
"Icha... " Wulan berlari kecil mengejar Icha yang hendak masuk ke dalam rumah. Ia sudah tak tahan karena gerah dan lengket di tubuhnya, disebabkan baju pengantin yang sudah dikenakan dari pagi tadi.
"Nih... hadiah dari aku dan Arin. Dipakai, ya!" Wulan menyerahkan satu bungkusan cantik tepat di depan Icha.
"Apa sih? Pake kado segala." Tukas Icha penasaran dengan isi bungkusannya.
"Ada deh... semoga suka dan bermanfaat, ya." Tanpa menunggu jawaban dari Icha, Wulan segera menghilang dari hadapan Icha, membuat istri Marco itu bengong sesaat.
"Sayang... kok bengong?" Marco menghampiri Icha yang sedang bingung melihat bungkusan tadi. "Aku cari kamu ternyata kamu di sini."
"Aku mau ke kamar. Gerah banget. Pengen mandi." Imbuh Icha. "udah nggak kuat. Pengen tidur." Tambahnya memelas. Hari ini memang sangat melelahkan bagi mereka berdua. Dari pagi digelarnya akad nikah, langsung dilanjutkan resepsi sampai malam. Jadi, tidak ada batas waktu bagi tamu untuk datang menghadiri resepsi.
Itu semua konsep yang disarankan Icha dengan maksud agar semua kesibukan hanya terjadi dalam satu hari. Esok hari dan seterusnya mereka bisa istrahat tanpa memikirkan segala ***** bengek pernikahan.
Ketika tamu sudah mulai pamit pulang dan hanya tinggal keluarga inti Icha dan Marco, Icha pamit untuk masuk menggantikan gaun pengantinnya. Gerah, lengket sudah begitu terasa di kulit mulusnya.
Tanpa basa basi, Marco langsung menggendong Icha ala bridal style.
"Awwww..." Pekik Icha kaget. Tangannya dengan spontan melingkar erat pada leher Marco. "Berat, sayang." Rengek Icha.
"Berat apanya? Lebih berat gaun kamu ini dari pada tubuh kamu." Ejek Marco.
"Enak aja." Icha memukul pelan dada Marco.
Sesampai di kamar, Marco menurunkan tubuh Icha di atas tempat tidur. Ia membuka sepatu, dasi dan hendak membuka kemeja.
"Kamu mau ngapain?" Tanya Icha heran karena melihat Marco membuka kancing kemeja di pergelangan tangannya.
"Menurut kamu?" Goda Marco dengan wajah mesumnya.
Icha memberengut kesal. Suaminya ini memang benar-benar telah berubah semenjak mereka merencanakan untuk menikah.
Icha turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Ia sudah tak tahan untuk mengguyurkan tubuhnya dengan air dingin agar rasa gerah dan lengket bisa terganti dengan rasa segar. Apalagi jika memikirkan tingkah Marco, bukan hanya gerah di badan, tetapi hatinya pun ikutan gerah.
Tak terasa Icha sudah 30 menit dalam kamar mandi. Namun, Marco merasa belum mendengar bunyi guyuran air sama sekali.
"Sayang... kamu ngapain? Udah setengah jam kamu di dalam lho." Teriak Marco kuatir akan keadaan Icha di dalam kamar mandi. "Cepat, keluar! Nggak baik berendam malam terlalu lama." Perintah Marco.
Tetap tak ada perkembangan dari dalam kamar mandi. Marco mulai kuatir.
"Sayaaaaang.... buka pintunya!" Ia menggedor pintu beberapa kali. "Hitungan ke 3 kamu nggak buka, aku dobrak, ya!" Ancam Marco sedikit panik. Belum juga ia mulai berhitung, perlahan pintu kamar mandi mulai terbuka. Icha muncul dengan masih menggunakan gaun pernikahannya. Marco melongo.
"Nggak bisa dibuka." Lirih Icha pelan. "Kancingnya susah aku bukanya." tambahnya lagi sambil menunjukkan resleting di punggung belakangnya dengan malu. Marco membuang napas lega. Rasa panik tadi sempat membuat ia kalang kabut.
Tanpa suara, ia membalikkan badan Icha, membuka pelan resleting gaun yang sangat pas ditubuhnya. Kulit putih mulus Icha mulai nampak. Marco menelan kasar salivanya. Ia terus menurunkan resleting sampai di batas pinggul.
Icha bukan hanya tertunduk malu. Namun, tubuhnya mulai terasa panas dingin. Terlebih ketika tangan Marco yang mulai perlahan melingkar di pinggangnya. Icha berusaha menahan gaun itu agar tidak terjatuh.
Cup....
__ADS_1
Marco mengecup pundak mulusnya. Icha menutup mata merasakan sensasi yang berbeda. Marco terus menempelkan bibirnya ke punggung Icha, bahkan ke seluruh bagian punggung. Icha meremang. Aliran darahnya terasa seakan-akan berhenti mendadak.
Marco memeluk Icha dari belakang. Ia terus menyerang dengan kecupan-kecupan kecil pada leher Icha.
"Aku menginginkanmu, sayang... "Desah Marco di telinga Icha. Ia memeluk erat Icha dengan napas naik turun. Sesuatu dalam dirinya memaksa ia untuk segera tuntaskan.
"A-aku mandi dulu." Icha berkilah. Ia perlu mengambil napas terlebih dahulu. Ini benar-benar hal baru baginya.
"Kita mandi berdua?" Tawar Marco membuat Icha menutup matanya takut membayangkan jika ia harus mandi berdua dengan Marco.
Icha bukan anak remaja yang belum paham soal hubungan suami istri. Itu bukan hal yang tabu lagi di jaman modern seperti sekarang ini. Akan tetapi, ini hal yang baru baginya. Belum pernah mengalami dalam hidup yang membuat ia gugup, bingung dan malunya bukan main.
"Sayang.... " Desah Marco. "Kita mandi bareng?" tambannya lagi.
Icha tidak menjawab. Namun, Marco menyadari kekalutan yang Icha rasakan. Ia tersenyum geli melihat istrinya gugup dan sedikit pucat.
"Ya udah... kamu mandi terlebih dahulu." Bisik Marco. Icha mengangguk cepat. Tanpa melihat Marco, ia langsung berlari pelan ke kamar mandi sambil memegang gaun agar tidak terjatuh.
Marco tertawa melihat tingkah istrinya. Ternyata, ia baru mengetahui jikalau perempuan yang baru saja dinikahinya itu masih polos dan lugu.
Marco membaringkan tubuh di tempat tidur. Bibirnya tidak lepas dari senyuman bahagia. Apakah malam ini akan menjadi malam penuh makna dalam hidupnya?
Ketika ia menggerakkan kaki tanpa sengaja menyentuh sesuatu di bawah. Marco bangun dari tidurnya dan mengambil bungkusan yang tadi di pegang Icha.
"Apa ini?" Gumamnya penasaran. Ia menoleh sebentar ke kamar mandi. "Ah... sepertinya dia akan lama." tambahnya bermonolog. Maka, dengan rasa penasaran ia membuka bungkusan misterius itu.
"Apa ini?" Marco mengangkat benda itu lebih tinggi agar ia bisa melihat bentuknya. "Wow... lingerie. Siapa yang memberikan ini?" Senyum usil Marco nampak di bibirnya. Ia membayangkan sesuatu yang membuat ia meremang sendiri. Ah, sial.
"Sayang... mandi dulu." Lirih Icha.
"Setelah mandi?" Umpan Marco bertanya.
"Tidur." Jawab Icha cepat.
Mendengar jawaban Icha, Marco semakin mempererat pelukannya. Ia menyerang leher Icha tanpa ampun.
"Awas kamu, ya." Geram Marco.
"Ampuuuuun, yang.. ampuuun." Icha tertawa menahan geli di lehernya. "Jangan dibuka! Kamu mandi dulu sana!" Usir Icha saat Marco hendak membuka tali bathrobe dipakai Icha.
Bukannya segera mandi, Marco menarik pinggang Icha dan menempel dekatnya. Mata Marco begitu sayu menahan gejolak dalam dirinya. Demi apapun, ia harus menuntaskan gejolak ini.
Icha menyadari dan sangat paham apa yang dirasakan Marco. Ia segera merangkul leher Marco dan mendekatkan wajahnya....
Cup...
Satu kecupan mendarat di bibir Marco.
"Mandi dulu! Kalo nggak... malam ini kita hanya boleh tidur tanpa berbuat apa-apa." Bisik Icha ke telinga Marco. Terdengar sangat seksi nan sensual.
__ADS_1
Marco tertawa kecil. Ia tahu istrinya tidak akan mengecewakannya. Ia mengecup bibir Icha sekilas dan segera ke kamar mandi.
"Tunggu aku... " Gumamnya pelan sambil memberikan sesuatu ke tangan Icha, sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Icha melihat apa yang ada di tangannya. Ia melototkan matanya.
"Apa ini?" Tanyanya heran. Ia membolak balik barang itu sambil berpikir kenapa bentuknya seperti ini. Ketika mengingat sesuatu, ia kembali melototkan mata.
"Ya ampuuun... ini pasti kerjaan dua perempuan itu." Ia menepuk keningnya lemah. "Masa harus pake ini sih?" Ia tidak bisa membayangkan apa jadinya jika ia mengenakan pakaian kurang bahan ini.
Icha melempar baju aneh itu ke atas tempat tidur. Ia cepat-cepat mengeringkan rambut dan memakai handbodi agar tubuhnya harum. Setelah itu, ia membuka lemari hendak mencari baju tidur untuk dipakai. Namun, ia melihat ke arah lingerie itu.
Kalo aku nggak pakai lingerie itu, pasti Marco akan kecewa. Tapi aku malu pake baju aneh kayak itu.
Icha terus berperang dengan dirinya sendiri, dilema antara malu atau menyenangkan suami.
Ya, udah deh... pakai aja. Kan dia udah jadi suami aku. Lagian dosa kalo aku buat dia kecewa.
Dengan mempertimbangkan sematang mungkin, ia memutuskan untuk memakai lingerie itu. Lalu, menutupnya lagi dengan bathrobe.
Jantungnya terasa mau copot ketika terdengar pintu kamar mandi terbuka.
Marco keluar dengan hanya menggunakan handuk yang menutupi area pinggang hingga ke lutut. Ia membasuh rambutnya dengan handuk kecil.
Segala gerak gerik Marco diperhatikan oleh Icha. Ia semakin terpesona pada sosok laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu. Apakah malam ini ia harus melepaskan mahkota yang ia jaga selama ini? Bukannya tidak rela, tetapi ia masih sangat malu untuk melakukan itu. Jangan-jangan Marco akan menertawainya karena kepolosannya soal itu. Karena, ia tidak tahu harus memulai seperti apa dan dari mana.
Cup.
"Kok bengong?" Saking kepikiran dengan malam pertama membuat Icha tidak menyadari jikalau Marco sudah berada di depannya.
"Kok nggak pakai baju?" Tanyanya polos. Marco tertawa usil. Ia menarik pinggang Icha mendekat.
"Katanya kita nggak tidur malam ini kalo aku mandi." Lirihnya pelan menggoda Icha. "Mana lingerie tadi? Kenapa belum pake?" sambungnya bertanya.
"Nggak ah... aku nggak suka. Aneh jadinya. Kesannya kayak aku perempuan nggak bener." Sungut Icha puar-pura kesal.
"Ck... Kamu itu istri aku. Pake lingerie di depan suami, bukan berarti kamu nggak benar. Malah, kamu menjadi istri yang luar biasa karena mau menyenangkan suami." Protes Marco tak menyukai kata-kata Icha.
"Tapi... aku nggak mau pake, yang... Nggak papa, kan?" Rengek Icha manja.
Marco tersenyum usil.
"Nggak papa... malah lebih bagus lagi. Supaya aku nggak capek ngebukanya." Sahut Marco senang.
Tanpa menunggu persetujuan Icha, Marco segera menarik tali bathrobe yang dipakai istrinya.
Deg....
"Sayang... ka-kamu..."
__ADS_1
Nah lho... kaget kan.😁