
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Leon pada seseorang melalui sambungan telepon. Selama berada di Amerika ia terus memantau perkembangan keadaan Ayu melalui Ninda dan Rossa.
"Kakak kapan pulang? Cepatlah pulang, kak. Aku nggak tega melihat Ayu. Dia nangis terus ingat kk." Bukannya menjawab pertanyaan Leon, malah Ninda merengek agar kakaknya cepat pulang. "Dia mikirnya kk udah meninggal lho. Kasihan kan." Tukas Ninda sewot.
Leon tersenyum mendengar ucapan Ninda. Sejujurnya, ia pun ingin cepat pulang namun masalah pada perusahaan kakek masih belum terselesaikan. Terpaksa Leon harus tinggal dua sampai tiga hari lagi di Amerika.
"Ya sudah... kamu jaga dia. Usahakan jangan sampai ia terus-terusan menangis." Pinta Leon.
"Enak aja kakak kalau ngomong. Dia tuh cinta sama kakak. Nah, sekarang yang dia tau kakak udah meninggal... lah gimana dia nggak nangis terus-terusan?!" Protes Ninda kesal. "Kakak sih... terlalu ekstrim bercandanya. Kasihan kan anak orang." Ketusnya lagi.
Leon hanya tersenyum dan menarik napas panjang. Ya, ia pun menyadari jika ia sudah keterlaluan merekayasa tentang kematiannya dan membuat Ayu menjadi sakit seperti sekarang ini. Namun, ia juga besyukur karena akhirnya ia mengetahui perasaan Ayu sebenarnya.
"Setelah kakak pulang, dia akan bahagia. Percayalah." Janji Leon.
"Kakak memang harus membuat Ayu bahagia, kalau nggak pasti kakak akan berhadapan denganku." Ancam Ninda lalu memutuskan hubungan telepon.
"Marah-marah sama siapa sih?" Suara Icha yang sudah berada di belakang Ninda membuat Ninda terlonjak kaget.
"Iiiih... mama bikin kaget aja." Sungut Ninda manyun. Icha hanya tersenyum dan duduk di samping putrinya. "Marah sama anak laki-laki mama tuh. Udah buat Ayu nangis terus... eeeh, dia malah lari ke Amerika." Lanjutnya masih kesal. Icha menarik napas berat.
"Mama juga kasihan sama Ayu. Makanya mama nggak tega ke sana untuk melihat keadaannya." Imbuh Icha sedih. "Kakak kamu benar-benar keterlaluan tapi kita nggak bisa salahkan dia juga kan? Dia sampai tega begitu gara-gara Ayu menolak cintanya." Icha tetap membela putra kebanggaannya.
"Ck... iya sih... tapi kenapa kakak harus ke Amerika? Kan kasihan Ayu." Sewot Ninda.
"Kakak bukannya lari dari perbuatannya tetapi memang kakek sangat membutuhkan kakak untuk membantu kak Jordan menyelesaikan masalah perusahaan." Jelas Icha. "Kakakmu itu bukan seorang pengecut, dia laki-laki lembut dan bertanggung jawab." Ujar Icha membanggakan laki-laki sulungnya.
Mendengar perkataan ibunya, Ninda pun tersenyum dan memeluk sang mama. Ia sangat tahu karakter kakak laki-lakinya itu dan benar kata-kata Icha tadi, Leon memang laki-laki bertanggung jawab apalagi sama perempuan.
"Iya deh... anak mama yang itu tuh emang the best." Ujar Ninda dalam pelukan Icha. "Aku juga senang, ma... akhirnya Ayu benar-benar akan menjadi bagian dari keluarga kita." Ninda bahkan sudah membayangkan jika ia akan memanggil Ayu dengan sebutan kakak ipar.
"Mama juga sama sekali nggak tau loh... kalau mereka ternyata saling suka." Imbuh Icha tak percaya.
"Aku juga baru tau sewaktu aku membaca buku diari Ayu, ma. Semua cerita tentang perasaannya terhadap kakak dituangkan ke dalam diari itu." Urai Ninda lalu menceritakan bagaimana sampai ia bisa membaca diari Ayu yang disimpan dalam lemari kecil meja rias tanpa sepengetahuan Ayu tentunya. "Selama ini dia juga selalu menghindari kakak karena dia takut perasaannya semakin dalam pada kakak. Dia merasa tidak pantas karena dia hanya anak seorang mantan pembantu kita." Jelas Ninda seperti apa yang ia baca dalam diari Ayu.
Icha menggeleng kepala tidak menyangka jika Ayu yang sudah dianggapnya sebagai anak sama seperti Ninda namun ternyata masih memikirkan tentang status sosial antara mereka.
"Kasian Ayu..." Lirih Icha. "Padahal selama ini mama dan papa tidak pernah mempermasalahkan bahkan tidak pernah membandingkan siapa mereka dan siapa kita." Ujar Icha. "Bahkan kamu leluasa berteman dan bersahabat dengan Ayu." Sambungnya.
"Yaaaa... masing-masing orang berbeda pemikiran, ma." Timpal Ninda.
"Ya... kamu benar." Icha mengangguk setuju dengan ucapan putrinya. "Ya sudah, sekarang kamu tidur. Mama juga mau istirahat dulu sambil menunggu papa pulang." Icha mengecup kening Ninda lalu berdiri.
"Papa belum pulang, ma?" Tanya Ninda heran, padahal jam di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Agak jarang sih Marco telat pulang ke rumah.
"Iya, papa masih lembur. Paling sebentar lagi udah pulang." Setelah Icha keluar dari kamar anak gadisnya, Ninda pun berbaring di tempat tidur empuknya.
Sedangkan nun jauh di sana...
Pukul 08.00 pagi...
Leon berdiri di balkon ruangan CEO GTA Corp milik sang kakek yang sudah diserahkan pada sepupunya Jordan, sedang menatap awan cerah sempurna yang dipadu dengan warna biru langit. Rasa rindu pada gadis masa kecilnya benar-benar menyiksa hati dan pikiran. Apalagi setelah kejadian di desa Sukamaju, ia mendapat laporan dari anak buahnya yang berada di sana saat itu bagaimana Ayu menangis histeris memanggil namanya. Bahkan Ayu harus pingsan berulang kali karena tidak kuat menghadapi kenyataan bahwa Leon sudah tiada.
"Tunggu aku pulang, sayang... Aku akan menebus semua sakitmu." Gumamnya dalam hati sambil menutup mata.
"Hai, bro... Sedang apa di sana?" Jordan yang baru tiba mengagetkan Leon yang sedang terlena dengan pemikirannya sendiri.
Leon langsung membuka mata dan berbalik badan.
"Bagaimana saham semalam?" Tanya Leon tanpa menjawab pertanyaan Jordan.
Jordan tersenyum dan berjalan mendekati Leon. Jujur, ia bangga memiliki saudara sepupu secerdas Leon.
"Terimakasih, bro'... Sudah jauh-jauh datang untuk membantuku. Aku tidak tau apa yang akan terjadi jika kau tidak datang." Ucap Jordan tulus. "Aku juga banyak belajar darimu bagaimana cara mengatasi permasalahan bisnis seperti ini." Lanjutnya.
"Kalau perusahaan ini hancur maka aku juga akan hancur karena tidak bisa menjaga hasil keringat kakek kita." Timpal Leon. "Karena itu kapanpun kau membutuhkan, pasti aku akan datang." Tegas Leon membuat Jordan tertawa senang dan memeluk sepupunya itu. Leon pun membalas pelukan Jordan.
__ADS_1
"Jika sudah tidak ada yang aku kerjakan, hari ini juga aku akan pulang. Aku harus menyelesaikan satu masalah di sana yang aku ciptakan sendiri." Ungkap Leon sekalian pamit pada Jordan.
Mendengar penuturan Leon, Jordan mengerutkan kening.
"Kau bisa menciptakan masalah juga rupanya?" Tanya Jordan tidak percaya.
"Ck... aku juga manusia, pasti selalu membuat masalah." Timpal Leon lalu melangkah hendak keluar dari ruangan Jordan.
"Aku pikir malam ini aku bisa mentraktirmu makan malam sebagai ucapan terimakasih karena sudah membantuku." Celetuk Jordan berharap Leon menunda kepulangannya ke Indonesia.
"Lain kali saja. Aku harus pulang hari ini." Tolak Leon lalu keluar tanpa pamit lagi.
Sebelum ke bandara di mana jet pribadi Guatalla sudah menunggunya, Leon masih harus ke mansion utama untuk pamit pada kakek dan neneknya.
"Kenapa buru-buru pulang, nak? Kau tau nenek masih kangen padamu." Keluh sang nenek Sania.
"Nanti aku datang lagi, nek." ujar Leon. Ia sudah tahu, pasti akan memakan waktu banyak ketika berpamitan pada kedua orangtua dari papanya ini. Apalagi sang nenek yang suka mencari-cari alasan. "Atau mungkin... dalam waktu dekat kakek dan nenek yang akan pulang ke Indonesia." Leon sengaja membuat kalimat teka-teki untuk mereka.
Adam dan Sania mengerutkan kening.
"Memangnya ada apa dalam waktu dekat ini??" Akhirnya kakek bertanya karena penasaran.
Leon hanya menjawab pertanyaan kakek dengan senyuman penuh arti.
"Aku harus berangkat, kek... nanti setelah sampai aku akan menghubungi kalian berdua." Tak ingin mendapat pertanyaan lebih banyak lagi, Leon segera pamit dan berangkat ke airport diantar salah satu sopir kakek.
Tepat pukul sepuluh pagi, jet yang ditumpangi Leon dan beberapa crew terbang meninggalkan Amerika. Hati Leon sudah tidak bisa menahan lagi untuk bertemu dan memeluk gadisnya.
Sepanjang perjalanan yang memakan waktu kurang lebih delapan belas jam, Leon sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Bahkan beberapa pramugari cantik yang dibayar mahal untuk melayaninya di dalam pesawat pun tidak digubris oleh Leon. Di pikirannya hanya ingin cepat sampai dan meminta maaf pada Ayu karena rekayasa yang telah ia buat.
Hingga tepat pukul empat dini hari, jet pribadi mahal itu mendarat sempurna di bandara Jakarta. Dengan tergesa-gesa Leon menuruni tangga pesawat tanpa membalas sapaan para pramugari.
Rayhan yang sudah menunggu kedatangan bosnya segera membuka pintu mobil untuk Leon.
"Sudan kangen nih ceritanya." Ledek Rayhan. "Eh, gimana GTA Corp? Aman?" Teringat akan tujuan Leon ke sana membuat Rayhan bertanya dengan penasaran.
"Aman. Kalau belum aman pasti aku juga belum pulang." Sahut Leon yang sedang bersandar santai pada sandaran kursi mobil.
"Aku tidak pernah ragu kalau kau yang mengatasi suatu masalah." Puji Rayhan sembari terus fokus ada jalanan.
Pukul empat tiga puluh lima, mobil sudah memasuki halaman rumah Ayu.
"Ayu pasti masih tidur." Ujar Rahyan setengah berbisik.
Leon membuka pintu mobil bertepatan dengan terbukanya pintu rumah mantan pengasuhnya. Rossa sudah menyambutnya dengan senyuman. Sedangkan Rayhan langsung meninggalkan tempat itu karena ia harus bersiap ke perusahaan.
"Nak...." Rossa yang melihat kedatangan Leon tersenyum bahagia.
Tak menunggu lama, Leon langsung memeluk mantan pengasuhnya itu.
"Gimana kabar kamu, nak? Sehat kan?" Tanya Rossa kuatir.
"Iya, bi... aku sehat." Jawab Leon pelan. "Bagaimana Ayu?" Ia melihat ke dalam rumah.
Rossa tersenyum.
"Untung kamu yang membuat putri bibi begini... kalau saja orang lain, pasti bibi sudah laporkan ke polisi." Dengus Rossa namun ia tidak marah.
Leon tersenyum lalu menunduk.
"Maafkan aku, bi." tutur Leon tulus. "Itu juga gara-gara anak bibi yang menolakku." Sambungnya lalu merangkul sang bibi masuk ke dalam rumah.
"hahaha... dasar anak muda." Ledek Rossa lucu. "Bibi mau buatkan sarapan , kamu istirahat aja dulu ya." Rossa menggandeng tangan Leon mengantarkannya ke kamar tamu.
"Bi..." Leon ragu ingin menyampaikan sesuatu.
__ADS_1
"Apa?" Tanya Rossa lembut.
"Aku.... boleh istirahat di kamar Ayu?" Tanya Leon hati-hati. "tapi.. tapi aku janji, bi. Aku nggak akan macam-macam." Leon mengangkat dua jari membentuk huruf v. "Aku kangen anak bibi." Keluhnya dengan wajah memelas.
Rossa sengaja memicingkan mata padahal ia ingin tertawa ngakak melihat ekspresi anak muda di hadapannya ini. Hilang sudah kesan dingin dan datar pada wajah Leon akibat jatuh cinta.
"hahahahaha..." Akhirnya pecah juga tawa Rossa walaupun ia harus sedikit menahan volume suara agar tidak mengganggu Haris dan Ayu yang masih terlelap.
Leon ikut tersenyum malu namun ia senang melihat aura kebahagiaan di wajah Rossa.
"Iya, bibi percaya padamu." Ujar Rossa lembut. "Tapi janji ya, jangan bangunkan Ayu. Dia baru bisa tertidur sejam yang lalu. Om Haris juga ikut begadang makanya belum bangun sampai sekarang." Jelas Rossa.
"Iya, bi... aku janji." Dengan semangat ia melangkah ke kamar Ayu, membuka pintu dengan pelan hingga tak terdengar suara decitan.
Leon melangkah pelan mendekati ranjang di mana gadis itu sedang tertidur pulas. Wajah pucat dengan kantung mata sedikit menghitam menandakan ia tidak kesulitan tidur beberapa hari ini.
Cup....
Dengan lembut Leon mengecup kening Ayu. Ia menatap wajah manis itu cukup lama lalu ia mendekati sebuah sofa panjang dekat jendela kamar dan membaringkan tubuhnya di sana lalu ikut terlelap.
Tepat tujuh pagi, Leon terbangun akibat cahaya matahari yang sedikit menyengat di kulit wajahnya. Ia mengangkat kepala, memicingkan mata sembari melihat sekeliling kamar. Ia baru tersadar jika semalam ia tidur sekamar dengan Ayu.
Deg....
Jantung Leon berdetak kencang karena kaget melihat sesuatu yang membuatnya sakit kepala. Bagaimana tidak? Ayu yang baru saja seles,,ai mandi sedang berganti pakaian di depan di lemari. Ia tak menyadari jika ada sepasang mata yang asyik menatapnya dengan senyum menggoda.
Selesai memakai pakaian, ia berdiri di depan cermin, mengambil sisir dan mulai menyisir rambut dengan pelan. Tubuhnya masih sedikit lemas,
wajah pucat, tak ada senyum di bibir manis itu.
Leon terus memperhatikan dengan wajah sendu penuh cinta. Ia tidak menyangka jika kondisi Ayu akan separah ini karena kehilangannya. Gadisnya benar-benar terpukul karena perbuatannya.
Leon bangkit berdiri, melangkah perlahan tanpa suara dan berdiri sekitar tiga meter di belakang Ayu. Secara otomatis, wajah Leon nampak dalam kaca rias besar dimana Ayu pun sedang memandang lurus ke depan.
Sisir di tangan Ayu terjatuh. Wajah pucatnya terlihat tegang. Ia menunduk lalu menutup mata dengan kedua tangan dan menangis tersedu.
Tak berapa lama, sekali lagi ia mencoba mengangkat wajah dan melihat bayangan laki-laki yang ia cintai.
Masih ada.
Malah tersenyum manis ke arahnya.
Dengan cepat Ayu menoleh ke belakang.
"Tuan...." Bibirnya kelu. Ia merasa seperti mimpi tetapi tidak sedang bermimpi.
Kakinya mulai goyah hingga hampir terjatuh.
Leon menangkap tubuh lemas Ayu. Mata mereka saling menatap dan berbicara. Air mata Ayu mengalir deras tanpa suara. Ia merasa seperti hampir kehilangan nyawa.
"Hei..." Leon menghapus airmata itu dengan tangan bergetar, pilu melihat wajah gadisnya yang begitu masygul. "Ini aku, sayang..." Bisik Leon sembari memegang pipi Ayu sedangkan tangan kirinya memeluk erat pinggang Ayu karena takut tubuh Ayu terjatuh.
"Tuan...." Lirih Ayu dengan suara sangat kecil bahkan hampir tidak terdengar. "Jangan pergi.... jangan tinggalkan aku... jangan pergi, tuan." Ia terus meracau dan matanya menatap Leon tanpa kedip.
Leon yang sudah tidak tahan melihat kondisi Ayu segera membawa gadis itu dalam pelukannya. Ia mengecup kepala Ayu berulang kali sembari meminta maaf.
"Maaf, sayang... aku minta maaf." Bisik Leon penuh sesal. Ia mengelus punggung Ayu agar gadis itu merasa tenang.
Setelah dirasa Ayu sudah tenang, Leon menjauhkan kepala Ayu dari dadanya dan menatap mata gadis itu.
"Tuan..." Ucap Ayu masih tidak percaya. Ia meraba pipi, mata, hidung, bibir, dan dagu Leon. "Tuan..." Lirihnya lagi antara senang atau sedih. Antara nyata atau mimpi.
Leon memegang tangan Ayu dan mengecup punggung tangan lembut itu penuh perasaan. Jarak mereka sangat dekat hingga baik Leon maupun Ayu tak ingin membuang kesempatan untuk saling menatap dan menyalurkan rasa yang ada di dalam hati mereka.
"Iya, sayang... ini aku. Aku masih ada di sini dan akan terus ada untuk kamu." Tutur Leon sambil menghalau rambut Ayu yang menutupi pipinya. "Aku minta maaf sudah membuat kamu menderita begini." Sesal Leon. "Aku masih hidup. Yang kamu lihat kemarin di sana itu bukan aku, sayang." Melihat Ayu yang tidak bisa berbicara, akhirnya Leon mulai menceritakan yang sebenarnya agar gadis itu bisa sedikit lebih tenang. "Maaf.... sudah membuat kamu menjadi trauma." Leon menempelkan kening mereka. "Aku marah karena kamu menolakku." Ucap Leon dan ia menutup mata. "Aku mencintaimu... aku mencintaimu... aku mencintaimu, sayang...."
__ADS_1