
Jam tujuh lebih dua puluh menit, Marco dan Leon bergantian mengecup pipi Icha sebelum berangkat ke perusahaan. Sedangkan Ninda, jangan ditanya kemana anak gadis itu pagi-pagi begini. Pastinya ia masih menyelami lautan mimpi di atas kasur yang empuk.
"Kapan kau siap menggantikan papa?" Tanya Marco saat mereka di jalan menuju kantor.
"Secepatnya, pa." Jawabnya singkat.
Marco tertawa pelan.
"Ya, sebaiknya selesaikan dulu masalah hatimu setelah itu kau harus menggantikan papa." Goda Marco. "Karena tidak baik memimpin perusahaan dengan uring-uringan begini." Lanjutnya masih menggoda putranya.
"Ck... papa kayak tidak pernah alami saja." Timpal Leon sekenanya. Marco tertawa. Ia menepuk pundak Leon. Tak terasa anaknya sudah dewasa bahkan mungkin sebentar lagi ia akan memiliki menantu dan cucu.
Perjalanan memakan waktu tiga puluh lima menit untuk sampai ke perusahaan raksasa milik keluarga Guatalla. Seperti biasa, ayah dan anak ini akan menjadi pusat perhatian setiap karyawan yang kebetulan berpapasan dengan mereka. Marco selalu menyapa semua bawahannya dengan ramah, bahkan sekuriti sekalipun akan disapa Marco dengan rendah hati.
Berbeda dengan Leon yang sedikit lebih datar dari pada sang papa. Apalagi dalam seminggu ini benar-benar susah untuk mendapatkan sebuah senyuman dari Leon. Bayangan Ayu yang menghindari dirinya beberapa kali membuat hari-harinya terasa berat dan serba salah. Entah karena penasaran namun juga tidak suka akan tingkah gadis itu.
"Pagi, tuan..." Rayhan yang kebetulan sudah ada terlebih dahulu langsung menyapa Marco dengan sopan.
"Pagi, Ray..." Balas Marco ramah lalu menepuk pundak Rayhan. "Terimakasih ya, sudah banyak membantu Leon." Sambungnya mengucapkan rasa terimakasihnya terhadap anak asisten pribadinya itu.
Leon dan Rayhan masuk dalam ruangan direktur, sedangkan Marco melangkah masuk ke dalam ruangan CEO yang sebentar lagi akan ia tinggalkan.
"Masih kusut, bro'..?" Tanya Rayhan sambil tersenyum jahil.
"Ck.... masih pagi jangan bikin moodku hilang, Ray. Akan aku kirim kau ke pedalaman Afrika." Mendapat ancaman dari Leon bukannya membuat Rayhan takut justru ia tertawa terbahak-bahak.
"Jauh amat mutasinya." Ledek Rayhan. "Kalau aku ke sana, terus siapa yang akan membantumu menyelesaikan semua pekerjaan di saat kau lagi galau?" Sambungnya menggoda Leon.
"Diam kau!" Leon melemparkan pulpen di tangannya ke arah Rayhan namun dengan cepat ditangkap oleh asistennya itu.
"Hahahahaha.... Kau benar-benar butuh healing rupanya." Ledek Rayhan lagi.
Begitulah cara mereka bercanda di sela kesibukan dan rutinitas pekerjaan. Rayhan merupakan asisten sekaligus sahabat baru bagi Leon. Ia sangat memahami sifat dan karakter bosnya itu.
Waktu terus berjalan hingga tidak terasa sudah pukul 11 siang. Banyak berkas yang harus diperiksa Leon sehingga ia bisa melupakan persoalan hatinya untuk sementara.
Tok... tok... tok...
"Masuk!" Perintah Leon tanpa melihat ke arah pintu. Ia sudah tahu itu pasti Rayhan yang sengaja datang untuk merecokinya lagi.
"Leon." Suara Marco terdengar.
Segera Leon mengangkat kepala melihat sang papa yang sudah berada di ruangannya.
"Papa? Kenapa tidak panggil lewat interkom saja?" Leon bangun dari duduknya menghampiri Marco.
"Sekarang juga kamu pulang." Perintah Marco tiba-tiba.
Leon mengerutkan kening.
"Pulang?" Tanyanya ulang. Ia melirik jam di pergelangan. "Baru jam 11, pa. Kenapa harus pulang?" Tanyanya heran. Marco tersenyum menggoda putranya.
"Ada Ayu di rumah. Dia lagi sibuk membantu mama membuat kue." Ujar Marco. "Pulang dan coba temui dia. Selesaikan masalahmu segera." Lanjut Marco serius.
Leon berpikir sejenak. Apakah ia harus pulang untuk melihat reaksi Ayu padanya? Ah, bikin penasaran saja gadis ini.
__ADS_1
"Baik, pa... aku coba temui dia." Sahut Leon menyanggupi karena memang hatinya pun sudah tidak sabar ingin melihat wajah cantik gadis itu.
"Pakai hatimu. Cinta selalu menunjukkan jalan yang benar pada orang yang tepat." Ujar Marco memguatkan putranya. Leon mengangguk mantap.
Dengan langkah panjang ia keluar dari ruangan direktur menuju lift pimpinan. Wajah datar dan serius yang ia tunjukkan tak mampu menutupi rasa penasaran dan ingin cepat sampai ke rumah.
Dengan menyetir sendiri, Leon fokus pada jalanan yang tidak terlalu ramai. Tubuhnya masih di jalan namun hati dan pikirannya sudah sampai di mansion.
Hampir empat puluh menit, Leon memasuki halaman luas mansionnya. Sebuah senyum jahil tersirat di bibirnya.
"Nak, kok pulang?" Icha yang mendengar bunyi mobil cepat-cepat keluar hendak melihat siapa yang datang.
"Ada dokumen yang lupa dibawa, ma... makanya aku pulang." Jawab Leon beralasan. "Harum apa ini, ma?" Tanya Leon setelah sampai ke ruang keluarga.
"Itu... si Ayu lagi bikin kue sama Ninda." Ujar Icha sambil menunjukkan ke arah dapur.
Mendengar nama Ayu, hati Leon berbunga-bunga. Ada sebersit rasa yang sulit ia ungkapkan.
"Ya udah, kamu ambil dokumen saja dulu... mama mau ke dapur ambil kue untuk kamu coba." Ujar Icha dan langsung melangkah menuju dapur.
Leon yang sebenarnya tidak mempunyai rencana untuk mengambil dokumen mengikuti langkah Icha menuju dapur. Dari jauh ia sudah mendengar ribut suara Ninda dan Ayu.
Deg!
Mata Leon menangkap sosok cantik yang akhir-akhir ini selalu ada di memorinya. Dengan menggunakan dress sederhana sepanjang lutut dan rambut dicepol tinggi membuat Ayu terlihat sangat seksi di mata Leon.
"Kakaaaaak..." Suara cempreng Ninda membuyarkan khayalan Leon tentang Ayu.
Ninda mendekati Leon dan memeluknya dengan senang. Leon pun membalas pelukan adiknya itu, namun matanya terus terus tertuju pada Ayu.
"Kakak coba kue bikinin aku dan Ayu, ya." Ajak Ninda sambil menarik tangan Leon masuk dalam dapur.
Leon yang memang sengaja ingin melihat Ayu, berdiri di samping gadis itu.
"Ini, kak... kue nastar. Kue kesukaan kakak." Ninda menunjukkan setoples kue yang sudah jadi. Leon hanya mengangguk.
Tring... tring... tring....
Bunyi nada dering telepon genggam milik Ninda yang ia letakkan di atas meja bar.
"Iya, pa...." Sapa Ninda pada si penelepon. Ternyata Marco yang menelepon "Di ruang kerja papa?" Tanya Ninda. "Ok deh... Ninda cari dulu, ya. kalau sudah ketemu nanti Ninda titip ke kakak aja." Ninda memutuskan sambungan telepon.
"Kak... temani Ayu, ya. Ninda mau ke ruang kerja papa. Disuruh cari berkas tender minggu lalu. Papa lupa kayaknya." Ninda segera meninggalkan Ayu dan Leon di dapur.
Jangan ditanya bagaimana perasaan Ayu saat ini. Takut, malu, minder, gugup, segala macam rasa bercampur aduk sehingga membuat tubuhnya seperti lemas tak berdaya. Ia hendak mencegah Ninda agar jangan pergi meninggalkannya hanya berdua bersama Leon, namun tatapan intimidasi Leon membuat bibir Ayu terasa kelu dan kaku.
Namun, ini merupakan satu keuntungan bagi Leon. Dalam hati ia bersyukur karena sang papa bisa mengendalikan keadaan walaupun beliau berada di kantor saat ini. Ia tersenyum tipis melihat permainan Marco.
"Kenapa menghindar?" Tak perlu basa basi, Leon langsung bertanya sesuatu yang selama ini selalu mengganggu tidurnya.
Ayu menoleh ke arah Leon. Ia mengerutkan kening tanda tidak mengerti maksud pertanyaan Leon. Sepertinya ia harus memberanikan diri menghadapi Leon.
"Menghindar?" Tanya Ayu mengulangi pertanyaan Leon.
Tatapan Leon yang sangat tajam benar-benar terasa menusuk ke dalaman hati Ayu. Namun, ia berusaha kuat.
__ADS_1
"Tidak usah berpura-pura tidak mengerti." Tangkas Leon cepat. "Kenapa setiap kali bertemu, kamu selalu menghindar?" Leon mengulang pertanyaannya.
Ayu terus sibuk membentuk kue nastar di tangannya. Ia tidak tahu jawaban apa yang tepat untuk pertanyaan Leon.
"Maaf, tuan... mungkin tuan salah paham. Aku tidak pernah menghindari siapapun juga." Dengan mengumpulkan segenap keberanian, Ayue menjawab pertanyaan Leon dengan lantang tanpa melihat wajah Laki-laki itu.
"Tuan???" Lagi-lagi Leon mengulang kata yang diucapkan Ayu. "Dulu bukannya aku selalu bilang jangan pernah memanggilku dengan kata itu." Lanjut Leon mengingatkan masa kecil mereka.
Ayu menoleh sebentar ke arah Leon, lalu kembali sibuk mengolah adonan kue di tangannya.
"Itu dulu, tuan. Kita masih kecil, belum mengerti tentang status kita." Sahut Ayu. Leon memicingkan mata. Ia tak suka mendengar Ayu bicara soal status.
Kesal dengan sikap Ayu yang tak acuh dan terus sibuk dengan adonan tepung itu, dengan cepat Leon menarik tangan Ayu sedikit kasar sehingga tubuh Ayu ikut terdorong mendekat pada dada Leon.
"Aku sedang bicara padamu." Gumam Leon geram. "Cukup jawab pertanyaanku kenapa kamu selalu menghindar setiap kali kita bertemu?" Sambungnya dengan nada dingin.
Ayu menelan ludah yang terasa mengering. Hatinya bahagia karena bisa melihat wajah tampan yang selama ini hanya bisa ia bayangkan dan rindukan dalam diam. Harum tubuh Leon semakin membuatnya terlena dalam dekapan Leon.
Namun, ia tersadar ketika airmatanya hampir penuh dan menggenang. Dengan cepat, ia melepaskan tangan yang dipegang oleh Leon. Ia tak ingin Leon melihatnya menangis. Menangis karena rindu tetapi ia juga sadar diri jika Leon tidak mungkin menyukainya yang hanya seorang anak mantan pembantu.
"Maaf, tuan... anda salah paham. Aku tidak pernah menghindari siapapun." Tegas Ayu mengulang ucapannya tadi.
Leon tersenyum sinis. Matanya sedari tadi tak lepas memandang mata Ayu dengan kesal namun ia tidak bisa marah pada gadis itu. Ingin rasanya ia mengecup bibir gadis itu dan membawanya dalam pelukan, namun Leon menyadari jika saat ini Ayu sedang menghindarinya.
"Baik... mungkin kamu benar kalau aku yang salah paham." Ucap Leon. Ia mendekati Ayu lalu menunduk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.
"Kalau sampai aku melihat kamu masih juga menghindariku, jangan salahkan aku jika aku akan membuat perhitungan denganmu." Bisik Leon sedikit mengancam gadis lembut itu.
Ayu tidak berani menatap mata Leon. Ia memalingkan wajah dan menahan sekuat tenaga agar kakinya tetap kuat berdiri.
Setelah mengatakan hal itu, Leon langsung pergi meninggalkan Ayu sendirian. Dengan cepat, ia menahan tangannya pada sebuah meja besar agar tubuhnya tidak terjatuh.
Jadi selama ini ia tau kalau aku selalu menghindarinya? Lirihnya dalam hati.
"Ayu.... kamu kenapa, nak?" Suara Icha mengagetkan lamunan Ayu. Ia segera menghapus airmata agar tidak dilihat oleh Icha. "Kamu sakit?" Tanya Icha kuatir.
"Tidak, ma... Ayu tidak kenapa-napa. Mungkin karena terlalu lama berdiri, kaki Ayu capek." Tukas Ayu beralasan.
"Oooh... mama kira kamu kenapa-kenapa." Icha mengelus punggung Ayu dengan lembut.
Ya, Icha memang mengharuskan Ayu memanggilnya dengan sebutan mama. Begitu juga Ninda yang memarahinya ketika ia menyebut Ninda dengan kata 'non'.
"Oya, sayang... mana Leon?" Tanya Icha yang baru menyadari jika Leon sudah tidak ada di sini. "Oh, mungkin di ruang kerjanya, ya." Sambung Icha mengingat jika Leon pulang karena ingin mengambil dokumen yang ketinggalan. Ayu hanya mengangguk pelan dan berusaha tersenyum. "Papanya Leon siang ini jadi aneh. Tiba-tiba telepon katanya kangen sama mama. Padahal baru beberapa jam terpisah. Makanya mama lama ninggalin kamu di sini gara-gara ngomong sama papa Marco." Ujar Icha kesal namun sebenarnya ia senang karena Marco selalu memberi kejutan di waktu-waktu tertentu.
"Mama... kak Leon mana?" Tiba-tiba Ninda pun datang dan menanyakan keberadaan kakaknya.
"Mungkin di ruang kerja papa. Katanya ada dokumen yang ketinggalan." Jawab Icha sambil meletakkan kue nastar dalam panggangan.
"Papa juga nelepon aku minta dicari'in berkas tender di ruang kerja papa tapi tidak ada. Kak Leon juga tidak masuk ke ruang kerja papa." Beber Ninda yang merasa ada keanehan antara sikap kak Leon dan papa yang tiba-tiba telepon meminta mencari berkas penting, padahal Marco bukan tipe yang teledor. Ia akab sangat teliti pada semua pekerjaannya.
"Tuan Leon sudah kembali ke perusahaan, nyonya. Tadi bibi lihat tuan sudah pergi dengan mobilnya." Hartini yang baru datang dari membeli tepung terigu karena kurang dalam campuran adonan terakhir memberitahu tentang keberadaan Leon.
"Aneh." Ujar Icha bersamaan dengan Ninda, akhirnya mereka tertawa bersama.
Sedangkan Ayu tak bersuara sama sekali. Ia sengaja menyibukkan diri membentuk adonan kue nastar agar Icha dan Ninda tidak menanyakan macam-macam tentang Leon.
__ADS_1
Bayangan kejadian tadi benar-benar membuat Ayu kehilangan kata-kata, bahkan kehilangan semangat. Untungnya semua adonan sudah selesai dibentuk, hingga ia bisa duduk dan menenangkan hati dan pikirannya.