Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Kepulangan Leon.


__ADS_3

"Kakaaaaaaak..." Suara nyaring Ninda membangunkan semua orang dalam mansion mewah ini. Ia yang memang memasang alarm tepat di jam 3 pagi langsung terbangun dan menunggu kedatangan Leon. Sekitar pukul 03.45 subuh, Leon sampai di mansion.


"Kangen banget, kak..." Dengan erat Ninda memeluk Leon melampiaskan rasa rindu pada pada kakak laki-laki satu-satunya yang ia miliki.


"Kamu tidak tidur?" Tanya Leon membalas pelukan sang adik.


"Tidur beberapa jam aja. Aku memang sengaja menunggu kakak." Sahut Ninda tak mau melepaskan pelukannya. Leon tersenyum dan mengecup kepala Ninda.


"Papa sama mama?" Tanya Leon heran tak melihat Icha sang ibu yang selalu menantinya di depan pintu setiap kali ia datang.


"hmmmm... dikurung papa di kamar dari semalam. Kakak kayak nggak tau papa aja." Lapor Ninda membuat Leon tertawa pelan.


Ia melihat sekeliling rumah. Sepi. Karena memang baru jam empat pagi. Namun, selain orangtua yang ia rindukan, ada satu sosok yang sangat ingin dipeluk Leon. Siapa lagi kalau bukan bibi Rossa, asisten rumah tangga sekaligus baby sitter yang mengurus Leon layaknya anak kandung.


"Kakak nyari siapa?" Tanya Ninda melihat mata Leon berkeliling seperti mencari seseorang.


"Ya udah... kakak istrahat dulu." Leon tak menjawab pertanyaan Ninda. Ia malah berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. "Jangan bangunin papa dan mama. Biarkan mereka tidur." Ujar Leon memperingati Ninda lalu menghilang masuk ke dalam kamarnya.


Aroma wangi khas laki-laki langsung menyeruak begitu pintu kamar dibuka membuat Leon tersenyum bahagia karena akhirnya rasa kangen pada kamar ini bisa rasakan.


Leon membuka jaket jeans yang ia kenakan ke sembarang tempat dan langsung membuang diri ke atas tempat tidur kesayangan yang selalu bersih dan rapi. Ia pun terlelap entah sejak kapan.


"Jangan dibangunin dulu, sayang... kasian dia masih terlelap." Tegur Marco saat Icha hendak memasuki kamar Leon. Dilihatnya putra tunggalnya itu benar-benar terlelap, namun rasa kangen membuatnya ingin segera memeluk tubuh itu.


Mendengar teguran Marco, Icha pun menghentikan langkah. Ia menatap nyalang pada Marco yang telah membuatnya kelelahan semalaman yang akhirnya Icha tak bisa menyambut kedatangan Leon.


"kenapa?" Tanya Marco sedikit berbisik walaupun ia sudah paham arti tatapan mata istrinya.


"Gara-gara kamu, aku tidak bisa menyambut kedatangan anakku subuh tadi." Sungut Icha sambil menuruni tangga.


'Kok aku?" Tanya Marco cepat. Icha malas menjawab karena rasa jengkel pada laki-laki yang dicintainya itu.


Marco duduk di meja makan. Sudah ada Ninda di sana yang asyik menikmati makanan sendirian.


"Asyik banget sarapannya..." Goda Marco pada anak gadisnya. Ninda mencibir kesal pada laki-laki tua itu.


"Papa itu yang asyik berduaan di kamar sampai-sampai lupa perasaan anak gadisnya." Sindir Ninda membuat Marco tersenyum lucu.


"Ck... sirik aja kamu." Sanggah Marco dengan santai. Ia melirik ke kiri kanan tidak ada Icha di sana.


"Sayang...!" Teriaknya pada Icha.


"Apa sih papa? Kok teriak-teriak?" Celetuk Ninda kaget mendengar teriakan Marco. "Tinggal ambil rotinya di taruh selai kan beres, pa. Manja banget sama mama." Omel sang putri.


Belum sempat Marco menjawab Ninda, Icha sudah muncul dengan satu buah mangkok di tangannya.

__ADS_1


"Ini bubur ayam kesukaan papa, buatan bi Rossa." Ucap Icha sambil meletakkan semangkok bubur ayam yang harumnya saja langsung membuat amarah Marco karena tak dilayani Icha langsung menghilang.


"Rossa ada?" Tanya Marco.


"Iya... Rossa sengaja datang untuk memasak makanan kesukaan Leon." Icha duduk di samping Marco setelah kembali dari dapur membawa semangkok besar bubur ayam.


"Kok Ninda nggak tau?" Tanya Ninda heran. "Aaah... bibi mah curang. Tau gitu kan Ninda nggak sarapan roti tadi." Rengeknya sambil berjalan menuju ke dapur.


"Masih rasa yang sama..." Komen Marco setelah menyuap sesendok bubur ayam hangat. "Gimana kabar Rossa dan Haris?" Lanjutnya bertanya tentang mantan asisten rumah tangganya itu.


"Alhamdulillah... baik. Restoran mereka juga berjalan lancar. Makanya Ayu bisa kuliah kedokteran sama-sama Ninda." Sahut Icha lembut.


Kebaikan dua mantan majikan ini memang tak bisa diragukan lagi. Mereka tidak hanya mengurus pernikahan Rossa yang waktu itu masih menjadi asisten rumah tangga, namun setelah beberapa tahun, Icha memberi Rossa modal yang jumlahnya tidak sedikit untuk membuka usaha warung, hingga menjadi restoran sekarang.


Suami Rossa pun dipanggil Marco untuk menjadi sopir keluarga mereka. Maka tidak heran jika sampai detik ini, hubungan Rossa dan Icha pun semakin dekat layaknya sahabat.


Hup!


Sebuah pelukan tiba-tiba Icha rasakan dari belakang. Tak menunggu lama, Icha bangun dari duduknya dan memeluk Leon dengan erat. Seperti biasa, air matanya harus jatuh setiap kali rasa rindu melanda hati.


"Masih aja hobinya nangis." Goda Leon sembari memeluk perempuan yang paling ia cintai. Ia mengecup berulang kali kepala sang ibu. "Aku udah kembali, ma. Dan nggak akan kemana-mana lagi." Imbuh Leon mengusap punggung Icha. "Jadi, jangan pernah mama menangis lagi." Sambungnya sedikit tegas.


Icha mengangkat kepala dan memandang wajah tampan sang putra. Ia mengecup kening anak laki-lakinya.


"ehmmmm..." Marco berdehem sengaja menyindir anak dan istrinya. Dengan senyum bahagia, Leon segera memeluk sang ayah.


"Siap-siap cemburu setiap hari... karena aku akan memeluk mama setiap hari." Ujar Leon dan mendapat pukulan pelan dari Marco. Mereka tertawa bersama. Tertawa bahagia.


"Ayo, sarapan dulu. Ini bubur ayam buatan bi Rossa." Mendengar nama Rossa, Leon tidak jadi duduk.


"Bi Rossa?" Tanya Leon penasaran.


"Iya, sayang... tuh bi Rossa di belakang. Mungkin masih sibuk masakin makanan kesukaan kamu." Sahut Icha tersenyum.


Terlihay wajah Leon berbinar senang. Ia segera berlari ke arah belakang untuk mencari mantan baby sitternya itu.


"Bibi..." Lirih Leon ketika melihat wanita paruh baya yang sudah mulai memutih rambutnya. Ia memeluk perempuan tua itu dengan hangat. Tak ada jarak antara mereka. Hubungan mereka bukan hanya sekedar pembantu dan majikan, namun karena kasih sayang Rossa membuat Leon memandangnya sebagai seorang ibu, bukan sekedar pngasuh.


"Bibi apa kabar? Sehat?" Tanya Leon ketika melihat wajah Rossa yang mulai keriput.


"Alhamdulillah, nak... bibi sehat." Jawab bibi dengan suara bergetar. "Gimana kabar kamu? Makin cakep aja anak bibi ini." Lanjut Rossa dengan airmata mulai menetes. Airmata haru bukan hanya rindu tetapi karena merasa sampai detik ini ia masih dihargai dengan begitu luar biasa oleh pemuda tampan ini.


Mendengar pujian Rossa, Leon tertawa kecil. Ia menghapus airmata Rossa seperti ia menghapus airmata Icha, mamanya.


"Alhamdulillah... Aku baik, bi." Jawab Leon. "Gimana kabar om Haris?" Lanjutnya.

__ADS_1


"Baik... Om Haris lagi sibuk di restoran sama Ayu. Makanya nggak bisa datang ke sini." Ujar bibi dengan terus menampilkan senyum bahagia. "Bibi memang sengaja ke sini untuk masakan makanan kesukaan kamu." Sambungnya.


Setelah melepas rindu dengan pengasuhnya, Leon kembali ke meja makan dan menikmati bubur ayam buatan Rossa.


"Kak... aku berangkat ya ke kampus." Pamit Ninda yang sudah bersiap dengan kemeja ungu muda dan celana jeans panjang.


"Sama sopir?" Tanya Leon.


"Nggak, kak... nyetir sendiri." Jawab Ninda. Ia mengecup pipi Marco, Icha dan Leon lalu menghilang ke garasi.


"Ninda udah boleh nyentir sendiri, pa?" Tanya Leon sambil terus menikmati sarapannya.


"Nggak dikasih dia ngambek berminggu-minggu sama papa." Keluh Marco pelan. Leon langsung terbahak mendengar keluhan sang papa.


"Selalu aja lemah berhadapan sama perempuan-perempuan papa ini." Ledek Leon sambil melirik Icha. Marco tertawa pelan.


"Kamu kan tau, mereka berdua itu memang kelemahan papa." Celetuk Marco sengaja menyindir Icha. Yang disindir hanya tersenyum santai sambil terus menikmati bubur ayam.


"Kapan ikut papa ke perusahaan?" Tanya Marco. Ia mengambil jus jeruk lalu meneguknya hingga setengah.


"Satu dua hari lagi, pa. Aku masih capek." Jawab Leon. Marco mengangguk setuju.


"Ok... papa tunggu sampai kamu siap." Ia kembali meneguk sedikit jus jeruknya. "Nanti kamu didampingi Om Raymond dan Rayhan, anaknya om Ray. Dia juga jenius seperti om Ray." ujar Marco. Leon mengangguk menuruti kata Marco.


"Ok, pa... Aku nggak ragu kalau Rayhan menjadi asistenku. Aku yakin om Ray sudah menyiapkan dia dengan baik." Pungkas Leon.


Selesai sarapan, Marco berpamitan untuk berangkat ke perusahaan. Sedangkan Icha menggandeng tangan Leon mengajaknya jalan-jalan ke taman belakang.


"Masih bagus saja taman ini." ujar Leon mengagumi keindahan taman bunga milik sang mama.


"Iya dong... setiap hari mama di sini untuk mengurus bunga-bunga ini. Sekalian dibantu pak Anton." Tukas Icha senang.


"Pak Anton?" Ulang Leon heran. "Pak Anton masih di sini? Pasti sudah berumur ya, ma?" Ia tak menyangka semua pekerja di rumah ini masih sama sedari ia kecil sampai sekarang. Yang artinya sudah hampir 30 tahun pak Anton mengabdi di rumahnya.


"Iya, nak... pak Anton masih di sini. Masih setia mengurus kebun bunga dan halaman rumah." imbuh Icha pelan. "Mereka orang-orang setia yang sudah sangat berjasa pada keluarga kita."


"Itu karena hati mama yang luar biasa baik sehingga semua pekerja betah dan setia melayani kita." Sanggah Leon memuji kebaikan Icha. Perempuan cantik itu hanya tertawa senang mendengar pujian si sulung.


"Nanti malam kita antar bi Rossa ke rumahnya, ya? Sekalian makan malam di restoran Duo Gadis milik bi Rossa." Tutur Icha disambut anggukan semangat dari Leon.


"Ok, ma..." Sahut Leon senang. "Apa tadi nama restorannya, ma?" Tanya Leon penasaran dengan nama restoran bi Rossa.


"Duo gadis. Itu karena bi Rossa memiliki dua anak gadis yang cantik seperti bi Rossa." Sahut Icha cepat.


Leon tersenyum dan hanya mengangguk.

__ADS_1


Duo gadis.... karena bi Rossa memiliki dua anak gadis yang cantik. Apakah salah satu anak gadisnya 'dia'?


Tak dipungkiri rasa penasaran Leon pada Ayu, anak dari bi Rossa yang juga adalah teman bermainnya waktu kecil dulu.


__ADS_2