
Selama seminggu Raymond sibuk mengurus segala sesuatu menyangkut pembelian saham PT. ValCare di Malaysia. Hingga, perusahaan itu sudah berpindah tangan di bawah naungan GT Corp. Marco pun berencana untuk mengganti nama perusahaan itu. Ia tak ingin ada embel-embel nama Valencia di sana.
"Tuan... sepertinya anda harus ke Malaysia untuk menghadiri pertemuan dengan semua divisi ValCare. Sekalian memastikan untuk segera mengganti nama brand itu." Terang Raymond saat mereka makan siang bersama.
"Ya... kamu benar. Aku hanya merasa berat harus meninggalkan Marissa dalam keadaan hamil seperti sekarang." Sahut Marco berat.
"Anda jangan kuatir, tuan. Banyak orang kita yang selalu menjaga nona. Atau... saya sarankan selama anda di Malaysia, anda bisa menyuruh Wulan untuk tinggal di mansion menemani nona." Marco tersenyum mendengar usulan Raymond.
"Kau benar, Ray. Aku lupa kalau Wulan bisa menjaga dan menemani Marissa di mansion." Ujar Marco senang. "Kenapa tiba-tiba kau mengingat Wulan?" Tanya Marco curiga. Ia memicingkan mata menatap Raymond. Laki-laki yang tak kalah tampan dari Marco itu pun gugup dan salah tingkah. "Ah, aku lupa... kalau kau menyukai sahabat istriku itu." Goda Marco membuat Raymond menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Kau jangan kuatir, aku akan mengurus pernikahanmu dengan Wulan. Aku juga akan memberimu hadiah yang mahal, jika kau berhasil mengajaknya menikah." Tantang Marco. Raymond tertawa kecil. Ia tak menyangka tuan yang dikenal datar dan dingin bisa mengajaknya bercanda juga akhirnya.
"Hei... aku tidak bercanda. Aku serius. Aku akan memberimu sebuah rumah mewah jika kau berhasil mengajak Wulan menikah." Raymond tersentak kaget karena Marco bisa membaca isi hatinya, namun lebih kaget lagi karena Marco menjanjikan rumah mewah baginya.
Setelah mengetahui kehamilan Icha, Marco langsung menarik Wulan menjadi sekretarisnya. Alasannya, karena ia sudah mengenal sahabat istrinya itu dan kinerja Wulan pun tak perlu diragukan. Namun, alasan yang paling kuat adalah agar Wulan dan Raymond bisa lebih dekat lagi dan mereka bisa saling bekerja sama dengan baik.
"Siapkan tiket untuk besok aku ke Malaysia. Aku ingin segera selesaikan masalah di sana agar tidak meninggalkan Marissa terlalu lama." Perintah Marco saat Raymond hendak pamit kembali ke ruangannya.
"Kau siapkan satu mata-mata di ValCare?" Tanya Marco memastikan.
"Bukan hanya satu, tuan. Namun, ada 6 orang kita yang menjadi karyawan di sana. Salah satunya sekretaris direktur umum." Sahut Raymond yakin. Marco mengangguk senang atas jawaban Raymond. "Ada di bagian divisi keuangan, ada di bagian pengadaan barang, ada juga di bagian resepsionis."
"Bagus. Aku masih belum percaya kinerja Valencia. Aku akan benar-benar mendepaknya jika ia melakukan kecurangan. Apalagi Christo, ayahnya." Ucap Marco serius. Raymond mengangguk mengerti atas kekuatiran Marco.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Pa... kok bisa sih Marco menguasai ValCare. Papa tau kan itu salah satu perusahaan kebanggaan kita." Ucap Riska tak suka karena Christo membiarkan Marco membeli semua saham perusahaan.
Mereka sedang menikmati teh sore di gazebo depan rumah.
__ADS_1
"Kalau Marco tidak mengambil alih perusahaan itu, maka ribuan karyawan akan kehilangan pekerjaan mereka." Sahut Christo pelan.
"Ya kamu tinggal kucurkan dana dari perusahaan kita di Jakarta, apa susahnya sih?" Sewot Riska. Terlihat raut wajah Christo mulai berubah.
"Sudah banyak dana yang terbuang sia-sia dari perusahaan di sini. Kalau aku tidak memperhitungkan karyawan di sini, maka kita akan benar-benar bangkrut." Suara Christo mulai sedikit meninggi. "Lebih baik melepaskan ValCare pada perusahaan yang tepat, dari pada ribuan karyawan harus menjadi korban karena kehilangan pekerjaan." Jelas Christo masih berusaha untuk sabar. Ia meneguk teh manis namun terasa hambar di mulut karena harus melayani pertanyaan Riska yang menurutnya tidak masuk akal.
"Ya udah, biarin aja bangkrut. Dari pada Marco yang mengambil alih. Mau ditaruh di mana muka kita?" Riska masih saja menyanggah ucapan suaminya. Christo menarik napas panjang.
"Kalau ribuan karyawan kehilangan pekerjaan, artinya kita harus membayar pesangon mereka dan kamu tau berapa banyak uang yang kita butuhkan untuk membayar pesangon ribuan karyawan?" Christo mulai hilang kesabaran berdebat dengan istrinya yang masih saja mempertahankan ego. "Kalau sampai itu terjadi, maka uang kita akan habis untuk membayar pesangon mereka dan perusahaan di sini pun akan gulung tikar. Paham kamu?" Bentak Christo emosi. "Kamu yang hanya tau menghamburkan uang, sanggup untuk hidup miskin?" Tanya Christo sinis.
"Kamu kok nanya gitu sih?" Sungut Riska tak suka diajak hidup miskin. "Ya mama nggak mau dong hidup miskin." Gerutunya kesal.
"Kalau nggak mau hidup miskin, maka hilangkan kebiasaan foya-foya kamu. Mending uangnya kamu tabung untuk persiapan sebelum kita bangkrut benaran." Ketus Christo dan pergi meninggalkan Riska seorang diri di Gazebo depan rumah. Perempuan bergaya mewah itu mulai ketakutan memikirkan perkataan Christo. Sudah pasti ia tak akan sanggup jika suatu saat mereka bangkrut. Ia pun berlari masuk menyusul suaminya ke ruang kerja.
"Pa... trus Valencia gimana nasibnya di ValCare?" Tanya Riska penasaran. Christo yang ingin menyelesaikan pekerjaan pun hanya bisa memutar bola mata dengan malas. Ia merasa tak ada gunanya bertukar pikiran dengan istrinya karena bukan solusi yang didapat malah masalah baru yang akan tercipta.
"Beruntung Marco tetap mempercayakan dia sebagai direktur utama, dengan catatan Val tidak boleh melakukan satu kesalahan yang merugikan perusahaan. Karena jika itu terjadi pasti ia akan didepak dari ValCare." Terang Christo acuh. "Mending kamu ke Malaysia temani Val. Dari pada kamu hanya buang waktu berkumpul dengan teman kamu dan menghabiskan uang untuk sesuatu yang tidak penting." Sindir Christo pada istrinya. Riska tak peduli akan sindirian Christo.
"Tidak usah bicara yang aneh-aneh. Sebentar lagi Marco akan menjadi seorang ayah. Dia masih fokus mengurus istrinya yang sedang hamil. Setelah itu ia akan mengatur dan merombak management ValCare bahkan akan mengganti nama perusahaan." Terang Christo dengan nada sedikit lantang berusaha menjelaskan sedetail mungkin agak Riska paham.
Riska terdiam. Sedih juga memikirkan nasib ValCare yang dibangun oleh Christo karena permintaan Riska waktu awal mereka menikah. Namun, seiring berjalannya waktu Riska mulai malas mengurus perusahaan. Ia lebih memilih menghabiskan waktu dengan kelompok sosialita yang dibentuknya. Hingga Christo harus merekrut pegawai baru sebagai jabatan manager umum, hingga terakhir dipimpin oleh Valencia. Namun, lagi-lagi putri kesayangannya itu harus ditipu oleh laki-laki yang berhasil merayunya dengan bertopengkan cinta.
"Kalau kamu fokus pada ValCare, tidak mungkin masalah ini terjadi. Tapi, kamu lebih mementingkan teman-temanmu dan menghamburkan uang sesuka hati." Semprot Christo. Mendengar itu, Riska tak terima baik. Ia melototkan mata memandang garang pada Christo.
"Jadi, papa salahin aku?" Marahnya tak terima. "Sebelum itu kan aku sudah membuat ValCare ada nama, dikenal banyak orang dengan produk-produk kita yang berkualitas. Seharusnya, Val bisa dong menjaga kualitas yang sudah capek-capek mama bangun." Beber Riska sewot. Christo tersenyum sinis.
"Kalau kamu tidak mengajar dan mengarahkan Val, bagaimana ia bisa tau cara mempertahankan kualitas yang sudah kamu bangun itu? Apalagi Val baru terjun ke dunia bisnis." Sanggah Christo sinis. "Memangnya dulu kamu langsung tau cara memimpin perusahaan tanpa aku ajar dan arahkan?" Timpalnya lagi membuat Riska terdiam. "Jadi, kalau kamu sudah tidak mau lagi mengurus perusahaan dan hanya mau menghabiskan uang, lebih baik kamu diam dan nikmati hidupmu sampai kamu benar-benar tidak akan menemukan uang lagi." Sembur Christo membuat Riska terdiam. Wanita paruh baya itu hanya bisa mendelikkan mata kesal dan pergi meninggalkan Christo dengan perasaan tak menentu.
__ADS_1
Christo menarik napas panjang dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Masalah demi masalah terus bergantian akibat ulah istri dan anaknya. Awalnya, ia ingin membalas dendam karena perlakuan Marco pada Valencia yang membuat ia malu pada semua rekan bisnisnya. Bagaimana tidak? Semua sudah mengetahui hubungan Marco dan Valencia, namun tiba-tiba Marco memutuskan hubungan dengan alasan yang kurang masuk akal. Tetapi, setelah ia mencari tahu masalah sebenarnya ada pada Valencia yang terlalu sibuk dengan dunianya dan menganggap remeh karena Marco sangat mencintainya. Ia pikir Marco akan mengikuti semua kemauannya karena cinta.
Christo cepat menyadari bahwa tidak ada gunanya melawan Marco. Apalagi Valencia yang bersalah dalam hubungan mereka. Marco juga bukan sembarang pengusaha yang gampang ditaklukkan. Lebih baik Christo menjalani hidup selayaknya tanpa mencari masalah dengan GT Corp dan Guatalla.
Riska yang notabene teman hidupnya, tempatnya berbagi suka duka malah lebih suka menghabiskan waktu dengan teman-teman sosialita dan bersaing menghamburkan uang.
"Semoga Valencia bisa lebih baik dari Riska." Harapnya untuk sang putri. Ia juga sengaja membiarkan Valencia tetap berada di ValCare di bawah pimpinan Marco agar putrinya itu mau belajar mandiri tanpa embel-embel nama besar papanya.
Kring... kring... kring...
Bunyi nada dering telepon genggamnya mengagetkan Christo dari lamunan. Ia melihat nama pemanggil. Bibirnya tersenyum tipis membaca nama di layar handphone.
"Hallo, Val..."
"Hallo, pa..." Suara renyah Valencia membuat hati Christo mencelos. Didikan yang salah membuat putrinya juga salah melangkah. "Papa apa kabar?" Tanya Valencia dengan ceria.
"Alhamdulillah... papa baik, nak. Gimana kamu?"
"Aku juga baik, pa.. aku senang bisa bekerja sama dengan Marco lagi. Papa tau, besok pagi Marco akan datang ke sini. Aku yakin, pa... dia masih mencintaiku. Makanya ia mau aku tetap memimpin perusahaannya." Celetuk Valencia dengan percaya diri yang tinggi. Christo menarik napas dan membuangnya pelan.
"Dengar, nak... Marco sudah mempunyai istri, bahkan sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah." Terang Christo dengan suara pelan berharap Valencia mau mendengarkan nasehatnya. "Jangan mengganggu suami orang. Nanti kamu akan menyesal."
"hahahahahaha... aku nggak mengganggu suami orang, pa. Marco itu tunangan aku yang direbut perempuan nggak tau diri itu." Sanggah Valencia tertawa.
"Dengar, nak.... Marco sangat mencintai istrinya. Papa nggak mau Marco berlaku kasar padamu karena kebodohanmu sendiri." papar Christo masih berusaha membuka jalan pikiran anaknya.
"Tenang, pa.... Marco tidak akan melukaiku. Ia masih mencintaiku."
__ADS_1
Tak terdengar lagi suara Valencia. Ia sudah memutuskan panggilan teleponnya. Christo semakin bingung menghadapi sikap Valencia yang sama keras kepalanya dengan Riska, ibunya.
"Kamu salah paham, nak... Marco tidak mencintaimu lagi." Lirih Christo sendu.