Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Aku Milikmu!


__ADS_3

Marco menelan saliva melihat pemandangan di depannya. Ia tidak menyangka jika Icha bersedia dan berani memakai lingerie. Ia berpikir, istrinya pasti akan menolak memakai pakaian kurang bahan itu. Dan Marco pun tak akan memaksanya.


Sekian bulan menjalani hubungan dengan Icha, ini pertama kalinya Marco melihat tubuh mulus istri tercinta. Selama mereka pacaran, Marco tidak berniat sama sekali untuk meniduri Icha. Ia menjaga gadis itu dengan baik, memperlakukan Icha selayaknya sikap seorang laki-laki bertanggungjawab.


Ia mendekati Icha, menarik pinggangnya, dan mengelus pipinya dengan lembut. Icha menutup mata, menahan gejolak dalam tubuh tetapi juga menahan malu pada suami tampannya ini.


"Kamu cantik banget, sayang... " Desah Marco dengan napas berat. Ia memegang dagu Icha dan perlahan menempelkan bibirnya pada bibir Icha. Kali ini Icha pasrah. Menyerahkan semua pada suaminya. Ia siap untuk menyerahkan sesuatu yang berharga pada Marco, sang suami.


Marco meletakkan tubuh Icha di atas tempat tidur. Mereka saling pandang dan tersenyum malu.


"Udah pintar kissing sekarang." Goda Marco. Posisinya berada di atas tubuh Icha.


Icha memanyunkan bibir, kesal karena digoda suami.


"Kamu yang ajarin." Rajuk Icha. Ia menutup wajah dengan kedua tangan akibat rasa malu yang sangat amat.


"Hahahahaha... kok ditutup mukanya." Marco menarik tangan Icha. Ia ingin melihat wajah istrinya. Icha semakin menyembunyikan wajahnya. Marco tidak ingin membuat Icha malu lagi. Ia mengecup kening Icha.


"Hei... liat aku." Pinta Marco lembut. Perlahan Icha membuka tangan yang menutupi wajahnya dan memandang Marco. "Aku mencintaimu." Ungkap Marco untuk kesekian kalinya. Seakan ia tak pernah merasa bosan mengungkapkan perasaan pada Icha. "Aku ingin memilikimu seutuhnya, sayang." Lirihnya serak. "Boleh?" Ada harapan yang besar dalam pertanyaannya.


Icha melihat kedua bola mata Marco. Terpancar gairah besar seorang laki-laki pada lawan jenisnya. Icha tak ingin menghancurkan perasaan Marco, karena itu ia mengangguk dan meyakinkan Marco bahwa ia siap malam ini.


"Aku milikmu, sayang..." Bisiknya lembut. Marco tersenyum lebar seakan ia mendapat jackpot triliun rupiah.


Icha bukannya tidak mengerti. Ia sudah sering mendengar cerita seorang gadis yang diperawanin. Tetapi, karena belum pernah mengalami, maka ia merasa sedikit takut. "Kamu percaya aku, kan?" Tanya Marco meyakinkan Icha. Ia sudah tidak bisa mundur lagi. Gejolaknya terlalu tinggi saat ini.


Icha bahagia karena bisa menjaga mahkotanya selama 24 tahun dan memberikan pada laki-laki yang sangat dicintainya dan sudah menjadi suami sahnya. Ia tidak menyesalinya. Itu hak Marco yang harus diberikan seorang istri pada suami.


Marco terus menggempurnya hingga mereka bersama menjerit di akhir puncak pertarungan mereka. Marco terjatuh lemas di samping Icha. Ia memeluk istrinya erat dan memberi kecupan sayang di wajah Icha.


"Makasih, sayang... " Ungkapnya tulus. Icha hanya tersenyum dan mengangguk lemah. Ia bahagia karena akhirnya bisa memberikan mahkota pada laki-laki yang dicintainya. "I love you." Ucap Marco sebelum mereka sama-sama terlelap.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Matahari pagi menyapa sepasang pengantin baru yang baru saja meneguk manisnya cinta. Sengatan sinarnya yang masuk melalui ventilasi kamar Icha membuat ia terbangun. Ia membuka mata dan mencoba mengingat apa yang terjadi. Sampai akhirnya ia tersenyum ketika otaknya berhasil memutar kembali memori semalam. Dia sudah menjadi istri seutuhnya seorang Marco Guatalla, mantan gurunya yang dingin dan datar. Jangan lupa, cinta pertamanya saat masih memakai seragam putih abu.


Icha menoleh ke arah Marco. Laki-laki itu masih terlelap dengan tangan kiri memeluk perutnya. Icha hendak bangun, tetap ia takut pergerakannya akan membuat Marco kaget. Mana tangan kiri Marco terasa berat untuk diangkat. Sedangkan Icha harus ke kamar mandi segera, sebelum Marco bangun. Ia tak ingin suaminya terbangun dan melihat keadaan mereka yang belum menggunakan sehelai pakaian pun. Mau ditaruh di mana mukanya.🙈🙈🙈

__ADS_1


Perlahan Icha mengangkat tangan Marco. Namun, bukannya terangkat, malah tangan itu makin erat memeluk perutnya.


"Pagi, istriku." Sapa Marco yang dengan tiba-tiba sudah membenamkan wajahnya ke leher Icha. "Kamu mau ke mana?" Tanya Marco dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Matanya masih tertutup rapat.


"Ke kamar mandi, sayang... aku mau mandi. Lengket banget badannya." Suara lembut Icha benar-benar menjadi ciri khas perempuan Sunda ini.


"Mau mandi bareng?" tawar Marco seenaknya. Ada nada usil dalam tawaran itu.


"Nggak mau, aku mau mandi sendiri." Tolak Icha cepat dan hendak bangun, tetapi lagi-lagi Marco menahan perutnya. "Yaaaaang... " Rengek Icha kesal.


Marco terus mengendus-ngendus leher Icha.


"Ngapain mandi? Ntar juga nanti kita keringatan lagi." Celetuk Marco santai.


"Iiiih... sana! Aku mau mandi. Terus, aku mau sarapan. Lapar, tau." Protes Icha sambil mengangkat tangan Marco menjauh dari perutnya. Ketika ada kesempatan, Icha langsung berdiri dan hendak berlari ke kamar mandi.


"Aaaawww..." Rintihnya terduduk di pinggiran tempat tidur. Tubuh bagian bawahnya terasa perih.


Marco tertawa meledek istrinya yang keras kepala. Ia bangun, memakai boxernya dan langsung menarik selimut yang membungkus tubuh Icha. Tentu saja Icha langsung teriak histeris.


"Sayaaang..." Icha benar-benar diuji dengan tingkah Marco yang membuat jantungnya harus lebih keras memompa darah.


Marco mendudukkan Icha di atas kloset jongkok, lalu berlutut di hadapan Icha. Namun, ada yang lucu. Icha menutup bagian tubuh atas dengan melipat kedua tangannya.


"Nggak usah melawan. Bagian bawah kamu pasti nyeri." Pungkas Marco usil. Lagian ini.... ngapain ditutup?" tandas Marco menunjuk bagian dada membuat Icha kesal.


"Iiiiish... dasar mesum." Icha memukul pundak Marco. Ia tak menyadari sudah menunjukkan sesuatu di hadapan Marco. Ya, ketika ia memukul Marco, otomatis tangannya terangkat, dan apa yang ditutupinya tadi pun terlihat jelas.


"Sayaaaang..." Teriak Icha geram. Marco tertawa terbahak-bahak. "Dasar mesum," umpat Icha jengkel.


Setelah Marco keluar, ia pun bisa mandi dengan tenang. Walau pun masih kesal dengan tingkah suaminya. Coba bayangkan kalau Marco juga ikutan mandi, pasti Icha akan jadi sasaran empuknya.


Marco sudah memakai baju kaos putih dan celana pendek. Ia keluar kamar menuju dapur hendak mengambil air minum. Padahal, ia belum mandi setelah bertempur semalaman tadi.


"Pagi, nak... Udah bangun?" Sapa mama Tanti yang sudah berada di dapur.


"Pagi, ma... " Sahut Marco tersenyum. Ia membuka lemari pendingin, mengambil sebotol air dan segera meneguknya hingga tandas.

__ADS_1


"Haus banget... "Goda papa Rendra yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Ia baru selesai menyiram kebun kecil di belakang rumah. Marco hanya nyengir dan duduk di kursi dekat meja makan. "Setiap hari kerjaan Marissa hanya teriak aja setelah sama kamu." Tandas papa Rendra mulai kumat usilnya.


Ya ampun... papa dengar ya suara Marissa teriak tadi? Waaah, jangan-jangan ******* Marissa juga bisa didengar papa dan mama? Bahaya, nih! Aku harus memasang alat kedap suara di kamar Icha.


"Ditanya malah bengong?" Mertuanya memukul pelan pundak Marco. "Nih... minum dulu kopinya. Biar ada tenaga buat usilin anak papa."


Setelah mencuci tangan, papa Rendra membuat dua gelas kopi untuknya dan Marco. Itu bukan hal yang aneh. Papa Rendra bukan suami yang manja atau menuntut harus selalu dilayani istri. Ia bahkan rajin membantu mama Tanti memasak atau mencuci pakaian.


"Diminum dulu, nak... ini kuenya. Kopi dibikinin papa, kue bikinan mama." Ujar mama Tanti meletakkan sepiring kue klepon buatannya. Kue favorit Icha.


Marco semakin kagum pada kedua mertuanya. Mereka benar-benar saling melengkapi. Mereka pantas menjadi teladan rumah tangga baru seperti Marco dan Icha.


"Marissa kenapa teriak-teriak terus?" Tanya papa Rendra bermaksud menggoda menantunya.


"Iih... papa kepo deh." Ledek mama Tanti. Padahal ia juga ingin tahu kenapa Icha teriak kesal dari semalam.


Marco tahu kedua mertua sedang meledeknya. Ia meneguk kopi tumbuk buatan sang papa mertua dalam diam. Ia hanya mendengar ledekan papa Rendra dan mama Tanti.


"Bukan kepo, ma... papa terganggu aja dengar teriakan Marissa." sanggah papa Rendra. "Selama Marissa sama kita, mama pernah dengar nggak dia teriak-teriak gitu?" sambungnya menyindir Marco. Mama Tanti tertawa lepas.


"Emangnya Icha kenapa, nak?" Mama Tanti ikutan kepo juga. "Dia di mana sekarang? Kok belum keluar kamar?"


"Mandi, ma..." Jawab Marco singkat. Ia meneguk kopinya lagi. "Kamar Marissa harus dipasang alat kedap suara." Lanjutnya bernada protes.


"hahahahaha... udah tau rumah ini kecil, kamu terus aja ngerjain Marissa." Kilah papa Rendra lucu. Mama Tanti pun ikut terbahak.


"Anak papa tuh masih polos... jadi, asyik aja kalo dikerjain." Celetuk Marco membuat mama Tanti dan papa Rendra semakin ngakak lucu. Mereka bukannya marah, malah tertawa meledek kepolosan Icha. Mereka percaya, Marco laki-laki baik yang bisa membuat putri tunggal mereka bahagia.


"Sayaaaang..." Terdengar suara Icha memanggil Marco. "Mandi dulu." Mau semarah apa pun Icha, suaranya akan tetap lembut dan mendayu. Selalu membuat hati Marco berdesir.


"Tuh... dipanggil istri manja kamu." Cibir papa Rendra pada Marco.


"Ck.... Itu istri aku, pa. Papa kayak nggak pernah muda aja." Sahut Marco sambil berjalan masuk ke kamar.


"Kok Icha jadi manja ya, pa... Setau mama dia anak yang mandiri. Sama kita aja nggak pernah manja gitu." Mama Tanti merasa heran dengan perubahan sifap Icha.


"Beda dong, ma... Manja sama suami itu wajar. Apalagi mama liat sendiri gimana Marco juga manjain istrinya." Bela papa Rendra. "Mama kayak nggak pernah manja aja. Lihat gimana Icha ya mama juga gitu." Goda papa Rendra. Mama Tanti mencubit lengan suaminya kesal dan pergi meninggalkan suaminya yang sedang tertawa mengejeknya.

__ADS_1


__ADS_2