
Dua puluh empat jam penuh menjadi hari yang kelam bagi Marco dan Icha. Bagaimana tidak? Mereka terpisah oleh ruang dan waktu. Icha benar-benar mengurung diri dalam ruang privasi tanpa sepengetahuan siapa pun sedangkan Marco mengira Icha sudah pergi jauh sehingga sama sekali tidak bisa dilacak dan dijangkau keberadaannya. Semua cara sudah ditempuh. CCTV ruang kerja Icha tiba-tiba rusak. Sama sekali tidak ada informasi yang bisa di ambil dari situ. Bahkan mr. LG yang dikenal memiliki banyak jaringan dan mata-mata tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kalau saja tangan ini bisa memukulmu, pasti aku sudah menghajarmu sampai babak belur." Geram kakek pada Marco. "Bagaimana kau bisa begitu bodohnya membiarkan musuhmu mendekati dengan begitu mudah?!" Lanjutnya dengan suara bergetar karena amarah yang besar. Berry dengan cepat merangkul kakek dan menenangkannya.
Marco terdiam seribu bahasa. Ini pertama kali ia mendengar kakek begitu marah pada dirinya. Bertahun-tahun menjadi cucu kesayangan dan selalu menjadi kebanggaan sang kakek, seakan-akan meruntuhkan image itu.
"Sudah dua hari, Marco. Di mana Marissa? Bagaimana keadaannya?" Erang kakek sedih. Matanya memerah menahan tangis. Marco semakin terpuruk.
Tanpa suara, Marco keluar menuju bagasi dan masuk dalam mobil. Raut sendu begitu nampak pada wajah tampannya. Ia tidak menyangka jika hubungan yang baru dibangun bersama Icha akan dengan mudah disentil musuh. Siapa lagi kalau bukan Valencia?
"Di mana kamu, sayaaang?" Lirihnya pedih. "Aaaaaagh... sial, sial, sial!" Marco berteriak sekuat tenaga mengeluarkan semua beban di hati. "Maaf, sayang. Aku minta maaf. Aku akan membalas semua sakit hati kamu." Nada dendam terdengar dan amarah yang amat sangat terpancar dari matanya.
Namun, ada hal aneh yang membuat Marco curiga. Kenapa sama sekali tidak ditemukan jejak Icha? Padahal bukan hal yang sulit bagi Marco untuk menemukan keberadaannya. Marco bukan orang biasa. Ia memiliki jaringan yang luas yang mampu menangkap musuh sekaliber mafia sekali pun.
Dalam kebingungannya, ia menjalankan mobil keluar dari mansion. Ia hendak ke kostan Icha dulu di mana sekarang hanya ditempati oleh Wulan.
Sesampai di halaman kostan, Marco bisa melihat Wulan sedang menelpon seseorang. Namun, tidak jelas dengan siapa ia berbicara. Marco berjalan mendekat ingin mengetahui dengan siapa Wulan berbicara.
"Iya, ma... Nanti Wulan sampaikan pada Icha, ya. Assalamualaikum." Wulan yang sudah melihat keberadaan Marco, menarik napas panjang. Airmatanya langsung luruh dan ia terisak sedih.
"Di mana Icha, tuan? Sudah sehari penuh dia menghilang." Serunya dalam tangisan. "Barusan aku menelepon mama Tanti... sengaja menanyakan kabar dengan maksud ingin mengetahui kalau-kalau Icha ada di sana. Tapi, sepertinya dia tidak di sana, tuan. Mama Tanti menanyakan kabar Icha dan titip salam, katanya." Paparnya dengan serak karena menangis.
Marco terdiam. Ia yang sudah terbiasa menghadapi musuh besar, kali ini seperti mengalami jalan buntu. Saat ini ia hanya ingin fokus mencari Icha. Setelah itu, ia akan mengurus Valencia yang sudah membuat Icha harus pergi dari sisinya.
"Tuan..." Panggil Wulan pelan. Marco menoleh. "Ayo, kita ke kantor. Kita cari jejak Icha di sana. Buka ulang semua CCTV, siapa tau ada informasi yang kita bisa dapatkan di sana." Seru Wulan optimis.
Marco menggeleng lemah.
"Sehari ini bahkan semenjak Marissa menghilang, aku sudah melacak semua CCTV. Hasilnya nihil." Lirih Marco pesimis.
"Tidak, tuan... jangan menyerah dulu." Wulan memberi semangat pada Marco. "Ayo, kita ke kantor." Dengan berani Wulan menarik tangan Marco sehingga laki-laki itu pun bangun dari duduknya dan mengikuti langkah Wulan.
__ADS_1
Marco menyetir sendiri mobilnya dan segera melaju ke perusahaan. Waktu menunjukkan pukul 8 malam, artinya sudah tidak ada lagi karyawan di sana. Pasti hanya ada beberapa sekuriti yang bertugas berjaga malam ini.
Sesampai di kantor, Marco disambut sekuriti senior yang sedang berjaga.
"Selamat malam, tuan." Sapanya hormat. "Ada yang bisa kami bantu?" Tanya sekuriti yang bernama Dandi, dilihat dari nametag di dadanya.
"Ada karyawan yang lembur?" Tanya Marco dingin.
"Tidak ada, tuan. Ada beberapa yang baru pulang sejam yang lalu. Sekarang kosong, tuan." Jawab Dandi sopan.
Marco mengangguk.
"Saya mau ke atas. Kamu berjagalah." Ucap Marco dan langsung meninggalkan parkiran diikuti oleh Wulan di belakangnya. Dandi tersenyum menggelengkan kepala setelah Marco dan Wulan masuk dalam lift khusus.
"Dasar horang kaya... mau ***-*** aja tinggal datang ke kantor. Lah wong kantor dia yang punya." Ujar Dandi curiga pada bosnya.
"Woi..."
"Eh kampret... kampret... kampret..." Dandi terlonjak kaget saat teman sekerja mengagetkannya. "Sialan, lu. Kaget, tau." Semprot Dandi kesal.
"Siapa yang ngomong sendiri!?" Protesnya membela diri. " Itu... ada Tuan Marco sama salah satu karyawan, masuk ke dalam naik lift itu tadi." Ujar Dandi sambil menunjuk ke arah lift. Lalu ia menoleh kiri kanan melihat situasi. "Mungkin mereka mau ***-*** di dalam." Bisik Dandi ke telinga Jojo.
"Ah... yang benar. Karyawannya cewek apa cowok?" Tanya Jojo tak percaya.
Mendengar pertanyaan Jojo, Dandi langsung menggetok pelan kepalanya dengan pentungan satpam.
"Lu pikir tuan Marco menyimpang." Gerutunya kesal. "Ya, ceweklah. Cantik sih. Tapi, lebih seksi nona Valencia." Celetuk Dandi sambil menghayal bodi aduhai si mantan tunangan Marco.
Giliran Jojo yang menggetok kepala Dandi.
"Yang seksi aja, lu ingat." Ledeknya. "Udah ah... ayo jaga! Jangan gosip aja lu. Kayak emak-emak komplek." Jojo mencibir Dandi dan pergi begitu saja.
__ADS_1
Sedangkan Marco dan Wulan...
Sesampai di lantai 25, mereka langsung masuk ke ruangan Marco. CEO tampan itu segera menyalakan laptop dan membuka semua CCTV kantor yang sudah tersambung secara otomatis ke laptopnya. Ia hanya membuka CCTV ruangan kerja Icha dan beberapa ruangan yang biasa dilewati Icha hingga jalur khusus pimpinan yang biasa dilewati sepasang pengantin baru itu. Semua terlihat normal. Hingga sampai pada hari di mana Marco masuk ke ruangan Icha dan terjadilah kesalahpahaman kecil antara mereka.
"Semuanya normal. Tidak ada yang aneh." Gumam Wulan sambil terus menatap ke arah laptop. "Tapi, setelah itu kenapa buram?" Lanjutnya bertanya.
"Itu yang masih aku dan Raymond caritau." Sahut Marco. "CCTV ini sudah langsung diperbaiki. Dan selama sehari ini tidak ada aktifitas yang terjadi dalam ruang kerja Marissa." Sambung Marco menjelaskan. Ia bersandar dan mengusap kasar wajahnya. "Selain itu, sama sekali tidak ada jejak Marissa." Gumam Marco resah. "Kemana aku harus mencarinya lagi?" Nada putus asa Marco terdengar. "Aku benar-benar suami yang tak berguna." Ia menyalahkan diri sendiri. "Semua jalan seperti tertutup. Marissa benar-benar menghilang dan aku tidak bisa berbuat apa-apa." Sesal Marco terdengar sangat terpukul.
Wulan hanya diam tanpa suara, airmata mewakili rasa kehilangan akan sahabatnya.
"Tapi, kita nggak bisa hanya berdiam begini, tuan..." Desak Wulan dengan terisak. "Kita harus mencari Icha." Wulan menarik napas yang terasa sesak. "Sudah dua puluh empat jam, tuan. Bagaimana keadaannya sekarang? Makan minumnya gimana?" Ia semakin terisak ketika bayangan-bayangan negatif tentang keadaan Icha terlintas di pikirannya. "Ya Tuhan...." Wulan menangis teriak sejadi-jadinya.
Marco terdiam. Airmata yang hampir jatuh dari pinggir matanya diseka dengan ibu jari. Tak ada informasi yang didapat tentang Icha membuat Marco dan Wulan memutuskan untuk pulang dan akan melanjutkan pencarian esok hari. Namun, bukan berarti Marco tidak melakukan apa-apa setelah ini. Tanpa diperintah, ia yakin Raymond sudah mengerahkan anak buah mereka untuk menyelusuri kota x, dan hampir setiap jam selalu dipantau olehnya.
Sementara Icha....
Ia masih betah tinggal dan bersembunyi di ruang privasinya. Aneh, memang! Marco sama sekali tidak pernah berpikir bahwa jarak Icha tidak jauh darinya. Icha ada di dekatnya. Tidak mungkin Icha berani pergi jauh dari suami. Ia hanya ingin menyendiri dan membiarkan Marco intropeksi diri. Ia pun merasa ia juga harus berkaca diri.
Kemarin, ketika memutuskan untuk bersembunyi dari suaminya, Icha masih sempat membawa bekal makan siang yang tidak jadi dimakan Marco, karena laki-laki itu lebih memilih makan siang bersama mantan tunangannya di restoran mahal. Maka, itu bisa menjadi bekal untuk ia makan siang itu dan pada malam harinya. Namun, pagi tadi sampai malam ini belum ada yang masuk dalam perutnya. Untungnya dalam ruang privasi ini tersedia air galon yang masih penuh, sehingga ia bisa bertahan hanya dengan minum air. Kamar inipun lengkap dengan kamar mandi dan segala isinya. Bahkan ada lemari pakaian yang memang sengaja diisi pakaian perempuan untuk keperluan mendadak sekretaris pribadi CEO. Jadi, Icha masih bisa mandi dan berganti pakaian. Namun, tidak dengan makanan. Hanya ada kopi dan gula yang setiap hari ia buat untuk Marco.
Badannya mulai lemah, tetapi ia masih bisa bertahan. Mungkin, banyak yang mengatakan ia perempuan bodoh yang mau menyiksa diri seperti itu. Namun, Icha adalah tipe orang yang lebih suka menyimpan masalahnya sendiri. Ia sangat sulit mengungkapkan perasaan tak suka akan sesuatu atau perasaan marah dan kecewa pada seseorang. Ia lebih nyaman menyendiri.
Icha tidak pernah mengaktifkan telepon seluler semenjak mengirim foto pada Marco. Ia hanya tidak mau Marco mengetahui keberadaannya terlebih dulu. Ia masih ingin sendiri.
Malam ini tiba-tiba ia ingin sekali membuka handphone. Mungkin ada sesuatu penting yang harus ia lihat dan ketahui. Maka, Icha mengaktifkan selulernya. Dan benar saja, banyak pesan masuk termasuk dari Wulan dan Marco. Namun, ada juga dari nomor baru yang kemarin mengirimkan foto. Icha penasaran akan isi pesan dari nomor baru tersebut.
"Tidak usah percaya diri karena kamu berhasil merebut Marco dariku. Karena yang sebenarnya kamu itu hanya pelariannya saja. Kamu lihat sendiri kan ia masih mengajakku bertemu."
Deg!
Satu foto masuk lagi. Marco sedang memeluk mesra Valencia di suatu tempat yang sangat romantis.
__ADS_1
Icha hanya menangis dalam diam.
Handphone pun dinonaktifkan lagi.