
Pagi-pagi sekali Marco sudah sampai. di rumah Icha. Ia hendak pamit sebelum balik ke Jakarta dengan rombongan keluarga. Sekalian mau sarapan. Masakan mama Tanti selalu bikin lidahnya ketagihan ingin makan dan makan lagi.
"Pagi, nak. Mari masuk." Sambutan calon mertua Marco memang selalu ramah dan lembut. Pantas saja Icha pun terlahir menjadi seorang gadis yang lemah lembut. Karena memang ia dididik dengan cara begitu.
"Icha aja masih tidur lho." Sambung mama Tanti. Ia mengajak Marco duduk di ruang tengah. "Mau duduk dulu, atau mau ketemu papa di taman belakang. Papa selalu berkebun pagi-pagi sebelum ngantor." Mama Tanti melanjutkan kegiatannya di dapur. Marco melihat ke arah jam dinding rumah itu. Ia menyengir lucu sendiri. Pantas saja Icha masih tidur, sekarang baru jam 04.55. Untung, ia memiliki calon mertua yang pengertian.
"emmm... ma," Ucap Marco ragu.
"Iya, nak... ada apa?" Tanya mama Tanti memahami keraguan Marco.
"Aku boleh ke kamar Marissa? A-aku nggak ngapa-ngapain kok, ma. Hanya mau bangunin dia aja." Seloroh Marco gugup. Mama Tanti tertawa kecil mendengar nada suara Marco.
"Kamu kayak anak SMA yang lagi minta ijin mau macarin anak mama." Goda mama Tanti membuat Marco tersipu malu. "Boleh... mama percaya sama kamu. Tapi, sapa papanya Icha dulu, nak... di belakang, ya!" Lanjut mama Tanti menyarankan. Marco mengangguk kepala cepat dan segera menuju ke taman bunga.
Mam Tanti menggeleng kepala, lucu melihat tingkah Marco.
"Dasar anak muda... gara-gara cinta, sampai kelakuannya kayak anak SMA. Nggak keliatan kalo dia seorang pimpinan perusahaan." Gumamnya geli sendiri mengingat cara Marco bicara tadi. Ia terus asyik mengaduk nasi goreng dalam kuali.
Tak lama kemudian papa Rendra masuk diikuti Marco di belakangnya.
"Icha belum bangun, ma?" Tanya papa Rendra. Mama Tanti menggeleng. "Dasar anak gadis jaman sekarang." Cibir papa Rendra lucu. "Liat tuh calon istri kamu, jam segini belum bangun. Kamu masih mau menikah dengannya?"Goda papa Rendra pada Marco.
Laki-laki itu tertawa kecil.
"Dia calon istriku, pa... jangan menjelek-jelekkannya di depan aku," Kelakar Marco pada calon Mertuanya.
Mereka tertawa bahagia bersama. Tanpa mereka sadari, mata mama Tanti berkaca-kaca. Ia terus mengucap syukur karena Allah mendengarkan doa-doanya selama ini. Ya, doa seorang ibu untuk kebahagiaan anak semata wayangnya.
"Pa... aku ke kamar Icha, ya. Anak papa tuh kayaknya sengaja mau dibangunin sama calon suaminya." Beber Marco percaya diri. Pak Rendra hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Dasar anak muda... " Celetuk pak Rendra.
"Alhamdulillah ya, pak... Allah menyiapkan pasangan anak kita seorang yang baik. Mama percaya, Marco bisa menjaga Icha dengan segenap hatinya."
"Amin... Kita serahkan semua ke Pemilik Cinta, bu. Kalau kita berharap padaNYA, pasti IA akan memberikan yang terbaik."
Sedangkan di kamar Icha...
Gadis itu masih asyik terlelap di bawah selimut tebal, setelah sekian lama tidak bisa menikmati tidur dengan udara dingin alami seperti ini.
Marco hanya menggelengkan kepala melihat calon istrinya masih asyik tidur dengan nyaman. Dengan langkah pelan ia naik ke atas tempat tidur, masuk ke dalam selimut Icha dan memeluknya dari belakang.
Icha yang merasa ada goyangan dan sesuatu melingkar di perutnya, spontan melebarkan matanya. Ia hendak berteriak, tetapi tangan Marco segera menutup mulutnya. Icha langsung menarik selimut menutup tubuhnya. Pasalnya, ia tidur hanya memakai baby doll tanpa bra.
"Sayaaaang... kamu ngapain di sini?" Teriak Icha kaget. Lagi-lagi Marco menutup mulut Icha. Ia takut suara teriakan Icha didengar orangtuanya dan dikira ia sedang berbuat sesuatu pada anak gadis orang. Apalagi rumah Icha hanya berlantai satu dan tidak terlalu besar. Otomatis, teriakan kencang Icha bisa didengar papa Rendra dan mama Tanti yang sedang berada di dapur.
__ADS_1
"Jangan teriak, sayang... " Bisik Marco geram. "Nanti papa sama mama kira aku lagi ngapa-ngapain kamu." Desisnya lagi. Ia turun dari tempat tidur dan sengaja menarik selimut yang menutupi tubuh Icha.
"Eh.. eh.. eh.. kamu mau ngapain? Jangan ditarik selimutnya!" Sungut Icha sambil menahan kuat selimut di tubuhnya.
"Udah terang tuh, ngapain kamu selimutan terus." Cecar Marco.
"Iya, tapi jangan ditarik selimutnya... Aku nggak pakai...b... " Icha tersadar hampir memberitahu hal tabu pada Marco. Ia menutup mulutnya dengan cepat.
Marco menyeringai jahat. Ia mengetahui apa maksud Icha. Ia sengaja membuat gadis itu malu dan salah tingkah.
"Nggak pakai apa.. hmmm?" Tanya Marco pelan sambil merangkak perlahan naik ke atas tempat tidur. Icha kebingungan. Ia semakin memegang erat selimut dan memeluk dadanya sendiri.
"Kamu mau ngapain?" Cicit Icha kesal. Marco tidak menjawab, ia semakin membuat Icha salah tingkah dengan sengaja menarik selimut yang menutupi dada Icha. "Iih... kamu jangan macam-macam, ya!" Ancamnya dengan melototkan matanya. Bukannya takut, Marco hampir saja terbahak melihat tingkah Icha. Tanpa menunggu lama, Icha segera menolak Marco sehingga laki-laki itu tertidur dan Icha pun berlari ke kamar mandi dengan terbirit-birit. Maka, pecahlah tawa Marco.
Sedangkan Icha memegang dadanya yang memburu cepat gara-gara ulah Marco. Ia malu jikalau tadi Marco melihat ia tidak memakai penutup dada. Walau pun mereka akan menikah tetapi ini hal baru bagi Icha.
Untung otak Marco masih bisa berpikir positif. Ia mengelus dadanya yang berdebar.
"Sabar, Marco... minggu depan dia sudah menjadi milikmu."
Marco kembali ke ruang makan. Di sana sudah ada pak Rendra yang sedang menata makanan di atas meja.
"Kamu ngapain tadi sampai anak papa histeris begitu?" Goda papa Rendra. Kini, giliran Marco yang salah tingkah.
"Ck... anak papa aja yang berlebihan." Ucap Marco membela diri.
"Jam berapa berangkat ke Jakarta?" Tanya Pak Rendra mengganti topik pembicaraan.
"Rencananya jam 9, pa..." Sahut Marco sambil melihat jam di tangan kanannya.
"Ya udah... papa mandi dulu, setelah itu kita sarapan bersama." Pak Rendra segera bergegas ke kamarnya. Ia harus bersiap untuk dinas pagi ini. Mama Tanti masih menemani Marco di meja makan.
"Mama harap nak Marco bisa memahami sikap dan sifat Icha. Dia agak sedikit manja. Makhlum, dia anak kami satu-satunya. Tapi, dia juga berpikiran dewasa, tidak mudah marah, dan berhati lembut." Beber mama Tanti memberitahu Marco tentang sifat Icha. Marco mengangguk kecil.
"Walau pun kami baru dekat 6 bulan, tapi aku sudah sangat paham sifat Icha, ma. Justru, cara berpikir dan tingkah lemah lembutnya yang membuat hubungan kami menjadi sangat harmonis." Ucap Marco. "Marissa juga merubah cara pandang aku dalam menghadapi suatu masalah." Lanjutnya merasa bangga pada calon istrinya.
"Selamat pagi." Suara orang yang sedang mereka bicara pun terdengar. Mama Tanti dan Marco serentak melihat ke arah suara itu.
"Pagi, sayang..." Sahut mama Tanti. "Malu tuh sama calon suami, udah nunggu dari subuh lho." Goda mama Tanti. Icha tersenyum malu.
"Ya udah... Mama juga siap-siap mau dinas. Kamu temanin nak Marco di sini dulu, ya." Icha mengangguk. Mama segera masuk dalam kamar pribadinya dan bersiap-siap.
Marco tentu saja tidak membuang kesempatan. Ketika mama Tanti sudah tidak kelihatan, dengan cepat ia berdiri dan menarik pinggang Icha dan mendekapnya erat. Ia mendekatkan bibirnya dan menempelkan pada bibir Icha. Semua serba cepat, sehingga Icha tidak bisa menolak dan memprotes kelakuan Marco.
Marco terus m*l*m*t bibir Icha dengan lembut. Sampai Icha memukul dadanya karena hampir kehabisan napas. Marco melepaskan ciumannya. Ia mengusap bibir Icha dan menatapnya dengan perasaan yang sulit ditebak. Segera ia menempelkan keningnya ke kening Icha.
__ADS_1
"Jam 9 aku balik ke Jakarta. Jaga diri kamu baik-baik." Bisiknya lirih. "Tunggu aku, sayang... aku akan datang kembali untuk mengambilmu sebagai istriku." Suaranya semakin serak. Ia seperti tidak rela berpisah dengan kekasih hatinya. "Aku mencintaimu, Marissa Lebrina.... " Desah Marco penuh perasaan.
Icha yang juga mempunyai perasaan yang sama, berusaha menunjukkan sikap tegar agar Marco jangan semakin terpuruk karena perpisahan sementara mereka.
"Aku akan menunggumu, sayang... aku hanya mau menikah dan menghabiskan hidupku denganmu seorang." Imbuh Icha menguatkan laki-laki yang dicintainya ini. "Percayalah... hanya satu minggu, nggak akan terasa lama." Lanjutnya sambil mengelus dada Marco. Pria tampan itu tersenyum dan mengangguk pelan. Ia mulai merasa sedikit tenang.
"Ayo, duduk... dikit lagi papa sama mama keluar dari kamar." Bisik Icha sambil melihat ke arah kamar orangtuanya. Marco tertawa pelan dan segera duduk. Dan benar saja, sesaat setelah Marco duduk, pintu kamar terbuka. Papa Rendra dan mama Tanti keluar beriringan dengan memakai pakaian dinas mereka.
"Ayo, kita sarapan.... " Ajak papa Rendra yang langsung duduk di kursi kebesarannya. Mama Tanti duduk di sebelah kanan suaminya. Sedangkan. Marco dan Icha duduk berhadapan dengan mama Tanti. Mereka menikmati sarapan dengan saling bercerita. Sampai waktu menunjukkan pukul setengah delapan pagi, mama dan papa Icha pamit menuju ke kantor. Icha pun meminta ijin untuk mengikuti Marco ke hotel.
"Pa... ma... aku pamit. Sehari sebelum pernikahan pasti aku sudah di sini lagi." Pamit Marco pada orangtua Icha.
"Iya, nak... hati-hati." Ucap pak Rendra singkat. Mereka pun segera mengendarai motor dan menghilang dari pandangan Icha dan Marco.
"Ayo, sayang..." Marco menggandeng tangan Icha dan mengajaknya masuk dalam mobil dan mereka pun meluncur ke hotel tempat nginap keluarga besar Marco.
Sekitar 15 menit mobil Marco memasuki halaman hotel. Mario dan saudarinya Maria serta kakek dan paman Jerry sudah menunggu di hotel. Sedangkan Adam, Sania, dan Vera masih sarapan di restoran hotel. Berry selalu setia duduk di samping kakek. Raymond harus pulang terlebih dahulu karena ia harus mengurus perusahaan menggantikan Marco.
"Hai, Marissa... pasti anak nakal ini mengganggu tidurmu?" Goda kakek ketika melihat kedatangan Marco yang menggandeng erat tangan Icha. "Belum jam 5 pagi tadi, dia sudah gelisah sekali ingin bertemu kamu." Ucap kakek membongkar rahasia Marco. Mario dan Maria pun tertawa meledek Marco.
"Ayah kayak nggak pernah muda aja." Imbuh Jerry, paman Marco, balik menggoda ayahnya. Mereka sangat tahu kalau ayah dan kakek mereka ini sangat bucin pada nenek mereka.
"Tapi, ayah nggak pernah bertamu jam 5 pagi..." Ucap kakek membela diri. "Bisa-bisa diusir sama mertua ayah." Semua tertawa terbahak-bahak, hingga Adam, Sania dan Vera datang bergabung.
"Nah, semua sudah ada. Kita harus segera berangkat. Supaya sampai Jakarta lebih awal dan kita bisa beristirahat yang cukup." Pungkas kakek. Mereka hanya tinggal masuk dalam mobil dan berangkat, karena semua koper dan barang-barang sudah di dalam mobil.
"Mari, tuan..." Berry mangajak mr. LG untuk keluar dari lobi. Kakek berdiri dan menatap Icha.
"Kakek kembali ke Jakarta, ya. Minggu depan kami semua akan datang lagi." Pamit kakek. Ia memeluk Icha dan mengecup kening calon cucu mantunya. "Jangan terlalu peduli kalo Marco meneleponmu... Kamu harus istirahat yang banyak." Tukas kakek meledek Marco. Marco hanya mendelik kesal pada kakek.
Mereka semua memeluk Icha dan mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam mobil. Adam pun memeluk calon menantunya dan pamit dengan ramah. Icha sedikit bengong melihat sikap Adam yang berubah. Tetapi, berbeda dengan Sania. Ia tetap melihat Icha dengan tatapan tak suka. Marco yang menyadari sikap ibunya, dengan sigap merangkul pinggang Icha.
"Mama kembali ke Jakarta." Pamitnya ketus. Icha tersenyum ramah dan menunduk hormat. Sania segera membalik badan dengan angkuhnya dan masuk dalam mobil.
Marco memandang marah pada ibunya.
"Sayang... " Tegur Icha. Ia sadar akan kemarahan Marco. "Jangan marah sama mama. Suatu saat mama akan menerima aku menjadi menantunya." Pungkas Icha membuat Marco tenang. "Ya udah... naik mobil, gih! Semua udah nunggu kamu di mobil." Marco menatap Icha sendu. Rasa gelisah mulai merajai hatinya. Ia membuang pandangannya ke arah lain, karena tidak sanggup melihat wajah ayu di depannya.
Dengan mengumpulkan segudang keberaniannya, ia mengecup bibir Marco. Semua yang ada di lobi melihat ke arah mereka.
"Kita nggak akan berpisah, sayang... justru, kita akan bersatu selamanya." Ucap Icha menguatkan Marco yang seakan-akan tidak rela beranjak dari tempat ini. Icha menggandeng tangannya membawa ke luar lobi.
"Antarkan Marissa ke rumahnya." Perintah Marco pada seorang sopir hotel.
"Aku berangkat. Tunggu aku kembali." Icha mengangguk. Marco mengecup keningnya, memberi senyuman manis dan berbalik badan menuju mobil.
__ADS_1
Mereka hanya berpisah sementara...