Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Tidak Ada Penolakan.


__ADS_3

Icha bangun lebih pagi hari ini karena ia harus memasak untuk bekal makan siang Marco. Laki-laki tampan yang mengisi hatinya itu sudah mengultimatum harus membawa bekal makan siang. Ia juga sudah mulai menunjukkan sikap protektif, tidak suka dibantah, tetapi romantis dan yang anehnya terkadang sikap manjanya muncul.🙈


Icha tersenyum bahagia ditengah kegiatan masaknya. Bahagia karena dicintai lelaki yang sudah terlebih dahulu ada di hatinya.


Ikan bumbu asam manis, bening bayam dan sambal ijo, andalannya. Ia menaruh nasi untuk dua porsi di tempat bekal nasi berbentuk termos mini, lalu bening bayam juga di sebuah tempat lauk yang berbetuk termos, agar semua makanannya tetap hangat sampai siang nanti.


"Beres..." ucapnya merasa puas setelah menyelesaikan dua macam menu masakan. "semoga dia suka." gumam Icha. Ia segera mandi dan bersiap ke kantor.


"Wiiiissss... bawaannya banyak banget." Goda Wulan. Ia masih terlelap subuh tadi saat Icha memasak. Walau pun samar-samar terdengar ribut di dapur, tetapi karena matanya tidak bisa diajak kompromi, maka ia tidak mengetahui suara ribut apa itu.


"Apa sih itu?" Tanya Wulan penasaran sambil menunjuk tempat makan di meja kecil. Namun, Samar-samar ia mendengar suara mobil berhenti di parkiran bawah. Wulan mengintip di balik tirai.


"Bekal makan siang." Jawab Icha Singkat. Icha masih sibuk menatap diri di cermin, memakai liptint warna pink, senada dengan warna bibirnya.


"Iyaaaaa,... yang udah cantik, udah ditunggu si tampan tuh di bawah." Ucapan Wulan membuat Icha membelalakkan mata. Ia berlari kecil ke jendela, membuka tirai dan mengintip ke bawah.


"Ya ampuuuun... dia kok nggak bilang-bilang mau jemput sih." Icha panik karena Marco sudah berdiri santai bersandar pada mobil dengan kacamata hitam yang bertengger manis di matanya. Ketampanan laki-laki blasteran itu seakan meningkat sepuluh kali lipat.


Icha buru-buru menyisir rambut panjangnya, memakai sepatu dan keluar dengan membawa tas dan bekal makan siang ia dan Marco.


"Kok nggak bilang-bilang mau jemput?" Protes Icha setelah berdiri di depan Marco.


Cup!


Marco mengecup cepat bibir Icha. Laki-laki tampan itu gemas melihat bibir Icha yang komat kamit mengomeli dirinya.


Mendapat serangan mendadak, Icha melototkan matanya. Ia melihat ke dalam mobil, takut ada mr. LG seperti dulu. Ia tidak mau kepergok kakek tua itu lagi. Marco tersenyum geli melihat tingkah Icha.


"Kenapa?" Tanya Marco melihat Icha yang mengintip ke dalam mobil. Ia mendelik kesal pada Marco.


"Aku takut ada kakek di dalam mobil." Sungut Icha. "Kamu main cium aja," Omel Icha kesal. Marco tertawa. Ia segera mengambil bekal di tangan Icha, membuka pintu belakang dan mengajak Icha masuk. Raymond sudah menunggu di depan setir.


"Kok nggak bilang-bilang mau jemput?" Tanya Icha penasaran. Marco menarik pinggang Icha mendekat dan memeluknya erat.


"Sengaja aja. Biar kamu panik." Sahut Marco menggoda gadisnya. Icha Mencubit gemas pinggang Marco. Pria itu tertawa bahagia. Ia mengecup kepala Icha yang sedang bersandar di dada. Raymond hanya menarik napas panjang, melirik kesal ke kedua sejoli di kursi belakang. Bukan cemburu, tetapi sebagai jomlo sejati pasti hatinya tercubit iri melihat kemesraan di depan mata.


"Ini bekal makan siang kita?" Tanya Marco menunjuk rantang makanan yang diambil dari tangan Icha tadi.


"Iya... Tapi menunya hanya dua. Nggak apa-apa?" Tanya Icha sambil mengangkat kepala melihat Marco. Marco tersenyum dan kembali mengecup kening Icha.


"Nggak apa-apa... Masih banyak waktu. Kamu akan memasak setiap hari untukku, kan." Sahut Marco mendukung Icha. "sudah pakai kartu yang aku kasih?" Lanjutnya bertanya tentang kartu debit yang diberi Marco kemarin. Icha menggeleng cepat, mengangkat kepala melihat Marco dengan memanyunkan bibir.

__ADS_1


"Aku belanjanya di pasar tradiosional. Masa pakai kartu debit." Ucap Icha pelan.


"Kamu bisa tarik uangnya, sayang." Tandas Marco. Ia ingin Icha memakai kartu debit yang ia berikan.


"Iya... nanti aku pakai." Sahut Icha tak ingin berdebat.


Hingga tak terasa mobil masuk dalam kawasan gedung raksasa yang mewah. Raymond langsung menuju ke parkiran khusus pimpinan perusahaan. Mereka keluar mobil dan masuk ke dalam lift ceo. Raymond berdiri di belakang Marco yang dengan posesifnya memeluk pinggang Icha.


Sampai di lantai 25, tempat mereka berkantor, Raymond segera pamit menuju ruangannya. Ia tak ingin lagi menjadi obat nyamuk bagi dua orang ini. Maka, tinggallah Marco yang masih berdiri di depan meja kerja Icha, menunggu gadis itu meletakkan tas, bekal makan siang dan menyalakan laptop.


"Bacakan jadwalku, sayang." Perintah Marco lembut. Icha segera membuka tas dan mengambil tab untuk melihat jadwal Marco. Semua email masuk ketika Icha mengaktifkan tab itu. Banyak email berasal dari klien GT Corp. Ada yang mengirim laporan proyek pembangunan di beberapa daerah, ada yang mengirim informasi perkembangan naik turun saham, bahkan ada beberapa email yang mengajak Marco makan siang.


"Nona Yumiko?" Icha membaca salah satu nama pengirim email yang isinya sedikit aneh. "Siapa dia, yang?" Tanya Icha penasaran. Ia menatap Marco menuntut penjelasan.


"Anak dari mr. Franklin, pimpinan Koniwa Corp." Jawab Marco santai. "Apa isi emailnya?" tanya Marco.


"Mengajak kamu makan siang." sahut Icha memandang Marco yang sedang berdiri di sebelah meja Icha sambil memasukkan kedua tangan dalam saku celana.


"Katakan padanya aku nggak bisa." Perintah Marco. "Aku ingin menikmati makanan yang sudah dimasak calon istriku." Lanjutnya menggoda Icha. Gadis itu tersenyum dan memainkan jari pada huruf-huruf dalam tab untuk membalas email putri dari rekan kerja Marco.


Melihat Icha sudah selesai membalas beberapa email, Marco menarik lembut tangan gadis itu untuk berdiri menghadapnya. Ia memeluk pinggang ramping Icha.


"Selamat bekerja, sayang. I love you." Bisik Marco. Ia memberi satu kecupan mesra pada bibir gadis itu. Jangan ditanya bagaimana reaksi Icha. Wajahnya sudah memerah semerah kepiting rebus.


"Kamu nggak ingin mengatakan sesuatu?" Bisik Marco lagi berharap Icha bisa membalas ungkapan cintanya. Icha tersenyum malu.


"I love you, too." Bisiknya pelan di telinga Marco. Walau pun ia harus sedikit berjinjit untuk bisa sejajar dengan Marco.


Laki-laki itu tersenyum senang dan melepaskan pinggang Icha setelah kembali mengecup bibir Icha singkat. Ia pamit pada sang kekasih dan berbalik badan menuju ruang kerjanya.


Mereka bekerja secara profesional seperti biasa. Sekali-kali Marco melirik ke arah jendela untuk melihat kegiatan Icha di meja kerjanya. Gadis itu sedang serius memandang ke komputer dan sekali-kali jarinya memainkan tuts komputer.


Waktu terus berjalan dan tanpa terasa jam makan siang pun tiba. Marco masih sibuk memeriksa email yang dikirim Icha pagi tadi hingga ia tidak menyadari kehadiran Icha di dekatnya. Icha memang sengaja membuka pintu sepelan mungkin agar Marco tidak terganggu.


Cup!


Marco tersentak kaget mendapatkan satu kecupan di pipi kanannya. Tetapi, ia langsung tersenyum lega saat tangan Icha memeluk lehernya dari belakang. Ia melirik jam tangan, rupanya sudah jam 12 lebih 15 menit. Ia menghentikan aktifitasnya dan bersandar sebentar. Ia menikmati pelukan Icha yang mampu menghilangkan rasa capeknya bekerja.


"Makan dulu, yuk!" Ajak Icha melepaskan pelukannya dan beranjak ke balkon yang sudah tersedia meja dan dua kursi di sana. Marco sengaja memerintah Raymond untuk meletakkan meja kecil dan dua kursi yang akan dijadikan tempat makan siang ia dan Icha. Mereka bisa makan sambil menikmati hiruk pikuk kota Jakarta dari atas.


Icha sudah selesai menyiapkan bekal makan siang.

__ADS_1


"Udah, sayang... Ayo, duduk." Ajak Icha sekaligus menyendok nasi dan lauk-pauk ke piring Marco. Mata Marco berbinar senang.


"Ini ya rasanya dimasakin istri?" Pungkas Marco menggoda Icha. Gadis itu hanya memberikan senyuman termanisnya.


Mereka menikmati makan siang sambil bercerita dan sesekali saling menyuap. Hingga selesai dan Icha merapikan semua piring dan tempat makan.


"Besok mau dimasakin apa lagi?" Tanya Icha setelah membereskan semua yang ada di atas meja makan mini mereka.


"Ikan pindang... Sayurnya terserah kamu." Sahut Marco cepat. Icha mengangguk. Marco menggandeng tangan Icha mengajaknya ke sofa tamu.


"Ada yang mau aku bicarakan." Ucap Marco serius setelah mereka duduk berdampingan. Icha menyerong badan melihat Marco. Ia mengangguk siap mendengarkan apa yang mau Marco sampaikan.


"Dengar... Minggu depan kita menikah," Kalimat dari mulut Marco berhasil membuat Icha membelalakkan mata. "Aku dan kakek akan segera melamarmu dalam minggu ini," sambungnya tanpa peduli rasa kaget Icha rasakan. "Dan aku nggak mau terima penolakan dari kamu," Tegasnya lagi. "Cukup persiapkan diri kamu."


"Sa-sayang... " Icha tergagap bingung mau ngomong apa. Kalimat Marco sudah jelas mengultimatum tanpa boleh prtotes. "Kok mendadak?" Lanjutnya meminta penjelasan.


"Aku ingin kita segera menikah, agar tidak ada lagi yang mengganggu hubungan kita." Ia menjeda sedikit sambil menatap mata Icha. "Sampai sekarang Valencia belum mau menyerah. Bahkan daddy dan mommy pun sudah masuk dalam perangkapnya." Terang Marco sambil menggenggam tangan Icha. "Aku ingin kita segera menikah agar kamu menjadi tanggungjawabku sepenuhnya." Lanjut Marco serius." Ini juga nggak mendadak, sayang. Aku sudah sering bilang kalau aku akan segera menikahimu, kan?" Tanya Marco mengingatkan Icha tentang rencananya untuk menikahi gadis itu.


"Aku pikir kamu bercanda." Tandas Icha.


"Sayaaang... masa ngomong pernikahan itu bercanda." Kelit Marco cepat. "Setiap hari ketemu kamu, dekat sama kamu, peluk kamu, cium kamu... kamu pikir aku nggak tersiksa?" Sewot Marco sedikit kesal. Icha mengerutkan kening lucu mendengar kalimat Marco. "Lagian kita saling mencintai, nggak salah kan kita menikah?" Tanya Marco.


Icha kehilangan kata-kata, ia hanya bisa mengangguk membenarkan perkataan Marco.


"Kakek akan menemui orangtuamu terlebih dahulu." Pungkas Marco. Lagi-lagi Icha hanya mengangguk, membuat Marco gemas dengan mimik wajahnya. Antara bingung tapi tidak ingin menolak juga.


Cup.


Marco menempelkan bibirnya ke bibir Icha. Gadis itu tersentak dan mendelik kesal. Marco tertawa geli.


"Ingat... aku nggak terima penolakan. Mau nggak mau, kamu harus mau! Suka nggak suka, kamu harus suka! Setuju nggak setuju, kamu harus setuju! Terima nggak terima, kamu harus terima!"


Icha merengut kesal.


"Maksa... " sungut gadis cantik itu. Ia melipat kedua tangan di dada dan bersandar ke sandaran sofa dengan kesal.


"Ya udah.... Aku nikah sama Yumiko aja. Dari dulu dia tergila-gila lho sama aku." Pungkas Marco sambil melirik ke arah Icha. Sepertinya ia berhasil membuat Icha cemburu. Wajah gadis itu langsung berubah galak.


"Kalo nggak sama Valencia juga nggak apa-apa... Cantik dan seksi juga di.. awww...awww...awww, sayaaaang." Maka, Icha menyerang Marco secara membabi buta. Kesal dan cemburu menguasai hatinya. Seluruh badan Marco tak lepas dari pukulan dan cubitan tangan Icha.


Bukannya marah, malah Marco tertawa terbahak-bahak menggoda gadisnya.

__ADS_1


__ADS_2