
Marco, Icha, mr. LG, Raymond, Wulan, Berry Dan Arin sudah bersiap untuk kembali ke Jakarta. Kali ini Marco memutuskan untuk mengendarai mobil dari pada menggunakan pesawat. Ia ingin menikmati perjalanan lebih lama dengan Icha. Wulan mengikuti mobil Icha dan Marco yang akan disetir oleh Raymond. Sedangkan Arin mengikuti mobil mr. LG dan Berry. Semalam sudah diatur dan disepakati tanpa ada protes. Walaupun Arin ingin bisa bersama dua sahabatnya.
Mereka semua menginap di hotel x, kecuali Icha dan Wulan yang bermalam di rumah masing-masing. Arin juga menginap di rumah Wulan. Pagi-pagi sekali Marco ke rumah Icha untuk sarapan dan sekalian pamit pada orangtua Icha.
Saat ini semua sudah berkumpul di hotel menunggu kedatangan dua sejoli itu. Sedangkan Wulan sudah terlebih dahulu dijemput Raymond, sebelum menjemput Marco dan Icha.
Icha memeluk papa Rendra dan mama Tanti dengan erat. Ada senyuman bahagia di wajah mereka, terlebih Icha. Tidak ada lagi wajah sendu seperti 3 minggu belakangan.
"Jaga diri baik-baik di sana. Ingat sholat." Pesan mama Tanti.
"Papa menunggu kamu dan keluarga datang untuk melamar Icha secepatnya." Papar papa Rendra saat memeluk calon menantunya. Marco tertawa kecil. Ia mengangguk pasti.
"Pasti, om... Saya akan datang untuk melamar Icha secepatnya." Jawab Marco.
"Memangnya belum bisa panggil 'papa' ya?" Sindir papa Rendra. "Ya sudahlah... cepatlah menikah supaya bisa panggil saya 'papa'." lanjutnya mencibir Marco. Laki-laki tampan itu tertawa dan menggarukkan tengkuknya yang tidak gatal.
Icha dan mama Tanti ikut tertawa mendengar ocehan dua laki-laki beda usia itu.
"Ya udah... Icha pamit ya, pa... ma... " Pamit Icha setelah drama perpisahan ibu dan anak yang cukup memakan waktu lama. Marco dan papa Rendra hanya melihat dan tersenyum saja.
"Nak Marco... mama titip Icha, ya." Pesan mama Tanti dengan mata berkaca-kaca. Marco langsung memeluk calon mama mertuanya.
"Iya, tante... saya janji akan menjaga Icha." ucapnya meyakinkan mama dari kekasihnya itu.
Marco dan Icha pun masuk ke dalam mobil diikuti Raymond dan wulan. Perlahan-lahan mobil meninggalkan pekarangan rumah sederhana nan asri itu. Icha yang merasa sedih harus meninggalkan orangtuanya langsung berhambur ke pelukan Marco.
Marco memeluk kekasihnya dengan senang hati, membiarkan Icha menangis dalam dekapannya. Ia mengecup kepala Icha dan mengelus punggungnya lembut. Wulan dan Raymond hanya melirik melalui spion depan. So sweeeet. Pekik Wulan dalam hati. Raymond hanya tersenyum melihat tuan dan calon nona mudanya.
"Sehari kalo nggak nangis bukan Marisa Lebrina namanya." Marco menggoda Icha yang sudah tenang tetapi masih nyaman di pelukan Marco. Tanpa suara Icha menggigit pelan dada Marco.
"Awww... sayang." Pekik Marco kesakitan. Ia tertawa dan menarik gemas hidung Icha. "Udah berani ya sekarang." Goda Marco lagi. Icha tersenyum dan membenamkan wajahnya dalam pelukan Marco.
Mobil pun memasuki halaman luas hotel x. Kakek menyambut kedatangan cucu dan calon cucu mantunya dengan senyum sumringah.
"Kakek sudah karatan di sini menunggu kalian." celetuk kakek menggoda dua anak muda itu. Icha tertawa dan memeluk kakek. Kakek pun menyambut cucu mantunya dengan pelukan hangat.
"Kalian sudah sarapan?" Tanya kakek pada Icha dan Marco.
"Sudah, kek. Tadi sarapan di rumah Marissa." sahut Marco.
Berry dan Raymond mulai sibuk mengangkat barang masuk ke dalam bagasi mobil. Tak terkecuali Arin. Ia mengangkat tas kecilnya hendak memasukkan dalam mobil.
"Arin... " Ia menoleh ketika namanya dipanggil seseorang.
"Kak Jordan." Ternyata Jordan juga hendak balik ke Jakarta. Ia menginap di hotel yang sama dengan kakek dan lainnya.
"Kakak nginap di sini juga?" Tanya Arin yang terlihat senang melihat kehadiran Jordan. Laki-laki itu memganggukkan kepala.
__ADS_1
"Kamu nginap di sini?" Jordan balik bertanya.
"Nggak, kak. Aku nginap di rumah Wulan. Tuan Marco dan kakeknya menginap di sini." terang Arin. Gadis manis itu hendak menaruh tas kecilnya di bagasi.
"Semua mau balik ke Jakarta?" Tanya Jordan karena melihat 2 asisten kepercayaan GT Corp sedang memasukkan koper pakaian ke dalam bagasi mobil.
"Iya, kak. Kita mau balik Jakarta." Sahut Arin. Ia melihat ke lobi dalam, kakek dan tuan Marco masih berbincang dengan manajer hotel. Icha berdiri di samping Marco yang menggenggam tangannya mesra. Wulan sedang sibuk dengan gawainya.
"Kamu sama siapa?" tanya Marco ingin tahu. Arin memasang wajah memelas.
"Sama mr. LG dan asistennya. Wulan sama Icha semobil." Jawab Arin sedikit manyun. Ia membayangkan akan menjadi ikan kering semobil dengan mr. LG nanti. Rasa segan pada beliau pasti akan membuat Icha diam seribu bahasa.
"Ya udah... kamu ikut mobil saya aja. Saya sendirian. Nggak enak juga jalan jauh tapi nggak ada teman ngobrol." Tawaran Jordan seketika membuat Arin bersorak senang.
"Serius, kak?" Tanyanya tidak percaya.
Jordan mengangguk kepalanya cepat.
"Ya sudah, nanti saya bicara sama mr. LG agar kamu semobil sama saya aja." sambung Marco sebelum akhirnya masuk ke dalam lobi untuk menemui kakek. Kebetulan kakek dan Marco sedang berjalan hendak keluar lobi.
"Selamat pagi, mr. LG. " Sapa Jordan ramah langsung mengulurkan tangannya. Dengan tersenyum ramah kakek menjabat tangan Jordan. Sedangkan Marco, ketika melihat Jordan berjalan ke arah mereka, ia langsung memeluk pinggang Icha dengan posesif. Icha tersenyum lucu melihat sikap Marco.
"Saya Jordan Rafael, tuan... dari ** group." Ia langsung memperkenalkan diri. Terlihat mr. LG mengecilkan mata mencoba mengingat nama yang tidak asing di telinganya. Makhlumlah, ia sudah berumur dan terlalu banyak pebisnis yang ia kenal tetapi lupa nama-nama mereka. Tetapi tentunya mereka tidak melupakan beliau.
"Ooh... Tuan Rafael Pratama?" Sahut Marco dengan sebuah pertanyaan. Icha hanya menyimak dan tetap setia di samping kekasihnya. Pelukan Marco di pinggangnya membuat ia tidak leluasa bergerak.
"Ya, tuan. Beliau ayah saya." Sahut Jordan ramah melihat ke arah Marco. Matanya sempat melirik ke tangan kiri Marco yang memeluk pinggang Icha dengan posesif.
"Benar, tuan." Jordan menjawab dengan sedikit membungkukkan kepalanya.
"Begini, tuan... saya mau meminta ijin untuk Arin boleh ikut mobil saya ke Jakarta." pintanya sopan.
"Oh... kamu kenal Arin?" timpal kakek Sedikit heran.
"Iya, tuan... Arin dan Icha adik junior saya waktu sekolah. Dan sekarang Arin adalah karyawan saya di perusahaan." sahut Jordan lugas. Sepintas ia melirik ke arah Icha. Marco tetap posesif memeluk pinggang Icha.
"Oooh... sudah kenal calon cucu mantu saya juga." Seloroh kakek dengan senyum lebar. " Boleh... boleh.. silahkan. Arin boleh ikut kamu. Saya percayakan Arin sama kamu." Kata kakek mengijinkan Arin ikut mobil Jordan pulang ke Jakarta.
"Terimakasih, tuan." Jordan membungkukkan badan mengucapkan terimakasih. Ia sedikit terpukau dengan keramahan pebisnis hebat, mr LG. Namanya sangat disegani di kalangan pebisnis tetapi tidak membuat orang tua itu menjadi pongah dan sombong.
"Salam buat Rafael. Sudah lama saya tidak bertemu dengannya." Ucap kakek sebelum berjalan ke luar lobi. "Dan kamu... jadilah pebisnis muda yang rajin dan jujur." Nasehat kakek sambil menepuk pelan pundak Jordan. Lagi-lagi Jordan membungkuk hormat pada orangtua hebat itu.
"Kak... titip Arin, ya." Ucap Icha sebelum mengikuti langkah kaki Marco ke luar lobi. Jordan hanya mengangguk dan melihat punggung Icha menjauh. Ia menarik napas panjang agar sesak di dadanya sedikit lega.
Rasa cinta untuk gadis itu masih terasa kuat mengikat hatinya. Tetapi, ia harus bisa melepaskan ikatan rasa itu karena Icha sudah bahagia dengan laki-laki pilihannya. Itu sangat terlihat dari wajah gadis ayu itu.
Mereka naik ke mobil masing-masing dan mulai perlahan meninggalkan halaman hotel. Begitu juga Arin dan Jordan. Senyum sumringah terlihat di wajahnya. Bisa berdua dengan pujaan hati dalam waktu yang lama adalah impian Arin. Walaupun ia sedikit curiga jikalau Jordan mempunyai rasa pada Icha, sahabatnya. Terlihat dari cara bicara dan tatapan Jordan malam itu
__ADS_1
"Kamu kedingan? Mau dimati'in aja ACnya?" Tanya Jordan pada Arin ketika melihat gadis hitam manis itu memeluk lengan dan mengusap-usapnya pelan.
Saking senangnya akan semobil dengan Jordan Sampai ia lupa memindahkan tasnya ke bagasi mobil Jordan. Alhasil, tas yang berisi jaket terbawa mobil kakek.
"Nggak usah, kak... nggak terlalu dingin kok." sahut Arin cepat. Jordan hanya menurunkan sedikit suhu AC.
"Tas kamu lupa di mobil mr. LG tadi, ya?" Tanya Jordan melihat sekilas ke arah Arin.
"Iya, kak... jaket ku di dalam tas itu." sahutnya memelas.
Dengan tetap menyetir Marco membuka jaket rajutan yang dipakainya dan memberikan pada Arin.
"Nih... kamu pake aja. Biar nggak masuk angin." Jordan memberi jaket pada Arin tanpa melihat ke arah Arin. Ia sibuk menyetir dan melihat ke jalan depan.
"Lho... nggak usah, kak. Kakak pakai aja. Nanti kakak masuk angin." Tolak Arin merasa tak enak hati.
"Kamu yang lebih membutuhkan." timpal Jordan. "Ayo, dipakai." Arin mengambil jaket itu dengan ragu. Harum parfum mahal langsung menyeruak masuk dalam indera penciumannya. Ia segera memakai jaket berwarna hitam itu. Walau sedikit kebesaran, tetapi lumayan mengurangi rasa dingin di tubuh.
Sedangkan di mobil Marco...
Wulan menekuk wajahnya karena kesal menjadi obat nyamuk dua manusia yang duduk di kursi penumpang. Marco suka sekali menggoda Icha, membuat gadis itu merengek manja sepanjang perjalanan. Wulan baru melihat dengan mata kepala sendiri kalau tuan Marco yang dikenal ramah tapi kejam itu bisa berlaku usil juga. Mungkin sifat aslinya akan keluar ketika ia bersama orang-orang tertentu.
Setelah capek bersenda gurau, Icha menyandarkan kepala pada dada Marco. Ia menutup mata.
"Sayang... " Panggil Marco pelan.
"hmm... " Icha hanya berdehem tanpa membuka mata.
"Kamu masuk kantor lagi, ya." Imbuh Marco sambil mengelus lembut rambut Icha. Mendengar itu spontan Icha menjauhkan kepalanya dari dada Marco dan menatap Marco sengit.
"Kamu udah pecat aku. Aku ingetin kamu, kalo kamu lupa." Ketus Icha pada Marco. Pria tampan itu malah tertawa lucu melihat bibir manyun Icha.
"Kondisikan bibirnya. Mau aku cium?" Bisik Marco mengancam Icha. Gadis itu membelakangi Marco. Ia menyandarkan kepalanya pada pintu mobil.
"Hei... dengerin aku dulu. Biar aku jelasin yang sebenarnya." Ucap Marco lembut. Ia menarik pelan tangan Icha agar mau melihatnya. Icha tetap bergeming.
"Sayang... ayo dong. Nanti kamu salah paham terus sama aku." Marco merayu kekasihnya agar mau mendengarkan penjelasan tentang surat pemecatan itu. Ia merangkul pundak Icha dan membawanya dalam pelukan.
"Dengar... Konsekuensi setiap karyawan GT Corp, jikalau dalam 3 hari absen tanpa keterangan apa-apa, maka perusahaan akan langsung melayangkan surat pemecatan. Sudah ada bagian yang mengurus itu. Semua surat sudah ada tanda tangan elektrik pimpinan. Jadi, ketika surat pemecatan keluar, aku nggak perlu repot-repot membubuhkan tanda tanganku lagi." Jelas Marco. Ia mengelus lembut punggung Icha, agar gadisnya itu bisa tenang dan mau mendengarkan penjelasannya.
"Aku lupa soal konsekuensi itu ketika kamu menghilang. Pikiranku hanya tentang bagaimana caranya bertemu kamu dan menjelaskan semuanya." lanjutnya menjelaskan. "Apa kamu pikir aku tega menandatangani surat pemecatan kamu...hmmm?" Tanya Marco sambil menundukkan kepala melihat Icha. Ia mengecup sayang kening Icha. Ia hanya terdiam mendengar penjelasan Marco.
"Kemarin surat pembatalan pemecatan sudah keluar. Kamu bisa aktif bekerja lagi." Icha mengangkat kepala menatap Marco.
"Tapi aku malu. Aku yang menghilang sendiri tanpa sebab tiba-tiba muncul di kantor dan aktif lagi sebagai karyawan." Kilah Icha. "Apa kata karyawan yang lain? Aku udah kayak pemilik perusahaan aja." Icha mencibir dirinya sendiri. Ia bersandar di bahu Marco.
Mendengar cibiran Icha, Marco tertawa. Ia melingkarkan tangannya ke pinggang Icha.
__ADS_1
"Sebentar lagi juga kamu akan jadi nyonya pemilik perusahaan GT Corp, otomatis kamu juga pemiliknya. Karena apa yang aku punya, itu juga punya kamu." Tegas Marco. "Besok pagi masuk kantor seperti biasa." Perintah Marco. "Aku tunggu." Bisiknya tepat di telinga Icha dan menatapnya mesra.
Icha tersipu malu. Ia mengangguk dalam pelukan kekasih hati.