
Icha menarik napas panjang sebelum mengentuk pintu ruangan Marco. Ia menutup mata sambil menyebutkan asma Allah, meminta ketenangan pada-NYA untuk bisa tenang menghadapi Marco. Ia hanya ingin semua berjalan normal. Biarkan rasa ini hanya ia yang tahu.
Tok... tok... tok
"Masuk!" Suara dari dalam ruangan langsung membuat hati Icha berdesir. Ia segera memutar knop pintu.
Icha masuk dengan napasnya yang sedikit memburu karena gugup. Ia langsung melihat ke arah Marco yang sedang duduk di kursi kebesaran.
Ya Tuhan... Kenapa harus dia? Buang perasaan ini jauh-jauh. Aku nggak sanggup, Tuhan. Seru Icha dalam hati.
Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bersuara.
"Maaf, tuan... Saya... "
"Perkenalkan dirimu." Belum selesai Icha berucap, Marco sudah memotong kata-katanya. Icha menunduk.
"Saya Marissa Lebrina. Sekretaris yang dipilih perusahaan melalui jalur kompetensi kampus." Jawab Icha setenang mungkin. Ia masih menatap lantai. Memang, itu satu kebiasaan buruk Icha jika lagi gugup. Ia akan betah menunduk dan menatap lantai seakan-akan ada jawaban yang diberikan lantai untuknya.
"Lanjut." Perintah Marco singkat masih menatap laptopnya. Tapi telinganya seperti senang mendengar suara lembut ini.
"Saya akan bekerja dengan baik dan berusaha tidak mengecewakan pimpinan dan akan berdedikasi tinggi pada perusahaan." Lanjut Icha dengan suara pelan.
"Berapa umur kamu?" Tanya Marco lagi.
"22 tahun."
Sunyi. Tak ada lagi suara. Icha tersadar. Betapa terkejutnya ketika ia mengangkat kepalanya, wajah dingin itu sudah berada tepat di hadapannya. Saking gugupnya, gadis cantik ini tidak menyadari kalau Marco memperhatikan dirinya.
Marco menatap Icha tajam. Tak ada ekspresi. Tangannya dimasukkan dalam saku celananya. Baju kemeja biru tua sedikit ketat di badannya, dipadukan celana panjang abu-abu menambah kesan cool pada diri seorang Marco. Marco agak jarang menggunakan dasi. Kecuali mau bertemu klien penting.
__ADS_1
Icha terdiam. Ia memberanikan diri menatap mata elang itu.
Tenang, cha... Ia menguatkan dirinya sendiri.
"Apa lantai itu yang berbicara sehingga kamu lebih betah menatapnya?" Tanya Marco mengintimidasi.
"Kamu belajar etika berbicara dengan baik, bukan?" lanjutnya datar.
Icha sedikit gelagapan. Ia meletakkan sebagian rambut yang jatuh di pipinya ke belakang telinganya.
"Maaf, tuan... saya... "
"Saya tidak ingin ini terulang lagi." Lagi-lagi Marco memotong ucapan Icha.
Ia menunduk, mensejajarkan wajahnya pada wajah Icha.
Icha mengangguk lemah.
"Iya, tuan.. maaf." Suara Icha hampir tidak terdengar. Antar takut, malu, bingung, semua campur aduk.
"Bagus." Marco kembali ke tempat duduknya. "Apa jadwal saya hari ini?" Tanya Marco melihat ke arah Icha.
"Jam 11 siang ada pertemuan dengan klien dari Belgia sekalian makan siang di restoran xx." Jawab Icha lembut. Marco menyandarkan kepala pada kursi. Ia menutup mata, seperti meresapi sesuatu. Tapi entah apa itu.
"Jam 2 siang nanti, anda ditunggu Mr. LG di hotel xxx. Selanjutnya jadwal anda kosong, tuan." Lanjut Icha. Ia mendekap tablet didadanya dan melihat ke arah Marco. Ia berusaha untuk tidak menunduk lagi. Icha juga sedikit menampilkan senyum manisnya. Hanya sedikit. Ia tidak berani untuk tersenyum lebih dalam pada Marco. Ia tidak ingin Marco menjadi murka.
Marco membuka matanya dan langsung menatap mata Icha.
"Kamu boleh keluar." Perintahnya.
__ADS_1
Icha menunduk memberi hormat dan segera berlalu dari ruangan yang berAC tapi malah terasa sangat panas ini.
Ia langsung bernapas lega setelah sampai di luar. Ia duduk di kursi kerjanya sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia merasa seperti baru terlepas dari ikatan yang membelenggu hidupnya. Dan tanpa sadar airmatanya mengalir. Tangan yang menutupi wajahnya basah. Tapi Icha tidak ingin berlarut dalam situasi dan keadaan ini. Ia harus keluar dari situasi ini. Segera ia mengambil tissu dan menghapus airmatanya.
"Ayo, cha... jangan turuti rasa hati kamu. Itu rasa yang salah. Kamu tidak boleh terus jatuh dalam rasa itu." Icha menguatkan dirinya sendiri. Ia tidak mau menangis lagi. Ia mau menjadi Icha yang kuat. Icha yang tidak cengeng. Apalagi menangisi rasa yang ia ciptakan sendiri.
Ia mulai menyibukkan diri. Banyak berkas yang harus ia rapikan untuk diperiksa. Hingga ia tidak menyadari kedatangan Raymond.
"Hai, cha... serius sekali kamu." Suara Raymond sedikit mengagetkan Icha.
"Eh, tuan... maaf, saya tidak tau kalau anda di sini." balas Icha ramah.
Raymond tersenyum lebar.
"Panggil saja Ray, nggak usah pake embel-embel tuan. Saya bukan tuan kamu. kita sama-sama bawahan." Ujar Raymond. "Oh ya, saya mau temani tuan Marco ketemu klien. Kamu stand by di sini ya." Lanjut Raymond serius.
"Kamu boleh ke kantin atau keluar kantor saat jam makan siang. Nanti ruangan ini akan dijaga oleh orang kepercayaan kita. Ingat, hanya sejam. Secepatnya kembali ke ruangan kamu." Raymond memberi arahan sekaligus ultimatum pada Icha.
"Siap, tuan... eh, sorry. Ray, maksudnya." Icha tersenyum lebar. Ray ikut tertawa.
Icha bersyukur bertemu dengan teman sekerja yang saling memahami dan mendukung. Apalagi ia baru saja mau memulai pekerjaan. Sudah pasti ia membutuhkan rekan kerja yang mau membimbingnya agar tidak melakukan kesalahan. Dan itu yang dilakukan Raymond. Ia dengan sabar memberi arahan dan penjelasan pada Icha tentang sistem kerja GT Corp. Ia tidak seperti asisten di novel yang kaku dan dingin.
Pukul 10.15, Marco keluar dari ruangannya diikuti oleh asisten pribadinya. Siapa lagi kalau bukan Raymond. Ia ada jadwal bertemu klien. Mereka melewati meja kerja Icha. Icha segera berdiri dan menunduk hormat pada tuannya. Marco terus berjalan menatap lurus ke depan tanpa peduli sekitarnya. Raymond masih tersenyum pada Icha.
Icha menatap punggung belakang Marco sampai menghilang. Di bibirnya tersungging senyuman miris. Ya, miris pada dirinya sendiri. Sekian tahun menyimpan rasa pada pria dingin itu. Sekian tahun menyembunyikan rasa itu sendiri. Sekian tahun tersiksa sendiri, menangis sendiri, merindu sendiri. Walau pun hari-harinya selalu ditemani oleh Wulan dan Arin namun Icha lebih nyaman menyimpan rasa itu sendiri.
Icha menengadahkan kepalanya menatap langit-langit ruangan luas itu agar airmatanya jangan sampai terjatuh. Cukup sudah. Ia harus memaksa hatinya untuk tidak jatuh lebih dalam lagi.
Jangan lagi membuat rasa ini semakin mendalam. Mampukah Icha?
__ADS_1