Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Kejujuran Valencia.


__ADS_3

Riska keluar dari lobi GT Corp dengan perasaan kesal, geram, benci dan penuh amarah. Ucapan Marco benar-benar menampar harga dirinya. Marco sama sekali tidak menghargainya sebagai orang yang pernah dekat dengan keluarga mereka.


"Sial... Apa maksud ucapannya tadi? Apa benar janin Valencia bukan darah daging Marco? Lalu anak siapa?" Batin Riska bergejolak. Selama perjalanan ia terus mengingat perkataan Marco yang sangat mengganggu pikiran. Ia memberanikan diri menemui Marco di GT Corp karena ia sangat percaya diri jikalau Marco ada ayah dari calon cucunya.


Sampai di rumah, ia buru-buru masuk dalam rumah. Ia langsung ke kamar Valencia.


"Valencia.... buka pintunya!" Teriaknya sambil menggendor pintu kamar putrinya. "Valencia...."


"Ada apa sih, ma?" Tanya ketika pintu terbuka dan melihat Riska di depan pintu kamar. "Kok teriak-teriak?"


Tanpa menjawab Riska masuk ke dalam kamar Valencia dan menarik putrinya dengan sedikit kasar. Valencia yang masih mengenakan legging ibu hamil setelah pulanh sari tempat yoga merasa heran dengan cara Riska menarik tangannya.


"Ada ada, ma?" Tanya Valencia heran.


"Sekarang jujur kamu... anak siapa yang kamu kandung? Kamu jangan malu-maluin keluarga, Val." Bentak Riska pada Valencia.


"Mama nih kenapa sih? Datang-datang langsung marah nggak jelas." Sahut Valencia heran.


"Jangan pura-pura kamu... Tadi mama ke GT Corp bertemu Marco." Beber Riska mulai emosi. "Kata-kata Marco membuat mama malu. Marco sama sekali tidak mengakui itu anaknya." Riska menunjuk ke arah perut Valencia yang sudah kelihatan membesar.


"Aku harus ngomong berapa kali sih ma, kalau ini anak Marco." Mendengar ucapan Riska, Valencia menjadi marah. Semua orang terdekat tidak mempercayainya lagi. Sudah cukup ia mendengar kalimat yang sama 'Marco tidak mengakui ini anaknya'.


"Aku sendiri yang menjebak Marco dengan obat perangsang dan obat tidur. Aku juga yang membawa dia ke kamar hotel yang sudah aku booking sebelumnya. Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri kalau laki-laki itu adalah Marco. Kalau bukan dia, siapa lagi ayah dari bayi ini, ma?" Teriak Valencia dengan emosi. Riska terkejut bukan main mendengar pengakuan Valencia. Ia tak menyangka Valencia nekad berbuat hal itu.


"A-apa kamu bilang?" Tanya Riska tak percaya. "Kamu menjebak Marco?"


Valencia baru tersadar jikalau ia sudah membuka rahasia besar yang seharusnya ditutupi rapat. Namun, karena berulang kali tidak mendapat pengakuan dari Marco yang akhirnya memancing emosi Valencia untuk berbicara.


"I-iya... a-aku menjebaknya. Tapi dia juga mau kok, ma." Sahut Valencia terbata-bata.

__ADS_1


"Gila ya kamu. Bagaimana bisa kamu melakukan hal sekeji itu? Pantas saja kalau Marco tidak mengakuinya karena ia terpaksa melakukannya dengan kamu." Timpal Riska marah. "Mau ditaruh dimana muka papa dan mama, hah?" Bentaknya lagi.


"Lalu, aku harus gimana, ma? Mama tau kan kalo aku sangat mencintai Marco. Mama pikir enam tahun menjalani hubungan lalu ditinggal begitu saja nggak menyakitkan buat aku, ma?" Jerit Riska menangis. "Aku mencintainya, ma... aku mencintainya." Desahnya sambil terduduk lemah. Ia seperti menahan sakit di bagian bawah perutnya.


"Val... Val, kamu kenapa?" Tanya Riska kuatir. Ia berlari memeluk putrinya.


"Sakit, ma..." Rintihnya pelan. Tanpa menunggu lama, Riska berlari keluar memanggil art dan sopit pribadi mereka untuk membantu membawa Valencia ke rumah sakit.


Empat puluh lima menit, mereka sampai di rumah sakit. Riska bergerak cepat memanggil perawat untuk membawakan brankar dan Valencia segera dimasukkan ke dalam salah satu ruangan IGD.


Riska yang panik mengambil telepon selulernya dan menekan nomor Christo, suaminya.


"Pa... cepat ke rumah sakit ibu dan anak. Valencia sedang di ruang IGD." Suara bergetar Riska terdengar memberitahu kondisi Valencia pada Christo sebelum akhirnya ditutup.


"Nyonya... minum dulu." Riska tersadar mendengar suara art di sampingnya. Ia baru menyadari kalau ia tak sendirian. Ada bibi Atun, wanita paruh baya, di sampingnya.


"Makasih, bi..." Diterimanya air mineral dari tangan bi Atin dan diteguk hingga tersisa setengah botol.


"Iya, bi... aku juga berharap begitu." Lirihnya pelan. "Aku yang salah, bi. Aku yang membuat Val jadi seperti ini, bi." Akhirnya, Riska menangis setelah sedari tadi ia merasa tidak bisa mengeluarkan air mata. Ia menutup wajah dengan kedua tangan dan terisak sedih sampai ia merasa ada yang memegang pundaknya.


"Papa..." Riska semakin menangis dalam pelukan Christo. "Mama yang salah, pa... mama yang salah. Mama minta maaf." Seru Riska dalam tangis. Christo mengelus lembut punggung istrinya.


"Mama tenang dulu. Kita sama-sama berdoa untuk keselamatan Val. Mama nggak boleh menyalahkan diri begini." Christo berusaha menenangkan Riska yang semakin terisak sedih. Ia menuntun Riska untuk duduk dan memberikan sapu tangan untuk menghapus air mata.


"Ceritakan! Ada apa sebenarnya?" Ujar Christo setelah melihat Riska sudah lebih tenang. Dengan menarik napas berat dan membuangnya perlahan, Riska mulai bercerita dari awal ia menemui Marco di GT Corp, bagaimana ucapan Marco yang melukai hatinya sebagai seorang ibu, sampai pada pengakuan Valencia tentang penjebakannya pada Marco hingga berakhir di hotel bintang lima yang menghasilkan janin dalam rahim Valencia. Christo mengepalkan tangan san matanya memerah menahan amarah. Namun, sebelum ia mengeluarkan suara, terdengar bunyi pintu ruang rawat terbuka. Christo dan Riska serempak mendekati dokter yang keluar dari ruang itu.


"Bagaimana keadaan anak kami, dok?" Tanya Christo. Dokter tersenyum tetapi ia melihat ke belakang Christo seperti mencari seseorang.


"Maaf... di mana suami pasien? Saya harus bicara dengan suaminya." Ujar dokter ramah. Riska dan Christo saling tatap.

__ADS_1


"Emmm.. suaminya lagi di luar kota, dok. Lagi ada pekerjaan di luar." Sahut Riska cepat sebelum dokter mencurigai mereka.


"Oh... baiklah kalau begitu. Tuan boleh ikut ke ruangan saya, nyonya boleh menemui pasien." Dokter segera melangkah ke arah kiri menuju ruangan kerjanya diikuti oleh Christo. Sedangkan Riska langsunv masuk dalam ruangan dimana Valencia dirawat.


"Silahkan duduk, tuan." Dokter mempersilahkan Christo mengambil tempat duduk. "Tuan tidak perlu kuatir. Putri tuan baik-baik saja." Ujar dokter tersenyum menenangkan Christo karena melihat wajah tegang laki-laki itu. "Begini... pasien mengalami pendarahan akibat tekanan atau stres yang dialami. Tetapi, untungnya pasien segera dibawa ke rumah sakit sehingga kami bisa mengatasi pendarahannya dengan cepat dan janin pun bisa diselamatkan. Saya berharap jangan lagi membuat pasien stres atau berada dalam tekanan, karena bisa berakibat fatal bagi nyawa pasien maupun janin dalam kandungan." Dokter memjelaskan kondisi Valencia. Christo menarik napas lega.


"Baik, dok... terimakasih." Hanya itu yang bisa diucapkan laki-laki paruh baya itu. Ia berdiri dan pamit untuk keluar.


"Satu lagi, tuan." Ucap dokter menghentikan langkah Christo. "Peran suami sangat penting untuk kesehatan ibu dan janin. Saya menghimbau agar suami pasien bisa lebih banyak meluangkan waktu untuk menemani ibu hamil." Ucapan dokter seperti anak panah yang menghujam tajam tepat di jantungnya. Rasa benci dan amarah pada Marco semakin menjadi. Tanpa menjawab, Christo membuka pintu dan keluar dengan perasaan nercampur aduk. Ia tahu, ia tidak bisa menyalahkan Marco sepenuhnya. Karena, kalau bukan karena jebakan Valencia, tidak mungkin ia harus mengalami hal sepahit ini.


Dengan langkah gontai, Christo berjalan menuju kamar rawat Valencia. Ia harus bisa berpura-pura tersenyum di depan Valencia untuk membuat putrinya senang.


"Papa...." Lirih Valencia lemah. "Apa kata dokter, pa? Anakku baik-baik saja, kan?" Valencia memberondong dengan beberapa pertanyaan. Christo tersenyum dan mengangguk.


"Iya... cucu papa baik-baik saja. Ia anak yang kuat." Sahut Christo membuat Valencia tersenyum senang. Riska juga ikut tersenyum bahagia. Saat ini yang ada di pikirannya adalah keselamatan anak. dan cucunya.


"Pa...." Lirih Valencia.


"Iya, nak... ada apa?" Sahut Christo lembut.


"Bagaimana kalau Marco benar-benar nggak mengakui anakku, pa?" Tanya Valencia sendu. Riska menatap suaminya berharap Christo bisa memberi jawaban yang menyenangkan Valencia. Christo memarik napas panjang.


"Papa akan menantangnya dengan tes DNA. Papa yakin ia tidak akan lari dari tanggung jawabnya." Sahut Christo yakin. Valencia tersenyum senang. Ia yakin dengan tes DNA, Marco tidak akan bisa menyangkal anak dalam kandungannya.


"Val minta maaf karena sudah nekad menjebak Marco. Val sangat mencintainya, pa. Val kecewa karena ia memutuskan pertunangan dan menikah dengan sekretarisnya sendiri." Ungkap Valencia dengan nada getir. Riska segera memeluk anaknya dan menenangkan Valencia.


"Sudah... jangan memikirkan sesuatu yang membuatmu stres. Ingat pesan dokter." Tandas Riska sambil membelai kepala Valencia.


"Papa akan melakukan apapun agar Marco mau bertanggung jawab padamu." Janji Christo pada putrinya.

__ADS_1


"Makasih, pa..." Lirih Valencia.


__ADS_2