Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Keputusan Valencia.


__ADS_3

"Jangan egois, Valencia. Jangan hanya pikirkan dirimu saja. Pikirkan juga bayimu." Suara Christo menggelegar dalam sebuah rumah besar dan mewah. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Semua orang sudah mulai terlelap di tempat peraduan, Christo masih beradu komentar dengan Riska dan Valencia yang menolak rencana pernikahan ia dan Rama.


"Buang sedikit saja egomu, Val. Kamu yang menggali lubang untuk menjebak orang lain, tapi akhirnya kamu yang jatuh sendiri dalam lubang jebakanmu itu. Lalu, kamu mau menyalahkan siapa??? Hah? Jawab!!!!" Kemarahan Christo sudah tidak bisa dibendung lagi. Riska yang awalnya ngotot membela Valencia pun ikut terdiam. Karena ia tahu jika ia membuka suara sedikit saja maka ia pasti akan terkena semprot sama seperti Valencia.


"Kamu seharusnya bersyukur karena Rama laki-laki baik dan bertanggung jawab. Jika tidak, aku tidak bisa membayangkan sangsi sosial yang akan kamu dapatkan. Jadi, bersyukurlah! Bukan malah kamu mempertahankan ego bodohmu itu." Semprot Christo geram. "Aku tidak mau tau, dalam minggu ini kau harus menikah dengan Rama. Kalau kau tetap mempertahankan sombongmu itu..." Christo menjeda ucapannya sambil menatap nyalang pada Valencia. dan juga Riska. "Kau boleh pergi dari rumah ini. Silahkan kau hidup dengan ego dan kebodohanmu. Mungkin dengan begitu baru kau bisa merasakan maksud baik papa." Valencia melebarkan mata tak percaya akan ucapan sang papa.


"Dan kau...." Tunjuknya pada Riska yang sudah sempat membuka mulut hendak protes. "Tugasmu memberi pengertian pada putri kesayanganmu itu. Jika tidak, kau juga boleh keluar dari rumah ini." Selama menikah dua puluh tahun, baru kali ini Riska melihat kemarahan Christo hingga kalimat yang ia yakin tidak akan keluar dari mulut suaminya pun hari ini telinganya mendengar. Ia ingin protes, namun ketika melihat wajah garang Christo, hati Riska pun menciut.


Tak ingin mendengar penolakan lagi dari Valencia, Christo masuk ke dalam ruang kerja tanpa pamit meninggalkan Valencia yang masih terus menangis.


"Sepertinya kali ini kamu nggak bisa membantah dan menolak keinginan papa." Lirih Riska pelan. "Kamu harus menikah dengan ayah dari bayi kamu." Sambungnya lagi. Mendengar itu Valencia menatap cepat ke arah Riska.


"Aku nggak kenal laki-laki itu, ma. Aku nggak menikah dengannya." Kekeh Valencia.


"Mama yakin, sebelum papa memaksamu menikah dengan Rama, pasti papa sudah mencari tahu terlebih dahulu tentang dia. Kalau dia orang jahat, nggak mungkin papa mau kamu menikah dengannya." Terang Riska mencoba memberi pengertian. "Apalagi Marco juga mendukungmu menikah dengan laki-laki itu."


"Jangan-jangan Marco sengaja menyuruhku menikah dengan laki-laki itu agar ia gampang membalas dendam padaku. Mama jangan terlalu mempercayainya." Bantah Valencia.


"Kamu lebih mengenal karakter Marco dengan baik, Val... Apa kamu yakin dia mampu membalas dendam padamu?" Tanya Riska tak percaya pada tuduhan Valecia. "Kalau dia mempunyai sifat pendendam maka sudah dari dulu ia menghancurkan kamu. Kamu tau kan bagaimana kejamnya ia pada pengkhianat dalam GT Corp?" Riska terus meyakinkan Valencia yang masih mempertahankan egonya.


"Tapi, ma... Si Rama itu miskin. Mama mau aku menikah dengan laki-laki miskin begitu?!" Suaranya geram Valencia mulai terdengar.

__ADS_1


"Sekarang jangan dulu mikiran kaya atau miskin. Kamu menikah untuk menjaga nama baik kita dan untuk bayi kamu ini. Kamu mau bayimu disebut anak haram?" Desak Riska. Valencia terdiam membenarkan ucapan sang ibu.


Sementara itu di ruang kerjanya, Christo mulai merasa tenang ketika tadi sejenak dada kirinya terasa nyeri bukan main. Namun, dengan cepat ia mengambil sekotak obat di laci meja kerja, mengambil sebiji langsung ditelan dengan air putih yang selalu tersedia di atas meja. Ia menenangkan diri sesaat hingga nyeri itu tidak terasa lagi.


Setelah dirasa nyaman, ia mengambil telepon genggam dan menekan nomor seseorang.


"Atur segera pernikahan Valencia dalam minggu ini." Perintahnya datar dan segera memutuskan hubungan telepon. Lalu, kembali menelepon seseorang.


"Marco, om ingin dalam minggu ini pernikahan tertutup Valencia dilaksanakan." Setelah mendapat jawaban, Christo menekan tombol off pada telepon selulernya. Ia menyandarkan punggung pada sandaran kursi, menarik napas panjang dan menutup mata. Semua kenangan masa kecil Valencia berseliweran dalam memorinya. Hingga ada satu titik penyesalan ketika ia tidak menyadari bahwa didikan Riska yang angkuh dan tamak termakan putri tunggalnya.


Putri kecinya tumbuh menjadi gadis cantik yang angkuh dan selalu menganggap remeh orang kecil. Berulang kali Christo menegurnya namun tak ditanggapi Valencia maupun Riska, hingga ia membiarkan Valencia hidup dalam lingkaran itu sambil terus berdoa agar putrinya segera tersandung jatuh dan akhirnya menyadari keangkuhan dan ketamakannnyalah yang akan merusak hidupnya.


"Ya Allah... kalau Rama jodoh yang engkau kirimkan untuk putri hamba, maka perluaskan jalan mereka." Gumamnya pelan. Ada setitik harapan dalam hati kecil Christo setelah menyebut Asma Allah. Ia pun mulai bisa tersenyum.


Tak terasa waktu terus berjalan. Kini, Christo, Riska dan valencia sudah berada di meja makan. Mereka sedang menikmati makan malam tanpa kata. Masing-masing menikmati makanan dengan suasana hati tak menentu.


"Val setuju untuk menikah dengan Rama, pah..." Valencia memberanikan diri membuka suara terlebih dahulu. "Asal dengan syarat..." Lanjut Valencia membuat Christo menatap tajam padanya.


"Apa syaratmu?" Tanya Christo datar sambil terus melanjutkan makan.


"Setelah menikah aku tetap ingin tinggal di sini bersama papa dan mama. Papa juga harus memberikan pekerjaan yang layak untuk Rama. Karena aku nggak mau setelah menjadi suamiku ia masih menjadi asisten Marco." Tegas Valencia. Riska hanya diam sambil melirik bergantian ke arah putri dan suaminya.

__ADS_1


Christo tersenyum sinis. Ia tak langsung menjawab persyaratan yang diajukan Valencia. Ia tetap menikmati makanan sampai habis lalu meneguk segelas penuh air putih, mengambil tisu dan menyeka sudut bibir.


Terlihat Valencia tersenyum senang dan melirik ke arah Riska. Melihat gelagat Christo, ia yakin papanya akan setuju dengan persyaratan yang ia minta.


"Setelah menikah... kamu bukan hak dan tanggung jawab papa dan mama lagi. Kamu sudah menjadi tanggung jawab suamimu, maka apa pun keputusan suamimu, itu yang harus kamu turuti." Imbuh Christo tenang. "Papa juga akan mendukung semua keputusan Rama nantinya. Jadi, kita lihat saja apakah Rama mau untuk tinggal di sini seperti keinginanmu atau ia akan memboyongmu ke rumah pribadinya. Itu keputusan mutlak Rama." Sambung Christo lalu berdiri dan hendak berlalu dari tempat itu meninggalkan Riska dan Valencia.


"Oh ya... dan satu lagi." Christo menghentikan langkah dan berbalik melihat Valencia. "Mengenai pekerjaan, seharusnya kamu bersyukur karena hanya dengan mengandalkan ijazah SMA ia diangkat menjadi asisten pribadi Marco di perusahaan sekaliber GT Corp. Padahal seharusnya posisi yang tepat untuk Rama adalah office boy. Kecuali...." Christo menjeda ucapannya. Wajah shock Valencia dan Riska langsung terlihat ketika mendengar kata office boy. "Kecuali kamu mau ia menjadi OB di perusahaan kita." Christo berbalik dan menghilang dari hadapan Valencia dan Riska.


"Gila... masa OB, ma. Masa aku menikah dengan seorang OB?" Dengan kesal ia membanting kasar sendok makan hingga terdengar bunyi selentingan antara piring dan sendok. "Papa kok tega sih, ma?" Sambungnya benar-benar kesal. "Apa kata teman-teman aku coba, ma... kalau sampai mereka tau aku dinikahi seorang OB." Suara geram Valencia jelas terdengar.


"Aku juga nggak mau ke rumahnya, mah... pasti kecil dan sumpek." Rengek Valencia.


"Kamu tenang saja... nanti mama yang akan bicara padanya. Kamu juga harus bisa mendesaknya untuk tetap tinggal di sini. Bila perlu kamu ancam dia." Bisik Riska pelan takut terdengar suaminya. "Kamu pikir mama juga sudi memiliki menantu seorang OB. Apa kata teman-teman sosialita mama?" Cibir Riska kesal. "Tapi, kamu tenang saja... kita akan mengaturnya setelah kalian sudah resmi menikah."


Dengan terpaksa, Valencia menghabiskan makanan yang sudah terasa hampa di lidah lalu ia bangun dan tanpa pamit masuk ke dalam kamar.


"Sial... sial... sial... kenapa nasib aku sesial ini sih?" Jeritnya kesal.


"Menjebak tapi malah aku yang terjebak.... dasar bodoh." Umpatnya pada diri sendiri.


Valencia hanya bisa mengeluh dan terduduk di samping tempat tidur. Ia menarik napas panjang ketika merasa sedikit kram pada perut bawah lalu ia mengelus perut buncitnya untuk mengurangi rasa sakit. Tingkat stres yang tinggi membuat Valencia merasa cepat lelah dan sangat mempengaruhi janin dalam kandungan.

__ADS_1


__ADS_2