
"Marco..."
Marco menoleh ketika mendengar namanya dipanggil seseorang.
"Ya... ada apa?" Tanya Marco datar ketika melihat Adzania berada di depannya.
"Kamu sudah selesai bertemu ayah?" Tanya Adzania sekedar basa-basi.
"Ya... baru saja." Sahut Marco singkat. "Ada apa?" Sambung Marco bertanya.
"hmmm... kamu nggak buru-buru, kan? aku ingin mengajak kamu makan siang." Jawab Adzania jujur.
"Terimakasih. Tadi ayah kamu juga menawarkan makan siang tapi saya tidak bisa." Tolaknya langsung. Wajah Adzania memerah karena malu. "Saya harus kembali ke perusahaan. Istri saya menunggu untuk makan siang bersama. Permisi." Ia tak menunggu lagi jawaban Adzania, namun langsung berbalik badan, mengenakan kacamata hitam dan berjalan dengan langkah tegap. Otaknya memerintah ia sekarang harus segera sampai ke kantor untuk makan siang bersama istri cantiknya.
"Sok jual mahal." Sinis Adzania. "Suatu saat aku pasti akan mendapatkanmu." Gumamnya pelan penuh tekanan.
Hari ini jadwal Marco untuk bertemu dengan tuan Albizar di perusahaannya untuk membahas kontrak kerjasama mereka yang sudah berlangsung lama, sebelum pria asal Arab itu kembali ke negerinya. Maka dari itu, sekitar jam 9 pagi tadi ia berkunjung ke cabang perusahaan milik tuan Albizar seorang diri. Raymond harus tetap standby di perusahaan. Icha juga masih banyak yang harus dikerjakan, hingga tak bisa menemani Marco. Lagipula, tidak ada hal penting yang perlu dibahas dengan pengusaha asal Arab itu.
"Siang, sayang..." Sapa Marco ketika sudah berada di depan Icha yang masih sibuk menghadap komputer. Seperti biasa, beberapa kecupan harus Icha terima di kepala dan kening.
"Udah makan?" Tanya Icha karena waktu sudah menunjukkan pukul 1 lebih 20 menit siang.
"Belum dong. Aku cepat-cepat pulang supaya bisa makan siang sama kamu." Jawab Marco santai. "Ayo, cepat... aku lapar." Desak Marco. Ia berjalan menuju ruangannya disusul oleh Icha dengan rantang bekal di tangan.
Mereka menikmati makan siang bersama, walau pun sebenarnya ini bukan waktu makan siang lagi.
"Gimana pertemuan dengan tuan Albizar?" Tanya Ucha di tengah kegiatan makan mereka.
"Baik. Hanya membahas soal saham dan selalu menjaga hubungan baik aja." Sahut Marco santai.
"Anaknya cantik, ya?" Pancing Icha ingin mengetahui reaksi Marco
"heeeem..." Angguk Marco setuju. "Cantik. Kenapa?" Tanya Marco. Ia kembali memyuapkan makanan ke mulut.
"Waktu ketemu kemarin, kayaknya dia suka deh sama kamu." Lontar Icha pelan. Marco mengerutkan kening tak mengerti. "Dia liatin kamu terus." Papar Icha lagi. Marco tersenyum senang.
"Kenapa? Cemburu?" Tanya Marco menggoda istrinya. "Tadi juga dia ngajak aku makan siang." Beber Marco ingin melihat reaksi istrinya. Icha menatap tak suka padanya.
"hahahahaha... kamu yang mancing-mancing, kamu yang cemburu." Ujar Marco ditengah tawanya. "Dengar... aku nggak bisa melarang perasaan suka perempuan lain padaku, namun... percayalah, aku hanya mencintaimu. Kamu lihat kan reaksi aku sama putrinya tuan Albizar gimana? Aku nggak peduli, yang. Aku udah punya kamu." Terang Marco. "Tadi, memang dia ngajak aku makan siang. Ya, aku tolaklah. Aku mau makan siang sama kamu. Tuan Albizar juga mengajak makan siang. Tapi, aku kasih tau dia kalau aku mau makan siang bareng istriku." Papar Marco pelan meyakinkan istrinya. Icha tersenyum senang.
"I love you." Balas Icha manja membuat Marco menutup mata. "Kenapa?" Tanya Icha heran.
"Jangan sampai aku makan kamu di sini." Ancam Marco tak tahan mendengar suara manja Icha.
"Iiih... dasar mesum." Icha mencubit tangan Marco. Mereka tertawa bahagia bersama.
"Eh, sayang... tapi sekali-kali kita coba di kantor, ya. Di kamar aku di sini atau boleh juga di ruang privasi kamu." Ucap Marco membuat Icha merona karena malu.
"Jangan macam-macam, ya." Ancam Icha malu. Marco tertawa terbahak-bahak melihat wajah merah istrinya karena malu.
Mereka terus menikmati makan siang sambil bercanda dan saling melemparkan gombalan. Lalu, mereka melanjutkan kerja hingga pukul 5 sore dan kembali pulang ke mansion.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah membersihkan diri, Icha turun ke lantai bawah menuju dapur. Ia paling suka membantu Rossa dan Hartini memasak untuk makan malam. Ia berusaha tidak menjaga jarak dengan dua art mansion itu.
"Hai, bi..." Sapa Icha ramah pada Hartini yang sedang sibuk memotong ayam. "Hai juga nona cantik... Udah harum aja." Hartini pun membalas sapaan Icha dengan ramah. Icha tersenyum.
"Masak apa, bi?" Tanya Icha.
"Ini... ada request dari nyonya Sania ingin makan ayam kecap, katanya. Makanya bibi lagi potongin ayamnya." Sahut Hartini sambil terus memotong daging ayam.
"Ya udah... aku buat bumbunya, ya." Celetuk Icha.
__ADS_1
"Boleh... makasih ya, non. Udah mau bantu bibi." Ucap Hartini senang. Icha hanya tersenyum dan mulai mengupas bawang merah.
"Ngapain kamu di sini?" Tiba-tiba Sania datang dan langsung ketus pada Icha. Icha yang sedang membelakangi mertuanya menutup mata dan menarik napas panjang.
Ya Tuhan... kuatkan aku. Agar aku tidak terpancing emosi. Doanya dalam hati.
"Aku sedang membantu bibi memasak, mom." Sahut Icha pelan. Ia terus mengupas bawang.
"Heh..." Sania menarik kuat pundak Icha hingga ia menghadap ke Sania. "Kamu tuh nggak diajarin sopan santun, ya? Kalau bicara sama orangtua pandang orangnya. Jangan membelakangi!" Bentak Sania tepat di wajah Icha. Icha menelan saliva menahan marah. Hartini hanya terdiam tak tahu harus berbuat apa. Ia menatap sendu nona mudanya.
"Dasar munafik!" Umpat Sania. Ia melihat pisau di tangan kiri Icha. Akal busuknya mulai beraksi. Ia mengangkat tangan hendak menampar Icha, namun Icha menahan tangan kanan Sania dengan tangan kanannya.
"Apa-apan ini?" Suara bass Marco mengagetkan Icha dan Sania. Dengan cepat Icha melepaskan tangan Sania, walaupun ia yakin Marco sudah melihatnya. "Kenapa kamu memegang pisau?" Tanya Marco dengan tatapan mengintimidasi.
"Ini perempuan yang kamu nikahi?" Seru Sania dengan terisak. Entah dari mana datangnya airmata, tiba-tiba ia bisa menangis dan mengadu pada Marco. "Lihat...! Dia berani melawan mommy dan bahkan mengancam mommy dengan pisau." Tuduh Sania menunjuk Icha. Icha menggeleng cepat.
"Mommy bohong, sayang... Aku nggak bermaksud melukai mommy..." Icha berusaha memberitahu yang sebenarnya terjadi.
"Lalu, pisau itu untuk apa?" Tanya Marco cepat dan dingin. Icha menatap mata Marco dengan hati yang luka. Apakah suaminya tidak mempercayainya lagi?
"Kamu memegang tangan mommy dengan tangan yang satu lalu tangan yang lain memegang pisau. Kamu kira aku buta???" Bentak Marco membuat Icha tersentak dan mundur selangkah. "Apa begini kelakuan kamu sama mommy di belakang aku, hah?"
Sania tersenyum penuh kemenangan. Ia semakin terisak berusaha membuat Marco bertambah marah.
"Dia nggak pernah menganggap mommy ini sebagai ibunya." Ujar Sania ditengah tangisnya. "Kamu sudah tertipu dengan suara lembutnya. Entah apa yang terjadi tadi jika kamu nggak datang. Pasti dia sudah membunuh mommy." Lontar Sania terus memanas-manasi Marco.
"Nggak, sayang... itu boho..."
"Diam kamu!!!"
Icha terdiam seribu bahasa. Pisau di tangannya terjatuh karena tersentak dengan bentakan Marco. Sebulan lebih menikah, baru hari ini ia mendengar Marco membentaknya. Ia menahan sekuat tenaga agar airmatanya tidak terjatuh. Ia masih ingin menjelaskan yang sebenarnya berharap sang suami bisa mempercayainya. Namun, Marco menghardik dengan suara lantang dan penuh amarah.
"Diamlah, mom... Aku minta maaf." Marco memeluk Sania yang terus terisak.
"Tenanglah... lebih baik mommy masuk ke kamar dan istrahat." Ujar Marco menenangkan Sania. Wanita tua itu mengangguk lemah. Ia sempat menatap tajam pada Hartini sebelum meninggalkan dapur menuju kamarnya, mengancam pembantu itu untuk tutup mulut. Hartini menunduk ketakutan.
"Ikut aku! Kita perlu bicara." Perintah Marco dingin pada Icha dan pergi dari situ.
Icha terduduk lemas dan tak kuasa menahan tangisnya lagi. Ia terisak pedih. Bukan soal tuduhan Sania, namun tatapan suaminya yang nyalang seakan-akan ia tak mempercayai Icha lagi.
"Nona... ayo, bangun." Hartini berlari memeluk Icha. Ia pun menangis sedih. "Nona harus kuat. Ayo, non." Ia memberi semangat pada Icha. "Bibi minta maaf, bibi tidak bisa membantu nona. Bibi takut, non." Lirihnya merasa bersalah.
"Nggak apa-apa, bi." Sahut Icha. Ia bangun dari duduknya, menghapus airmata, menutup mata, mengucap doa sebentar, menarik napas dan membuangnya pelan. "Aku ke kamar, bi."
Dengan langkah lunglai, ia meninggalkan dapur menaiki tangga menuju kamar. Ia yakin pasti Marco hendak mengajak bicara di balkon kamar mereka.
Icha membuka pintu dengan perlahan. Jantungnya berdetak lebih cepat. Dilihatnya Marco sedang berdiri di balkon dengan kedua tangan di dalam saku. Ia takut. Ya, ia takut Marco marah. Ia belum terbiasa mendengar Marco marah.
"Sayang.... aku..."
"Kenapa kamu ingin melukai mommy?" Marco memotong pembicaraan Icha.
"Nggak, sayang... kamu salah paham... aku nggak..."
"Salah paham??? Salah paham apa??? Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Marissa." Bentak Icha tepat di wajah Icha. "Kalau aku tidak cepat datang tadi, pisau itu pasti sudah melukai mommy." Tuduhnya kejam. "Mau mengelak apa kamu, hah?" Cecar Marco berang.
Icha terdiam. Tak ada daya lagi untuk melawan, hanya airmata yang mewakili perasaannya. Suaminya tak mempercayainya lagi. Ia menunduk dalam tak mampu menahan tatapan mata Marco. Bukan tatapan cinta lagi. Namun, tatapan marah yang amat sangat.
Dengan memberanikan diri, ia mengangkat kepala dan melihat Marco
"Maaf...." Hanya itu yang sanggup ia ucapkan. Marco membuang muka ke arah lain. Ia pun tak kuasa menahan rasa sakit dalam hati melihat airmata Icha. "Aku mau menjelaskan pun percuma." Sambung Icha tegar. "Aku minta maaf." Ucapnya lagi. Ia berbalik badan dan berlari keluar kamar. Ia bingung harus ke mana. Ia ke taman belakang, bersembunyi di balik tanaman dan menangis tersedu. Ia menumpahkan semua rasa dalam hati.
Apakah aku harus menyerah, Tuhan? Lirihnya pedih.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Marco yang masih antara percaya tak percaya masuk dalam kamar kerjanya. Dibukanya laptop dan melihat CCTV yang tersambung langsung dengan laptop.
"Sial....! Sejak kapan CCTV di rumah ini rusak?" Ia baru menyadari setelah sekian lama CCTV di mansion yang begini luas bisa rusak.
"Berry....." Teriak Marco emosi. "Berry..."
Teriaknya lagi.
"Ada apa, Marco? Kenapa teriak-teriak?" Kakek keluar dari ruang kerja kaget mendengar suara teriakan Marco.
"Di mana Berry? Kenapa semua CCTV di rumah ini tidak berfungsi?" Berangnya ketika melihat kemunculan Berry.
"Tidak berfungsi?" Ulang kakek tak percaya. "Sejak kapan?"
"Aku akan periksa, tuan." Sahut Berry segera memeriksa CCTV.
"Marco membanting pantatnya di sofa dengan kesal. Kenapa CCTV harus rusak di saat yang tidak tepat? Sedangkan ia harus melihat kejadian yang sebenarnya antara Sania dan Icha.
Kakek melihat Marco yang sedang kacau, ia mendekat.
"Ada ada?" Tanya kakek pelan. "Tadi juga kakek mendengar suaramu membentak seseorang. Siapa yang kamu bentak sampai suaramu menggelegar seperti itu?" Sambung kakek bertanya.
Marco menarik napas panjang sebelum akhirnya memulai bercerita yang terjadi di dapur antara mommynya dan Icha. Kakek merengutkan kening antara percaya tak percaya.
"Dan kamu percaya apa yang kamu lihat?" Tanya kakek.
"Kek... jelas-jelas aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Marissa hendak melukai mommy dengan pisau." Ujarnya meyakinkan kakek. Kakek mengangguk mengerti.
"Entahlah... tapi, hati kakek tak yakin kalau Marissa mampu melakukannya." Lirih kakek tak percaya. "Seharusnya kamu lebih mengenal istri kamu." Ujar kakek mengingatkan. Marco terdiam. Bayangan kejadian di dapur terus berputar di otaknya. Ia tidak bisa membela Icha, karena ia yakin dengan apa yang dilihatnya.
"Tuan... CCTV sudah rusak seminggu ini. Sepertinya ada yang merusaknya." Jelas Berry yang baru selesai memeriksa semua CCTV. " Tapi, hanya CCTV dalam rumah, tuan. Di luar semua CCTV aman." Sambung Berry.
Marco mengusap wajah dengan kasar.
"Caritau siapa yang merusaknya!" Perintah marco.
"Baik, tuan." Berry mengangguk hormat.
Waktu terus berlalu. Waktu menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Sudah lewat jam makan malam gara-gara kejadian tadi.
"Di mana Marissa, Marco?" Tanya Kakek ketika melihat hanya ada Marco dan Sania di meja makan.
"Sudahlah, ayah... nanti kalau dia lapar dia makan juga. Ayah jangan tertipu dengan kelembutannya." Celetuk Sania jengkel.
"Aku sudah terbiasa menghadapi penipu. Dari yang penipu amatir sampai penipu ulung sekali pun." Sahut kakek sengaja menyindir Sania. "Jangan sampai kau menyesal, Marco." Tekan kakek dan mulai melanjutkan makannya.
Sania terdiam. Ia menyadari sindiran mertuanya itu tertuju untuk dirinya. Mereka makan dalam diam. Marco yang dalam keadaan kacau tak bisa menelan makanan dengan baik. Terasa semua tak enak dalam mulut. Ia meletakkan sendok dan garpu.
"Aku sudah selesai." Tanpa pamit, ia pergi meninggalkan kakek dan Sania menuju kamarnya. Ia berdiri di balkon kamar memandang ke luar. Dari ketinggian, ia bisa melihat Hartini sedang memegang nampan berisi makanan dan berjalan menuju kebun bunga. Ia terus memperhatikan dengan seksama.
"Apakah Marissa sedang di kebun bunga?" Gumamnya penasaran. Ia keluar kamar dan berjalan menuju kebun bunga.
"Non... ayo, makan dulu." Ia mendengar suara Hartini sedang merayu seseorang agar mau makan.
"Bibi makan aja. Aku nggak lapar." Tolak Icha. Marco terus mendengar obrolan mereka.
"Tapi non harus makan. Nanti sakit." Bujuk Hartini. "Jangan nangis lagi, non."
Icha tertawa pelan. Ia berusaha tegar.
"Nggak kok, bi. Aku nggak nangis lagi." Icha berusaha tersenyum mau menunjukkan bahwa ia kuat. "Bibi taruh di situ aja. Nanti aku makan." Sambungnya lagi.
__ADS_1
Suara halus dan lembut itu begitu terdengar pedih di telinga Marco. Namun, lagi-lagi bayangan kejadian sore tadi membuatnya kembali marah. Ia pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan tak menentu.