
Kehidupan Marco dan Marissa mulai berjalan normal setelah pertemuan di villa. Mereka saling memaafkan dan menjadikan masalah kemarin sebagai contoh untuk menghadapi masalah-masalah selanjutnya, yaitu bisa menyelesaikan dengan kepala dingin. Boleh marah namun jangan sekali-kali mengambil keputusan di tengah kemarahan. Semua itu Marco dapatkan dari karakter Marissa, istrinya.
Sudah tiga hari Marco menghilang dari Mansion tanpa sepengetahuan kakek. Ia tak memberitahu kakek jikalau ia hendak menemui Icha yang sudah dilacak oleh Raymond sedang berada di villa mewah di kawasan Lembang Jawa Barat. Kawasan yang sejuk dipenuhi kebun teh milik warga sekitar.
Sehari mengantar Marco, Raymond harus kembali ke Jakarta keesokan harinya. Ia harus ada di perusahaan untuk mengontrol semua pekerjaan kantor.
"Ray... tiga hari ini ke mana Marco?" Tanya kakek yang pagi ini tiba-tiba berkunjung ke GT Corp. Sebenarnya bisa saja kakek menyuruh Berry mencari tahu di mana Marco, tapi ia yakin Marco hanya sedang ke luar negeri untuk urusan pekerjaan.
Ditanya oleh pemilik Perusahaan, Raymond agak gugup. Sebenarnya, jujur juga tak masalah. Toh, Marco dan Icha sudah saling bertemu.
"emmm... tuan... tuan sedang di Lembang, tuan. Menemui nona." Setelah batinnya berdebat, Raymond memutuskan untuk jujur saja.
"hahahahaha... dasar anak itu." Kakek langsung tertawa mendengar pengakuan Raymond. "Baru ditinggal beberapa hari saja dia sudah kalang kabut." Ia tak marah. Malah senang karena Marco tidak membiarkan masalah di antara mereka terlalu larut. Ia juga salut karena Marco mengambil keputusan yang tepat dengan memulangkan Sania ke Amerika. "Kenapa Marco tidak memberitahuku?" Tanya kakek.
"Karena selama ini anda selalu menutupi keberadaan nona." Jawab Raymond sopan. Kakek tertawa lepas mendengar ucapan Raymond.
"Ya, jelaslah aku tutupi. Enak saja dia, sudah menuduh istrinya tanpa bukti, lalu seenaknya mau menemui Marissa." Tandas kakek kesal. Raymond hanya terdiam tanpa suara, kecuali menjawab pertanyaan kakek. "Tapi aku senang Marco menikah dengan Marissa. Marco harus bersyukur mendapatkan perempuan lembut dan bijak seperti cucu mantuku itu." Puji kakek pada Marissa. Raut wajahnya menunjukkan kebahagiaan ketika berbicara tentang Marco dan Marissa. "Benar kan, Ray?"
Ray tersentak mendengar namanya disebut. Ia pun memgangguk cepat menyetujui ucapan kakek.
"Coba kamu bayangkan kalo Marco menikah dengan Valencia? Kamu juga mengenal karakter Val, kan? Tidak mungkin mereka akan seharmonis ini." Kakek mencoba membandingkan sifat Valencia dan Icha. "Ujung-ujungnya kamu juga yang paling pusing... hahahahahaha." Kakek tertawa lagi. Raymond menggaruk kepala yang tak gatal mendengar ucapan beliau. Benar juga kata kakek. Kalau saja Marco menikah dengan Valencia, entah apa yang terjadi ketika mereka menghadapi masalah.
"Oh iya... apa Marco sudah tau tentang kehamilan Marissa?" Kakek penasaran apa reaksi Marco ketika mengetahui kehamilan istrinya.
"emmm... sepertinya belum, tuan. Nona masih mau merahasiakan." Jawab Raymond. Yang pasti ia mendapatkan bocoran dari Wulan.
"Aku penasaran apa reaksinya kalo tau sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah." Ucap kakek dengan tersenyum bahagia. "Bagaimana dengan ngidamnya?" Lanjut kakek penasaran.
"Masih sama, tuan. Tuan Marco belum bisa makan nasi dan semua yang ditumis." Jawab Raymond tersenyum membayangkan perubahan bosnya yang aneh.
"hahahaha... syukurlah. Setidaknya dia merasakan susahnya menjadi seorang istri. Jadi dia tau menghargai istrinya." Ucapan kakek seperti merasa senang melihat penderitaan Marco yang sekarang menjadi susah makan. Raymond tersenyum lucu mendengar umpatan kakek pada cucunya.
"Baiklah... aku pamit pulang. Kamu semangat ya. Terimakasih sudah mau setia pada anak nakal itu." Kakek menepuk pundak Raymond dan segera pergi meninggalkan GT Corp menggunakan lift khusus, sehingga banyak karyawan yang tidak mengetahui kehadirannya dan membuat kehebohan dalam kantor.
Sedangkan di Villa....
Marco dan Icha sudah bersiap untuk kembali ke Jakarta. Empat hari rasanya sudah cukup Marco meninggalkan perusahaan. Ia harus segera kembali dan membawa Icha serta. Ia sibuk membantu Icha membereskan pakaiannya. Sedangkan Icha tak membawa apa-apa sewaktu datang, jadi ia hanya sibuk menyiapkan makanan dan beberapa vitamin untuk kandungan.
"huek.... huek... huek..." Tiba-tiba Marco berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perut. "Siapa yang masak itu? Kenapa baunya nggak enak sih?" Umpat Marco setelah membasuh wajah. Sudah lama ia tak mencium bau-bau gorengan karena baik di mansion atau bertemu klien, Raymond sudah mewanti-wanti pihak restoran untuk menghilangkan semua yang berbau minyak.
"Mungkin bibi lagi masak sesuatu." Icha mengelus punggung Marco. "Bentar ya, aku ke dapur." Icha bergegas ke dapur untuk melihat siapa yang sedang menggoreng.
"Bi... lagi goreng apa?" Suara Icha membuat bibi menoleh.
"Telur mata sapi, non. Non Wulan pengen makan pake telur mata sapi, katanya." Jawab bibi. Namun, tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Hah??? Aduh, maaf. Pasti tuan mual, ya." Bibi segera matikan kompor dan mencuci teflon bekas menggoreng agar baunya mengurang. Ia menyemprot ruangan dengan pewangi dan menyimpan telur mata sapi ke dalam lemari gantung.
__ADS_1
"Aduh... maaf, non. Bibi lupa kalo tuan nggak bisa nyium bau gorengan." Bibi mengatupkan tangan minta maaf. Ia benar-benar lupa jika Marco masih ada di Villa.
"Nggak apa-apa. Justru aku yang minta maaf, udah merepotkan bibi." Icha tersenyum tulus pada art itu. "Ya udah, aku ke dalam ya, bi."
Ia kembali masuk ke dalam dan melihat Marco berbaring.
"Gimana? Masih mual?" Tak tega juga ia melihat suaminya tersiksa karena ngidam. Marco membuka mata.
"Sedikit." Jawabnya pelan. "Udah siap semua makanan?" Tanyanya.
"Udah. Tapi, kalau kamu sakit kita tunda aja ke Jakarta, ya? Kamu istrahat dulu." Saran Icha karena merasa kasihan melihat Marco.
"Nggak apa-apa. Nanti lama-lama nggak mual lagi." Marco bangun dari tempat tidur dan menarik koper keluar.
"Ayo, sayang." Ia mengulurkan tangan meminta Icha menggenggam tangannya.
"Tapi kamu serius nggak apa-apa?" Tanya Icha Kuatir.
"Iya, sayang. Aku nggak apa-apa, asal nanti kamu suapin aku rujak, ya." Icha langsung tersenyum dan menganggukkan kepala. Tiap hari menu rujak harus ada di villa, dan mungkin di mansion juga sama.
Setelah berpamitan, Marco dan Icha segera pergi meninggalkan Villa. Kali ini Marco ingin menyetir sendiri. Ia ingin menikmati perjalanan berdua saja dengan istrinya, sehingga Wulan nanti kembali ke Jakarta besok dengan pesawat.
"Kamu udah nggak apa-apa?" Tanya Icha di tengah perjalanan.
"Nggak apa-apa." Jawab Marco tenang. Ia menatap Icha sekilas dan memberikan senyumannya yang paling manis. "Mana rujaknya?" Tanya Marco.
"Aku pengen rujak , yang. Ayo, dong." Rengek Marco.
"Bulgur aja, ya?" Icha masih menawarkan makanan yang mengandung karbohidrat agar Marco melupakan rujak yang tiba-tiba menjadi makanan favorit sebulan belakangan ini.
"Ck... sayaaaaang," Marco mengeluh kesal karena tak diberikan apa yang ia mau. Habis sudah daya Icha untuk membujuk Marco. Ia tak menyangka pengaruh couvade syndrome pada Marco sangat membuat laki-laki kesayangannya itu berubah total.
Icha membuka kotak makanan berisi rujak dan mengaduk rata.
"Suapin, yang." Marco sudah tidak tahan menikmati makanan favoritnya itu. Bau harum buah-buahan yang dicampur kacang dan gula merah membuat ia menelan saliva ingin segera merampas makanan itu.
Icha menggeleng kepala melihat suaminya yang sudah membuka mulut minta disuapkan. Dengan pelan dan hati-hati Icha menyuap ke mulut Marco.
"Tambah mangganya, yang..." Pinta Marco. Icha menarik napas panjang.
"Ini nggak asam?" TanyanIvha heran melihat warna mangga yang masih sangat muda.
Marco menggeleng. Ia menikmati rujak dengan tetap fokus menyetir. Icha pun terus menyuapnya dengan sukacita walaupun awalnya sempat berdebat.
"Habis." Ujar Icha sambil menunjukkan isi mangkuk yang kosong. Marco menggangguk. Ia pun merasa sudah cukup puas menikmati makanan ternikmat baginya.
__ADS_1
"Kamu tau nggak sayang, kalo perubahan mood dan selera makan kamu itu karena apa?" Tanya Icha memberi teka-teki. Marco mengerutkan kening berusaha memikirkan jawaban yang pas. Namun, tak lama ia menggeleng.
"Jangan-jangan memang aku sakit parah." Imbuh Marco.
"Nggak... kamu nggak sakit." Sanggah Icha. Marco menoleh ke Icha sekilas.
"Trus apa?" Tanyanya penasaran.
"Ada deh..." Marco semakin mengerutkan kening. Icha cuek sengaja tak peduli.
"Apa sih, sayang?" Desak Marco. Ia seperti penasaran dengan raut wajah Icha "Emang kamu tau ini penyakit apa?"
"Emmmm... kasih tau nggak, yaaaa?" Icha sengaja semakin membuat marco penasaran.
"Ck... kamu memang harus dihukum." Ancam Marco. Icha tertawa senang karena berhasil membuat Marco penasaran. Tapi, Icha tak menyadari jika Marco sudah memasuki halaman penginapan yang luas dan asri. Yang bikin sejuk adalah atapnya terbuat dari alang-alang kering.
"Lho... kok berhenti, yang?" Tanya Icha heran. Marco tersenyum simpul tak menjawab pertanyaan Icha. Ia keluar dari mobil, berjalan mengintari dan membuka pintu mobil. Ia mengulurkan tangan pada istrinya yang nampak bingung.
"Ayo, cepat." Desak Marco. Dengan bingung Icha mengulurkan tangan. Marco menggenggamnya dan membawa masuk ke dalam lobi penginapan.
"Satu kamar setengah hari." Marco menyerahkan kartu debit pada petugas hotel dan mengambil kunci kamar dari petugas tersebut. Icha hanya melihat heran tanpa bertanya.
Sampai di dalam kamar, Marco segera mengunci pintu. Icha sudah terlebih dahulu melihat-lihat kamar minimalis namun elegan dan nampak nyaman sekali. Ditambah dengan sejuk alami udara kota itu. Pemandangan di balkon belakang juga sangat memanjakan mata. Icha tersenyum senang.
"Suka?" Tiba-tiba Marco memeluknya dari belakang.
"Iya, suka..." Jawab Icha senang. Ia memeluk tangan Marco di pinggangnya.
"Tapi, ini nggak gratis." Ujar Marco di telinga Icha. Ia mengecup leher Icha. Sebagai seorang istri, pastinya Icha paham apa yang suaminya inginkan. Ia tersenyum dan membalikkan badan menghadap Marco.
"Tapi janji jangan kasar, ya... pelan-pelan aja." Pintq Icha.
Mendapat angin segar, segera Marco menggendong tubuh Icha dan dibawa ke tempat tidur. Dengan senang hati Icha melayani suaminya. Mereka menggapai kenikmatan bersama. Marco melakukannya dengan sangat lembut, membuat Icha terlena dan menjerit keenakan. Hingga akhirnya mereka mencapai puncak bersama.
"Makasih, sayang." Marco memeluk Icha dari belakang. Mereka berpelukan di dalam selimut tanpa sehelai benang pun. Marco mengelus perut Icha.
"Kamu menikmatinya, sayang?" Tanya Marco berbisik. Icha mengangguk dalam lelah. Mereka beristrahat sebentar sebelum akhirnya check out dan kembali ke Jakarta dengan semangat yang baru.
"Sayang... aku pengen bulgur." Icha mengambil termos kecil tempat bulgur diisi. Ia mulai menyuap Marco yang sedang menyetir, dan ia pun makan bersama suaminya.
"Oh ya... kamu tau nggak kenapa kamu mood kamu bisa berubah?" Marco menepuk keningnya pelan. Ia baru mengingat tujuan menghukum Icha dalam hotel tadi karena masalah itu.
"Cepat katakan, aku kenapa?" Sahutnya cepat karena penasaran.
"Emmmmm.... Rahasia."
__ADS_1
Marco menoleh ke arah Icha dengan wajah garang.