
Leon keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam lift khusus pimpinan perusahaan. Tanpa senyum dengan ekspresi datar wajah tampannya itu membuat beberapa sekuriti yang bertugas segan untuk menyapa. Mereka hanya menundukkan kepala sebagai rasa hormat pada pemilik perusahaan.
"Hai, bro'... tumben telat?" Rayhan yang sudah menunggu kedatangan bosnya itu langsung bertanya karena penasaran.
"Masih antar Ninda ke kampus. Mobilnya masuk bengkel kemarin." Sahut Leon lalu membantingkan diri ke sofa panjang dalam ruangan kerjanya.
Rayhan mengerutkan kening Melihat ekspresi dan mood Leon yang agak buruk pagi ini. Ia meletakkan beberapa map di atas meja Leon lalu duduk berhadapan dengan bos sekaligus sahabatnya itu.
"Ada apa?" Tanya Rayhan pelan. "Ada yang menganggumu?" Rayhan mulai terlihat curiga takut ada musuh bisnis mereka yang mengganggu Leon.
"Tidak ada yang berani menggangguku." Jawab Leon cepat. Ia melonggarkan sedikit dasi dan kembali menyandarkan punggung hingga kepala ke sandaran sofa. Wajah Ayu tadi dan sikap menghindarnya yang sangat terlihat benar-benar merusak mood Leon. Ada rasa kesal namun penasaran pada gadis itu.
Sadar kalau ia sedang menjadi pusat perhatian Rayhan, Leon menarik napas panjang lalu ia berdiri melangkah menuju ke meja kerja dan mengambil map tadi.
"Ini proyek hotel di pantai itu?" Tanya Leon sambil membaca isi surat perjanjian dengan pihak konstruksi bangunan. "Bagus. Sama-sama menguntungkan." Gumamnya lalu duduk di kursi kebesarannya.
"Sebenarnya tadi ada apa sih?" Ternyata Rayhan masih penasaran dengan roman muka Leon yang benar-benar datar dan nampak kesal.
Leon melirik Rayhan dengan ekor mata. Ia tahu Rayhan penasaran dengan gelagat Leon tapi bukan berarti ia harus menceritakan tentang kejadian pagi tadi pada asistennya itu. Ia bukan tipe laki-laki yang hobi mengadu pada sahabat atau pada siapapun. Ia akan menyelesaikan sendiri semua persoalan dalam diam. Apalagi ini menyangkut hatinya pada seorang gadis.
"Tidak ada apa-apa. Hanya sedikit kesal dengan Ninda." Imbuh Leon terpaksa berbohong. Ia mulai sibuk menandatangi beberapa dokumen sehingga membuat Rayhan tidak berani bertanya lebih lanjut.
"Oh iya... siang ini ada klien yang mau bertemu di restoran Jepang." Rayhan yang sudah melangkah hendak keluar sejenak terhenti saat ia teringat pesan Marco tadi pagi.
"Klien?" Tanya Marco heran karena ia merasa tidak ada jadwal bertemu orang hari ini.
"Iya... klien dari Jepang. Kolega lama tuan Marco. Mereka sudah lama bekerja sama dengan GT Corp." Jelas Rayhan. "Katanya pengen kenalan sama calon CEO GT Corp." Sambung Rayhan sambil tersenyum menggoda Leon lalu keluar ruangan.
Leon terdiam di tempat duduknya. Wajah Ayu kembali terbayang di pelupuk mata.
"Ck...." Leon mendesah kesal. Ia membanting pulpen agak kasar. "Kita lihat sampai di mana kamu menghindariku." Lirihnya pelan. Ia mengangkat interkom dan menekan satu nomor penting.
"Ke ruanganku sekarang!" Perintahnya pada seseorang melalui intercom. Tak sampai satu menit, Rayhan masuk kembali dengan wajah bingung.
"Ada apa?" Tanya Rayhan.
"Katakan pada klien dari Jepang itu, aku ingin bertemu di resto Rossa di jalan Metro." Tegas Marco yang tentu saja membuat Rayhan melongo tak percaya. Warung Rossa yang adalah milik Ayu itu merupakan warung lokal yang menjual makanan-makanan sederhana, seperti cah kangkung, capcay, bayam jagung muda, dll.
"Resto Rossa?" Ulang Rayhan tak percaya. "Warungnya Ayu? Tapi...." Lanjutnya hendak protes namun terhenti saat tangan Leon terangkat ke atas.
"Katakan pada mereka, aku menunggu di sana." Tegas Leon lagi. Rayhan terdiam tak bisa membantah. Ia mengangguk dan segera keluar dari ruangan Leon dengan otak yang masih belum bisa terima permintaan Leon tadi.
"Warung Rossa? Masa ketemu klien besar di warung Rossa?" Ujarnya seorang diri saat sudah berada di luar ruangan Leon. "Mau makan ikan goreng Nila? Atau ikan bandeng bakar? Amis dong! Banyak tulangnya lagi." Rayhan benar-benar tak bisa membayangkan apa tanggapan klien mereka nanti. "Aaaaah... kayaknya aku tau." Tiba-tiba ia mengingat sesuatu. "jangan-jangan dia modus mau ketemu Ayu." Rayhan tersenyum lucu. "Ketahuan lu, ya." Cibirnya sambil berjalan kembali ke ruangan kerja
__ADS_1
Waktu berjalan sangat cepat. Namun untuk Leon waktu berjalan sangat lambat. Rasanya sudah tidak sabar untuk pergi ke restoran Rossa.
Tok... tok... tok...
"Masuk!" Perintah Leon. Terlihatlah Rayhan yang datang dengan beberapa map lagi di tangannya.
"Laporan keuangan bulan ini." Ujarnya sambil meletakkan map di meja kerja Leon. "Oya, aku sudah menelepon pihak klien kita untuk bertemu di resto tante Rossa." Ujar Rayhan. Leon mengangguk sambil terus membaca laporan keuangan perusahaan. "Bro'... kau yakin akan mengajak klien kita makan di restoran tante Rossa. Bukan apa-apa sih... tapi... apa mereka bisa makan makanan khas Indonesia?" Tanya Rayhan masih ragu.
"Bisa tidak bisa ya harus bisa." Sahut Leon. Ia menutup map di tangannya. "Lagi pula ada agenda apa sebenarnya tiba-tiba mereka minta bertemu?" Leon heran karena ada klien yang minta bertemu tanpa ada perjanjian sebelumnya. Apalagi ini klien dari jauh.
"Tidak terlalu jelas juga agendanya. Hanya saja alasan dari mereka karena ingin bertemu dan mengenal calon CEO perusahaan." Beber Rayhan. "Kata tuan Marco, beliau teman lama dari tuan dan salah satu partner bisnis yang paling bertahan lama bekerjasama dengan GT Corp." Lanjutnya menjelaskan.
Leon melirik jam di pergelangan tangan. Baru pukul 11.30. Sedangkan mereka membuat janji makan siang pukul satu siang. Aaah, kenapa lama sekali waktu berjalan? Leon mendesah kesal dalam hati. Tidak mungkin ia tunjukkan pada Rayhan.
"Ya udah, aku lebih dulu ke resto bi Osa. Kamu di sini sampai jam makan siang." Sepertinya Leon sudah tidak sabar menunggu sampai jam satu siang. Ia harus cepat-cepat ke sana agar hatinya tenang.
Tanpa mendengar kalimat protes dari sang asisten, Leon mengambil jas yang di taruh di atas kursi lalu berjalan ke luar ruangan.
Rayhan menepuk jidat tak percaya melihat tingkah Leon.
"Apa jangan-jangan dia jatuh cinta pada Ayu?" Tebaknya penasaran. "Oh astaga.... ini ceritanya tuan muda jatuh cinta pada anak mantan pembantu." Celetuknya seorang diri lalu tertawa lucu. Ia membereskan meja tuannya lalu keluar dan kembali ke ruang kerjanya.
Tidak sampai 40 Menit, mobil Leon sudah memasuki halaman resto Rossa. Sudah banyak pengunjung rupanya. Itu terlihat dari sejumlah mobil dan banyaknya motor yang diparkir.
Semua mata pengunjung mengarah pada laki-laki tampan berwajah bule, berjas mahal, melangkah tegap dengan wibawa yang sangat terlihat dari wajah datarnya.
"Selamat siang, tuan... mari, silahkan!" Seorang pelayan perempuan terlihat berbinar menyambut Leon. Tak pernah melihat laki-laki setampan dan sepertinya bukan orang biasa, masuk dalam resto sederhana ini membuat ia ikut terpesona pada pria asing ini.
"Saya ingin bertemu pemilik restoran." Ucap Leon datar. Pelayan yang dilihat dari nametag bernama Sari itu masih terdiam di tempat sambil menatap Leon.
"Aku ingin bertemu pemilik resto ini, kau dengar?" Suara bas Leon sengaja ia naikkan satu oktav agar Sari tersadar dari keterpanaannya pada Leon. Pengunjung pun banyak yang menertawai tingkah Sari.
"Oh... i... iya, tuan. Silahkan duduk dulu. Saya panggilkan pemilik resto." Dengan rasa malu di wajahnya, Sari berlari ke belakang.
Leon berjalan ke arah sudut kanan tepat pada jendela resto lalu duduk sambil melihat pemandangan di luar jendela. Dilihatnya jam di pergelangan tangan, baru pukul 12 siang. Entah bagaimana perasaannya sekarang. Yang pasti ia masih penasaran dengan sikap Ayu.
"Maaf, tuan... sebentar lagi ibu Rossa akan datang." Kembali Sari datang dan memberitahu Leon. "Anda mau minum, tuan?" Lanjutnya bertanya.
"Tidak. Saya akan menunggu bi Rossa di sini." Jawab Leon.
Sebenarnya Leon sendiri bingung dengan keadaan hatinya. Ia tidak tahu untuk apa ia datang ke resto ini, yang pasti hatinya ingin sekali datang ke sini.
Dalam lamunannya tiba-tiba Leon menangkap satu sosok yang sangat ia kenal. Bahkan sangat ingin ia temui.
__ADS_1
Dengan langkah cepat, Leon keluar resto hendak menangkap sosok itu. Namun ia kalah langkah. Gadis manis yang beberapa hari ini selalu menganggu konsentrasinya sudah menjauh dengan motor butut milik gadis itu.
"Sial! Jangan bilang kalau kamu sengaja menghindariku." Umpatnya seorang diri. Kali ini ia benar-benar kesal melihat sikap Ayu.
"Nak Leon." Suara Rossa mengagetkan laki-laki itu. "Ada apa? Kok kamu di sini?" Tanya Rossa lembut.
"Tidak ada apa-apa, bi." Leon memeluk Rossa layaknya ibu kandung.
"Ayo, masuk." Dengan langkah gontai Leon mengikuti langkah Rossa. "Bibi sudah siapkan meja khusus untuk kamu bertemu klienmu sebentar." Rossa mengantar Leon ke sebuah meja yang terletak agak jauh dari meja lain. "Lagian kenapa harus di sini untuk bertemu klien? Tempat ini kurang bagus untuk orang-orang hebat sepertimu." Puji Rossa setelah mereka duduk berhadapan.
"Ck... tidak ada tempat khusus untuk orang hebat atau pun tidak, bi. Semua tempat akan terasa nyaman kalau pelayanan dan rasa makanannya pas di hati pengunjung." Sanggah Leon merendah. Mereka asyik bercerita sambil Leon menunggu kliennya.
Rossa yang sudah sangat mengenal perangai mantan anak asuhnya ini menangkap sesuatu yang aneh di wajah Leon. Ia melihat arah bicara Leon pun tidak fokus dan sedikit mengambang.
"Nak...." Tiba-tiba Rossa memegang tangan Leon dan menatapnya lembut. "Ada apa? Kamu seperti sedang kesal dan marah pada seseorang." Tanya Rossa pelan. Leon terdiam. Dalam hati ia memuji insting perempuan separuh baya ini.
"Bibi masih saja sama seperti yang dulu." Ujarnya tersenyum. "Iya, aku memang sedang kesal pada seseorang. Tapi, bibi tenang saja. Aku akan selesaikan sendiri."
"Iya, bibi tau kamu anak yang mandiri dan hebat." Puji Rossa.
"Di mana om Haris?" Tanya Leon mengalihkan pembicaraan.
"Om Haris sedang keluar sebentar. Ada yang harus diselesaikan di kantor pajak." Jelas Rossa.
"Jadi, bibi sendiri bersama para pelayan?" Leon sengaja bertanya karena ada satu jawaban yang ingin ia dengar dari Rossa.
"Oh... tadi sama Ayu. Sepulang dari kampus, Ayu langsung sibuk di sini." Terang Rossa. "Tadi Ayu juga yang kasih tau bibi kalau nak Leon datang dan mencari bibi." Sambung bibi bersemangat.
Oh... berarti dia lihat aku ada di sini tadi. Gumam Leon kesal dalam hati.
"Nak Leon tidak ketemu Ayu?" Tanya Rossa heran. Leon menggeleng. Rossa mengerutkan kening. "Kok bisa? Padahal tadi Ayu loh yang kasih tau bibi."
Leon mengendikkan bahu. Rossa semakin heran melihat raut wajah Leon. Kembali Rossa menggenggam tangan Leon.
"Apakah Ayu yang membuat kamu kesal, nak?" Ujar Rossa setengah berbisik dan terkesan menggoda Leon.
Mendapat pertanyaan begitu, spontan membuat Leon tertawa kecil.
"Kita sudah lama terpisah tetapi bibi masih saja tau apa yang ada dalam hati ini." Tandas Leon kagum.
"Tidak ada yang bisa kamu tutupi dari bibi." Cetus Rossa bangga. Leon tertawa. "Ada apa, nak? Apa yang membuat kamu kesal pada Ayu?" Tanya Rossa pelan. Leon terdiam. Entah dari mana ia harus memulai. "Kalau kamu belum bisa bercerita tidak apa-apa. Bibi yakin kamu bisa selesaikan masalahmu dengan baik." tutur Rossa memberi motivasi.
Rossa tersenyum melihat wajah Leon. Ia bisa menangkap apa yang sebenarnya terjadi pada dua anak muda itu. Dalam hati Rossa berdoa untuk kebahagiaan Leon dan juga Ayu pastinya.
__ADS_1