Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Pergi Sebentar.


__ADS_3

Marco terbangun tepat pukul 6 pagi. Sudah terang ternyata. Tangannya meraba-raba mencari keberadaan Icha. Namun, ia tak ada. Di mana dia? Pikir Marco. Ia bangun dari tempat tidur dan mengambil gelas di atas nakas. Kosong. Kenapa Icha lupa menaruh air?


Ia keluar kamar dan menuruni anak tangga menuju dapur. Suasana sepi. Hanya bunyi masakan di dapur. Marco membuka kulkas, mengambir air kemasan dan meneguknya hingga tandas.


"Di mana Marissa, bi?" Tanya Marco dengan suara serak khas orang bangun tidur. Hartini menggeleng.


"Bibi nggak tau, tuan." Sahut Hartini. "Pagi ini nona belum ke dapur." Sambungnya hormat.


Marco merengutkan kening. Ia berjalan terus ke belakang menuju kolam renang. Kakek sedang asyik berjalan pagi.


"Pagi, kek..." Sapa Marco. "Kakek melihat Marissa?" Tanya Marco cepat.


Kakek tidak langsung menjawab. Ia duduk beristrahat sejenak, mengambil gelas berisi jus jeruk dan meneguk hingga setengah.


"Masih mencari istrimu?" Tanya kakek cuek. Ia tak sudi melihat Marco. Matanya terus mengarah ke depan. "Untuk apa mencari Marissa? Toh, dia sudah membuatmu marah. Malah hampir membunuh ibumu, kan? Sudahlah... jangan mencarinya lagi. Mungkin dia sudah pergi." Sambung kakek santai. Kembali ia meneguk jus jeruknya. "Bangunkan mommymu. Suruh dia menyiapkan sarapan dan semua keperluanmu untuk bekerja." Sindir kakek lagi.


Marco terdiam. Namun, hatinya seperti merasa ketakutan. Entah apa itu. Ia tak mampu membalas perkataan kakek. Ia berbalik dan masuk ke dalam mansion dengan perasaan tak menentu.


"Sayang... Ini mommy siapkan sarapan untuk kamu." Suara Sania mengagetkan Marco. "Kamu mandi, gih! Udah telat, nih. Nanti mommy siapkan pakaian kerja kamu." Marco masih terdiam. Ia memandamg tak percaya pada Sania. Seumur hidupnya, baru kali ini ia melihat Sania mau masuk dapur dan memasak untuknya. Marco mengarahkan pandangan ke dapur, seperti ada yang hilang di sana.


"Kamu nyari apa, sayang?" Tanya Sania lembut.


"Di mana Marissa, mom?" Marco balik bertanya. Sania memutar bola matanya malas.


"Untuk apa mencari perempuan munafik itu lagi?" Sergah Sania. "Baguslah kalau dia tau diri dan segera angkat kaki dari rumah ini." Sambungnya tak suka. "Atau kamu mau dia benar-benar membunuh mommy baru kamu percaya kalau dia itu perempuan munafik?" Rajuk Sania mulai terisak lagi. Marco hanya melihat mommy tanpa bereaksi apa-apa. Ia dilema antara ibu kandung dan istrinya.


Tanpa suara, ia menaiki anak tangga menuju kamar. Ia harus segera mandi untuk menyegarkan otaknya yang terasa sakit.


Selesai mandi, Marco sedikit tenang. Tubuh dan otaknya terasa sedikit segar. Ia ke kamar ganti dan sedikit kaget melihat pakaian kerjanya sudah tersedia lengkap dengan dasi dan sepatu yang sudah disemir mengkilap. Ia berlari kecil ke laur ruang ganti.


"Sayaaaang..." Teriaknya memanggil Icha. Tak ada sahutan. Marco menggelengkan kepala seperti teringat sesuatu, sebelum akhirnya ia menyadari kalau ia hanya halu akan kehadiran Icha.


Marco kembali ke ruang ganti, memakai pakaian kerjanya. Setelah bersiap, ia keluar kamar menuruni anak tangga menuju ruang makan.


"Kamu udah selesai bersiap, nak?" Tanya mommy. Perempuan paruh baya itu mengambil piring, mengisi nasi dan beberapa lauk pauk. Hari ini ia benar-benar menunjukkan diri sebagai ibu yang mau melayani semua kebutuhan anaknya.


"Cukup, mom." Marco memgambil piring itu dan mulai menyantapnya. Ia melihat kakek menikmati makanannya dengan tenang.


"Kek..." Panggil Marco pelan. Kakek melihat Marco tanpa suara.


"hmmm...." kakek hanya berdeham.


"Apa Marissa memberitahu kakek kemana ia pergi?" Tanya Marco penasaran.


"Sudahlah, sayang... nggak usah lagi kamu mikirin perempuan munafik itu." Sanggah mommy cepat.


"hmmm... betul. Sudah dengar kata mommy kamu?" Kakek membenarkan ucapan Sania namun berbeda nada.


"Tidak perlu mencari Marissa lagi. Sekarang sudah ada Sania yang akan mengurus kamu." Lanjut kakek tenang, namun Marco tahu nada bicara kakek berbeda dari biasanya. "Atau mungkin kamu akan mencari wanita lain untuk menjadi istri Marco, Sania?" Tanya kakek tiba-tiba membuat Marco tersentak.


"Kalau ayah mengijinkan pasti aku akan menemui Valencia untuk membicarakan tentang hubungan mereka. Sampai sekarang Valencia masih menunggu kamu lho." Sania yang tidak peka pada nada suara kakek mengira mertuanya itu sudah rela melepaskan Icha.


"Yaaaa... itu semua terserah Marco. Toh dia yang menikah, dia yang menjalani rumah tangga, dia juga tau mana perempuan baik dan tidak. Kecuali, kalau memang hatinya sudah tertutup." Seloroh kakek santai. "Aku sudah selesai." Sambung kakek bangun dari duduknya dan pergi begitu saja meninggalkan Marco yang masih bingung dengan keadaan. Ucapan kakek seperti menampar dirinya.

__ADS_1


"Tuh... dengarkan, sayang. Kakek sudah mulai terbuka hatinya untuk kamu dan Valencia." Seru Sania senang.


Marco membanting sendok dan garpu membuat Sania tersentak kaget.


"Aku tidak akan pernah menikah dengan Valencia atau siapa pun. Istriku hanya Marissa Lebrina." Tegasnya dan pergi begitu saja.


Sania mendumel kesal. Ia mengira Marco sudah membenci perempuan yang dibencinya itu.


"Mommy akan terus membuat kamu membenci perempuan itu. Lihat saja nanti!" Ketusnya dalam hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Flash back


"Kek..."


Kakek yang sedang di ruang kerjanya terkejut mendengar suara Marissa di luar pintu ruang kerjanya. Ia sangat mengenal suara itu. Ia segera bangun membuka pintu. Padahal, waktu sudah menunjukkan pukul satu malam. Icha lama berdiam diri di kebun bunga sebelum memutuskan menemui kakek.


"Marissa..." Gumam kakek heran. "Mari masuk, nak." Icha masuk dan duduk di sofa. Kakek melihat sembab wajah cucu mantu kesayangannya merasa iba.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya kakek lembut. Tak kuasa menahan tangis, Icha terisak di depan kakek. Setelah tenang, Icha mulai bercerita kronologis kejadian sore tadi. Ia pun bercerita tentang penamparan yang diterimanya dari Sania hingga ujung bibirnya sobek. Namun, ia menutupinya dari Marco karena tak ingin Marco membenci ibunya.


"Kakek percaya kan padaku? Aku tidak mungkin melakukan hal bodoh itu, kek." Icha terisak.


"Kakek percaya padamu, nak. Kakek tau, pasti ini ulah Sania." Geram kakek. "Kakek sangat mengetahui karakter perempuan ular itu." Lanjutnya jengkel.


"Kek... aku ingin menyendiri dulu, boleh? Aku ingin pergi sebentar saja dari mansion ini hanya untuk menenangkan diri dulu." Ia meminta ijin pada kakek untuk pergi. "Aku nggak akan ninggalin Marco, kek. Aku mencintainya. Kecuali..." Icha kembali terisak. "Kecuali, kalau Marco memang ingin melepaskan aku." Lanjut Icha dengan airmata deras mengalir.


"Ya.... memang sebaiknya kamu pergi dulu." Ujar kakek. "Tapi, kamu tetap dalam pantauan kakek. Berry akan mengantarmu ke suatu tempat yang tidak akan diketahui oleh siapa-siapa, Marco sekali pun." Sambung kakek serius. Icha setuju usulan kakek.


Icha mengeluarkan sesuatu dari saku baju cardigan rajutannya.


"Kek.... ini kotak perhiasan batu zafir. Kakek simpan aja dulu." Ucap Icha pelan. "Aku takut diambil mommy. Karena salah satu faktor yang membuat mommy membenciku adalah perhiasan ini." Jujur Icha pada kakek. Laki-laki uzur itu menerima dengan sedih.


"Ya, kakek akan menyimpannya hanya untuk kamu. Sania tidak pantas mendapatkan barang berharga ini." Kakek memasukkan kotak itu ke dalam saku jaketnya. Lalu, ia mengambil telepon genggamnya dan mencari nama seseorang.


"Berry, antarkan Marissa ke villaku di puncak." Kakek menutup panggilan setelah mendengar jawaban dari seberang.


"Jangan kuatir. Kamu akan aman di sana. Itu Villa yang kakek baru beli untuk hadiah pernikahan kalian. Namun, kakek belum memberinya karena sebenarnya masih menunggu hari baik saat Marco ulang tahun bulan depan." Jelas kakek agar Icha tak kuatir. "Kamu akan ditemani Wulan di sana." Mendengar nama Wulan, Icha senang bukan main. Setidaknya, ia mempunyai kawan di tempat sepi seperti itu.


"Makasih, kek..." Icha memeluk kakek.


"Ya... sama-sama, nak. Kamu harus selalu berbahagia." Kakek memegang kepala Icha dan mengucapkan berkat untuknya. "Pergilah. Berry sudah menunggu di luar." Sekali lagi Icha memeluk kakek dan mengucapkan terimakasih.


Ia segera keluar dan menuju parkiran. Sudah ada Berry yang menunggu. Sebelum masuk dalam mobil, Icha melihat ke atas balkon kamarnya dan marco.


Semoga semuanya akan terbuka dan kita bisa bersama, sayang. Maaf, aku pergi.


Berry langsung membawa Icha keluar dari mansion.


"Jangan menangis lagi, nona. Percayalah, cinta nona akan membawa tuan Marco kembali pada nona." Berry menguatkan Icha. Wanita itu tersenyum dalam tangis.


"Berry... kita mau ke mana ini?" Tanya Icha karena ia melihat Berry memasuki kawasan kost yang dulu ia tempati bersama Wulan. Berry tersenyum.

__ADS_1


"Menjemput sahabat nona supaya bisa menemani nona di Villa." Sahut Berry.


Dari jauh, Icha sudah melihat Wulan sedang berdiri memegang kopernya. Mobil berhenti, Icha pun langsung keluar dan menghambur dalam pelukan Sania. Berry hanya menggelengkan kepala. Ia mengambil koper Wulan dan menaruh dalam bagasi belakang.


"Ichaaaaaa...." Wulan memeluk sahabatnya erat. Mereka masih bernostalgia tanpa peduli Berry yang sudah menunggu di dalam mobil.


"Nona-nona... kalian bisa melanjutkan pelukannya di dalam mobil." Goda Berry. Icha dan Wulan saling pandang dan tersenyum malu. Mereka bergegas masuk dalam mobil.


"Berry... nanti pekerjaan Wulan di GT Corp gimana?" Tanya Icha sedih.


"Nona tenang saja. Besok sudah ada orang suruhan saya mengirim surat pengunduran diri." Sahut Berry sambil terus fokus pada jalanan.


"Yaaa... berarti nanti Wulan nggak bisa kerja di sana lagi, ya?" Icha semakin bersedih. Karena ulahnya Wulan pun harus meninggalkan pekerjaannya.


Berry tertawa kecil.


"Perusahaan itu milik suami anda, nona. Anda bisa masukkan kembali sahabat anda jika anda mau." Sahut Berry. Icha tak menjawab. Ia hanya terdiam dengan wajah sedih.


"Sudah... sudah... jangan sedih lagi. Kita bisa mikirin itu nanti. Yang penting malam ini kita sampai di villa dulu." Wulan menguatkan Icha.


"Anda jangan kuatir, nona. Tuan Marco tidak bisa hidup tanpa anda. Setelah tuan mengetahui kebenarannya, ia akan mencari anda dan mengajak anda kembali. Percayalah." Seloroh Berry meyakinkan Icha. "Tuan hanya perlu introspeksi diri saja, agar ia bisa melihat dan menilai sesuatu dengan baik."


Icha dan Wulan terdiam. Mereka menikmati perjalanan dalam diam. Kadang Wulan mengajak Icha bercerita, namun karena moodnya masih kurang baik, jadi Icha hanya menanggapi begitu saja.


Pukul 4 pagi, mobil yang dikendarai Berry memasuki halaman Villa yang terlihat mewah dan elegan.


"Waaaaaah.... Icha, ini bagus banget." Wulan hampir tak berkedip melihat kemewahan villa milik mr. LG. "Ini sih nggak usah kerja, tiap hari menikmati keindahan di sini juga aku mau, cha." Timpal Wulan sekenanya.


"Iya, boleh... trus kalo lapar, makan aja bunga-bunga di taman, trus kalo haus, tinggal minum air kolam." Tangkas Icha lucu melihat tingkah Wulan.


"Nona... mari. Ini kamar kalian." Berry menunjukkan satu kamar elit untuk Icha dan Wulan. Ia juga meletakkan koper Wulan ke dalam kamar. "Nona tidak perlu kuatir, semua keperluan nona sudah ada di dalam lemari. Ada meja rias juga lengkap dengan semua kebutuhan nona." Terang Berry soal keadaan kamar yang akan ditempati Icha dan Wulan. "Dan kamu.... boleh memakai lemari kosong itu untuk menaruh pakaian." Tunjuk Berry pada sebuah lemari untuk Wulan.


Setelah selesai dengan semua urusan, Berry pamit untuk balik ke Jakarta.


"Berry... terimakasih untuk semua bantuanmu." Ucap Icha tulus.


"Sama-sama, nona. Kebahagiaan anda tujuan utama saya. Jangan segan hubungi saya jika anda menginginkan sesuatu." Ujar Berry hormat. "Oya, nona... di dalam laci meja rias anda ada sebuah iphone baru untuk keperluan anda. Di sana sudah ada nomor saya dan mr. LG. Jangan segan menghubungi kami jika anda membutuhkan sesuatu." Icha terpana. Bagaimana bisa Berry menyiapkan semua keperluannya dengan begitu cepat.


"Di sini juga ada bibi Santini dan suaminya, pak Jaka. Mereka akan membantu nona selama di sini." Berry masih menjelaskan semua dengan baik dan terperinci. "Dan ini, nona...." Berry mengeluarkan kartu berwarna hitam. "Belilah semua keperluan atau yang nona inginkan pakai kartu ini." Icha menggeleng menolak kartu ATM.


"Tapi, Berry.... maaf. Aku nggak bisa terima. Ini sudah terlalu cukup untukku." Tolak Icha pelan.


"Nona... ini bukan kartu milik saya. Ini milik anda. Mr. LG yang memberikan." Ujar Berry tersenyum melihat penolakan Icha. Serba salah. Akhirnya, Icha menerimanya. "Pinnya tanggal pernikahan anda dan tuan Marco." Lanjutnya lagi. "Saya pamit, nona." Setelah Icha menerima kartu itu, Berry menunduk hormat dan pamit kembali ke Jakarta.


Jangan ditanya apa yang sedang dilakukan Wulan. Ia sedang melompat di atas tempat tidur mahal yang empuknya bukan main. Ia juga mencoba semua skincare di atas meja rias Icha.


"Icha.... ini skincare mahal banget. Pasti kita akan jadi mulus kalau tinggal lama di sini." Seru Wulan norak.


"Terserah. Aku mau tidur." Icha mematikan lampu dan secara otomatis lampu tidur pun menyala. Icha membaringkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur. Ia mengucap syukur atas apa yang terjadi dalam hidupnya akhir-akhir ini. Tak lupa juga menyebut nama Marco dalam doanya.


Mereka berdua terlelap ketika waktu sudah menunjukkan pukul setengah 6 pagi.


Flash back End.

__ADS_1


__ADS_2