Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Mendapat Cibiran


__ADS_3

Icha, sekretaris sekaligus calon istri CEO GT Corp memasuki lobi gedung yang menjadi tempat kerjanya dengan perasaan gugup dan malu. Sudah lama ia menghilang tanpa ada yang mengetahui penyebabnya dan tiba-tiba hari ini masuk kembali dengan posisi yang sama. Apa kata karyawan yang lain? Hal ini menjadi beban pikiran Icha dari semalam. Dan benar saja, ia menjadi sorotan dan perhatian semua mata ketika memasuki lobi dan melewati meja resepsionis. Ia hanya menunduk dan terus berjalan.


"Hei.. kamu Marissa kan? Mantan sekretasis tuan Marco?" Seorang wanita cantik menyapa Icha ketika antri menunggu lift.


"Iya, mbak'." Jawab Icha sopan.


"Ngapain lagi kamu ke sini? Bukannya kamu udah dipecat ya?" tanya perempuan itu lagi. Icha belum sempat menjawab, lift terbuka. Icha ikut masuk ke dalam lift bersama 4 karyawan yang lain.


"Kamu sudah dipecat, kan?" wanita itu mengulangi lagi pertanyaannya. Icha bingung harus menjawab apa.


"Kamu kemana aja? Kok menghilang?" seorang wanita bertubuh kurus ikut bertanya.


"Nggak kok. Saya nggak menghilang. Saya hanya izin saja karena ada urusan keluarga." sahut Icha mencoba tenang dan tetap tersenyum. Otaknya berpikir cepat untuk mencari alasan yang masuk akal.


"Tapi dengar-dengar kamu sudah dipecat. Apa sekarang kamu mau menghadap CEO untuk meminta kembali jabatan kamu?" Sinis perempuan ketiga. Perempuan itu sempat melihat Icha menekan tombol angka 25, itu artinya lift ini akan berhenti di lantai tempat CEO berada.


Icha hanya melihat bergantian empat wanita itu tanpa suara. Icha hendak menjelaskan seperti apapun, kalau pada dasarnya seseorang sudah membenci dirinya, ya tetap saja ia bersalah. Jadi, lebih baik diam dan biarkan orang menilai diri kita. Buruk atau baik, itu tergantung persepsi mereka.


Lift terbuka, 3 perempuan itu keluar meninggalkan lift. Satu tersenyum ramah pada Icha. Ia pun membalas tersenyum. Lift kembali tertutup dan Icha bernapas lega, lepas dari manusia-manusia aneh yang belum saling mengenal tapi julidnya seperti sudah saling kenal.


Icha menarik napa panjang dan membuangnya kasar.


"Untung nggak bareng Wulan tadi. Coba kalo bareng, bisa ribut di sini." gumamnya pada diri sendiri.


Hari ini Icha sengaja datang lebih awal ke kantor karena ingin membereskan ruangan kerja yang sudah 3 minggu ditinggalkan.


Sampai di lantai 25, Icha bergegas ke ruangannya. Ia membuka pintu ruang privasinya dan hendak membersihkan.


"Lho... kok bersih banget." Icha masuk terus ke dalam melihat meja rias kecil, tempat tidur, kamar mandi pun bersih. Lemari buku juga bersih dan tersusun rapi.


Tak lama ia menepuk jidatnya sendiri.


"Ini kan perusahaan besar.. ya, pantas aja bersih. Kan OB dan OG banyak." Ia menertawai dirinya sendiri. Gadis manis itu meletakkan tas di meja rias dan melihat-lihat wajahnya di cermin. Ia menunduk, membuka tas, dan mengambil lipgloss berwarna pink peach.


"Aaawww..." Pekik Icha tiba-tiba ketika ada tangan yang memeluknya. Lipgloss yang belum sempat dibuka pun terjatuh menggelinding ke lantai.


Dari wangi yang masuk ke hidung Icha, ia sudah langsung mengetahui siapa yang berani memeluknya.

__ADS_1


"Sayaaaaang... ngagetin, tau." Cetus Icha kesal. Ia mencubit pelan tangan Marco yang memeluknya. Marco tersenyum lebar dan membenamkan wajahnya pada leher gadisnya. Rengekan manja gadis itu benar-benar membuat gejolak laki-lakinya tertantang.


"Kangen banget." Lirih Marco dengan suara serak. "Kenapa nggak terima panggilan dari aku?" Tanya Marco masih membenamkan wajah di leher Icha sehingga membuat gadis itu merasa geli. Ia menggeliatkan badannya dan hendak menjauh dari Marco, tetapi tangan laki-laki itu terlalu kuat untuk dilawan.


"Emang tadi telepon?" Tanya Icha. Ia dapat melihat Marco dari cermin di depannya. Marco mengangguk. Ia menyandarkan dagunya di bahu Icha.


"10 kali." Jawab Marco memandang Icha lewat cermin. Mereka saling menatap melalui cermin. Icha tersenyum manis pada laki-laki tampan yang sedang memeluknya dari belakang.


"Aku ingin segera menikahimu." lirih Marco di telinga Icha. Gadis itu tertawa menahan geli.


"Geli, yaaaang." Rengek Icha manja. Marco mengecup gemas pipi Icha. "Tuh kan... lipgloss aku nggak tau ke mana, yaaaaang." Protesnya kesal. Marco membalikkan tubuh Icha dan menahan pinggang Perempuan ayu itu.


"Aku memang benar-benar harus segera menikahimu." ujar Marco dengan menggeram. "Aku bisa gila kalau setiap hari mendengar rengekan manjamu." Ujarnya jujur dengan mata sedikit memerah.


Sebagai perempuan dewasa, sudah pasti Icha memahami perkataan Marco. Tetapi, ia percaya Marco laki-laki yang baik. Selama kurang lebih 6 bulan mereka menjalani hubungan, Marco selalu menunjukkan rasa hormat pada Icha sebagai seorang perempuan. Ia hanya sekedar memeluk dan mengecup sewajarnya


"Kenapa bisa gila?" Icha meletakkan tangannya pada leher Marco dan menggoda Marco dengan senyuman manis. Marco tersenyum dan menatap wajah cantik sang kekasih. Ia menempelkan kening mereka.


"Jangan membuat aku nggak bisa menahan diri, sayang." Marco meringis sambil menutup mata. "Aku akan segera menikahimu." Ia membuka mata dan memandang pemilik wajah cantik di depannya. Bibir kecil dan manis itu membuat Marco tidak bisa menahan diri untuk mengecupnya.


"Aku mencintaimu... " Ucap Marco. Matanya dipenuhi aura cinta yang besar pada gadisnya. "Jadilah teman hidupku selamanya. Jangan pernah meninggalkanku jikalau aku tanpa sengaja menyakiti perasaanmu, baik lewat kata-kata maupun tindakan. Tegur aku, jika aku berbuat salah. Jangan mendiamkanku... " Ucap Marco serius. Icha menatap bibir Marco yang sedang bicara. Bibir pertama yang mengobrak abrik hati dan pikirannya.


"Sekarang saatnya bekerja, Marissa Lebrina." Bisik Marco di telinga Icha ketika ia menyadari gadisnya itu sedang terpana menatapnya. Ia sengaja menggoda gadis itu dengan menempelkan bibir di telinga dan berbisik pelan. Icha tersadar dan menjauhkan wajahnya dari Marco. Sensasi geli membuat tubuhnya meremang. Ia memukul pelan dada Marco, memprotes kelakuan laki-laki itu. Mereka tertawa bahagia bersama.


"Ayo, kerja... Si Raymond pasti udah kelabakan nyari kamu tuh." Icha melepaskan pelukan Marco. Ia mencari botol lipgloss miliknya.


"Yaaaah, retak... " Keluh Icha saat melihat botol kecil itu sedikit retak. "Gara-gara kamu tuh, yaaang." Sungut Icha protes. Marco tersenyum dan mengambil botol kecil itu.


"Nanti aku ganti sekalian sama toko kosmetiknya." Celetuk Marco menahan tawa melihat bibir Icha yang manyun. "Bila perlu sama SPGnya." Ia mengecup sekilas bibir Icha, meletakkan botol itu di tangan Icha, dan mengerling nakal pada gadis yang sedang kesal itu. Marco meninggalkan Icha tanpa merasa bersalah. Ia tersenyum bahagia setelah membalikkan badan dan berjalan keluar.


"Dasar perempuan. Masalah lipstik aja jadi perkara besar." Gumam Marco saat membuka pintu kamar privasi sekretaris pribadinya. Siapa saja yang menjadi sekretarisnya, pasti akan menempati kamar itu untuk urusan pribadi.


Marco dikagetkan oleh kehadiran seorang perempuan yang berdiri di depan meja kerja sekretaris. Ia mengerutkan kening dan memasukkan kedua tangannya ke saku celana.


"Ada apa?" Tanya Marco datar. Perempuan itu tersenyum senang karena bisa bertemu dengan CEO idola banyak wanita.


"Ini, tuan... saya mau menyerahkan contoh design grafik sekolah di kota s. Pak Surya menyuruh saya mengantarkan ke sekretaris tuan. Tapi,.... " Ia sedikit menjeda perkataannya sambil melihat-lihat sekeliling ruang kerja Icha. "Tuan liat sendiri, sekretaris tuan tidak datang. Saya sudah bilang ke Pak Surya kalo sekretaris pribadi CEO sudah dipecat, tapi Pak Surya nggak percaya." Ujarnya panjang lebar dan berusaha mencari perhatian Marco. Pria tampan itu menaikkan satu alisnya dan melihat papan nama karyawannya itu.

__ADS_1


"Dena.. nama kamu Dena?" Perempuan yang disebut namanya tersenyum sumringah. Ia bangga karena CEO menyebut namanya.


"Iya, tuan... nama saya Dena." Jawabnya dengan nada yang dibuat genit.


Marco tetap pada posisinya dan tanpa senyum.


"Apa yang kamu ketahui tentang sekretaris saya?" Tanya Marco ingin tahu berita di luar tentang pemecatan Icha.


"Setau saya... dia sudah dipecat, tuan. Dengar-dengar dia absen lebih dari 2 minggu. Tapi tadi kata karyawan lain, mereka melihat kedatangannya dan menuju ke lantai 25. Apakah dia sudah menemui tuan?" Jelasnya sekalian bertanya. "Saya yakin dia mau mengemis untuk kembali menjadi sekretaris tuan." lanjutnya mencibir Icha. "Saya harap tuan bijak dalam mengambil keputusan. Masih banyak sekretaris yang lebih berpotensi dari pada Marissa." tandasnya lagi.


Wajah Marco memerah. Ia sangat marah ketika perempuan di depannya ini mengatai Icha datang untuk mengemis padanya.


Ia mengulurkan tangannya meminta berkas design grafik.


"Mana berkasnya?"


Dena segera menyerahkan berkas-berkas itu. Tangan Marco menerima berkas, tetapi matanya menatap tajam pada Dena. Ia mengangkat telepon umum di meja Icha dan menekan angka.


"Ke ruangan Marissa sekarang." Perintahnya pada orang yang dihubungi.


Sedangkan Icha... ia sedang di balik pintu mendengarkan percakapan di luar. Ia cemas karena takut Marco akan marah dengan pernyataan perempuan yang bernama Dena itu. Ia takut Marco menjadi murka dan berbuat sesuatu yang merugikan Dena.


Raymond sudah tiba di ruang kerja Icha. Ia sedikit heran karena melihat Marco sedang berdiri dengan seorang karyawan perusahaan.


"Tuan.. " Sapa Marco menundukkan kepala hormat pada tuannya.


"Caritau semua berita di luar tentang pemecatan Marissa. Siapa pun yang meyebarkan cibiran padanya langsung dipecat. Termasuk perempuan ini." Perintah Marco membuat Dena membelalakkan matanya. Setelah selesai memberi perintah, ia langsung berjalan menuju ruangannya dan masuk ke dalam.


"Apa yang terjadi?" Raymond pada Dena. Raymond menatapnya tajam dab penuh intimidasi. Dena ketakutan. Tetapi, ia merasa apa yang disampaikan memang sebuah fakta.


Belum sempat Dena menjawab, Icha keluar dari ruang privasinya. Dena semakin terbelalak. Ia kembali mengingat tadi Marco keluar dari kamar ini. Sekarang tiba-tiba sekretarisnya pun keluar dari ruangan ini. Ada apa ini?


"Ray, kamu ikuti aja perintahnya. Nanti aku yang akan bicara baik-baik dengannya." Ucap Icha pada Raymond. Dena mengerutkan kening. Raymond mengangguk. Ia tahu saat ini Marissa adalah pawang yang jitu untuk membuat Marco jinak di kala sedang murka😀


Memangnya siapa dia berani bicara pada begitu pada Raymond, orang nomor dua di perusahaan ini?


Dena semakin bingung. Sebenarnya ini berita bagus untuk menjadi bahan gunjingan ia dan kawan-kawan ghibahnya. Tetapi, mengingat ancaman Marco tadi ia merinding.

__ADS_1


Dena segera pergi dari sana ketika mendapat usiran halus dari Raymond.


__ADS_2