
Sudah dua hari Icha berada di rumahnya di kota x, kabupaten Bandung. Sudah lama juga Icha tidak pulang setelah mulai sibuk bekerja sebagai sekretaris sang kekasih. Icha sudah sangat kangen suasana rumah masa kecil. Apalagi udara yang sejuk, bawaannya pengen tidur saja. Sangat berbeda dengan udara di Jakarta.
Sore ini, Icha duduk di bale-bale depan rumah tepat di bawah pohon mangga yang rimbun.
"Cha... wedang jahenya, sayang. Biar badan kamu angat." Mama Tanti datang dan membawa dua gelas wedang jahe buatan sendiri.
Sudah dua hari mama Tanti membiarkan Icha beristrahat dan tidak menanyakan apa-apa. Sebagai seorang ibu, ia mengetahui saat anaknya dalam masalah. Icha yang sibuk bekerja di perusahaan elit di kota besar, tiba-tiba datang tanpa informasi terlebih dahulu, membuat mama Tanti langsung berpikir pasti anaknya dalam masalah.
Papa Rendra juga sama. Ia menyerahkan semua pada mama Tanti, karena Icha lebih dekat dengan mamanya.
"Sekarang mau cerita ke mama, ada masalah apa?" tanya mama Tanti lembut. "Tetapi, kalo kamu belum mau cerita ya nggak apa-apa. Mama nggak akan memaksa kamu untuk bercerita. Saran mama berbagilah kepada orang yang kamu percaya untuk berbagi tentang masalah kamu. Jangan disimpan sendiri, nak. Itu bisa menimbulkan penyakit lho." Ujar mama sekalian berpesan pada putri tunggalnya itu.
"Icha mau cerita tapi Icha malu, ma... " ungkap Icha jujur. Ia menyeruput wedang jahe buatan mama Tanti.
Mama tertawa lucu. Beliau sudah mengetahui sifat anaknya yang sedikit tertutup kalau sedang menghadapi masalah.
"Kok malu sama mama sendiri." ledek mama Tanti. "Jangan-jangan masalah sama pacar kamu ya, makanya kamu malu bercerita?" goda mama Tanti membuat Icha tersipu.
"Iya, ma... Icha sedikit ada masalah sama dia." Jawab Icha mulai jujur. Memang ini sudah saatnya ia harus jujur pada mamanya. Siapa tahu mama Tanti bisa membantu memberikan saran agar Icha bisa lebih dewasa lagi dalam menyelesaikan masalah.
"Dia siapa?" Tanya mama penasaran. Dalam hati mama Tanti merasa senang, karena setelah sekian lama anaknya ini mau cerita tentang lawan jenis.
"Namanya Marco Guatalla, ma. Bos Icha di perusahaan yang Icha kerja." Sahut Icha pelan. Wajah tampan itu muncul lagi. Rasa rindu di hati yang sudah membuncah semakin membuat Icha tersiksa.
"Bentar... " Potong mama seperti mengingat sesuatu. "Guatalla?" Tanya mama Tanti yang meminta penjelasan pada Icha soal nama itu. Nama yang familiar. Sangat familiar malah di kota ini.
"Iya, ma.. pasti mama pernah dengar nama itu. Mereka juga punya beberapa aset di sini." Sahut Icha menjelaskan.
"Kalo nggak salah pemilik yayasan sekolah dan kampus di sini, kan?" Sergah mama Tanti. "Beliau biasa disapa mr. LG, bukan?" Tanyanya dengan penasaran.
__ADS_1
"Iya, mama... itu kakeknya." Tukas Icha cepat. Mr. LG memang sangat dikenal di kota ini. Selain ia memiliki aset, sifat ramahnya pada masyarakat sudah menjadi buah bibir. Apalagi mendiang istrinya pun berasal dari kota ini.
Mama melebarkan mata merasa tidak percaya.
"Kamu pacaran sama cucunya mr. LG?" Pekik mama Tanti tertahan.
Icha memutar bola matanya malas melihat tingkah sang mama.
"Iya, mama... " Sahut Icha kesal. "Kenapa sih?" Tanya Icha yang merasa aneh dengan sikap mama.
"hahahahahaha... ya ampun, Icha. Kok bisa kamu pacaran sama cucunya, siapa tadi namanya?" Mama Tanti terkekeh mengetahui ternyata putrinya dekat dengan keluarga Guatalla.
"Marco, ma... Marco Guatalla." Jawab Icha cepat. "Memangnya mama pernah bertemu mr. LG?" Lontar Icha bingung.
"Pernah lihat aja. Ketemu secara tatap muka atau ngobrol sih belum pernah. Beliau memang sering ke kota ini membagikan bantuan." Terang mama semangat. "Tapi, ada satu hal yang kamu harus tau. Makanya mama ngakak tadi." Lanjut mama membuat Icha penasaran.
"Dulu kakek kamu, kakek Nasriel, berpacaran dengan mendiang istri dari Mr. LG. Bahkan mereka sudah bertunangan dan tinggal menentukan tanggal pernikahan. Tetapi, tiba-tiba istrinya itu memutuskan pertunangan mereka dan lebih memilih Mr. LG. Kakek kamu murka dan benar-benar menganggap Mr. LG itu musuh bebuyutan." Jelas mama Tanti panjang lebar. Alhasil, Icha melongo. Wah, kalau tidak dia dong yang jadi cucunya istri Mr. LG😀
"Bisa aja dong. Namanya cinta." Jawab mama Tanti santai. "Dan sekarang kamu dekat dengan keluarga musuhnya kakek. Wah... wah... wah... kalo aja kakek masih ada, pasti kakek nggak bakalan setuju kamu berhubungan sama dia." Goda mama Tanti. Icha hanya merengutkan wajah.
"Tapi mama nggak ikut bermusuhan dong?" Tanya Icha berharap mama tidak ikut-ikutan memusuhi keluarga kekasihnya.
"Ya nggak dong... kalo kakek ya wajarlah marah, karena Mr. LG sudah merebut cintanya. Tapi kalo untuk mama ya itu namanya nggak jodoh. Mau dipaksain juga percuma, kan." Jawab mama bijak. Inilah yang paling Icha suka jika bercerita dengan mama Tanti. Wanita paruh baya ini tidak pernah berpikir negatif tentang orang lain. Dan sifat itu pun menurun pada putri semata wayangnya.
"Jadi, kamu ada masalah apa dengan Marco? Sampai kabur-kaburan kayak gini." Tanya mama Tanti dengan kelakar agar Icha tidak stres dan mau berbagi cerita dengan santai.
"Icha kenal Marco saat ia menjadi guru dadakan di SMA Icha dulu, ma. Dia dihukum mr. LG gara-gara belum mau serius terjun di dunia bisnis. Marco hanya mengajar selama 3 bulan, itu pun kalo ada jadwal ngajar aja baru dia datang." Mama menyimak cerita Icha dengan serius. "Sampai di Jakarta ternyata Icha juga kuliah di universitas milik GT Corp. Sampai akhirnya Icha diseleksi untuk menjadi sekretaris perusahaan itu. Icha lulus dan bekerja di situ. Icha kaget juga ternyata CEOnya Marco." Lanjut gadis manis itu dengan tenang. "Akhirnya kita dekat dan berpacaran sudah hampir 4 bulan ini."
Icha memberi jeda pada ceritanya. Ia menarik napas berat. Wajah cantik itu berubah sendu. Mama Tanti tersenyum dan mengelus tangan Icha untuk memberi kekuatan agar ia bisa melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
"Entah kenapa dia nggak jujur sama Icha kalo dia masih punya hubungan dengan Valencia. Seorang model cantik." Icha menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca setiap mengingat ciuman itu.
"Kalo nggak kuat nggak usah dilanjutkan. Nanti kita bisa bercerita lagi kalo kamu sudah kuat." Saran mama Tanti.
"Nggak papa, ma... Icha kuat kok." Sahut Icha tersenyum di tenga deraian air matanya. Ia menghapus airmata.
"Siang itu, Valencia datang bertemu Marco. Rencananya Icha mau membawa minuman untuk mereka. Tapi... " Icha berhenti bicara. Ia mengangkat kepala ke atas agar airmatanya tidak kembali luruh. "Icha melihat mereka berciuman, ma." Tidak bisa menahan pedih di hati, tangisan Icha pecah juga. Mama Tanti langsung memeluk anaknya. Ia mengusap Punggung Icha penuh cinta. Cukup lama mama Tanti menenangkan Icha.
"Dengarin, mama... " perintah mama Tanti lembut. "Yang namanya satu hubungan antara laki-laki dan perempuan pasti ada masalah. Ada up dan down. Ada kerikil-kerikil kecil yang tajam. Tetapi, mau tajam seperti apa pun masalah itu, kamu harus menghadapinya dengan kepala dingin. Tidak bisa dengan emosi atau bersembunyi seperti ini." Tandas mama Tanti.
"Icha bukannya bersembunyi, ma. Icha hanya ingin menenangkan diri dulu." Sanggah Icha soal menyembunyikan diri.
"Lalu... kamu sudah merasa tenang sekarang? Atau malah kepikiran karena masalahnya belum jelas ujungnya akan seperti apa?" Cela mama Tanti. Icha terdiam membenarkan perkataan mama Tanti.
"Pulang ke Jakarta, ketemu Marco, duduk berdua bicarakan masalah kalian. Ingat, tetap tenang dan gunakan akal sehat. Jangan pakai emosi. Itu akan merugikan diri kamu sendiri." Ucap mama Tanti tegas.
Dua hari Icha 'melarikan diri' dari masalah justru membuat ia tidak tenang dan gelisah. Ditambah lagi rasa rindu yang sangat menyiksa pada kekasihnya itu. Benar kata mama, Icha harus kembali ke Jakarta dan menyelesaikan masalah ini dengan Marco. Agar tidak berlarut dan saling menyakiti.
Icha menarik napas panjang.
"Kamu paham maksud mama, sayang?" Tanya mama tersenyum pada Icha. Icha mengangguk cepat. Ia memeluk mamanya dan mengucapkan terimakasih.
"Makasih, mama... mama sudah membuka jalan pikiran Icha." Ungkapnya tulus.
"Itu yang mama bangga sama kamu. Kamu anak yang mau dengar-dengaran dan tidak manja. Walau pun kamu anak satu-satunya papa dan mama." Ucap mama Tanti bangga pada putri tunggalnya.
Icha memang dididik untuk mandiri. Papa Rendra tidak pernah memanjakan Icha hanya karena ia anak tunggal. Justru, ia dididik agak keras agar ia bisa berdiri sendiri nantinya. Dan itu terbukti. Ia berani hidup sendiri di kota besar dari remaja hingga sekarang.
"Masuk, yuk... bentar lagi papa pulang dari kantor." Ajak mama. Mereka bergandengan masuk dalam rumah.
__ADS_1
"Tapi mama nggak nyangka lho kamu bisa dekat dengan keluarga super kaya itu. Pasti cakep dong calon mantu mama?" kelakar mama yang membuat Icha tertawa dan sedikit meringankan beban di hati.