
Sinar matahari pagi yang menyengat langsung menampar wajah Icha saat ia masih terlelap dalam pelukan Marco, sang suami tercinta. Sinar yang masuk melalui jendela kamar itu seketika menganggu tidur istri dari Marco Guatalla, pengusaha keturunan Brazil-Jawa Barat.
Icha menggeliatkan badan. Ia menoleh ke sebelah kiri, Marco masih terlelap dengan tampannya. Tak bisa menahan diri, Icha langsung memberi sebuah kecupan pagi.
"Sayang, bangun...." Suara lembut Icha tidak juga membuat Marco tersadar. "Yaaaang, bangun. Kamu nggak ngantor?" Icha menggoyang tangan Marco yang sedang melingkar manis di pinggangnya. Tak ada pergerakan juga.
Cup... cup... cup...
Icha mengecup seluruh wajah Marco, namun tak ada pergerakan. Icha menarik napas kesal. Ia mengangkat tangan Marco dari pinggangnya, tetapi tangan itu malah memeluknya semakin erat.
"Kamu ngerjain aku, ya?" Geram Icha karena ternyata Marco sudah terbangun hanya saja ia sengaja terus tidur agar mendapat kecupan dari istri.
Marco tidak menjawab, hanya tersenyum tanpa membuka mata. Pagi ini rasanya ia tidak ingin melakukan apa-apa, kecuali tidur dan memeluk istrinya.
"Nggak usah ke perusahaan, sayang. Aku ngantuk. Kamu lupa semalam kita begadang sampai subuh?" Goda Marco sambil terus menutup matanya dan memeluk pinggang Icha. Selimut masih menutupi tubuh polos Mereka.
"Jangan dong, sayang.. kasian Raymond. Kamu udah tinggalin dia bekerja sendiri hampir 2 minggu lho." Icha menasehati sang suami dengan lembut. "Bangun, yuk. Kita siap-siap ke kantor." Ajak Icha bersemangat.
Marco terdiam. Namun, ia membenarkan ucapan Icha. Tidak baik juga meninggalkan pekerjaan hampir dua minggu. Pasti banyak berkas dan file yang harus diperiksa dan membutuhkan tanda tangan.
"Ya udah... yuk, mandi." Ajak Marco seketika. Tanpa menunggu jawaban Icha, ia menggendong istrinya ke kamar mandi.
"Nggak boleh macam-macam, ya. Hanya mandi. Nggak lebih!" Ancam Icha pada Marco, karena ia tahu kemesuman suaminya meningkat 100% setelah mereka resmi menjadi suami istri.
"iya, sayang... aku juga masih capek lho. Badanku pegal semua gara-gara kamu terlalu agresif semalam." Celetuk Marco sengaja membuat Icha jengkel.
Dan berhasil!
Icha langsung mendelik kesal dan mencubit perut Marco.
"Enak aja... kamu tuh yang nyiksa aku." Sergah Icha kesal. "Badan aku sampe lemes, tau." Gerutu Icha Jengkel.
Marco tertawa lepas mendengar keluhan Icha. Ia mengecup kening Icha sebagai permintaan maaf karena sudah membuat istrinya itu lemas sampai subuh.
Mereka mandi tanpa melakukan hal-hal aneh seperti yang ditakutkan Icha, karena Marco tak tega membuat istrinya semakin lemas, apalagi mereka harus ke perusahaan hari ini.
Setelah bersiap, dengan bergandengan tangan mereka menuruni anak tangga menuju meja makan. Sudah ada mama Sania di sana. Sedang kakek dan papa Adam belum terlihat.
"Pagi, mom..." Sapa pasangan pengantin baru itu hampir bersamaan pada perempuan yang dipanggil mommy oleh Marco. Mama Sania tersenyum manis, namun senyuman itu hanya untuk Marco. Itu terlihat dari pandangan matanya yang hanya tertuju pada putra tunggalnya. Ia semakin tak suka saat Marco menarik kursi dan mempersilahkan istrinya duduk.
"Makan, nak... mau apa? Nanti mommy ambilkan." Perempuan paruh baya dengan dandanan ala sosilitas itu mengambil piring dan hendak menyendok nasi ke dalamnya.
"Tidak usah, mom... Aku ingin dilayani istriku." Tolak Marco secara langsung. Wajah mama Sania langsung berubah muram. Ia melirik kesal ke arah Icha.
"Sayang..." Tegur Marco saat melihat Icha masih bengong menyaksikan drama ibu dan anak itu.
__ADS_1
"Oh iya... Bentar, aku ambilin." Tanpa bertanya Icha langsung mengambil piring dan menyendok nasi serta lauk pauk kesukaan Marco. Ia pun mengatur porsinya sesuai keinginan Marco.
"Ini, sayang..." Icha meletakkan piring makan di depan Marco. Marco tersenyum senang. "Eh, bentar... kakek dan daddy ke mana? Kok nggak sarapan?" Icha baru sadar kalau kedua mertua dan kakek mertuanya belum ada.
Mendengar pertanyaan Icha, mama Sania tersenyum sinis.
"Baru sadar kamu kalo kakek dan daddy belum ada? Nggak ada sopan santun kamu." Sindir mama Sania karena melihat Icha sudah memegang piring kosong untuknya. Icha melihat mama Sania tanpa takut. Dalam hatinya hanya merasa heran dengan mama mertuanya ini. Penampilan bagus, sangat berkelas, tapi mulutnya menunjukkan kelas yang berbeda.
"Icha baru di sini, mom... pantas saja dia belum terlalu tau kebiasaan kita." Celetuk Marco membela istrinya. "Sarapan aja terlebih dulu, yang. Kakek masih jalan-jalan dan menikmati matahari pagi di taman belakang. Kakek juga nggak sarapan berat kalo pagi. Paling roti gandum dan jus buah-buahan. Daddy juga pasti lagi temenin kakek." sambungnya menerangkan kebiasaan kakek. "Aku biasa sarapan sendiri setiap pagi. Kecuali, libur kantor, aku bisa temani kakek di belakang."
"Ooh..." Icha hanya membulatkan mulut membentuk huruf O dan mengangguk paham. Tanpa melihat ke mama Sania, Icha mengambil sarapannya dan menghabiskan dalam diam.
Mama Sania semakin merasa tidak dihiraukan anaknya. Marco hanya sibuk makan dan sekali-kali bercerita dengan Icha tanpa peduli ibu kandungnya yang sedang ikut sarapan bersama mereka.
"Nanti kalo kamu sudah hamil, kamu di rumah aja, ya. Kamu bisa temani kakek jalan-jalan pagi di belakang mansion." Seloroh Marco sedikit mengagetkan Icha. Ia menoleh heran ke arah Marco. "Kenapa? Kamu nggak mau hamil anak aku?" Cecar Marco.
"Iih.. masa nggak mau hamil anak kamu. Ya, maulah sayang... Aku agak aneh aja dengar kata hamil. Nggak kebayang kalo aku hamil nanti gimana ya." Sahut Icha tersenyum membayangkan wajah dan tubuhnya pasti akan berubah. "Kalo aku jadi gendut?" Tanya Icha sedikit manja pada Marco. Mama Sania memutar bola mata malas melihat tingkah Icha yang menurutnya semakin menjadi saja.
"Ya, baguslah... pasti kamu makin cantik." Jawab Marco cepat sambil memgerlingkan mata nakal pada Icha. Icha langsung tertawa lepas dan mencubit lengan Marco.
"Mommy sudah selesai." Marco dan Icha tersentak kaget mendengar bantingan piring dari mama Sania. Ia langsung meninggalkan meja makan menuju ke lantai dua, dimana kamarnya dan suami berada.
"Maaf..." Lirih Icha sendu. Ia menyadari mertuanya itu tidak menyukai dirinya.
Marco meletakkan sendok di piring, memiringkan badan ke arah Icha dan menangkup kedua pipi.
"Tidak... jangan minta maaf." Sergah Icha. Ia memegang kedua tangan Marco yanga masih memegang pipinya. "Aku mencintaimu. Kemanapun kamu membawaku, aku akan ikut. Karena aku percaya kamu tidak akan pernah meninggalkan aku sendiri menghadapi semua badai di depanku." Sambungnya dengan airmata mulai turun di pipi.
Mereka saling melemparkan senyum untuk menyalurkan rasa cinta dan mendukung satu sama lain.
Marco mengecup kening Icha.
"Yuk, kita pamit ke kakek." Ajak Marco.
"Kamu duluan aja, yang. Aku beresin meja makan dulu." Icha bangun dan hendak mengangkat piring kotor tetapi Marco mencegahnya.
"Itu tugas art di rumah ini, sayang." Suara datar Marco menegur Icha.
Tak ingin membuat Marco marah, Icha segera mengecup bibir suaminya.
"Aku ingin menjadi istri yang bisa melayani kamu dalam segala tugas dan peranku." Ucap Icha lembut. "Lagian hanya angkat piring kotor dan letakkan di tempat cuci piring. Nggak lebih, sayang."Jelas icha meyakinkan sang suami. Marco hanya menarik napas panjang. Suara lembut itu selalu saja mengalahkan amarah dalam hatinya.
"Baiklah... Tapi, ingat! Hanya angkat dan letakkan di wastafel. Aku tunggu di belakang." Tegas Marco dan langsung berjalan ke arah belakang.
Icha tersenyum dan menggelengkan kepala melihat posesifnya sang suami. Ia segera mengangkat piring kotor dan membawanya ke wastafel, membuka kran air dan mencuci tangannya. Lalu menyeka dengan serbet bersih dan berbalik hendak ke arah belakang.
__ADS_1
Namun, betapa terkejutnya ia saat berbalik badan, sudah ada mama Sania tepat di depannya dengan tangan terlipat di dada. Wajah angkuh tanpa senyum itu menatapnya dengan rasa benci. Icha membuang napas perlahan, membuat dirinya lebih tenang dan bisa berpikir positif.
"Kamu boleh sudah berhasil mengambil hati anak saya. Bahkan, si kakek tua bangka itu sudah masuk dalam jeratan kamu. Tapi, ingat... saya akan mengambil semua itu dari kamu. Karena, perempuan miskin seperti kamu tidak pantas mendapatkan semua itu." Ucapan mama Sania seperti Tombak yang menghunus jantung Icha. Tetapi, ia tetap tenang. Segurat senyum terlintas di bibirnya. Mungkin, senyuman miris melihat kelakuan ibu mertuanya.
"Seharusnya Marco menikah dengan Valencia yang jelas-jelas lebih segalanya dari kamu yang hanya benalu." Sambung mama Sania kejam.
Icha hanya melihat kedua bola mata Sania tanpa kedip. Tajam perkataan mama Sania sedikit melukai harga dirinya. Tetapi, Icha tidak mau ceroboh dengan terpancing emosi.
Icha mulai berbicara, ketika mama Sania lama terdiam.
"Sudah selesai bicara, mom?" Tanya Icha pelan dan terkesan sopan. Mama Sania terdiam dengan menatap nyalang pada Icha. "Yang pertama, saya tidak pernah merebut dan menjerat hati Marco mau pun kakek. Jadi, mommy tidak perlu repot-repot merebutnya kembali." Tegas Icha tetap pelan dan lembut. "Kedua, saya bukan benalu. Tanpa Marco pun saya sudah hidup bahagia dengan keluarga saya. Walau pun rumah kami tidak semewah mansion ini, tetapi jiwa kami tenang dan bahagia. Ketiga.... " Icha menarik napas panjang. "Mau dengan siapa saja Marco pernah dekat, jika bukan mereka yang ditentukan Allah menjadi jodoh Marco, maka sia-sialah hubungan mereka. Marco akan tetap kembali kepada cinta yang sudah ditakdirkan untuknya." Icha tersenyum tulus menatap mertuanya. Tidak ada rasa takut, tetapi tidak juga ada rasa marah atau kecewa dengan sikap ibu mertuanya.
Berbeda dengan Sania... mendengar balasan Icha, ia semakin marah dan benci pada menantunya. Ia menatap Icha dengan sinis dan gertakan gigi. Tangannya dikepal erat seperti hendak menampar bibir kecil itu.
"Satu lagi, mom... kategori miskin seperti apa yang mommy maksudkan tadi? Harta? Percuma memiliki harta melimpah kalau jiwa kita tidak tenang, mom. Percuma kaya harta tapi miskin rohani, miskin kebaikan, miskin nurani." Icha menghentikan kalimatnya dan hendak berlalu dari situ. Namun, tanpa diduga, tangannya ditarik kasar oleh mama Sania hingga lengannya terluka akibat goresan kuku panjang perempuan tua itu. Icha meringis kesakitan.
"Sayang..." Marco yang muncul di situ melebarkan mata melihat lengan baju Icha ada sedikit noda darah dari lukanya. "Apa yang mommy lakukan, hah?" Bentak Marco pada mommynya. Mama Sania semakin murka karena sakit hati dengan bentakan anak kesayangannya.
"Sayang... Jangan marah. Justru mommy yang nolong aku karena aku hampir jatuh terpeleset tadi." Bohong Icha pada suaminya. "Mommy reflek aja, yang... nggak sengaja."
"Tapi tangan kamu terluka sampai darah gini... gimana sih?" Marco menarik tangan Icha menuju kamar. Ia mengambil kotak obat dan mulai membersihkan luka Icha.
"Aku sendiri aja, yang..." Icha mengambil kapas dan air infus dari tangan Marco.
"Ya udah... kamu sekalian ganti baju, ya. Aku ke ruang kerja dulu. Ada berkas yang kelupaan." Marco mengecup pipi Icha dan keluar dari kamar.
Sebenarnya, ia hanya beralasan ke ruang kerja. Marco mencari mama Sania, ibunya.
"Mommy..." Panggil Marco saat melihat mama Sania sedang duduk santai di ruang keluarga dengan majalah di tangannya. Sania menoleh. Ia tersenyum senang melihat Marco.
"Aku tau mommy sengaja melukai Icha." Beber Marco dengan wajah dingin. "Aku harap ini cukup pertama dan terakhir mommy melukainya. Karena, untuk yang kedua kalinya, aku pasti tidak akan tinggal diam." Ancamnya penuh penekanan.
"Kamu kok nuduh mommy begitu?" Lirih mommy mulai berakting. "Kamu dengar sendiri tadi, kan? Icha itu ceroboh. Dia kepeleset dan untung ada mommy di sana. kalo nggak... "
"Dia nggak akan kepeleset di lantai yang kering." Potong Marco tanpa membiarkan Sania melanjutkan omong kosongnya. Sania tergagap. Ia baru menyadari mansion ini dilengkapi dengan lantai yang mahal dan tidak gampang membuat orang terpeleset.
"Ya... ta-tapi kejadiannya ya... ya begitu." Sahut mommy terbata-bata membela diri.
"Mommy ternyata belum berubah juga. Sifat dan sikap angkuh mommy masih sangat melekat dalam diri mommy. Sekarang ditambah lagi pembohong." Sarkas Marco datar.
"Marco!" Hardik mama Sania mendengar tuduhan Marco.
Laki-laki itu tidak peduli. Ia pergi meninggalkan mama Sania kembali ke kamar.
"Udah, sayang?" Tanya Marco.
__ADS_1
"Udah... yuk, ke kantor. Udah telat ni." Icha menggandeng tangan Marco keluar dari kamar dan langsung menuju garasi.
Marco terdiam dan memuji kebesaran hati istrinya.