Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Maaf, sayang...


__ADS_3

Setelah Wulan mengambil bagasi, ia dan Marco segera melangkahkan kaki menuju mobil yang sudah disiapkan Raymond untuk menuju kota x, kota asal Icha. Pejalanan yang memakan waktu tidak terlalu lama, membuat Marco lebih bersemangat untuk bertemu kekasih hati. Rasa rindu dicampur rasa bersalah yang semakin menggunung, terasa hendak meledak mengeluarkan laharnya. Teringat pertanyaan kakek sebelum ia berangkat.


"Kamu yakin, Marissa akan memaafkanmu dan mau kembali bersama?" tanya kakek pesimis.


"Dia hanya milikku, kek. Aku tempatnya kembali." sahut Marco percaya diri. Kakek tertawa dan memeluk cucunya ini. Rasa cintanya pada Marissa membuat Marco akan melakukan apa saja agar gadisnya mau kembali.


Bisa saja Marco menggunakan jet pribadi untuk cepat sampai di kota x. Tetapi, Marco bukan tipe CEO yang suka memamerkan harta benda. Ia lebih suka berbaur dengan orang lain. Kecuali, ada hal urgent yang mengharuskan ia segera sampai ke suatu tempat. Itu pun di luar Indonesia.


Tiga orang yang sedang berada dalam satu mobil terdiam tanpa kata. Sang sopir lebih fokus pada jalan di depan. Marco asyik memandang ke luar jendela mobil sambil menahan gejolak dalam dadanya. Sedangkan Wulan sebagai penunjuk jalan merasa senang karena merindu yang sudah lama dipendam akhirnya terobati. Rindu kampung halaman dan keluarganya. Selama bekerja Wulan baru sekali pulang ke kampung halamannya. Itu pun hanya mendapat ijin selama dua hari.


"Sudah berapa lama tidak pulang kampung?" Suara Marco terdengar memecahkan sunyi. Wulan menoleh ke belakang. Ya, Wulan duduk di samping sopir.


"Hampir 6 bulan, tuan. Setelah mulai aktif di kantor." sahutnya sopan.


"Kamu belum memberitahu Marissa kan kalau hari ini saya akan datang?" tanya Marco menyelidiki. Karena, sebelum mereka berangkat dari Jakarta, Marco sudah mengingatkan untuk tidak memberitahu Icha terlebih dahulu. Ia ingin membuat kejutan untuk kekasihnya.


"Belum, tuan. Tidak mungkin saya memberitahunya. Saya ingin melihat ia bahagia dengan kejutan anda nanti malam." jawab Wulan cepat. Ia tersenyum senang membayangkan kebahagiaan yang akan menghampiri Icha, sahabatnya.


Marco pun ikut tersenyum bahagia.


"Ya... jalankan seperti rencana kemarin, jangan sampai gagal membujuknya ke Vila GT." Wulan mengangguk patuh.


Marco melirik jam tangannya. Pukul 15.45 menit. Perjalanan dari Ibu kota Jawa Barat menuju kota kecil x memakan waktu 3,5 jam. Masih satu jam lagi mereka akan sampai ke kota x.


Marco menarik napas panjang. Ia mengeluarkan telepon genggamnya dan mulai memeriksa pekerjaan yang dikirim Raymond ke emailnya.


Raymond memang asisten yang sangat bisa diandalkan. Dedikasinya pada perusahaan terutama pada Marco sudah tidak perlu diragukan lagi. Bahkan ada beberapa klien Marco yang lebih segan pada Raymond dari pada Marco, tuannya. Itu karena Raymond yang selalu tunjukkan taringnya jika ada lawan musuh yang menyentil Marco.


"Tuan, kita sudah masuk kota x." Ujar Wulan. Marco mengangkat kepalanya melihat ke luar jendela. Ia sibuk berbalas email dan membaca berkas, hingga tak menyadari jika mobil sudah sampai ke tempat tujuannya. Hati Marco langsung berdesir. Di kota ini gadisnya bersembunyi. Ia mengangkat sedikit sudut bibirnya. Bahagia dan rindu bercampur aduk.


Mobil memasuki area hotel bintang 5 milik GT Corp. Memang banyak akomodasi yang disediakan GT Corp di kota ini. Dari hotel bintang lima hingga penginapan sederhana tetapi dengan fasilitas yang memadai. Ada sekolah dan kampus juga yang biayanya sangat murah dan bisa dijangkau oleh para orangtua yang sebagian besar petani.


Semua itu atas perintah mr. LG, pendiri dan pemilik GT Corp. Semenjak itu, kota ini menjadi berbeda dari kota-kota kecil lainnya di Bandung. Itu semua kakek lakukan karena sang mendiang istri berasal dari kota kecil nan sejuk ini. Ditambah lagi calon cucu mantunya pun berasal dari kota ini. Membuat kakek senang dan sangat mendukung hubungan Marco dan Icha.


"Kamu boleh pulang ke rumah. Jangan lupa nanti malam ajak Marissa ke Vila GT." Ujar Marco sebelum masuk ke dalam lobi hotel. Wulan mengangguk sopan menandakan ia mengerti apa yang diperintahkan Marco dan segera melakukan perintah itu. Mereka pun berpisah. Wulan diantar sopir menuju rumahnya yang letaknya tidak terlalu jauh dari hotel.


Wulan sampai di rumahnya pas waktu maghrib. Hari sudah menjelang gelap.


"Neng..." Ia disambut sang ibu yang langsung memeluknya erat. "Syukurlah... kamu pulang. Ibu kangen banget sama kamu." lirih ibu dalam pelukan putri sulungnya. "Kok nggak ngasih kabar kalo mau pulang? Biar ibu masakin makanan kesukaan kamu." Keluh ibu Sumi yang tidak dikasih kabar soal kepulangan Wulan.


"Wulan mau bikin surprise untuk ibu." sahutnya berbohong. Ia sendiri kaget diperintah Marco untuk bersiap karena harus ke Bandung siang itu juga.


"Tapi kenapa kamu pulang, neng? Jangan bilang kalo kamu berhenti kerja sama kayak Icha?" Ibu Sumi melepaskan pelukannya dan menatap curiga pada Wulan.


"Ih ibu... neng baru sampe bukannya disuruh masuk, istrahat, malah langsung zu'udzon gitu." Rengek Wulan yang memang sangat dekat dengan ibunya. "Ya nggak mungkinlah neng berhenti kerja. Neng kan harus menyekolahkan adik-adik." Jawab wulan meyakinkan ibunya.


Semenjak ayahnya meninggal 2 tahun lalu, otomatis Wulan harus menggantikan sang ayah menjadi tulang punggung keluarga. Adiknya masih SMA kelas 12, sebentar lagi akan masuk perguruan tinggi. Sedangkan yang bungsu masih SMP kelas 9. Ibu Sumi yang merupakan seorang penjahit sudah tidak bisa menerima banyak jahitan karena pinggangnya yang sering sakit dan nyilu.

__ADS_1


"Neng ada kerjaan di sini, buk. Makanya datang." lanjutnya menjelaskan maksud kedatangan. "Oh ya, buk... neng mau mandi dulu. Jam 7 malam ini neng harus ketemu bos neng untuk membahas pekerjaan." Ia segera masuk ke kamarnya.


" Lho... nggak istirahat dulu, ngeteh dulu?" Teriak ibunya dari luar kamar Wulan.


"Ibu tolong buatin teh, ya." Pintanya dari dalam kamar. Ia segera bersiap. Ia harus ke rumah Icha, merayu gadis itu agar mau diajak keluar jalan-jalan. Jika tidak, maka misi mereka akan hancur.


"Andra dan Anji ke mana, buk?" Tanya Wulan yang sudah duduk di meja makan menikmati teh hangat dan pisang goreng kesukaannya. Ibunya memang paling mengerti apa yang anak-anaknya mau.


"Ke masjid. Sholat magrib sekalian ada kegiatan pengajian dari ibu kota." Sahut ibunya. "Oh ya, neng... Si Icha kenapa berhenti bekerja?" Tanya Ibu Sumi membuat Wulan tersedak tehnya.


"Minumnya pelan-pelan, neng." ibu Sumi mengelus punggung Wulan lembut.


"Nggak apa-apa, buk. Wulan pamit, ya. Udah terlambat nih." Wulan mengambil tas sampingnya, mencium tangan ibu Sumi dan berjalan keluar. Ia menarik napas panjang karena pembahasan tentang Icha tidak dilanjutkan. Bukannya Wulan tidak mau cerita, tetapi belum saatnya ibunya tahu tentang permasalahan Icha.


Ia sudah ditunggui oleh sopir yang sama yang menjemputnya dan Marco di bandara tadi. Ia memberitahu alamat pada sopir dan segera pergi meninggalkan rumah.


Tidak sampai 15 menit mobil yang ditumpangi Wulan tiba di rumah kecil, sederhana tapi sangat asri. Beragam jenis bunga di pekarangan menyambut setiap tamu yang datang.


tok... tok... tok...


"Sebentar.... " Terdengar suara dari dalam. Itu suara Icha. Seru Wulan dalam hati.


"Surpriseeeeeee.... " Teriak Wulan saat pintu terbuka. Icha melonjak kaget. Ia yang masih bengong langsung dipeluk Wulan dengan sangat erat.


"Wulan.... " Icha tersadar jika yang memeluknya adalah Wulan langsung membalas pelukan sahabatnya itu. Ia menangis bahagia karena sudah lama tidak saling bertemu.


"Kamu kok.... pulang? Kenapa?" Tanya Icha heran. Sepengetahuan Icha sangat susah untuk sekedar mendapat ijin sehari saja dari perusahaan. Ia melepaskan pelukannya dan menatap Wulan curiga.


"Kemana? Makan di rumah aja ah. Aku masakin buat kamu." tolak Icha sambil menarik tangan Wulan masuk ke dalam rumah. Otak Wulan mulai berputar memikirkan alasan apa lagi yang harus ia berikan agar Icha mau diajak keluar.


"Yeeee... aku kan pengen jalan-jalan sama kamu. Aku di sini cuma 2 hari lho. Kapan lagi aku punya waktu jalan-jalan sama kamu." Ucap Wulan memelas. "Ayolah... siap-siap, gih. Aku tunggu, ya!" Wulan menolak Icha masuk ke kamarnya.


"Eeeh... eh.. Kamu aneh ih... dateng-dateng langsung ngajak keluar." Sewot Icha pada Wulan.


"Abis aku nggak punya waktu lagi, neng geulis... makanya cepatan siap-siap. Kita makan malam di luar sekalian aku mau curhat sama kamu." Wulan menampilkan senyum manisnya. Ia menutup pintu kamar Icha dan menunggu di luar. "Pake gaun ya... yang cantik." Teriak Wulan dari luar.


"Aneh.... " Balas Icha teriak dari dalam kamar. Wulan menutup mulutnya dan tertawa pelan. Ia takut terdengar Icha.


Tak sampai 10 menit, Icha keluar. Hanya dengan gaun sederhana, dandanan sederhana, sepatu hak 5 centi, sudah membuat gadis ayu itu bertambah anggun.


"Sahabat siapa sih ini cantik banget.." Goda Wulan. Icha memutar bola matanya malas. Ia hendak kembali masuk ke kamar.


"Eh..eh.. eh... mau ke mana?" Tanya Wulan menahan lengan Icha.


"Mau ganti baju. Nggak jadi keluar." ketus Icha.


"Iiiih... tega sama sahabat sendiri." Wulan sengaja memelas.

__ADS_1


"Makanya ayo jalan... nggak usah basa-basi lagi." Sewotnya sambil jalan mendahului Wulan. Wulan melebarkan matanya senang.


"Yes... " pekik Wulan tertahan sambil mengepalkan tangannya. Ia segera menyusul ke luar.


"Kamu nggak bawa motor?" Tanya Wulan sambil melihat-lihat motor Wulan yang biasa mereka gunakan waktu sekolah. "Kita naik apa dong?" Lanjutnya bingung.


tit... tit... tit...


Bunyi klakson mobil terdengar.


"Tuh... mobil kita. Aku pesan online." Jawab Wulan sambil menarik tangan Icha masuk dalam mobil. "Malu dong... udah dandan syantik gini, naik motor butut." Bisik Wulan takut terdengar sopir. Padahal ia berbohong. Itu mobil Marco yang diperintah untuk menjemput Wulan dan Icha.


Icha meliriknya ketus. Wulan terkekeh menggoda sahabatnya.


"Kita mau ke mana sih?" Tanya Icha penasaran. "Kenapa nggak makan di pinggir jalan aja?" protes Icha ketika sopir membawa mereka melewati angkringan sepanjang jalan utama. "Enak-enak tuh. Ada sate ayam, sate kambing, siomay, batagor... " celetuk Icha sambil menunjuk tempat-tempat makan yang terpampang sepanjang jalan.


"Ih kamu... masa dandanannya udah cantik gini, makannya di pinggir jalan. Kali ini aku traktir kamu di tempat yang agak mewah.." ujar Wulan sedikit sombong. Icha hanya mengendikkan bahunya malas. Berdebat juga percuma. Jadi, ia pasrah saja mau dibawa Wulan ke mana.


Mereka tiba di Vila GT. Vila di pinggir pantai dengan menu makanan yang agak berkelas. Harganya juga sedikit menguras dompet.


"Ngapain ke sini sih, lan?" Cetus Icha tidak percaya saat mobil berhenti di parkiran Vila.


"Ya nongkronglah... Atau kamu mau renang?" goda Wulan.


"Ini mahal lho tempatnya... Mana rame lagi." Sela Icha masih protes. "Cari tempat makan lain, yuk." ajak Icha pada Wulan.


"hahahaha... kita udah sampai di sini, artinya kita tetap di sini. Kamu tenang aja. Aku yang traktir." Wulan terus meyakinkan Icha. Ia menarik tangan Icha masuk dalam restoran dan naik ke lantai dua. Mereka duduk di bagian balkon restoran. Dari atas balkon bisa langsung melihat ke arah laut dan menikmati angin laut yang sejuk.


"Bagus, kan?" Seloroh Wulan tersenyum. Icha mengangguk. Ia terpana juga melihat keindahan alam di sini.


"Eh... sini, yuk. Kita berdiri di sini. Sambil lihat ke langit." ajak Wulan. Ia menarik tangan Icha berdiri di pinggir balkon yang dihalangi pagar besi.


"Tutup mata kamu trus nikmati angin malam ini... kamu akan mendapatkan kedamaian di sana. Rentangkan tangan. Nikmati kesejukannya." Anehnya setiap kalimat Wulan bisa menghipnotis Icha.


Gadis itu merentangkan tangan, menutup mata dan menikmati angin malam dan kesejukannya.


Hingga ia merasa ada tangan yang melingkari pinggangnya, memeluknya dari belakang...


"Aku mencintaimu... "kalimat itu menyadarkan Icha dari alam bawah sadar. Ia mengenal suara itu. Suara yang sangat dirindukan. Ia mengenal wangi parfum ini. Wangi yang menenangkan. Icha menoleh ke samping, ada wajah yang selalu hadir dalam mimpinya.


"Maafkan aku... Maaf, sayang. Maaf karena terlalu menyakitimu. Maaf, karena tidak jujur padamu. Maaf...


Aku mencintaimu." Lirih suara itu membuat Icha yakin bahwa ia tidak bermimpi. Airmatanya luruh. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan terisak.


Marco segera membalikkan tubuh Icha dan membawanya dalam pelukan. Rindu dan rasa bersalah yang membara membuat ia mengecup kepala Icha berulang kali. Gadis itu terus terisak dalam pelukan Marco.


"Kamu jahat... Kamu jahat... kamu jahat.. "Tiba-tiba Icha memukul dada Marco dan menangis histeris. "Kamu jahat!" Marco memegang tangan Icha dan memeluknya lagi.

__ADS_1


"Iya, sayang... Aku jahat. Maaf... Maaf, sayang. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji tidak akan menyakitimu lagi." Sesal Marco. Ia terus memeluk Icha sampai gadis itu melemah.


Semua mata tertuju pada mereka.


__ADS_2