
"Maaf, tuan... saya baru bisa datang jam segini. Saya masih menemani ibu melakukan operasi di rumab sakit." Suara hormat Rama terdengar saat Marco mengizinkan ia masuk dalam ruangan kerjanya. Marco mengangguk dan tersenyum ramah pada laki-laki asing di depannya. Namun, ada yang aneh. Marco merasa ia langsung menyukai kepribadian Rama, laki-laki tampan dengan gaya bicara yang sopan.
"Duduklah... ada yang ingin aku bicarakan." Ujar Marco ramah. Sebenarnya, Rama sangat tidak percaya ketika diberitahu Rano dari Malaysia bahwa Marco ingin menemuinya di GT corp, gedung mewah yang tidak sembarang orang bisa masuk apalagi bertemu dengan CEO perusahaan megah ini. Namun, sekarang tiba-tiba ia bisa melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana ramahnya pemilik perusahaan ini.
"Bagaimana kabar ibumu sekarang?" Tanya Marco setelah mereka sudah duduk di sofa tamu.
"Alhamdulillah... hari ini bisa menjalani operasi, tuan." Sahut Rama hormat.
"Operasi apa?" Marco penasaran ingin tahu.
"Tumor di lambung, tuan." Marco memgerutkan kening mendengar jawaban Rama. Tak ia sangka jika jaman sekarang ada saja penyakit yang terdengar aneh di telinga.
"Semoga beliau bisa segera kembali pulih." Doa Marco yang disambut senang oleh Rama. "Oh ya, ada yang ingin aku bicarakan." Sambung Marco mulai serius. Rama mengangguk penasaran menunggu hal apa yang akan Marco katakan. Apakah ada pekerjaan yang harus ia kerjakan dan tentunya akan menghasilkan banyak uang kan?
"Kamu masih ingat kejadian malam itu di Malaysia?" Tanya Marco hati-hati. "Kamu pernah meniduri seorang perempuan di sana." Raut wajah Rama berubah. Sudah tujuh bulan ini ia selalu memikirkan gadis yang membuatnya tidak bisa tidur dan merasa bersalah. Namun, karena ia dibayar maka dengan terpaksa ia menerima tawaran Rano. Sejujurnya, hati berat untuk melakukan dosa besar itu tetapi ketika ia melihat betapa seksi dan menggodanya gadis asing itu, hasrat sebagai seorang pria pun tak bisa ia tolak.
"Kamu masih ingat?" Suara Marco mengagetkan Rama yabg sedang membayangkan malam panas tujuh bulan lalu. Ia mengangguk cepat.
"Iya, tuan... pasti masih ingat." Rama menatap mata Marco berharap mendapat suatu berita baik tentang gadis itu. Marco menarik napas berat.
"Kau harus menikahinya!" Tandas Marco seperti sebuah perintah membuat Rama tersentak kaget. Ada segelintir rasa bahagia namun rasa kekuatiran lebih mendominasi hati dan perasaan Rama. "Maaf... sudah menjebakmu ke hal rumit begini. Tapi, aku akan tetap memaksamu menikahi Valencia karena sekarang ia sedang mengandung darah dagingmu."
Perkataan Marco benar-benar seperti petir di siang bolong bagi Rama. Bagaimana tidak? Kejadian hanya satu malam Rama meniduri wanita yang tak dikenal namun ia akan menjadi seorang ayah dari wanita asing itu yang sudah sedikit mengisi relung hatinya semenjak mereka saling merenggut kenikmatan duniawi.
"Me-me-mengandung, tuan?" Tanya Rama tak percaya. Ada rasa bahagia tapi ada juga rasa takut. Bagaimana kalau wanita itu tidak menerima keberadaannya? Karena sepengatahuan Rama, ia berasal dari keluarga kaya raya serta sangat terobsesi pada Marco, mantan tunangannya.
"Kenapa? Apa kau tak ingin menikahinya?" Tanya Marco melihat wajah ragu Rama. Dengan cepat ia menggeleng.
"Tidak, tuan. Saya pasti ingin bertanggungjawab atas bayinya. Tapi...." Rama ragu untuk bicara.
__ADS_1
"Katakan! Aku akan mendukung apa pun keputusanmu." Tutur Marco pelan. Tak ada nada marah atau paksaan. Karena, Marco juga tidak bisa menyalahkan Rama yang sudah menolongnya.
"Apa dia mau menerima saya, tuan? Saya tidak setara dengan dia." Ungkap Rama sendu. Marco tersenyum kecil.
"Mau tidak mau dia harus menerima tanpa melihat latar belakangmu." Ujar Marco meyakinkan Rama. "Orangtua Valencia akan berbicara dengannya tentang ayah dari bayi di dalam kandungan. Dan aku yang akan mengurus pernikahanmu. Kau tidak perlu memikirkan tentang biaya, semua akan aku tanggung. Tapi..." Marco berhenti sejenak sambil menatap tajam mata Rama. "Berjanjilah... kau akan menjaga dan tetap berada di sampingnya meskipun Valencia menolakmu. Karena aku yakin ia akan menolak pernikahan ini salah satunya mungkin karena latar belakangmu. Tapi percayalah... perempuan akan luluh dan jatuh hati ketika ia melihat dan merasakan sentuhan dan kasih sayang yang tulus dari seorang pria." Ucap Marco bijak. Rama tersenyum kecil dan mengangguk pelan. Ada secercah harapan yang ia rasakan. Bukan soal rasa yang mulai tumbuh di hatinya semenjak malam itu, namun lebih ke rasa kemanusiaan. Ia bukan laki-laki yang senang meniduri wanita lalu mencampakkan begitu saja. Ia selalu menganggap wanita seperti ibu kandungnya, yang harus dicintai dan dijaga. Apalagi sudah ada nyawa dalam perut Valencia yang membutuhkan kehadirannya sebagai seorang ayah.
"Baik, tuan. Saya akan bertanggung jawab." Ujarnya mantap. Marco tersenyum senang. Ia menepuk bahu Rama.
"Aku percaya padamu. Aku akan bicara dengan Om Christo, ayah Valencia. Kau cukup mempersiapkan diri, aku yang akan mengurus pernikahan kalian." Imbuh Marco ramah. "Oh ya, kau bekerja?" Tanya Marco. Rama menunduk
"Kerja serabutan, tuan. Apapun akan saya kerjakan asalkan bisa menghasilkan uang untuk menghidupi ibu saya." Ada rasa perih dalam ucapannya ketika menyebut kata ibu. Marco pun merasakan perih itu. Ia bangga pada laki-laki tampan nan sederhana ini, karena dari ucapannya, ia selalu mengutamakan sang ibu.
"Mulai sekarang kau kerja denganku." Ucapan Marco membuat Rama membelalakkan mata.
"Anda... serius, tuan?" Tanya Rama tak percaya.
"Pasti, tuan... aku akan bekerja dengan baik dan jujur. Aku berjanji padamu, tuan." Sambung Rama senang. Ia merasa ada harapan yang baik untuk kehidupan ia dan ibunya.
Marco berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya, mengangkat intercom dan menekan salah satu nomor.
"Ke ruanganku sekarang!" Perintahnya singkat dan langsung menutup gagang telepon kembali. Tak sampai semenit, ada yang mengetuk pintu dan masuk setelah Marco memberi perintah.
"Ray... ajak Rama ke ruanganmu. Ia akan membantu sebagian pekerjaanmu." Raymond yang sudah mengenal Rama sebelumnya langsung mengangguk senang.
"Baik, tuan." Sahutnya dengan senyum ramah. "Ayo, Ram..." Ajak Raymond. Mendengar namanya dipanggil, Rama pun bangun berdiri dan menunduk hormat pada Marco sebelum mengikuti langkah Rama.
"Kasian dia..." Gumam Marco seorang diri. Lalu, ia mulai melanjutkan oekerjaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Berbeda dengan apa yang terjadi di rumah Christo. Pertengkaran dan saling berdebat tidak terelakkan saat Christo mengajak istri dan anaknya bicara mengenai kandungan Valencia dan siapa ayah kandung calon cucunya itu.
"Papa jangan gila, ya. Nggak mungkin Val tidur dengan laki-laki lain selain Marco. Malam itu Val sangat sadar kalau Marco yang berada di sampingku, pa." Teriak Valencia tak terima mendengar cerita sebenarnya. Riska, sang mama yang takut terjadi sesuatu pada kandungan Valencia berusaha terus menenangkan Valencia.
"Papa... jangan mengada-ngada. Kasian Val, pa." Sergah Riska membela putrinya.
"Kamu pikir aku masih bisa mengada- ngada pada hal sebesar dan serumit ini?" Timpal Christo menahan emosi. "Pada kenyataannya, bukan Marco yang meniduri Val malam itu."
"Tapi, pa... aku sendiri yang membawa Marco ke hotel. Aku sangat mengenalnya, pa." Protes Valencia mulai menangis.
"Iya, benar... kamu yang membawanya dalam keadaan tak sadar, setelah itu kamu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selanjutnya, apa kamu tau apa yang terjadi? Kamu pikir Marco laki-laki sembarang yang dengan bodohnya mau menjatuhkan diri dalam jurang dan mati sia-sia?" Christo masih berusaha menjelaskan. "Marco bukan orang bodoh, nak. Ia memiliki banyak mata untuk menjaga diri." Christo menurunkan volume bicara untuk mengambil hati Valencia. "Anak buahnya ada di mana-mana. Mereka dibayar mahal untuk menjaga nyawa Marco." Ucapan christo membuat tubuh Valencia mendadak lemas. Ia terduduk dan bersandar pada Riska.
"Laki-laki itu mau bertanggung jawab atas bayimu. Marco pun menjamin bahwa ia adalah laki-laki yang baik." Christo terus berbicara. "Mau tidak mau kamu harus menikah dengannya dalam waktu dekat." Valencia merasa seperti disambar petir mendengar ucapan Christo, papanya.
"Nggak, pa... aku nggak mau menikah dengan laki-laki itu." Tolak Valencia cepat. "Aku nggak sudi menikah dengan laki-laki miskin itu. Aku hanya mau menikah dengan Marco. Ia harus bertanggung jawab karena sudah menjebakku dengan laki-laki yang aku nggak kenal." Cecar Valencia dengan airmata.
"Kamu yang menjebak Marco." Tandas Christo cepat. "Wajar saja kalau Marco melakukan hal itu karena ia harus melindungi dirinya dari jebakan licikmu itu terlebih ia harus menjaga pernikahannya." Christo tak bisa membiarkan Valencia berpikir bahwa dirinya benar. Ia harus membuat Valencia menyadari kesalahan yang ia perbuat. "Kamu yang membuat jebakan, namun kamu yang termakan jebakanmu sendiri. Jadi, jangan pernah menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kamu perbuat." Tegas Christo.
"Kmu jangan menyalahkan Valencia terus dong, pa..." Bela Riska.
"Diam kamu!" Bantak Christo dan menatap marah pada Riska. "Kamu yang terlalu memanjakan Valencia hingga ia tidak pernah mau menyadari dan mengakui kesalahannya." Timpal Christo geram. Ia bangun dari duduknya. "Kamu akan menikah dengan Rama sebelum melahirkan. Dan..." Christo mengangkat tangan ketika Riska dan Valencia hendak protes.
"Dan... tidak ada penolakan, kecuali kalian berdua mau keluarga kita dipermalukan dan semua pemegang saham menarik diri dari perusahaan. Jika kalian sudah siap untuk hidup miskin maka lakukanlah apa yang menjadi kehendak kalian." Tegas Christo tajam lalu pergi dari hadapan Riska dan Valencia. Mau tidak mau ia harus sedikit bertindak kasar pada istri dan anaknya.
"Halo..." Sampai di ruang kerja, Christo mendengar bunyi telepon selulernya. Ia melihat nomor yang tertera, jika tidak oenting ia malas untuk menerima panggilan itu. Ternyata nama Marco di sana.
"Saya sudah bicara pada Rama. Malam ini kita bertemu di restoran x. Aku akan memperkenalkan Rama pada Om." Ucap Marco pelan. Ia tak punya niat apa-apa, hanya sekedar membantu karena merasa iba pada nasib Valencia dan juga kasihan melihat Christo yang nampak terpukul dengan kejadian ini.
"Baik, nak... Om akan ke sana."
__ADS_1