Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Perubahan Ayu.


__ADS_3

Marco, Icha, dan Ninda mendapat telepon dari Leon yang meminta mereka untuk segera datang ke rumah Ayu. Maka pagi ini, waktu baru menunujukkan pukul setengah sepuluh pagi semua sudah berkumpul di ruang keluarga rumah Haris dan Rossa menunggu Leon keluar dari kamar Ayu.


"Cerita cinta mereka benar-benar seperti telenovela." Ujar Marco membuat Haris tertawa pelan. "Sepertinya kita harus segera menikahkan mereka." Usulnya lagi.


"Semua kami serahkan pada tuan Leon. Kami percaya tuan Leon sepenuhnya." Ujar Haris merendah. Ia masih sangat canggung berhadapan dengan mantan majikannya ini.


"Berhenti memanggil Leon 'tuan', Haris. Dia calon anak mantumu." Tandas Marco cepat. Haris hanya tersenyum.


"Belum terbiasa, tuan. Saya akan usahakan." Kilah Haris.


Terdengar suara decitan pintu dari arah samping.


"Pa... ma..." Leon keluar dari kamar Ayu dengan wajah kusut, rambut yang sedikit berantakan dengan baju kemeja putih yang ia gunakan dari kemarin nampak awut-awutan, kakinya pun telanjang tanpa sepatu. Ia duduk di samping Icha.


"Bagaimana Ayu, kak?" Tanya Ninda penasaran.


Leon tersenyum.


"Lagi tidur." Sahutnya tenang. "Dia makan banyak tadi." Lanjutnya.


"Alhamdulillah..." Semua spontan mengucap syukur atas perubahan Ayu yang setelah kejadian itu sangat sulit untuk makan.


"Om... bibi... aku mau meminta maaf atas perbuatanku hingga membuat Ayu trauma seperti ini." Imbuh Leon. "Aku berjanji akan menebus semua kesalahanku pada kalian." Nampak rasa sesal di wajah tampannya.


"Tidak, nak... jangan membuat ini menjadi beban untukmu. Kami tidak marah. Kami percaya nak Leon laki-laki baik dan bertanggung jawab." Timpal Rossa. Leon tersenyum dan mengangguk senang.


"Om, bibi... maaf, kalau aku tidak sopan..." Leon terdiam sesaat. "di tempat ini aku ingin melamar Ayu untuk menjadi istriku." Ucapnya lantang. "Aku tau suasananya tidak tepat tapi aku...."


"Tidak, nak... tidak apa-apa." Potong Haris. "Hanya saja..." Haris menunduk ragu untuk melanjutkan maksunya.


"Kenapa, ris?" Tanya Marco heran.


Haris kembali mengangkat kepala dan menelan salivanya sebelum melanjutkan pembicaraan.


"Kami.... kami orang miskin, tuan. Kami... kami tidak pantas..." Dengan terbata Haris menyampaikan isi hatinya.


"Haris.... kau sudah sangat mengenal bagaimana sifat aku dan istriku." Marco memotong ucapan Haris. "Kalau kami memikirkan tentang status sosial di antara kita maka kami tidak akan pernah mau memberimu modal untuk membuka resto tanpa pengembalian modal dan bunga. Kami tidak akan mengijinkan Ninda berteman dengan Ayu bahkan kami pun tidak sudi Ayu memanggil kami dengan sebutan papa dan mama." Jelas Marco berusaha meyakinkan calon besannya. "Istriku bukan dari kalangan kaya, ia seorang gadis desa yang datang merantau ke Jakarta. Toh aku mencintainya sampai detik ini.Jadi buang pemikiran negatifmu tentang status sosial antara kita." Tegas Marco.


Haris tersenyum dalam haru. Ia menghapus airmata yang sudah hampir tumpah dari sudut pelupuk mata, begitupun Rossa yang sudah langsung menangis saat mendengar Leon meminta ijin untuk melamar Ayu.


"Iya, tuan.... kami pasti terima." Dengan suara Serak Haris menjawab lamaran Leon untuk putrinya.


Semua yang mendengar tersenyum bahagia. Icha bangun dan mendekati Rossa lalu mereka saling berpelukan. Rossa memeluk Icha erat dan menangis sejadi-jadinya. Ia yang hanya seorang mantan pembantu tetapi sama sekali tidak dipandang rendah oleh mantan majikannya.


Setelah drama teletubbies selesai. Rossa mengajak Icha ke dapur untuk menyiapkan makan siang mereka.


"Satu lagi, pa." Ucap Leon. "Aku butuh psikiater untuk memulihkan kejiwaan Ayu. Sepertinya dia trauma karena kehilangan aku." Sambungnya serius.


Marco menarik napas berat. Ia mengangguk setuju.


"Raymond akan menghubungi psikiater yang ia kenal. Sore sudah bisa dimulai terapinya." pungkas Marco.


"Aku ke kamar, pa." Pamit Leon pada sang papa. "Aku mau mandi dulu." Mendengar jika Leon hendak mandi, Rayhan segera menyodorkan tas kecil berisi pakaian dan semua perlengkapan bosnya.


Leon meninggalkan Marco, Haris dan Rayhan lalu masuk ke dalam kamar Ayu.

__ADS_1


Baru saja ia membuka pintu, pandangan mata Leon membuat hatinya trenyuh. Ayu sedang menangis di sudut tempat tidur.


Melihat kedatangannya, Ayu langsung berlari ke arah Leon dan memeluk laki-laki itu dengan erat.


"Jangan pergi...." Lirih gadis manis ini dengan terisak. Hati Leon benar-benar terpukul melihat keadaan wanita yang ia cintai.


"Aku di sini." Bisik Leon lembut. Ia mendekap Ayu ke dalam dadanya dan mengecup kepala Ayu dengan sayang. "Aku tidak akan ke mana-mana. Kita akan bersama selamanya." Janji Leon.


Merasa Ayu sudah tenang, Leon menjauhkan wajah Ayu dan menatap mata sayu itu. Ia juga menghapus airmata Ayu dengan pelan.


"Jangan menangis lagi. Aku janji kita akan terus bersama. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Leon menangkup kedua pipi Ayu, menghapus airmatanya, lalu mengecup kening, kedua mata, turun ke kedua pipi dan menjeda sebentar untuk memandang mata cantik itu. Lalu dengan perlahan, Leon memdekatkan bibirnya pada bibir Ayu.


Cup...


Leon mengecup bibir mungil itu dengan lembut.


"Aku mencintaimu." Ucap Leon penuh cinta. Tentu saja Ayu senang dan bahagia. Laki-laki yang ia cintai yang beberapa hari lalu sempat membuat jiwanya mati kini berada di depan mata dan mengungkapkan perasaan cinta padanya.


Leon kembali mendekap wanitanya saat ia melihat airmata tumpah dari mata sayu itu. Ia memberi ketenangan melalui pelukan.


"Aku mandi dulu." Ujar Leon mencoba mengajak Ayu berinteraktif. "Dari kemarin aku belum mandi." Bisiknya lagi sambil memberi senyum pada Ayu.


Ayu meragu. Ia menunduk dengan wajah sendu. Leon memeluk pinggangnya dengan tangan kiri lalu memegang dagu Ayu.


"Sayang.... aku mandi di sana, kamar mandi di kamarmu. Aku tidak kemana-mana. Aku akan menemanimu sepanjang hari ini." Tutur Leon meyakinkan Ayu. Ia mengecup kening gadis itu.


Ayu mengangguk.


"Aku boleh pinjam handukmu?" Leon sengaja mengajak Ayu berkomunikasi. "Rayhan lupa bawa handuk." Begitu alasan Leon. Padahal sudah ada handuk di dalam tas pakaiannya.


Ayu mulai sedikit menampilkan senyum walau hanya segaris. Ia mengangguk mengijinkan Leon menggunakan handuknya.


"Di mana handuknya? Boleh ambilkan untukku, sayang?" Leon terus mengajak Ayu berbicara agar gadis itu mau membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.


Dengan sedikit semangat, Ayu menganggukkan kepala. Ia memegang tangan Leon lalu menarik mengikuti langkahnya hingga sampai di balkon kecil samping kamar mandi.


"Ini." Akhirnya suara lembut itu terdengar juga. Ayu menyodorkan sebuah handuk ungu ke dada Leon. Laki-laki itu tersenyum senang. Ia menatap mata Ayu dengan penuh cinta.


"Makasih, sayang." Imbuh Leon sedikit berbisik setelah mendekatkan wajahnya pada Ayu, membuat gadis itu tersipu malu dan menunduk. "Boleh aku minta sesuatu sebelum aku masuk ke dalam kamar mandi?" Sambung Leon bertanya. Ayu mengangkat wajah memandang mata Leon namun cepat-cepat ia menunduk lagi. Leon tersenyum. Ia senang melihat ekspresi Ayu yang tersipu malu. "Boleh?" Tanya Leon memastikan. Ayu mengangguk. "Lihat aku, sayang." Pinta Leon lembut. Ayu mengangkat wajahnya dan kembali menatap mata Leon.


Dengan senyum menggoda, Leon memalingkan wajah lalu jari telunjuknya menunjuk ke arah pipi kanan meminta Ayu untuk mencium pipi itu.


Lama Ayu terdiam. Leon meliriknya dengan ekor mata lalu menunjukkan lagi ke arah pipi.


Cup.


Secepat kilat Ayu mengecup pipi itu dan berlari meninggalkan Leon yang sedang terpana.


Leon memegang pipi yang dikecup Ayu tadi. senyum bahagia terpancar dari wajah tampannya.


"Aku mencintaimu." Lirihnya seorang diri.


Sedangkan Ayu keluar dari kamarnya karena tidak ingin digoda oleh Leon. Ia melangkah ke dapur dimana sang ibu dan Icha sedang asyik memasak.


"Ibu...." Icha dan Rossa spontan menoleh ke arah suara.

__ADS_1


"Nak... Ayu...." Dua perempuan yang hampir berkepala lima itu senang melihat Ayu sudah keluar dari kamar, karena semenjak peristiwa kematian bohongan Leon, Ayu hanya mengunci diri di kamar.


Rossa cepat-cepat menghapus airmata sebelum dilihat oleh Ayu. Ia tak ingin anak gadisnya sedih melihat Rossa menangis.


Rossa melangkah mendekati Ayu dan memeluk putri tunggalnya itu. Begitu juga Icha langsung memeluk Ayu setelah Rossa melepaskan pelukannya.


"Eh... emmm.... Leon mana, sayang?" Tanya Icha sengaja mencairkan suasana.


"Lagi mandi, ma." Jawab Ayu sembari menunjuk ke arah kamarnya.


Rossa terus mengucap syukur pada Tuhan karena hari ini ia melihat perubahan pada Ayu


"Bantu mama masak, ya." Icha menarik tangan Ayu masuk ke dalam dapur.


Icha berusaha mengajak Ayu berbicara agar gadis itu bisa keluar dari tekanan yang selama ini ia rasakan.


"Ini makanan kesukaan tuan Leon, ma?" Tanya Ayu ketika ia melihat cumi asam pedas sedang ditumis oleh calon mertuanya. Rossa tersenyum senang melihat sang putri sudah mulai aktif berinteraksi.


"Iya, sayang... ini makanan kesukaan Leon." Jawab Icha cepat. "Kamu harus belajar memasak resep ini pada ibumu, karena setelah menjadi istri Leon, kamu wajib menyiapkan ini seminggu dua kali." Lanjut Icha bercerita tentang kebiasaan Leon.


Mendengar kata istri, Ayu tersenyum malu. Ia sengaja mengambil piring untuk mengisi lauk yang sudah dimasak.


"Sayaaaaang...." Terdengar suara Leon berteriak memanggil Ayu.


"Tuh.... dipanggil nak Leon di kamar kamu. Ayo, cepat ke sana." Rossa mendorong pelan bahu Ayu untuk segera menjawab panggilan Leon. Dengan malu-malu ia melangkah cepat masuk ke dalam kamarnya.


Melihat kedatangan Ayu, Leon memberinya senyuman manis.


"Rambut aku masih basah. Kamu bisa mengeringkan dengan hair dryer, sayang?" Pinta Leon lembut. Ayu pun membalas senyuman itu walaupun masih malu-malu.


Ia mengambil hair dryer dari laci lemari rias.


"Duduklah, tuan." Imbuh Ayu.


Leon memicingkan mata sembari mendekatkan wajah pada gadis itu.


"Tuan???" Tanya Leon menekankan kata itu.


Ayu menunduk. Leon mengambil hair dryer di tangan Ayu, meletakkan di atas meja lalu memeluk pinggang Ayu mendekat padanya.


Tanpa basa basi, ia ******* bibir itu dengan lembut.


"Hari ini aku akan terus mencium bibirmu jika kamu masih memanggilku dengan sebutan tuan." Ancam Leon namun tidak menakutkan.


"Maaf...." Lirih Ayu menunduk. Jantungnya terasa mau meledak saat ini.


"Maaf apa?" Sanggah Leon cepat. Ia mengangkat dagu Ayu. "Maaf apa?" Tanyanya lagi.


"Ma...maaf....." Ayu masih menjeda karena gugup. Leon terus menatap matanya menanti jawaban Ayu.


"Maaf, sayang...." Lirih Ayu pelan. Ia benar-benar seperti mau menenggelamkan wajahnya pada dasar kolam saking malu dan gugupnya.


Leon tertawa senang. Ia memeluk Ayu dan mengecup kepala gadis itu.


"Terima kasih, sayang.... I love you."

__ADS_1


__ADS_2