan. "Sudah tiga minggu Marissa menjauh dariku. Aku harus menemuinya, kek." Lanjutnya serius. Rasa rindu ini sudah tak tertahankan. Ia harus menemui gadis itu dan menjelaskan semuanya. Ia mau segera memperbaiki hubungannya dengan Icha.


Kakek mengganggukkan kepala menyetujui rencana Marco. Ia tersenyum tipis mengingat wajah gadis lembut itu. Hatinya langsung terpaut pada gadis itu. Ia merasa melihat mendiang istrinya dalam diri Icha. Mungkin karena icha dan mendiang nyonya Guatalla berasal dari kota yang sama.


"Ya, sebaiknya kamu temui dia. Sudah cukup saling introspeksi diri. Saatnya meluruskan kesalahpahaman antara kalian." Sahut kakek mendukung cucunya. "Kapan rencana kamu ke sana?" tanya kakek. Ia meneguk habis air putih hangatnya. Di umur seperti ini, beliau lebih banyak minum air putih hangat dari pada air berwarna lainnya.


"Nanti siang, kek. Aku masih harus bertemu mr. Tanaka. Ia sedang berkunjung ke Indonesia untuk memantau cabang perusahaannya." Sahut Marco.


Setelah menghabiskan sarapan, Marco pamit dan segera ke perusahaan. Ia meminta waktu pertemuan dengan mr. Tanaka pukul 10 pagi ini. Sebenarnya, pria asal Jepang itu ingin mengajak makan siang, tetapi Marco menolaknya karena harus berangkat ke kota x.


Tiba di kantor, Marco keluar dari mobilnya dan hendak menuju ke lift khusus pimpinan. Tetapi matanya menangkap seseorang yang ia kenal.


Aku lupa kalau Marissa punya sahabat yang bekerja di sini juga. Aku harus bertemu dengannya. Gumamnya.


Marco masuk dalam lift dan menekan tombol menuju lantai ruangannya berada. Ia disambut Raymond saat sudah berada di lantai 25.


"Ray... panggil Wulan, sahabat Marissa dari divisi keuangan. Aku ingin bertemu dengannya." ucapnya sebelum masuk ke ruang kerja. Raymond mengangguk dan segera menjalankan perintah tuannya. Ia tidak perlu turun ke lantai bawah untuk memanggil Wulan. Ia masuk ke dalam ruang kerjanya dan menelepon manajer keuangan.


"Panggilkan staf yang bernama Wulandari Rahayu untuk menghadap CEO." Perintah Raymond pada manajer Wulan. Ia segera menutup telepon setelah mendapat jawaban dari manajer itu.


Tak menunggu waktu lama, Wulan pun datang. Ia sedikit shock saat diberitahu manajernya untuk menghadap CEO. Ia berjalan gugup sampai di depan ruangan Marco, menarik napas beberapa kali dan membuangnya pelan, agar rasa gugupnya sedikit berkurang. Tangannya sudah terangkat untuk mengentuk pintu, diturunkan lagi. Dan itu dilakukan berulang kali.


Raymond yang sudah berada di belakang Wulan hanya melihat apa yang gadis itu lakukan.


"Aduuuuh, kok aku jadi takut ya mau ketemu pak Marco. Apa aku juga akan dipecat sama kayak Icha, ya?" gumamnya pelan tetapi masih bisa didengar oleh Raymond.


"Dipecat?" suara Raymond yang tiba-tiba terdengar membuat Wulan berpekik dan terlonjak kaget. Ia menutup mulutnya ketika berbalik dan mendapatkan orang nomor dua di perusahaan ini sudah berada berdiri di belakangnya. "Apa maksud kamu dipecat?" tanya Raymond datar.


"oh.. eeeeh, itu anu, tuan... " Wulan salah tingkah. Saking kaget sampai membuat ia bingung harus bicara apa.


"Jelaskan apa maksud kamu 'dipecat'?" Tanya Marco mengintimidasi Wulan. Gadis itu menunduk, tidak berani menatap Raymond. Namun, sebelum Wulan menjawab, Raymond seperti mengingat sesuatu. Ia melebarkan mata. "Ooooh... God. " Ia menepuk keningnya dan langsung berbalik badan pergi meninggalkan Wulan.


"Kenapa dia?" Tanya Wulan bingung melihat tingkah Raymond. Tetapi, sejenak ia teringat untuk apa ia berada di lantai 25 ini. Ia berbalik menghadap pintu ruangan Marco, menarik napas panjang dan mengetuk pintu.

__ADS_1


"Masuk!" Terdengar suara dari dalam. Sekali lagi ia menarik napas panjang dan memutar knop pintu.


"Selamat pagi, tuan." Sapa Wulan setelah berada di hadapan Marco. Laki-laki itu masih sibuk memainkan jarinya di atas tuts laptop.


"Ya, pagi. Kamu boleh duduk dulu." Sahut Marco sambil menunjuk sofa. Wulan segera menuju sofa dan duduk manis di sana. Sedangkan Marco masih serius menatap laptop dan mengetik cepat dengan sepuluh jarinya.


Suasana hening. Wulan memandang wajah tampan di depannya.


Pantas saja dia menjadi idola banyak perempuan. Kharismanya benar-benar terlihat dari wajahnya. Gumam Wulan dalam hati.


Tak lama kemudian, Marco menutup laptopnya, bangun berdiri dan menghampiri Wulan. Ia duduk di sofa tunggal.


Wulan menelan salivanya ketika Marco menatapnya dingin.


"Nggak usah gugup begitu. Saya hanya mau bertanya tentang Marissa." ucap Marco santai. Ia pun menggunakan bahasa Indonesia yang lebih santai. Berbeda kalau ia sedang memimpin rapat atau bertemu klien. Ia akan menggunakan bahasa Indonesia baku yang baik dan benar.


Marco melemparkan senyum yang membuat Wulan melongo. Cakep banget. Ungkap Wulan dalam hati.


"Marissa? Eh, eee... ma-mak-sud anda Icha, tuan?" Tanya Wulan gugup.


"Ya, Icha. Apakah ia sering menghubungi kamu?" Tanya Marco penasaran. Wulan menggangguk cepat.


Wulan menunduk. Ia menggelengkan kepala dengan raut wajah sedih. Marco mengerutkan kening.


"Ada apa?" Tanya Marco sedikit cemas.


Wulan mengangkat kepala memberanikan diri menatap Marco.


"Kenapa anda tega menyakitinya dua kali?" Wulan melontarkan unek-unek yang selama ini ingin sekali ia tanyakan pada Marco.


Marco memicingkan matanya.


"Apa maksud kamu 'dua kali'?" Tanya Marco. Raut wajahnya berubah. Wulan menelan salivanya yang terasa sudah mengering. Tetapi, ia sudah berniat untuk menanyakan hal ini pada Marco.


"Pertama, anda tidak jujur kalau anda sudah mempunyai tunangan. Yang kedua, anda bukannya menjelaskan semua pada Icha, tetapi justru anda.... " Wulan yang tanpa sadar sudah berani bicara di depan Marco mengeluarkan airmatanya. Ia masih menatap Marco sedikit marah.


"Justru saya...." ulangi Marco berharap Wulan memberitahu kesalahan keduanya.

__ADS_1


"Anda memecatnya, tuan." Lirih Wulan pelan. Marco semakin mengerutkan keningnya.


"Apa maksud kamu?" Tanya Marco tidak mengerti.


"Perusahaan mengirim surat pemecatan pada Icha beberapa hari lalu." Kalimat yang dilontarkan Wulan membuat Marco melongo sesaat, berusaha mencerna maksud perkataan sahabat kekasihnya itu. Sampai akhirnya ia mengerti kesalahpahaman yang terjadi.


"Ooooh... ****." Makinya pada diri sendiri. " Kenapa aku begitu bego!?" sesal Marco menutup muka dengan kedua tangannya. Ia bangun dan menuju meja kerja. Diraihnya telepon genggam dan menelepon seseorang.


"Segera ke mari!" Perintahnya singkat dan langsung memutuskan panggilan. Ia kembali duduk berhadapan dengan Wulan.


"Saya minta maaf... Saya sama sekali tidak tau kalo bagian HRD sudah mengirim surat pemecatan." Ucap Marco dengan rasa menyesal. "Itu memang sudah tugas mereka untuk mengeluarkan surat pemecatan bagi karyawan yang tidak masuk kerja selama 3 hari tanpa pemberitahuan." Ia meremas rambutnya frustasi. "Di dalamnya sudah ada scan tanda tangan saya." Lirihnya pedih.


Ia bisa membayangkan bagaimana kecewanya Icha pada dirinya. Ia harus segera menemui gadis itu.


"Oooh sayang... maaf." Sesalnya mendalam.


Wulan yang melihat betapa menyesalnya Marco, mulai sedikit tersenyum.


"Icha sangat kecewa pada anda, tuan." Wulan mulai bersuara. "Tetapi percayalah. Dia gadis yang baik. Dia juga seorang pemaaf." lanjutnya Pelan. "Temui dia, tuan. Dia sangat mencintai anda." ucap Wulan membuat Marco mengangkat kepala melihat Wulan. Ada secercah bahagia menggelitik hatinya. Ia ingin Wulan lebih menjelaskan tentang kalimat itu.


"Dia jatuh cinta pada anda sejak anda menjadi guru kami. Icha tidak pernah jujur pada siapapun tentang perasaannya. Termasuk kepada saya. Dia sangat tertutup. Dia menyimpan semua rasa itu dalam hatinya sendiri." Terang Wulan panjang lebar.


"Lalu dari mana kamu tau kalo Marissa jatuh cinta pada saya?" Marco mulai penasaran.


"Suatu sore, saya datang ke rumah Icha. Kami janjian untuk mengerjakan tugas yang anda berikan bersama. Waktu itu, Icha masih mandi jadi saya menunggu di kamarnya. Tanpa sengaja saya melihat sebuah buku diari di meja riasnya. Iseng saya membukanya. Di situ semua tertulis tentang perasaannya pada anda." Ungkap Wulan jujur.


Marco menutup wajah dengan kedua tangannya. Penyesalannya semakin dalam.


"Sampai saat ini Icha tidak tau kalo saya sudah pernah membaca diarinya. Saya juga tidak mau memberitahunya. Saya tidak mau membuatnya kecewa." Tandasnya lagi. "Icha memang orangnya tertutup. Ia selalu menyimpan semua persoalannya sendiri." Keluh Wulan. "Karena itu... temui dia, tuan. Perbaiki hubungan kalian." harap Wulan pada Marco. Marco mengangguk pasti


Pintu ruangan kerja Marco terbuka. Raymond muncul dengan sebuah surat di tangannya.


"Siapkan tiket pesawat ke Bandung hari ini. Saya harus segera sampai di sana." Perintah Marco pada Raymond. Sebenarnya bisa saja ia mengendarai mobil sampai ke kota asal Icha. Tetapi, itu hanya akan membuang banyak waktu. Karena itu, Marco ingin segera sampai ke Bandung menggunakan pesawat terbang. Ia harus segera meluruskan kesalahpahaman yang sudah membuatnya dan Icha terpisah.


"Siapkan sua seat. Wulan akan ikut bersama saya. Kamu laporkan ke divisinya." Perintah Marco lagi. Raymond menunduk hormat. Sedangkan Wulan kaget mendengar namanya disebut Marco.


"Kamu bersiaplah. Kita akan ke Bandung siang ini." Marco kembali ke meja kerja dan membuka laptopnya. Ia tidak menunggu jawabab dari Wulan lagi, karena memang itu bukan pertanyaan tetapi perintah. Mau tidak mau Wulan harus menurutinya.

__ADS_1


"Saya pamit, tuan." Tegur Wulan sopan dan segera keluar dari ruangan Marco.


Sampai di luar, ia menarik napas lega. Lega karena sudah jujur pada Marco tentang Icha. Wulan berharap hubungan mereka akan membaik dan kembali bersama.


__ADS_2