Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Amarah Marco!


__ADS_3

Setelah mendengar semua pengakuan Hartini, semakin besar rasa bersalah dicampur rasa rindu di hati Marco. Ia masuk ke kamar, mengunci pintu rapat dan berjalan menuju balkon. Bulan malam terlihat cantik menerangi langit. Marco menutup mata membayangkan wajah Icha. Matanya berkaca-kaca. Ah, satu luka lagi sudah Marco torehkan di hati istrinya.


"Maaf, sayang.... maaf." Lirihnya hampir tak terdengar. "Aku merindukanmu. Aku janji akan memperbaiki semua yang salah yang telah terjadi. Maafkan aku, sayang..."


Saat mendengar pengakuan Hartini, ingin sekali Marco melabrak Sania. Namun, kali ini Marco ingin melawan ibunya dengan cara yang lebih halus. Marco harus memberi efek jera pada Sania, agar perempuan berhati busuk itu menjadi trauma atas kelakuannya. Di satu sisi, ia tak ingin menjadi anak durhaka yang tega menghancurkan ibu kandungnya sendiri.


Puas memandang bulan, ia mengambil telepon genggam yang sedari tadi ia taruh di atas nakas.


"Ray...." Terdengar suara Ray membalas panggilan Marco dengan sopan. "Cari keberadaan Marissa. Secepatnya!" Akhirnya, ia sudah tak bisa menahan lebih lama untuk tidak bertemu istrinya, meskipun ia sudah berjanji pada kakek untuk tidak mengganggu Icha sementara waktu. Padahal, sangat mudah baginya untuk menemukan Icha. Hanya saja ia menghormati permintaan kakek, sehingga ia menahan diri untuk tidak menyelidiki keberadaan Icha.


Tok... tok... tok...


"Marco, buka pintunya, nak... mommy bawakan makanan untuk kamu. Kata kakek, kamu mau makan malam di kamar aja." Teriak Sania dari luar kamar Marco. Marco hanya memutar bola mata malas mendengar suara mommynya. Tanpa suara, ia membuka pintu dan membiarkan Sania masuk.


Dengan senyum sumringah, Sania masuk membawa nampan berisi beberapa menu makanan dan langsung ditata di atas meja.


"Kamu kenapa sih? Kenapa menu makananmu jadi aneh begini, nak?" Tanya Sania sambil mengatur makanan di atas meja. Sudah beberapa hari ini Marco tidak menyentuh nasi. Ia akan selalu mual melihat nasi. Ia juga tak suka mencium bau bawang goreng dan segala masakan yang ditumis. Marco berencana untuk memeriksa kesehatannya ke dokter, namun tidak sekarang. Ia masih harus fokus pada permasalahannya dengan Icha.


Marco hanya memperhatikan gerak-gerik Sania. Kebusukan ibu kandungnya sungguh sudah tidak bisa ditolerir. Namun, Marco belum mau bertindak. Ia masih ingin melihat sampai di mana kebusukan Sania akan bertahan.


"Dimakan, nak... ini sudah lewat jam makan malam lho." Mulut manis Sania mulai beraksi. "Kamu sih kelamaan ngomong sama Hartini tadi, makanya telat makan." Ia mulai mengarahkan pembicaraan ke tujuan utamanya. "Memang Hartini buat kesalahan apa sih sampai kamu panggil dia?" Tanya Sania mulai menyelidiki. "Biar mommy yang menghukum dia kalau membuat kamu marah." Marco membuang muka kesal mendengar cara bicara Sania. Benar-benar munafik. Sebenarnya sebagai seorang anak, ia merasa sangat terpukul dengan sikap Sania. Namun, tanpa Marco sadari bahwa ia sudah mulai bisa bersabar menghadapi sikap Sania karena Icha selalu mengajarinya tentang kesabaran.


Marco tak menanggapi celotehan basa basi Sania. Ia asyik menikmati steak fillet dada ayam tanpa minyak dan capcay tanpa minyak. Ia benar-benar menjadi vegetarian beberapa hari ini.


"Marco..." Panggil Sania meminta jawaban atas pertanyaannya tadi.


"Aku sedang makan, mom... aku tak ingin bicara saat makan." Cetus Marco tak melihat Sania. Ia terus menikmati makan malamnya.


Mendengar jawaban Marco, Sania mendengus kesal. Ia merasa susah sekali untuk masuk dalam lingkaran Marco. Rasa kepercayaan Marco yang sudah hilang pada Sania sejak masih remaja, membuat Sania sulit untuk kembali mendapat satu tempat khusus di hati putra tunggalnya.


"Marco... mommy ingin membicarakan tentang hubungan kamu dan Valencia. Mommy mau kamu segera menikah dengannya. Mommy ingin sekali menggendong cucu, nak." Sania sengaja membuka pembicaraan tentang Valencia walaupun Marco pernah menolak permintaannya dulu.


"Valencia masih sangat mencintai kamu, nak. Ia masih terus menunggu kamu." Desak Sania.


Marco tak langsung menjawab. Ia meneguk air putih hingga tandas, mengambil telepon genggam dan menghubungi seseorang.

__ADS_1


"Ray... Carikan aku durian. Tiba-tiba aku ingin makan buah itu." Marco menutup panggilannya.


"Durian???"Gumam Sania heran. "Sayang, bukannya dari kecil kamu paling tidak suka buah itu? Jangankan makan, mencium baunya saja kamu paling benci." Sela Sania tak percaya.


"Apa di dunia ini yang tidak mungkin tidak bisa menjadi mungkin, mom?" Sahut Marco dingin. "Orang baik dikatakan tidak baik, orang jujur dipaksa untuk tidak jujur...." Ujar Marco terselubung. Sania mengerutkan kening tak mengerti ucapan Marco. "Tidak usah bingung, mom. Nanti juga mommy akan mengerti." Marco berdiri dari duduknya hendak ke kamar mandi. Ia harus sikat gigi, bersih-bersih sebelum tidur.


"Mommy boleh keluar, aku mau istrahat." Tanpa menoleh, Marco meminta Sania keluar dari kamarnya sebelum masuk kamar mandi.


Sania menggertakkan gigi kesal melihat sikap Marco yang masih tak acuh padanya. Ditambah lagi dengan kebiasaan aneh Marco beberapa hari ini yang dengan tiba-tiba merubah semua menu makannya dan tidak menyukai segala bentuk makanan yang ditumis.


Sania tetap menunggu Marco sampai selesai mandi. Ia mengutak atik telepon genggam melihat gambar pakaian dan sepatu branded yang bisa ia pesan.


"Ada apa lagi, mom? Aku mau istrahat!" Saking asyiknya terpukau dengan high heel mahal seharga 29 juta, Sampai Sania tak menyadari Marco sudah selesai ganti pakaian.


"Oh... udah selesai." Sania menaruh HP di samping duduknya. "Nak, mommy ingin bicara tentang pernikahanmu dan Valencia." Papar Sania tentang keinginannya yang tak masuk akal.


"Apa yang mommy inginkan?" Tanya Marco datar sambil membuka laptop dan memeriksa beberapa email yang masuk. Ia tak terlalu menggubris ucapan Sania.


"Menikahlah dengan Valencia." Desak sania. "Perempuan munafik itu sudah pergi ninggalin kamu, jadi kamu bisa menceraikannya dan menikah dengan Valencia." Terang Sania panjang lebar. "Dia masih menunggu kamu lho. Dia juga wanita berkelas yang pantas mendampingi kamu. Bukan perempuan kampung itu." Ia terus berceloteh seenak jidatnya. "Mommy yakin ia hanya mengincar harta dan nama besar Guatalla, buktinya sekarang dia menghilang. Jangan-jangan dia juga membawa uang kamu. " Ucapan penghinaan untuk Icha hampir membuat Marco terpancing emosi.


"Sudah bicaranya? Atau mommy masih ingin menghina istriku?" Ditatapnya Sania dengan sinis.


"Cukup, mom!" Erang Marco tertahan.


"Tapi, yang mommy ngomong ini benar, kan? Dia memang perempuan muna.... "


"Cukup, mommy!" Teriak Marco kencang dan penuh amarah hingga membuat Sania terkejut dan menganga. Seumur hidup baru ia dengar teriakan Marco penuh amarah seperti saat ini.


"Dengar, baik-baik... aku diam selama ini karena aku masih menghargai mommy sebagai ibu kandungku. Aku diam ketika mommy dengan sengaja mencakar lengan istriku hingga berdarah, Aku diam ketika mommy menampar istriku hingga sudut bibirnya sobek dan berdarah, aku diam ketika mommy berhasil membuat skenario hingga membuat Marissa pergi dari rumah ini, aku diam melihat sikap sinis mommy pada istriku, aku diam ketika mommy berani mengancam Hartini, sekali lagi karena aku masih menghargai mommy sebagai ibu kandungku." Marco benar-benar mengeluarkan semua unek-unek dalam hatinya. Ia sangat berapi-api sehingga Sania terlihat pucat dan ketakutan. Airmatanya deras jatuh di pipi yang mulai berkerut. "Cukup sudah mommy menghina istriku. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah meninggalkan apalagi menceraikannya. Dia akan menjadi istriku sampai aku mati!" Sambung Marco masih dengan amarah. Bahkan wajahnya memerah karena emosi. "Jangan pernah mengganggu hubunganku dengan Marissa atau aku akan benar-benar bertindak kasar pada mommy!" Ancam Marco penuh penekanan. "Sekarang mommy keluar. Keluar dari kamarku!" Usir Marco sambil menunjuk ke arah pintu keluar.


Tanpa mereka sadari sudah ada kakek, Berry dan Raymond berdiri menyaksikan kemarahan Marco tepat di pintu masuk kamar. Raymond datang untuk membawa durian pesanan Marco. Sedangkan, Kakek dan Berry sengaja naik ke atas karena kakek ingin melihat keadaan Marco yang mulai mengidam. Namun, justru mereka mendengar kemarahan Marco yang sudah disimpan selama ini akhirnya meledak juga.


Raymond ingin masuk menenangkan Marco, tetapi tangan kakek menahannya.


"Biarkan saja. Sania memang harus diberi pelajaran." Ujar kakek.

__ADS_1


Sania semakin pucat dan gemetar mendengar semua kelakuan jahatnya sudah diketahui Marco.


Tidak, nak... kamu salah pah..."


"Cukup, Sania. Ini Bukan salah paham. Tapi ini semua kebenaran yang selama ini kamu tutupi." Akhirnya kakek membuka suara ketika melihat Sania ingin membela diri di depan Marco. "Kamu benar-benar lupa berkaca, Sania. Kamu merendahkan Marissa seakan-akan kamu istri yang paling sempurna." Ucapan kakek sedikit menyentil nurani Sania. Ia menunduk malu dan terpojok. Semua mata yang menyaksikan seakan-akan ingin membunuhnya.


"Berry, urus kepulangan mommy ke Amerika besok!" Perintah Marco membuat Sania makin ternganga. Ia menggeleng kepala antara tak percaya anaknya mengusir ia kembali ke Amerika atau ia belum ingin kembali ke sana.


"Tidak ada bantahan, Sania! Besok kamu harus angkat kaki dari rumah ini. Kamu boleh kembali ke mansion ini ketika kamu sudah bisa mengaca diri dan sadar akan kelakuan licik kamu."


Lengkaplah penderitaan Sania ketika mendengar ucapan kakek yang mendukung Marco.


"Tapi ayah... aku masih ingin di sini.


A-aku harus mengurus Marco. Ayah liat sendiri kan, istrinya sudah pergi ninggalin Marco." Sania masih sempat beralasan. Ia terbata-bata dengan airmata yang terus mengalir. Ia menangis karena merasa terpojok.


"Asal kamu tau... Marissa tidak pergi ke mana-mana. Ia akan kembali ke mansion ini untuk mengurus semua keperluan suaminya." Sergah kakek cepat. "Siapkan semua keperluan dan kembalilah ke suamimu." Perintah kakek. Sania masih ingin membuka mulut, namun kakek mengangkat tangannya pertanda tidak ada yang boleh membuka mulut lagi.


"Keluar!" Usir kakek sambil menunjuk pintu. Tanpa banyak protes lagi, Sania segera keluar dengan perasaan malu dan terpojok, tapi ada sedikit dendam juga di sana. Berry ditugaskan kakek mengikuti Sania dan mengatur keberangkatannya.


Marco terduduk lemas di sudut tempat tidur, tertunduk menutup muka dengan kedua tangan dengan menyangga kedua sikut di pahanya. Kakek mendekat dan mengelus punggungnya. Tangan tua itu yang selama ini selalu ada untuk menenangkan dan menguatkan Marco saat laki-laki itu sedang terjatuh.


"Aku sudah berusaha untuk tetap menjadi anak yang baik untuk mommy, kek... tapi mommy..." Marco terisak pedih. Hatinya sakit karena kelakuan Sania, tapi hatinya dituntut untuk tetap menjadi anak yang menghormati orangtuanya.


"Kamu anak yang baik." Ucap kakek membelanya. "Ada kalanya orangtua harus diingatkan ketika mereka sudah salah melangkah. Tidak ada orangtua yang sempurna." Lirih kakek menenangkan. "Sania memang harus ditegur dan diingatkan dengan cara yang sedikit keras. Dan itu bukan dosa. Justru itu kebaikan karena kamu sudah mengingatnya untuk kembali ke jalan yang benar." Papar kakek pelan. Ia terus mengelus punggung Marco hingga suami Icha itu merasa tenang.


"Makasih, kek... maaf, sudah membuat kekacauan." Lirihnya pelan. Kakek tersenyum.


"Tidak apa..." Sahut kakek. "Oh iya, itu durian yang kamu minta. Sudah dibawa asisten setiamu itu." Canda kakek membuat suasana sedikit mencair.


Raymond tersenyum lebar. Ia meletakkan durian di atas meja yang ada di kamar Marco. Bau khas durian membuat napsu makan Marco mulai naik dan sedikit bisa melupakan kejadian barusan. Namun, ia masih menahannya untuk tidak segera menghabiskan durian itu.


"Aneh kamu... tiba-tiba kepingin makan durian. Padahal, kamu paling nggak suka buah ini. Baunya aja kamu udah mual. Ehhh, sekarang malah doyan." Cibir kakek menggoda Marco, medki kakek tahu cucunya sedang ngidam akibat kehamilan Icha.


"Entahlah, kek... aku juga bingung. Aku harus periksa ke dokter. Aku takut ini penyakit yang mematikan." Ujar Marco polos. Kakek tak kuasa menahan tawa, begitu juga Raymond.

__ADS_1


Kakek senang karena couvade syndrome yang dialami Marco membuatnya tak terlarut dalam kemarahan barusan. Ia bisa langsung melupakan amarahnya hanya dengan mencium bau durian.


Tak masuk akal!


__ADS_2