
Tengah malam Marco tiba di Jakarta dengan jet pribadinya. Ia selesaikan semua pekerjaan tanpa istrahat agar bisa cepat pulang. Ia segera ingin bertemu istrinya, memeluk dan menghirup bau harum tubuh wanita yang dicintainya.
Sampai di mansion, ia masuk ke dalam diikuti oleh Raymond yang membawa koper pakaian Marco.
"Kamu istrahat saja di sini. Besok pagi kita ke kantor bareng dari sini. Ini sudah terlalu larut." Perintah Marco. Raymond menunduk patuh. Ia mengantar koper Marco sampai di depan pintu kamar utama, lalu berbalik menuju kamar tamu yang biasa ia pakai kalau sedang menginap. Mata kantuk sudah tidak bisa ditolerir. Maklum saja, seharian ini Raymond cukup capek karena ia harus terbang ke Malaysia subuh tadi untuk membantu Denta mengurus pergantian nama ValCare, promosi dan pers conference soal perubahan itu karena Marco tidak ingin tampil dipublik. Lalu kembali lagi ke Indonesia bersama Marco malam tadi hingga tiba pukul 12 lebih 30 menit. Jadi, sebagai tangan kanan GT Corp Raymond yang selalu menggantikan Marco jika harus berhadapan dengan wartawan.
Marco membuka pelan pintu kamar tidurnya, menutup kembali tanpa suara dan mendekati ranjang tidur ia dan istrinya. Terlihat wajah cantik sedang terlelap dalam remang lampu tidur. Marco tersenyum bahagia melihat wajah damai itu. Ingin rasanya segera memeluk tubuh yang mulai sedikit gempal karena hamil. Namun, ia harus membersihkan diri dulu agar terhindar dari virus atau bakteri ketika dalam perjalanan tadi.
Marco segera masuk kamar mandi dan melakukan ritual mandinya. Ia berendam dengan air hangat untuk melemaskan otot-otot yang terasa kaku akibat kecapekan di negeri Jiran selama 3 hari ditambah lagi peristiwa keji yang dilakukan Valencia sehingga tubuhnya harus merasakan sakit akibat obat tidur yang dicampur obat perangsang.
Tiga puluh menit berendam di air hangat dengan ramuan aroma terapi yang menenangkan sudah cukup bagi Marco untuk merenggangkan otot-otonya. Ia segera memakai piyama dan naik ke atas tempat tidur, memeluk Icha dan mengecup bahunya. Rasa rindu yang teramat sangat membuatnya tak bisa tidur semalamam sewaktu di Malaysia. Ia hanya ingin pulang dan memeluk istri tercinta. Ia pun mengelus perut besar Icha, hingga tak berapa lama Marco tertidur nyenyak sambil mendekap Icha.
Sekitar pukul setengah lima pagi, Icha menggeliatkan badan. Ia agak terkejut karena merasa ada yang memeluknya. Ia berbalik perlahan dan langsung melihat wajah lelap sang suami, wajah yang sangat dirindukan tapi juga hatinya masih bertanya tentang foto yang dikirim Valencia. Antara percaya dan tak percaya, karena itu ia harus mengetahui kepastiannya dari Marco sendiri.
Dengan pelan Icha bangun dan mengambil wudhu lalu sholat. Ia mengeluarkan semua isi hatinya pada Tuhan. Ya, itulah karakter Marissa Lebrina. Ia sulit sekali bercerita atau berbagi masalah dengan orang lain. Ia selalu menyimpannya sendiri dalam hati dan mengadu pada Tuhan dalam doa.
Selesai sholat, seperti biasa Icha turun ke lantai bawah menuju ke dapur. Kebiasaannya memasak sudah dimaklumi para art. Malah Hartini dan Rossa yang bertugas memasak di dapur sangat senang dengan keberadaan Icha yang membantu meraka. Nyonya muda yang ramah dan merendah melekat pada diri Icha.
"Pagi, bumil..." Sapa Hartini yang susah terlebih dahulu berada di dapur. "Dedek bayinya sehat?" Tanya Hartini.
"Alhamdulillah... sehat, bi." Sahut Icha ramah. "Aku mau masak buat tuan Marco. Ada apa di kulkas, bi?" Tanya Icha.
"Tuan udah pulang? Kapan? Kok bibi nggak tau." Hartini memberondong dengan banyak pertanyaan.
"Semalam, bi. Nggak tau jam berapa, soalnya aku juga udah tidur." Sahut Icha sambil mengupas bawang. "Kayaknya tengah malam deh."
Seperti biasa, Icha tidak menutup jarak antar mereka. Saling bercerita, bersenda gurau, bahkan tak jarang Hartini dan Rossa menceritakan tentang keluarga mereka di kampung.
Hup!
Sementara asyik memasak sambil bercerita, tiba-tiba Icha dikagetkan dengan pelukan di pinggangnya. Siapa lagi kalau bukan Marco, suami datarnya yang kalau lagi kumat manjanya, bisa membuat Icha kalang kabut.
"Kok udah bangun?" Tanya Icha lembut.
Hartini dan Rossa sudah biasa melihat kemesraan tuan dan nyonya mereka. Marco tidak akan mengganggap ada orang di sekitar mereka jika ingin memeluk Icha. Ia harus mencari ketenangan di ceruk leher Icha.
"Aku mau peluk kamu, kamunya udah nggak ada." Rengek Marco manja. Hartini dan Rossa hanya bisa saling memandang dan tersenyum geli melihat tingkah tuan dingin mereka. Dua art itu sengaja terus sibuk memasak tanpa mempedulikan kehadiran Marco. Sebenarnya bisa saja mereka langsung keluar dari dapur, namun ternyata dua perempuan beda usia itu juga ingin menyaksikan kisah romantis dua insan itu.
"Ya udah... mandi dulu, ya. Aku masih harus masak ini." Tunjuk Icha pada potongan paha ayam di depannya.
__ADS_1
"Digoreng garing, ya... aku pengen makan yang kriuk-kriuk." Pinta Marco seperti seorang anak kecil pada ibunya. Spontan saja, Hartini dan Rossa tidak bisa menahan tawa mereka. Dengan sekuat tenaga mereka menutup mulut agar suara tawa tidak terdengar oleh Marco.
"Kenapa kalian? Mau kena pecat?" Dua art itu akhirnya ketahuan sedang menertawakan tingkah bocah seorang Marco. Laki-laki tampan itu membentak dengan suara serak khas baru bangun tidur.
"Huuuush... apa sih?" Lerai Icha. "Kenapa harus ancam begitu?" Icha mendelik matanya tak suka pada ancaman Marco. Walaupun Hartini dan Rossa tahu Marco tak serius pada ancamannya.
Marco semakin membenamkan wajah ke ceruk leher Icha.
"Mau peluk sampai kapan ini? Kamu nggak ngantor?" Celetuk Icha yang tak bebas bergerak karena dipeluk suaminya. Marco tak peduli. Ia terus menempel pada istrinya.
"aaaaaaahhhhhhh...." Terdengar suara teriakan seorang perempuan dari dalam kamar tamu. "Pergi kamu... kurang ngajar... kenapa kamu bisa tidur di sini?" Suara ribut itu semakin kuat terdengar. Marco segera melepaskan pelukannya dan berlari kecil ke arah suara itu. Icha, Hartini dan Rossa pun ikut berlari ke sana.
"Apa yang kalian lakukan?" Dengan kasar Marco membuka pintu kamar tamu dan betapa terkejutnya mereka melihat ranjang yang berantakan dengan bantal yang sudah berserakan di mana-mana. Lebih terkejut lagi ketika melihat Raymond dan Wulan berada dalam satu kamar dan Wulan juga sedang melilit tubuhnya dengan selimut tebal.
Icha menutup mulut tak percaya dengan apa yang dilihat. Hartini dan Rossa juga membelalakkan mata karena terkejut.
"Kenapa kalian bisa sekamar?" Tanya Marco garang membuat Raymond dan Wulan yang sempat terdiam karena kaget dan shock tersadar dan salah tingkah
"Maaf, tuan... semalam anda menyuruh saya untuk menginap, makanya saya tidur di sini karena memang selama ini saya selalu tidur di kamar ini." Jawab Raymond gugup. Wulan membelalakkan mata.
"Jadi, maksud kamu aku yang menyelinap ke sini?" Tanya Wulan tak terima. "Udah tiga hari aku nginap di sini dan selalu tidur di kamar ini." Beber Wulan lantang. "Kamu yang menyelinap masuk semalam, kan?"
"Cukup! Aku tidak mau tau, kalian berdua harus segera menikah." Ancam Marco serius. "Aku akan segera mengurus pernikahan kalian."
Semua yang menyaksikan hanya bisa diam dalam keterkejutan karena perintah Marco.
"Tapi, tuan... saya belum mau menikah." Ujar Wulan memelas. "Lagian kami tidak berbuat apa-apa, tuan. Kami benar-benar tersadar setelah bangun pagi tadi." Wulan masih berusaha menjelaskan agar Marco membatalkan rencana untuk menikahkan mereka.
"Icha... please. Aku nggak ngapa-ngapain kok. Lagian kamu tau kan udah 3 hari aku tidur di kamar ini." Kekeh Wulan meminta pengertian Icha. Namun, sahabatnya itu hanya terdiam dan melihat ke arah Marco. Wajah Marco sama sekali menunjukkan tak ingin dibantah. Icha menarik napas pelan. Ia menggeleng lemah ke arah Wulan.
"Cha... please!" Wulan mengatup kedua tangan memohon bantuan Icha.
"Tidak ada alasan. Kamu akan segera dinikahi Raymond." Tanpa menunggu protes Dari Raymond atau Wulan, Marco menggandeng tangan Icha dan menariknya pelan hendak menuju ke lantai dua di mana kamar mereka berada.
"Kalian berdua ngapain di sini?" Bentak Marco ketika berbalik dan melihat Hartini dan Rossa berdiri mematung. Tanpa ba-bi-bu, dua art itu segera berbalik badan dan berjalan cepat masuk ke dalam dapur.
Marco menggandeng tangan Icha menuju kamar mereka.
"Sayang... kasian Wulan. Masa kamu maksa nikahin mereka." Protes Icha setelah di kamar. Marco tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Raymond menyukai Wulan. Hanya saja dia belum mau menyatakan rasa sukanya sama sahabat kamu itu. Dari pada mereka main kucing-kucingan, lebih baik nikahkan saja." Sahut Marco sambil membuka bajunya.
"Kamu mau apa?" Tanya Icha curiga ketika melihat Marco berjalan ke arahnya dengan telanjang dada. Bukannya menjawab, Marco malah memberi senyum penuh arti. Namun, reaksi Icha berbeda seperti biasa. Ia menahan dada Marco dengan tatapan dingin.
"Ada yang mau kamu jelasin ke aku?" Tanya Icha tegas tanpa senyum. Marco mengerutkan kening. "Kalau nggak ada yang mau kamu ceritakan, lebih baik sekarang kamu mandi. Sudah waktunya ke perusahaan." Icha berbalik badan menuju kamar ganti untuk menyiapkan pakaian kerja suaminya.
Perubahan Icha membuat hati Marco merasa sakit. Ia tak suka melihat penolakan Icha. Segera ia mengejar Icha dan langsung memeluk istrinya dari belakang.
"Maaf... maaf..." Lirihnya pelan. "Jangan tolak aku, sayang. Aku nggak suka." Ucapnya jujur. Hatinya benar-benar tak terima ketika Icha menolaknya. Bukan karena cara Icha menolaknya namun lebih ke rasa takut akan kehilangan Icha. "Aku minta maaf." Lirihnya sendu.
Seperti biasa, hati Icha yang lemah lembut langsung luluh mendengar nada suara Marco yang sedih. Ia berbalik dan melihat mata Marco.
"Apa yang kamu lakukan dengan Valencia? Kamu menidurinya, kan?" Icha sengaja menuduh Marco. Ia ingin melihat reaksi suaminya.
"Meniduri?" Ulang Marco heran. Berarti Icha sudah mengetahui permasalahan selama ia di Malaysia. Tapi, siapa yang memberitahu Icha?
"Ka-kamu tau dari mana?" Tanya Marco gugup. Icha berbalik badan membuka lemari, memilih baju kerja Marco.
"Berarti benar kamu menidurinya." Lirih Icha langsung menuduh. "Aku punya banyak bukti. Kamu makan malam dengan mantan kamu itu terus melanjutkan ke hotel." Tandas Icha dingin tanpa melihat Marco. Ia terus sibuk memilih kemeja, jas lalu celana. dan juga dasi Marco.
Tubuh Marco mendadak gemetar. Tuduhan Icha membuat ia antara merasa bersalah tapi juga tidak karena ia tidak meniduri Valencia. Ia dijebak. Itu pun tidak terjadi karena Rano dan Denta yang bergerak cepat menolongnya.
Ia menarik pelan tangan Icha mendekat. Mata mereka saling tatap.
"Lihat mata aku." Gumam Marco pelan. "Apa menurut kamu aku akan melakukan hal sekeji itu?" Tanya Marco.
Icha tak bersuara namun ia berani menatap tajam mata Marco. Ia hanya ingin Marco jujur. Marco menutup mata dan menarik napas panjang, tak kuasa menatap mata Icha yang mulai sendu.
"Iya, aku salah. Aku tidak jujur padamu. Tapi, percayalah.. tidak ada yang terjadi." Marco mulai meyakinkan Icha. Ia menggenggam tangan Icha dan membawanya duduk pada sofa di dalam kamar mereka. "Dengarkan aku... Aku dijebak sama Valencia. Dia mengajakku makan siang. Aku pikir tidak ada salahnya jika aku makan siang bersamanya sekalian aku ingin bicara banyak tentang ValCare, karena selama ini dia yang paling tau keadaan perusahaan itu." Marco menjeda ucapannya. "Tapi, ternyata... saat aku lagi sibuk menyelesaikan pekerjaan, dia membayar pelayan restauran untuk menaruh obat perangsang sekalian obat tidur pada minumanku." Marco menarik napas sesaat. "Aku dengan segala bodoh meminum jus nanas pesanannya. Sampai akhirnya badanku seperti kepanasan, kepala terasa sakit, mata buram lalu aku tidak sadar apa-apa lagi. Valencia membayar beberapa preman untuk mengangkat tubuhku menuju hotel yang sudah ia booking sebelumnya." Icha mendengarkan cerita suaminya dengan seksama tanpa suara. "Untungnya Rano, anak buah Raymond di sana, melihat aku dan mengikuti mobil Valencia. Ia menyuruh beberapa anak buahnya datang untuk membawa aku pergi saat Valencia sedang mandi. Rano juga memerintahkan salah satu anak buahnya menggantikan peran aku di ranjang. Maka, malam itu aku bisa kembali ke hotel tempat aku menginap." Marco berhenti bicara dan menatap mata Icha penuh harap. "Kamu percayakan sama aku? Atau kalau kamu tidak percaya, kamu boleh tanya Raymond. Atau aku telepon Rano sekarang supaya kamu bisa menanyakan langsung padanya." Ujar Marco panik karena Icha sama sekali tidak bersuara.
"Apa yang terjadi dengan Valencia malam itu?" Tanya Icha tiba-tiba.
"Yaaa... aku nggak tau. Mungkin dia bersenang-senang dengan anak buah Rano itu." Jawab Marco cepat. Lagi-lagi Icha terdiam. "Ck... ayolah, sayang. Demi Tuhan, aku bicara jujur."
"Iya, aku percaya." Ujar Icha mulai tersenyum. "Aku percaya suamiku tidak akan mengkhianati aku. Aku percaya suamiku juga tidak akan tergoda dan jatuh pada pesona mantan tunangannya." Betapa bahagia hati Marco mendengar ucapan Icha. Ia langsung berlutut di hadapan Icha dan mencium sayang perut buncit istrinya.
"Makasih, sayang... mau percaya padaku. Aku berjanji tidak akan mengkhianati kamu dan anak-anak kita kelak." Janji Marco. Icha tersenyum dan mengecup kening Marco.
"Aku percaya pada janjimu." Tutur Icha.
__ADS_1