Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Leon dan Nindi Guatalla.


__ADS_3

20 tahun kemudian....


Setelah menikah dan kembali ke mansion keluarga Guatalla, Rossa dan Haris tinggal di paviliun belakang yang disiapkan kakek untuk mereka. Walaupun sebenarnya Icha sudah menghadiahkan mereka sebuah rumah sederhana nan asri dan sejuk, namun Marco meminta untuk mereka tetap tinggal sementara waktu di paviliun belakang mansion agar Rossa bisa menjaga Leon dengan intens. Haris juga menyetujuinya. Apalagi ketika baby Leon sudah mulai masuk sekolah, Haris harus stand by untuk mengantar jemput anak majikannya itu.


Setelah tiga tahun menikah, Rossa pun hamil anak pertama mereka dan tak disangka Icha pun hamil anak keduanya. Mereka menjalani kehamilan bersama seperti bukan majikan dan asisten. Semua yang menjadi keinginan Rossa selalu disediakan Icha. Hingga mereka melahirkan dua anak perempuan yang cantik.


Dian Ayunda, gadis manis putri dari Rossa dan Haris kini sudah berusia 20 tahun. Sama halnya dengan Ninda Lebrina Guatalla, anak kedua dari Marco dan Marissa. Gadis cantik yang sekarang sedang melanjutkan studi di unversitas x, salah satu universitas tersohor di Jakarta.


Berbeda dengan Leon yang sejak kematian kakek alias Mr. LG tujuh tahun yang lalu membuat ia merasa sangat kehilangan dan memutuskan melanjutkan sekolah di Amerika bersama opa dan omanya. Sikap dingin Marco benar-benar menurun pada putra tunggal kebanggaannya itu. Marco menaruh banyak harapan pada pemuda tampan nan jenius itu.


Ninda dan Ayu mengambil program studi kedokteran di universitas yang sama. Ninda lebih memilih menjadi dokter kandungan sedangkan Ayu memilih menjadi dokter umum untuk program studi S1. Setelah lulus, baru ia memikirkan untuk melanjutkan kuliah dokter spesialis penyakit dalam. Itu keinginannya, namun ia juga harus memikirkan biaya ke depannya. Ia tak mau terus merepotkan orangtua Ninda yaitu Marco dan Icha yang sudah membiayai sekolahnya dari baru mulai masuk sekolah dasar sampai saat ini.


Semenjak Leon berangkat ke Amerika, Rossa dan Haris meminta ijin untuk pindah ke rumah pribadi mereka. Sepasang suami istri itu hanya ingin mandiri sambil terus bekerja pada keluarga Guatalla. Hingga akhirnya, Icha membuka sebuah rumah makan cukup besar untuk Rossa. Dan sudah enam tahun ini rumah makan Rossa berjalan lancar. Sedangkan Haris, tetap menjadi sopir pribadi Ninda, anak perempuan Marco.


"Kok ngelamun?" Seperti kebiasaan Marco selama dua puluh lima tahun menjadi suami Icha, ia memeluk sang istri dari belakang dan ceruk leher Icha selalu menjadi sasaran empuk untuk dicium.


"Sepi ya, pa... anak-anak sudah pada besar. Sudah asyik dengan dunia mereka masing-masing." Keluh Icha sambil menyandarkan kepala ke dada suaminya.


"Kamu yang mau cukup dua anak, kan? Padahal aku mau kita memiliki banyak anak supaya kita tidak kesepian di hari tua nanti." Goda Marco dan mendapat cubitan kecil di tangannya.


"Kapan Leon pulang, pa? Mama kangen." Suara serak Icha mulai terdengar. Setiap kali menyebut nama putranya, airmata kerinduan Icha harus luruh. Dan hal ini sangat tidak disukai Marco.


"Ck... kenapa setiap kali menyebut nama anak nakal itu, kamu harus menangis sih? Kamu tau kan aku paling tidak suka melihat kamu bersedih." Lirih Marco pelan.


"Enak aja... anak aku bukan anak nakal, ya. Dia anak yang manis." Protes Icha sambil memukul pelan tangan Marco. Laki-laki yang sudah berkepala lima namun masih terlihat tampan itu tertawa kecil. Ia segera mengambil telepon genggamnya dan menekan beberapa angka.


Setelah menunggu beberapa menit, terlihatlah wajah tampan pada kamera HP Marco. Leon terlihat gagah dengan jas mahal dan sementara berada di dalam ruang kerjanya.


"Hai, pa..." Suara berat Leon membuat Icha mengambil telepon genggam dengan kasar dari tangan Marco.


"Nak...." Baru satu kata saja, Icha langsung menangis dan memeluk Marco.


"Apa yang kau lakukan pada istriku, anak nakal?" Pungkas Marco sengaja memarahi Leon. Ya, hubungan Leon dan sang papa layaknya seorang teman atau sahabat. Tak ada jarak. Itu yang sengaja dilakukan dan diajarkan Marco pada anak-anaknya.


"Ck... istri papa itu mamaku. Masa aku tega membuat mama menangis." Kilah Leon. "Ma..." Panggilnya pada sang mama. Dengan masih memeluk Marco, Icha melihat ke arah kamera yang dipegang suaminya. "Kenapa sih hobinya menangis?" Ledek Leon membuat Marco tertawa. Ia teringat itu kata-kata yang sering ia lontarkan pada sang istri dulu.

__ADS_1


"Kapan pulang?" Lirih Icha dengan suara pelan.


"Iya, ma... Leon pasti pulang. Perusahaan kakek di sini juga masih harus Leon urus sebelum benar-benar bisa dipercaya pada orang lain." Jelas Leon dengan nada lembut. Ia paling tidak bisa berbicara kasar pada sang mama. "Tidak lama lagi kok, ma... Leon pasti pulang." Sambungnya lagi. "Anak perempuan mama itu ke mana? Pasti kerjaannya keluyuran aja." Ujarnya sengaja membuat Icha tertawa.


"Ninda lagi sibuk dengan kuliahnya. Dia juga harus praktek di semester ini." Jawab Icha mulai bisa diajak ngobrol oleh Leon. Marco menuntunnya duduk di kursi balkon sambil bercerita banyak dengan Leon. Kalau sudah begini, Marco tidak akan mengganggu mereka. Karena ia tahu bagaimana perasaan rindu Icha pada anak tertua mereka.


"Bibi Rossa udah jarang ke rumah ya, ma?" Tanya Leon. Icha mengangguk.


"Bibi sibuk di restorannya. Paman Haris aja yang masih ke sini tiap hari nganterin adik kamu ke mana-mana." Jelas Icha.


"Oh ya... anaknya bi Rossa yang seumuran sama Ninda, siapa namanya?" Tanya Marco mengingat wajah anak remaja yang biasa datang dan bermain dengan Ninda di rumah ini.


"Ayu sama Rissa..." Icha menyebut nama dua orang anak perempuan Rossa. "Ayu juga sudah kuliah bareng Ninda. Sedangkan Rissa masih SMP." Lanjut Icha menjelaskan. Leon hanya manggut sambil mencoba mengingat wajah Ayu yang masih kecil dulu.


"Gimana perusahaan papa, ma?" Tanya Leon.


"Alhamdulillah... baik. Papa juga masih sehat dan kuat untuk memegang perusahaan. Tapi mama harap kamu cepat pulang dan gantikan papa, nak... supaya papa bisa istrahat." kata Icha. "Om Raymond dan om Berry juga selalu membantu papa." Lanjut Icha.


"Anak perempuan mama itu kenapa tidak diarahkan untuk belajar tentang bisnis aja, ma? Biar bisa membantu papa di situ." Imbuh Leon yang selalu menyebut adiknya dengan anak perempuan mama.


"Jangan dipaksa, L... Ninda memang passionnya di kedokteran. Biarin aja anak-anak mama mau jadi apa, yang penting kalian nyaman dengan sekolah dan pekerjaan yang kalian pilih." Ini yang Leon suka dari ibunya, bijak dan selalu percaya pada pilihan anak-anaknya.


"Kamu sudah menyita waktu berdua dengan istriku, anak nakal." Protes Marco sambil memeluk Icha. Leon hanya tersenyum senang melihat kemesraan kedua orangtuanya walaupun sudah hidup bersama selama dua puluh lima tahun, cinta mereka tak pernah sedikit pun memudar.


"Baiklah... Silahkan menikmati waktu berdua. Aku harus bersiap menemui klien." Leon bangun dari kursi kebesarannya di ruangan kerja hendak menuju ke kamar pribadinya. Perbedaan waktu antar Amerika dan Indonesia cukup jauh yaitu dua belas jam lebih cepat hingga Leon sudah sihuk bekerja di pagi hari, sedangkan Marco dan Icha baru mau tidur di malam hari.


"Salam untuk kakek dan nenek... Papa dan mama akan segera mengunjungi mereka dalam waktu dekat." Ujar Marco.


Marco memutuskan sambungan telepon dan mengajak Icha untuk naik ke atas tempat tidur sambil bercerita.


"Kalau Leon kembali ke sini, bagaimana dengan perusahaan kakeknya di sana, pa?" Tanya Icha ingin tahu. Karena biar bagaimana pun ia mau Leon kembali ke Indonesia dan meneruskan perusahaan milik mereka.


"Nanti Jordan yang meneruskan. Salah satu alasan Leon belum bisa pulang karena sekarang Leon sedang mengajari dan menuntun Jordan untuk memimpin perusahaan." Jelas Marco. Jordan adalah sepupu Leon. Anak dari kakaknya Marco.


"Oooh... syukurlah." Ujar Icha lega. "Lalu kapan kita ke sana, pa? Aku ingin bertemu Leon." Tanya Icha tentang kepastian ke Amerika.

__ADS_1


"Kita tunggu sampai Ninda selesaikan prakteknya di rumah sakit karena setelah itu pasti mereka libur beberapa minggu." Sahut Marco. "Tidak mungkin aku meninggalkan anak perempuanku sendiri jauh dariku, sayang." Lanjutnya. Icha hanya tersenyum dan mengangguk setuju.


"Kenapa sih tidak bisa jauh dari Ninda?" Tanya Icha penasaran. Karena semenjak Ninda lahir, Marco benar-benar banyak meluangkan waktu untuk anak perempuannya itu. Sehingga ikatan emosional antar mereka sudah sangat kuat.


"Dia putriku, sayang..." Cetus Marco.


"Leon juga anak kamu tapi dia pergi jauh kamu lepaskan saja." Protes Icha. Marco tersenyum dan menarik lembut Icha agar masuk dalam pelukannya.


"Leon itu anak laki-laki penerus keturunan Guatalla. Dia harus menjadi laki-laki tangguh dan tidak manja. Dia juga yang akan menjadi pembela kita saat kita sudah tua." Terang Marco. "Tapi, aku bangga pada anak laki-lakiku itu. Aku tidak perlu repot-repot mengajarinya menjadi tangguh dan kuat namun dengan sendirinya ia memotifasi dirinya untuk kuat dan tidak manja." Gumam Marco.


"Leon udah punya pacar belum ya, pa?" Tiba-tiba Icha senang membayangkan suatu saat ia menjadi nenek dengan memiliki banyak cucu.


Marco mengerutkan kening melihat Icha tersenyum sambil menghayalkan sesuatu.


"Kamu kenapa? Kok tiba-tiba tanya soal pacarnya Leon?" Tanya Marco penasaran.


"Aku hanya nggak sabar aja melihat Leon menikah dengan gadis pilihannya, lalu memiliki banyak anak... Lalu, aku dipanggil nenek." Celetuk Icha lucu. Marco pun ikut tertawa dan memeluk istrinya. Ia mengecup kepala perempuan yang sudah dua puluh lima tahun menemani hari-harinya.


"Memangnya kamu nggak pengen tinggal lebih lama dengan Leon? Karena kalau dia sudah mempunyai keluarga, pasti perhatian dan waktunya akan tersita untuk istri dan anaknya." Tutur Marco sambil terus memeluk Icha


"Aku mengenal anakku dengan baik. Dia tidak akan pernah melupakan kita walaupun nanti ia sudah berkeluarga." Tegas Icha yakin. Marco mengangguk setuju.


"Iya... kamu benar. Dan itu hasil didikan kamu." Ujar Marco memuji Icha.


"Oya, hari ini aku tidak melihat Ninda. Ke mana dia?" Tiba-tiba Marco teringat putri kecilnya. "Tadi waktu kita malam juga, dia tidak ada." Lanjutnya kuatir.


"Jangan takut... dia juga anak perempuan kamu yang tangguh." Sahut Icha mengelus dada Marco. "Sekarang dia lagi sibuk nyari tempat praktek. Katanya dia mau ke tempat kakek dan neneknya di Bandung." Ujar Icha memberitahu.


"Ck... kenapa harus jauh sih? Banyak rumah sakit di Jakarta, kenapa sampai harus ke Bandung? Nanti siapa yang mengantar jemput? Belum lagi semua keperluan..." Belum selesai bicara, Icha langsung menutup mulut Marco dengan kecupan manis.


"Anak kamu sudah dewasa, sayang... dia bukan Ninda kecil lagi yang masih terus harus dimanja papanya." Ujar Icha lembut. Ia tahu betul bagaimana kedekatan emosional Marco dan putrinya. Hingga saat ini, Marco masih terlalu memanjakan Nindi layaknya anak kecil karena ia selalu menganggap Nindi sebagai putri kecilnya yang manja, imut dan menggemaskan.


Marco menarik napas panjang. Ia akan selalu bersusah hati ketika bicara tentang putrinya. Seakan ia belum bisa menerima bahwa sebentar lagi Nindi akan mandiri dan menjauh darinya.


"Ninda harus bisa mandiri, sayang... kasian dia kalau kamu kekang terus." Tutur Icha lembut. Marco hanya mengangguk lemah. Ia membaringkan tubuh kekarnya walaupun sudah tak muda lagi. Icha pun turut berbaring dan memeluk suaminya. Ia paham susah hati yang dirasakan Marco.

__ADS_1


"Anak-anak kita akan tetap ada dekat dengan kita. Jangan membebani pikiran kamu dengan hal-hal negatif. Nanti kamu sakit." Ucap Icha lembut sambil mengelus dada Marco.


Tak lama keduanya pun terlelap seiring berjalannya waktu...


__ADS_2