
Hari-hari Marco dijalani dengan hampa. Ia menjadi laki-laki dingin dan tak banyak bicara. Pagi ini, setelah bersiap, ia keluar kamar menuju ruang makan. Sudah ada kakek dan Berry di sana.
"Pagi, kek." Sapanya singkat. Ia mengambil piring, memasukkan nasi dan lauk di dalamnya.
"huek..." Tiba-tiba ia berasa ingin muntah. Ia tak suka mencium bau udang tumis buncis yang sudah terlanjur ia masukkan dalam piring.
"Bi...." Teriak Marco. "Makanan apa ini? Kenapa baunya tidak enak begini?" Semprot Marco pada Hartini. Wanita 30an tahun itu tertunduk ketakutan. Ia tak berani menjawab.
"Apanya yang tidak enak? Tiap hari masakan Hartini Selalu enak kok." Bela kakek santai membuat Hartini sedikit lega.
"huek.... huek..." Marco berlari ke wastefel dan memuntahkan nasi yang baru disuap sesendok ke dalam mulut. Perutnya terasa seperti sedang dikocok hingga ia ingin memuntahkan semua isi dalam perut.
"Tuan... minum air hangat dulu." Rossa datang dengan segelas air hangat. Marco meminum air hangat itu tanpa sisa. "Jangan pernah memasak makanan semacam itu lagi. Aku tak suka." Tandas Marco kesal. Ia kembali menghempaskan diri di kursi ruang makan.
"Kenapa kamu?" Tanya kakek. Ia menyimpan senyum lucu dalam bibirnya tatkala melihat Marco muntah seperti sedang ngidam.
"Nggak tau, kek. Semua makanan terasa pahit di mulut." Keluh Marco. "Biiii... jauhkan semua makanan ini dari hadapanku." Teriak Marco tak suka melihat berbagai menu makanan di atas meja makan. Kakek dan Berry pun sudah selesai sarapan, hingga Hartini dibantu oleh Rossa segera mengangkat semua makanan dari depan Marco.
"Masih minum alkohol?" Tanya kakek datar. Marco terdiam. Ia membuang pandangan ke arah lain ketika bayangan istrinya melintas di otak. "Kakek tidak akan melarangmu untuk minum. Toh, kakek tidak punya kuasa untuk menahan kemauanmu. Tapi, ingat! Kalau kau masih mau melihat Marissa menginjak kembali kakinya di mansion ini, maka buang semua kebiasaan burukmu." Ancam kakek tak main-main. Marco menatap kakek dengan segala rasa yang ada di hatinya saat ini.
"Satu hal yang kakek minta, Marco... Marissa tidak akan pulang ke mansion ini kalau kepercayaanmu pada dirinya belum 100%." Tekan kakek.
"Tapi, kek... aku melihat dengan mata kepalaku sendiri..." Sanggah Marco masih tetap pada apa yang dilihatnya.
"Tanya hati kecilmu, nak.... apakah istrimu yang begitu lembut bisa melakukan hal sekejam itu? Belum tentu apa yang kamu lihat sepenuhnya sesuai dengan pemikiranmu, kan?" Tanya kakek namun tak membutuhkan jawaban Marco. "Kakek hanya tidak mau kamu menyesal di kemudian hari. Karena, kamu bukan hanya akan kehilangan Marissa, nak." Kakek tidak ingin melanjutkan pembicaraan, ia segera bangun dari duduknya dan melangkah meninggalkan Marco dengan hati dilema. Ya, tidak mungkin Icha bisa melakukan hal kejam itu? Namun, apa yang dilihat bisa menjadi bukti nyata kan? Tapi, apa maksud kakek tidak hanya kehilangan Marissa? Marco membuang napas dan menggelengkan kepala sebelum akhirnya beranjak dari duduknya.
"Nak... maaf. Hari ini mommy bangunnya telat. Jadi, nggak sempat menyiapkan bekal dan pakaian kerjamu." Tiba-tiba Sania sudah berada di belakangnya. "Kamu mau berangkat sekarang? Tunggu sebentar ya, mommy siapkan bekalmu." Sergah Sania saat Marco hendak pergi.
"Nggak usah, mom. Aku makan di luar dengan klien." Tanpa menoleh pada Sania, Marco melangkah keluar.
"Marco..." Panggil Sania. Marco menghentikan langkahnya. "Kamu lihat sendiri kan apa yang sudah Marissa lakukan pada mommy." Jurus menangis buaya mulai muncul. "Mommy nggak mau dia kembali ke rumah ini, nak. Mommy takut." Sania semakin terisak. "Dia itu anaknya nekad, nak. Mommy takut." Airmatanya semakin deras mengalir. Marco semakin dilema. Di satu sisi ia mempercayai Sania karena ia melihat sendiri apa yang Icha lakukan, tapi di sisi lain hati kecilnya menolak. Tak mungkin istrinya sanggup melakukan tindakan kriminal seperti itu.
"Tenanglah, mom... semua akan baik-baik saja." Marco menenangkan Sania. Tanpa pamit, ia berbalik badan dan melangkah ke luar.
Raymond sudah berdiri di samping mobil menunggu Marco. Ia segera membuka pintu dan tanpa melihat Raymond, Marco masuk dalam mobil dengan wajah dingin. Ia menyandarkan kepala dan menutup mata. Terlalu berat beban yang ia pikul saat ini.
Raymond hanya berani melihat Marco melalui spion depan. Ia sangat tahu apa yang menjadi beban pikiran tuannya. Namun, ia belum punya cukup keberanian untuk bertanya atau sekedar memberi saran.
"Ray..." Suara Marco mengagetkan Raymond dari lamunan.
__ADS_1
"I-iya, tuan..." Jawabnya gugup.
"Jangan melamun. Kamu sedang menyetir." Marco mengingatkan Raymond. Asisten tampan itu tersenyum malu karena kedapatan berkhayal padahal sedang menyetir.
"Ray...." Panggilnya lagi.
"Iya, tuan..." Sahut Marco cepat.
"Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Marco lirih. "Siapa yang harus aku percaya? Mommy atau Marissa?" Tanyanya pelan. "Aku melihat sendiri kalau Marissa berlaku kasar pada mommy, dia juga memegang pisau." Marco perlahan mulai bercerita apa yang ia lihat sore menjelang malam itu. Raymond mendengar dengan seksama. Ini kesempatan baginya untuk bisa menolong Icha dan meyakinkan Marco bahwa tidak mungkin Icha melakukan hal kejam begitu.
"Tuan... apakah waktu kejadian tidak ada orang lain yang melihat?" Tanya Raymond penasaran. Marco terdiam berusaha mengingat.
"Sepertinya ada Hartini." Jawabnya ragu. "Aku tidak terlalu perhatikan karena sudah langsung marah melihat Marissa."
"Coba anda tanya Hartini." Usul Raymond. "Karena.... bagi saya agak sulit dipercaya kalau nona bisa melakukan itu, tuan."
Marco menutup mata kesal. Lagi-lagi tidak ada yang mau percaya bahwa Icha sanggup melakukan itu.
"Setau saya, setiap sore sehabis bersih-bersih dari kantor, nona pasti langsung turun ke dapur untuk membantu art memasak." Jelas Raymond. "Hartini pernah bercerita betapa baiknya nona, tidak pernah menganggap mereka orang rendah. Bahkan nona rajin membantu memasak. Jangan-jangan waktu itu memang nona sedang memasak, tuan. Mungkin nona sedang memotong atau mengupas sesuatu?" Raymond terus meyakinkan Marco. Ia melihat reaksi Marco dari spion depan.
"Lalu... apakah anda sudah memerintah Berry untuk mencari tau kenapa CCTV rusak?" Marco membuka mata tiba-tiba. Benar juga! Ia baru ingat bahwa ia pernah menyuruh Berry untuk mencaritahu soal itu. Tapi, sampai hari ini tidak ada kabar berita dari Berry.
"Lebih baik tuan bertanya terlebih dahulu pada Hartini." Usul Raymond lagi. Marco mengangguk. Ya, ia harus menemui Hartini untuk bertanya soal itu.
Tak terasa, mobil sudah memasuki parkiran khusus pimpinan. Marco turun dari mobil dan membalas sapaan dari Danang dan Dandi juga beberapa sekuriti yang bertugas pagi ini hanya dengan anggukan kecil yang hampir tak terlihat, lalu masuk ke dalam lift menuju lantai 25. Ia lagi tak ingin membalas sapaan karyawannya sekarang. Ia hanya ingin cepat sampai dalam ruangan dan menikmati wine agar otaknya tak sakit memikirkan masalah ini.
Seperti hari-hari yang lalu, Marco tak perlu pamit pada Raymond dan langsung masuk ke dalam ruangannya. Ia membuka jas, dasi dan melempar ke sembarang tempat. Lalu, masuk ke dalam kamar pribadinya, membuka kulkas dan mengambil satu botol wine di sana.
"Huek... huek...." Lagi-lagi ia harus mual mencium minuman ini. "Sial... ada apa ini? Kenapa aku tak bisa menyentuh semua makanan dan minuman?" Marco kesal mengingat tadi di mansion ia tidak bisa sarapan, sekarang pun ia tak bisa menikmati wine. Ia membuang botol wine yang masih penuh ke dalam tong sampah dengan kesal.
"Ray... ke ruanganku sekarang."
Ia duduk di kursi kerja dengan pikiran kacau. Entah, apa yang ia rasakan, yang pasti duduk pun tak tenang, makan minum pun tak enak, malas untuk melakukan segala sesuatu. Ditambah lagi rasa rindu yang tak tertahan pada sang istri. Ia ingin menangis, berteriak, apa pun itu asal bisa membuatnya tenang.
"Ya, tuan..." Ray berdiri di depan Marco.
"Carikan aku bubur kacang ijo dan rujak. Aku ingin makan yang asam-asam." Raymond melongo mendengar permintaan Marco. Tidak salah??? Bubur kacang ijo??? Rujak??? What???
"Cepat carikan!" Sentak Marco membuat Raymond tersentak kaget.
__ADS_1
"I-iya, tuan... saya segera cari." Ia keluar dengan cepat. Sampai di luar, ia masih sempat berdiri dan memikirkan kembali permintaan Marco.
"Nggak salah minta bubur kacang ijo dan rujak? Itu kan makanan yang paling tak disukai tuan." Ia meleberkan mata dan menggeleng kepala tak percaya. "Sudahlah... mending segera cari dari pada disemprot lagi." Ucap Raymond pada diri sendiri.
Sedangkan Marco...
"huek.... huek... huek..." Terdengar suara Marco di kamar mandi sedang muntah. Ia mengeluarkan semua isi perut sampai tak ada lagi yang bisa dikeluarkan. Badannya lemas tak bertenaga. Di saat tak berdaya seperti ini, ia teringat Icha, istrinya. Ia menyandarkan setengah badannya pada wastafel dan menunduk sambil menutup mata.
"Sayaaaang..." Lirihnya sendu. "Kamu di mana? Aku merindukanmu." Ia merasa hidupnya benar-benar hancur tanpa Icha. "Maafkan aku..." Sesalnya.
"Tuan...." Suara Raymond terdengar panik memanggil nama Marco. "Tuan, anda tidak kenapa-kenapa?" Tanya Raymond kuatir.
Marco menggeleng lemah. Ia berjalan pelan menuju meja makan yang terletak di balkon. Raymond dengan gesit menyiapkan bubur kacang hijau.
"Silahkan, tuan..." Mencium bau harum bubur kacang hijau, selera makan Marco mulai kembali ada. Tak menunggu waktu lama, ia menghabiskan makanannya dengan lahap.
"Di mana rujakku?" Tanya Marco. Raymond langsung menyiapkan rujak dalam piring dan memberikan pada Marco. Lagi-lagi pemandangan langka dilihat oleh Raymond, betapa rakusnya Marco menikmati rujak asam manis itu.
"Tuan... i-itu a-sam sekali." Marco yang makan namun Raymond yang merasa nyilu di giginya. Ia bergidik ngeri membayangkan asamnya mangga muda dalam rujak yang dimakan Marco.
"Ini enak, Ray. Kau harus mencobanya." Imbuh Marco senang. "Jangan lupa besok siapkan aku rujak ini lagi." Sambungnya sambil menyeruput kuah rujak.
"Baik, tuan... tapi anda harus makan nasi terlebih dahulu. Takutnya perut anda bermasalah karena makanan asam ini." Tawar Raymond.
"Tidak, Ray... jangan menyebut nasi di depanku. Kau membuat perutku mual saja." Ketus Marco sambil berjalan menuju kursi kerjanya. Selesai menikmati makanan yang ia sukai, energi baru mulai tumbuh. Ia membuka laptop dan membaca semua file yang masuk.
Raymond selesai membereskan meja makan dan hendak kembali ke ruangannya. Namun, ada satu hal yang mengganjal di hati yang sangat ingin ia tanyakan pada Marco.
"Ada apa?" Tanya Marco ketika melihat asistennya berdiri sedang memikirkan sesuatu.
"Tuan... emmmm, ada yang ingin saya tanyakan." Jawab Raymond memberanikan diri.
"Ada apa?" Tanya Marco penasaran.
"Anda...." Raymond menjeda ucapannya. Marco mengerutkan kening heran melihat raut wajah Raymond.
"Ada apa?" Desak Marco.
"Anda ngidam, tuan?"
__ADS_1