
Setelah kejadian di mansion kemarin, Leon sengaja untuk tidak mengganggu Ayu sementara waktu ini. Walaupun ia harus melawan suatu rasa dalam hati yang selalu membuatnya tidak fokus dalam bekerja.
Seperti di pagi ini, Leon membuka laptop dan mulai melihat-lihat pekerjaan atau sekedar memantau indeks saham yang naik turun. Namun tak lama tiba-tiba ia memijit pelipis sambil menutup mata.
"Hai, bro'... ada apa? Pagi-pagi udah vertigo aja." Siapa lagi kalau bukan Rayhan yang mulai meledek bos sekaligus sahabatnya itu.
Leon membuka mata dan menarik napas panjang. Ia mengusap wajah dengan kasar, kesal dengan suasana hati yang sangat menyiksa.
"Ada apa?" Tanya Leon tidak bersemangat. Rayhan mengambil duduk tepat di depan meja kerja Leon.
"Tuan Tanaka ingin sekali bertemu denganmu. Ia ingin mengenalkan cucunya padamu. Katanya agar kalian bisa lebih dekat lagi dan lebih enjoy dalam melanjutkan kerjasama perusahaan." Beber Rayhan.
Leon membuang muka ke arah kiri dengan kesal. Ia paling benci kalau sudah ada yang menganggu kehidupan pribadinya. Ia tidak suka mencampur adukkan pekerjaan dan perasaan pribadi seseorang.
"Katakan padanya kerjasama akan terus terjalin tanpa harus mengenalkan cucunya padaku." Tegas Leon dengan rasa kesal.
Beberapa hari yang lalu, ketika ia dijadwalkan untuk bertemu tuan Tanaka di restoran Jepang namun Leon memindahkan tempat pertemuan di resto Rossa, laki-laki Jepang itu tidak membicarakan tentang pekerjaan atau kerjasama mereka sama sekali. Ia hanya sibuk membanggakan kecantikan dan kesuksesan cucu pertamanya seakan-akan ia ingin Leon ikut memuji cucunya yang belum pernah Leon lihat batang hidungnya.
Mendengar nada ketus Leon, Rayhan langsung tertawa lucu.
"Cucunya cantik lho... seksi lagi. Kulitnya mulus, putih, bersih, pokoknya produk bagus deh." Celetuk Rayhan sambil membayangkan wajah cucu klien GT Corp karena ia pernah bertemu sebelum Leon masuk dan bergabung di perusahaan ini.
"Ck.... bodo!" Ketus Leon lalu mulai mengutak-atik laptop.
"Lah... terus gimana dong? Aku harus jawab apa ke tuan Tanaka?" Desak Rayhan.
Leon masih saja bergeming. Ia terus memantau indeks saham perusahaan yang naiknya cukup signifikan.
Namun, tiba-tiba segurat senyum terpancar dari bibirnya. Ada sebuah ide bagus terlintas di kepalanya.
"Katakan pada tuan Tanaka temui aku di resto Rossa tepat jam satu siang." Seru Leon. Rayhan mengerutkan kening. Ia curiga dengan arti senyum Leon. Itu bukan senyum karena senang atau bahagia namun itu seperti senyum yang auranya agak negatif.
"Apa yang kau rencanakan?" Tebak Rayhan sambil memicingkan matanya.
Leon tak menjawab, hanya senyuman di bibir yang ia tunjukkan pada Rayhan sambil masih terus sibuk mengamati laptop di depannya.
"Jangan bilang kau akan mengerjai tuan Tanaka." Tebak Rayhan curiga lagi. Leon melirik Rayhan dengan kesal.
"Kau pikir aku kurang kerja." Ketus Leon. Rayhan tertawa pelan.
"Oke, kalau begitu... aku akan menghubungi asisten si Jepang itu untuk mengonfirmasi jadwal pertemuannya." Setelah berkata demikian, Rayhan pun keluar dari ruangan kerja Leon.
Laki-laki tampan bermata coklat itu lalu mengeluarkan telepon genggam dari saku dalam jas mahal yang ia kenakan.
"Siang, bi... aku akan makan siang di resto bibi bersama klienku. Bibi siapkan makanan kesukaanku, ya." Ucap Leon setelah membalas salam dari si penerima telepon.
Selesai memberitahu Rossa tentang rencana makan siangnya, Leon menutup panggilan.
"Permainan dimulai, sayang..." Gumam Leon sambil tersenyum senang. "Aku ingin melihat sampai kapan kamu akan menghindariku." Lanjutnya sambil membayangkan wajah cantik Ayu.
__ADS_1
Waktu terus berlalu. Leon melirik jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
"Sudah jam 12 siang. Aku harus segera ke sana." Leon segera merapikan semua kertas yang berserakan di meja lalu ia menutup laptop dan menyambar jas yang ia taruh di sandaran kursi.
Semua karyawan perempuan yang sedang beristirahat hanya bisa melihat dan mengagumi ketampanan anak pemilik perusahaan dari jauh. Wajah datar Leon membuat semua bawahan merasa segan untuk mendekatinya.
Sampai di parkiran ia segera masuk ke dalam mobil. Ia menyetir sendiri mobil mahalnya dan sama sekali tidak memakai jasa sopir.
Empat puluh lima menit waktu yang harus ia lewatkan untuk sampai ke resto Rossa. Setelah memarkirkan mobil, Leon keluar dan segera memasuki resto dengan kacamata hitam.
Seperti biasa, semua mata akan memandangnya dengan kagum namun Leon tak peduli. Ia hanya ingin segera melihat reaksi Ayu ketika mereka bertemu.
"Nak... udah sampai?" Rossa menyambut Leon dengan senyuman bahagia. Laki-laki itu tidak lupa akan kebiasaannya memeluk Rossa di mana dan kapan saja mereka bertemu.
"Iya, bi..." Jawab Leon setelah melepaskan pelukannya. "Sebentar lagi klienku datang." Sambungnya sambil mengambil tempat duduk di meja yang sudah disiapkan Rossa bagi Leon.
"Hari ini bibi masakin semua makanan kesukaan kamu. Habis bibi bingung mau masak apa untuk klienmu, nak." Keluh Rossa merasa tidak enak hati pada klien Leon yang notabene adalah orang penting dan kaya raya.
"Masakan bibi enak dan pas di lidahku. Makanya aku mau ke sini." Puji Leon.
Lima belas menit Leon menunggu tuan Tanaka dan putrinya ditemani Rossa. Banyak kisah yang Rossa ceritakan saat Leon masih di Amerika. Kadang mereka tertawa lalu tiba-tiba wajah mereka menjadi serius.
Banyak mata mengarah ke mereka seperti tidak percaya melihat pemilik resto sederhana ini nampak begitu akrab dengan laki-laki muda, tampan dan sangat terlihat kalau ia bukan dari kalangan biasa.
"Selamat siang, tuan... maaf, kami terlambat." Suara tuan Tanaka terdengar dari belakang Leon sedikit mengagetkan mereka berdua yang sedang asyik bercerita.
"Oh, selamat siang,... Silahkan duduk." Leon segera berdiri dan menerima uluran tangan tuan Tanaka yang datang bersama seorang gadis cantik. Rossa pun segera pamit untuk menyiapkan makanan buat Leon dan tamunya.
"Senang sekali bisa bertemu anda." Puji Tanaka. Leon tersenyum seperti biasa. Ia nampak santai dan tidak terlalu peduli dengan sekitar.
"Oya, kenalkan... ini cucu saya." Tanaka mulai memperkenalkan perempuan muda itu sebagai cucu.
Gadis muda itu segera mengulurkan tangan berharap bisa berkenalan dengan laki-laki tampan di depannya ini.
"Sakura Tanaka." Suara lembutnya terdengar di telinga Leon. Namun bukannya tergoda, Leon nampak risih dengan tatapan perempuan Jepang ini.
"Leonardo Guatalla." Balas Leon datar. "Bagaimana keadaan anda, tuan?" Leon mulai sedikit basa-basi. Ia sama sekali tidak melirik wanita yang bernama Sakura itu.
"Oh... baik... baik... sangat sehat dan yang pasti sangat senang sekali bisa berada lagi di Indonesia dan bertemu dengan anak muda yang hebat seperti anda." Puji Tanaka dengan tertawa senang.
Leon tersenyum tipis. Ia bukan tipe orang yang suka dipuji. Justru Leon lebih suka mendengar kritikan yang bisa memotivasi dirinya untuk lebih maju lagi.
"Seharusnya anda bertemu dengan papa saya. Tetapi maaf, papa tidak bisa ikut makan siang di sini karena harus bertemu dewan direksi perusahaan." Ujar Leon.
"Oh... tidak... tidak apa-apa. Memang niat saya ingin bertemu dengan anda." Sanggah Tanaka yang lancar berbicara bahasa Indonesia dengan dialek Jepang. "Saya.... emmm..." Tanaka terlihat sedikit ragu untuk berbicara tentang tujuannya meminta bertemu Leon. Ia menarik sedikit napas karena lega melihat dua orang pelayan datang dengan beberapa jenis masakan di tangan mereka.
Leon tetap santai menunggu pelayan-pelayan itu sampai selesai menata piring dan makanan. Ia juga ingin mendengarkan Tanaka melanjutkan ucapannya. Ia melipat tangan di dada dan menatap tajam pada Tanaka membuat pria itu semakin tidak yakin akan menyampaikan tujuannya. Apalagi selama ini memang ia sudah sering mendengar tentang karakter Leon. Namun, tekadnya sudah sangat tinggi ingin Sakura bisa mengambil hati Leon.
"Emmmm.... saya hanya ingin mengenalkan cucu saya pada anda. Karena saya akan segera beristirahat dari dunia kerja dan ia yang akan menggantikan saya." Tanaka melanjutkan ucapan dengan hati-hati setelah dua pelayan tadi sudah kembali ke dapur. "Yaaaa... ada baiknya kalian saling kenal dulu supaya Sakura bisa lebih nyaman saat kalian melanjutkan kerjasama bisnis kita." Jelas Tanaka meminta pengertian Leon.
__ADS_1
Leon tersenyum dan mengangguk setuju. Namun ketika ia melayangkan pandangan jauh ke depan, ia melihat Ayu sedang berbicara dengan salah satu pelayan. Terlintas senyum sinis di wajahnya.
"Oh ya, saya ke toilet sebentar." Pamit Leon dan langsung berdiri melangkah ke arah belakang.
Ayu yang hendak berbalik badan setelah selesai bicara dengan pelayan resto itu begitu terkejut ketika melihat Leon sudah berada di depannya.
"Kenapa? Mau kabur?" Sindir Leon sinis. Ayu hanya menatap wajah itu dalam diam. Tanpa suara.
Leon berjalan maju dan dengan sengaja menyenggol pelan bahu gadis itu hingga membuat tubuh Ayu bergeser lalu ia masuk ke dalam toilet.
Ayu hanya menunduk terdiam dan menutup mata menahan desir di hatinya. Ia melihat tatapan tajam mata Leon yang sepertinya sangat membenci Ayu.
"Ayu." Suara sang ibu menyadarkan Ayu dari lamunan.
"Iya, bu." Sahut Ayu cepat. Ia segera merubah raut wajah sedih dengan senyuman manis agar Rossa tidak mencurigainya.
"Antar sup ikan belimbing ini ke meja khusus itu, ya. Yang ada tuan Leon dan tamunya." Pinta Rossa dengan lembut sambil menunjuk ke arah meja Leon.
Ayu terpana. Namun tidak mungkin ia menolak perintah Rossa. Dengan menguatkan hati, ia mengangguk menuruti perintah ibunya. Ia berharap Leon belum keluar dari toilet.
Dengan hati yang berat, Ayu mengangkat mangkuk berisi sup ikan belimbing yang merupakan makanan kesukaan Leon dan mulai melangkah ke depan.
Ya Tuhan... semoga dia masih di toilet. Gumamnya dalam hati. Namun, ia salah. Ketika ia mengangkat kepala, Leon sudah duduk manis di mejanya bahkan ia sedang asyik berbicara dengan seorang wanita cantik dan berkelas pastinya. Itu bisa dilihat dari penampilan perempuan itu. Sangat modis.
Ayu terus melangkah menuju meja di mana ada Leon dan tamunya.
"Permisi tuan, nona.... saya mengantar pesanan anda." Sapa Ayu dengan suara pelan. Ia sempat melirik sebentar ke arah Leon. Namun, laki-laki itu nampak tidak peduli padanya. Ia terus mengajak Sakura berbicara seakan tidak ada orang di sekitar mereka.
Ayu segera meletakkan mangkuk sup itu ke atas meja. Tangannya sedikit bergetar bukan karena gugup namun karena ia tidak tahan melihat pemandangan di depan matanya.
Leon yang biasa bersikap sinis padanya namun ia bisa bersikap sangat manis pada wanita lain.
"Silahkan, tuan." Ayu tak ingin berlama-lama lagi di sini. Dengan langkah panjang ia meninggalkan meja Leon dengan suasana hati yang tidak bisa digambarkan.
Sedangkan Leon bukan tidak mengetahui pada perubahan ekspresi wajah Ayu. Ia memang mengajak Sakura bicara namun ekor matanya sekali-kali memperhatikan wajah gadis yang diam-diam sudah bertahta di hatinya.
Ia tersenyum menang ketika Ayu sudah menghilang ke arah belakang. Ia kembali menjadi Leon yang datar. Sakura yang tadinya sudah sangat senang karena tiba-tiba Leon begitu manis padanya menjadi heran dengan perubahan sikap Leon.
"Silahkan, tuan." Leon mempersilahkan Tanaka mengambil bagiannya. Tanaka sudah terbiasa dengan makanan Indonesia. Tetapi tidak bagi Sakura. Ia menatap semua makanan dengan tatapan aneh.
Leon tidak peduli. Perutnya sudah sangat lapar dan minta untuk segera diisi. Apalagi semua makanan yang disiapkan bibi Rossa benar-benar menggugah selera. Ia segera mengisi satu centong nasi ke dalam piringnya lalu mengambil daun singkong rebus dan sambal ijo. Ia juga mengambil mangkuk kecil lalu mengisi sup ikan belimbing kesukaannya.
"Kamu makan ikan?' Tanya Sakura dengan logat Jepang. Leon mengangguk. "Tapi nanti amis. Sedangkan kamu masih harus ke perusahaan." Seloroh Sakura seperti tidak menyukai semua makanan di atas meja.
Leon terus menikmati makan siangnya tanpa peduli pada perkataan wanita itu.
"Ini makanan kesukaan tuan Leon." Timpal Tanaka sengaja membela Leon, agar cucunya itu tidak berbicara sesuatu yang membuat Leon tersinggung. "Kamu harus tau apa saja makanan kesukaan tuan Leon dan apa saja kebiasaannya." Lanjutnya dengan memberi kode pada Sakura agar diam.
Leon tetap diam. Ia menikmati makan siangnya dengan lahap. Namun, tidak ada satupun yang mengetahui jikalau saat ini hatinya sedang galau karena memikirkan gadisnya. Apalagi ia melihat dari jauh Ayu yang berlari masuk ke dalam rumahnya yang berada di samping belakang resto Rossa. Dari tempat duduk Leon sangat terlihat jelas ketika ada yang keluar masuk dalam rumah Rossa.
__ADS_1
Ia semakin yakin jika gadis itu hanya pura-pura menghindarinya. Ia bisa menangkap dengan jelas sikap Ayu yang tidak suka melihatnya dekat dengan Sakura.
Apakah dia cemburu?