
Mendengar kabar kepulangan Leon membuat Icha menangis dalam pelukan suaminya. Perempuan cantik ini akan selalu mengeluarkan airmata jika menyangkut anak-anak. Rasa rindu pada sulungnya sudah lama dipendam sendiri dalam diam. Hanya airmata yang membuatnya sedikit tenang dibantu dengan pelukan suami tercinta.
"Aku sudah tidak sabar memeluk putraku." Lirih Icha dalam pelukan Marco. Mereka sedang menikmati angin semilir dari atas balkon kamar lantai dua.
"Ck...anak nakal itu akan mengalihkan perhatianmu dariku, sayang." Keluh Marco. Icha tertawa kecil.
"Setiap hari kamu memelukku." Protes Icha membela Leon.
"Karena kamu istriku." Sanggah Marco cepat.
"Leon itu anakku, sayang...." Protes Icha lagi.
"Anakku juga." Balas Marco tak mau kalah hingga mereka tertawa bersama.
"Leon belum memberi kabar?" Tanya Icha penasaran. Ia melepaskan pelukan Marco dan duduk di kursi balkon.
"Penerbangannya baru enam jam, sayang. Masih 12 sampai 13 jam lagi." Sahut Marco dan ikut duduk di samping Icha.
"Ck.... lama." Keluh Icha pelan. Marco tersenyum dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya.
"Berdoa saja agar ia sampai dengan selamat." Ujar Marco lalu memberi satu kecupan di pelipis mata Icha.
"Papa... mama..." Terdengar suara Ninda menggelegar ke seluruh penjuru kamar orangtuanya. "Serasa dunia milik berdua aja." Ledek Ninda ketika melihat pasangan tua itu sedang duduk berdua menikmati angin sore. Tanpa permisi, Ninda duduk di tengah-tengah papa dan mamanya.
"Ck... anak perempuan papa ini mengganggu aja." Celetuk Marco sambil membelai lembut kepala Ninda.
"Mah... pasti papa orangnya romantis, ya?" Tanya Ninda penasaran. "Tiap hari pasti mama dipeluk, dicium. Ngomong sama mama juga lembut sekali." Imbuhnya menggambarkan sosok sang ayah.
Mendengar itu Marco tertawa kecil.
"Kenapa? Kamu cemburu?" Tanya Marco. Ia menarik Ninda masuk dalam dekapannya.
"Cemburu sih tapi dikit." Jawab Ninda sekenanya. "Semoga nanti Ninda juga punya suami yang baik, pengertian dan romantis seperti papa." Ujarnya berkhayal.
Tak bisa dipungkiri bahwa sosok Marco adalah idola dan panutan bagi anak-anaknya. Bagaimana Marco menghargai Icha dan berlaku lembut pada ibu mereka, sangat terlihat setiap hari. Itu yang membuat Leon dan Marco sangat segan dan mengidolakan ayah mereka.
__ADS_1
"Amiiiin... Mama selalu berdoa untuk kalian agar bisa mendapatkan pasangan hidup yang baik dan bertanggung jawab." Ujar Icha lembut.
"Selesaikan kuliahmu dulu. Soal jodoh nanti menyusul." Seloroh Marco. "Tapi, siapapun yang mendekati kamu harus menemui papa dulu." Tegas Marco membuat Ninda manyun. Ia sudah tidak heran dengan sifat papanya. Di umurnya yang sudah menginjak 21 tahun saja masih diperlakukan seperti anak kecil dengan pengawalan ketat.
"Ck... siapa yang mau dekatin aku kalau selama dua puluh empat jam aku dikawal sama orang-orangnya papa?" Protes Icha kesal. Ia melepaskan pelukan Marco dan masuk dalam dekapan Icha hendak meminta pembelaan.
"Pokoknya selama kamu belum menikah dan masih kuliah, orang-orang suruhan papa akan tetap mengawal kamu dari jauh." Kekeh Marco dengan keputusannya. Icha hanya tersenyum mendengar perdebatan anak dan ayah itu.
"Ya udah... aku nikah aja biar nggak dikawal papa lagi." Ketus Ninda.
"Laki-laki mana yang berani mengajak kamu menikah sekarang? Papa pasti akan musnahkan dia." Marco sengaja menggoda putrinya yang sedang kesal.
"Iiih... kok papa gitu? Nanti nggak ada yang mau dekatin aku lho." Keluhnya mendelik kesal pada Marco.
"Memang sekarang papa belum mengijinkan laki-laki manapun dekatin kamu supaya kamu fokus dengan kuliahmu." Sela Marco cepat membuat Ninda makin mengerucutkan bibir mungilnya.
"Mah... papa tuh. Ntar aku jadi perawan tua lho." Rengek Ninda pada sang mama. Icha tersenyum lucu melihat ekspresi wajah imut anak gadisnya.
"Kamu tidak akan menjadi perawan tua karena Allah pasti sudah menyiapkan seorang laki-laki yang baik untuk mendampingi mu. Tapi, benar kata papa... belum sekarang." Icha sedikit menekan nada suara pada kalimat akhir.
"Akan ada waktu yang tepat untuk kamu memikirkan soal jodoh atau pasangan hidup. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah belajar dan fokus pada pendidikanmu." Papar Icha panjang lebar berusaha membuat anak gadis itu memahami tentang porsi-porsi hidup yang harus ditapaki satu persatu.
"Senyumnya sama mama aja?" Tanya Marco sengaja cemburu melihat kedekatan Ninda dan mamanya.
Ninda langsung memasang wajah masam tepat di hadapan Marco, ayahnya.
"Aku tidak mau tersenyum atau pun memeluk papa kalau papa tidak mengijinkan aku ke desa untuk praktek." Ancam Ninda kelihatan serius sekali dengan harapan mendapat ijin dari bis besar alis Marco, ayahnya.
"Boleh... tapi tetap dengan pengawalan ketat dari orang-orang papa. Jika tidak mau..." Marco menatap mata anak gadisnya dengan tajam. "Tidak boleh praktik ke desa mana pun." Sambung Marco tegas. Icha menarik napas panjang dan bersandar lemas pada sandaran kursi.
"Terserah papa deh... yang penting aku ingin merasakan jadi dokter di daerah-daerah terpencil, membantu ibu-ibu muda melahirkan dengan cara medis yang benar agar banyak nyawa ibu dan anak bisa tertolong." Ungkap Ninda sambil membayangkan hidup di desa sebagai seorang dokter kandungan.
Melihat niat tulus dan mulia sang putri membuat batin Marco mendua. Sebenarnya ia sangat mendukung niat baik Ninda, tetapi jarak yang jauh dengan fasilitas yang masih sangat kurang memadai membuat Marco tidak rela melepaskan anak gadisnya pergi.
"Pah... ayolah, pa... Ninda boleh ke sana, ya? Ninda nggak sendiri kok. Teman Ninda juga ikut ke sana." Gadis manis itu masih saja merayu papanya.
__ADS_1
"Baiklah... boleh. Tapi seperti yang papa bilang tadi, orang-orang suruhan papa akan tetap menjaga kamu di sana." Dengan berat hati Marco mengabulkan keinginan Ninda. "Jaga diri kamu baik-baik di sana. Kalau sampai terjadi sesuatu, kamu tau kan apa yang akan papa lakukan pada desa itu." Ancam Marco serius. Namun, Ninda mengerti jima Marco tidak pernah main-main menyangkut keselamatan dan masa depan anak-ananknya. Ia akan selalu menjadi garda terdepan untuk melindungi dua buah hatinya.
"Makasih, papa.... aku janji akan menjaga diri dengan baik dan akan selalu ingat pesan papa." Ninda memeluk erat sang papa. Betapa beruntungnya ia hadir di tengah keluarga yang penuh cinta dan kasih sayang.
"Mama kok diam aja?" Tiba-tiba Ninda tersadar jika dari tadi Icha hanya melipat tangan di dada sambil memperhatikan drama antara ayah dan anak.
"Mama hanya sedang senang aja melihat drama papa dan anak gadisnya, sampai-sampai mereka lupa kalau ada satu makhluk hidup di sini." Cibir Icha sengaja cemburj. Marco dan Ninda spontan tertawa lucu melihat ekspresi manyun Icha. Dengan kompak mereka memeluk wanita paruh baya yang sangat berarti dalam hidup mereka.
"Mama ijinin aku pergi kan?" Tanya Ninda masih dalam pelukan Icha.
"Pasti dong. Itu cita-cita yang mulia dan Allah pasti melindungi hambanya yang mempunyai niat baik untuk sesama." Sahut Icha mantap tanpa ragu. "Soal keamanan kamu itu tugas papa. Karena kalau sampai ada apa-apa sama kamu, ya papa yang akan kena amukan mama." Sambung Icha sambil melirik suaminya yang hanya tersenyum pasrah.
"Makasih, mama.... mama memang yang terbaik." Ninda menghadiahi sebuah kecupan di pipi sang mama. "Nah, sekarang mama sama papa boleh pacaran lagi. Tapi ingat waktu! Sebentar lagi jam makan malam." Goda Ninda dan segera keluar dari kamar sebelum mendapat pukulan dari Marco.
"Kenapa kamu sama sekali tidak terlihat ragu melepaskan Ninda? Dia anak perempuanku satu-satunya." Tanya Marco yang sebenarnya sedari tadi merasa penasaran dengan sikap Icha yang santai mendengar permintaan Ninda.
"Kenapa harus kuatir, sayang?" Tanya Icha santai sambil menyandarkan kepala ke pundak Marco. "Selama ini aku sudah tanamkan ajaran-ajaran baik pada Ninda. Aku ajarkan tentang prinsip hidup yang harus ia pegang sebagai seorang perempuan. Aku sudah ajarkan banyak hal padanya, jadi tidak ada yang perlu aku kuatirkan. Selama ini juga aku selalu memantau sepak terjangnya dalam bergaul dan aku tau ia sangat memegang teguh prinsip hidup yang aku ajarkan. Sekarang saatnya ia membuktikan semua ajaranku." Lanjut Icha tersenyum.
Mendengar penuturan Icha, Marco terharu dan semakin membawanya dalam dekapan yang dalam. Dalam hati ia bersyukur mendapatkan pendamping hidup yang paham tentang ajaran Allah dan memegang teguh ajaran itu dalam hidupnya. Walaupun sampai saat ini Icha belum berhijab, tapi sikap, tingkah lakunya selalu menunjukkan ajaran Tuhannya.
"Terimakasih, sayang... kamu memang perempuan hebat dan aku bangga bisa memilikimu." Bisik Marco terharu. Ia mengecup kepala Icha berulang kali. Bahkan kegelisahannya selama ini untuk Ninda melayani di desa terpencil pun mulai berkurang. Ia yakin Ninda akan menjadi perempuan hebat seperti ibunya.
"Ck... aku pengen peluk Leon." Rengek Icha dalam pelukan Marco. Ia sengaja membuat Marco kesal karena menyebutkan nama anak nakal itu. Bukan kesal karena marah atau cemburu buta tetapi di momen romantis seperti ini malah Icha merindukan pelukan anak laki-lakinya.
"Ck.... kamu memang harus dihukum." Icha tak menyangka jika ucapannya membuat Marco menggendongnya dan membawa ke atas tempat tidur.
"Sayang... kamu mau apa?" Teriak Icha lalu menutupi tubuhnya dengan bed cover menghindar dari serangan fajar sang suami.
Tanpa suara Marco menangkap tubuh Icha dan menindihnya dengan pelan. Ia memeluk tubuh mungil itu dengan lembut dan mencium ceruk leher Icha.
"Kamu masih kuat aja gendong aku." Goda Icha. "Padahal udah tua juga." Ledeknya lagi.
"Kamu mau coba? hmmmm? Kamu benar-benar mau mengujiku, ya." Marco sudah bersiap menerkam Icha namun ditahan oleh Icha dengan tangan di dadanya dan tertawa lucu melihat tingkah suaminya.
"Udah jam makan malam. Sebentar lagi pasti Ninda sewot karena kita belum turun ke bawah." Ujar Icha sedikit berbisik. "Makan yang banyak biar tenaganya ada." Goda Icha lalu segera turun dari tempat tidur dan keluar kamar tanpa mengajak Marco yang sudah lemas tergolek kesal di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Ck... awas kamu, ya." Teriak Marco dengan suara besar malah membuat Icha semakin tertawa meledek.
"hmmm.. perempuan itu selalu membuat aku gila." Gumamnya lalu tersenyum malu pada diri sendiri yang selalu merasa muda padahal sudah berkepala lima.