Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Mencari Jalan Keluar


__ADS_3

Semenjak kepergian Icha ke kampung halamannya membuat keseharian Marco menjadi hampa. Ia menjadi lebih pendiam dan lebih sensitif. Ingin rasanya menyusul Icha ke kotanya, namun ia takut kalau Icha akan terganggu dan membuatnya tambah marah. Ia berjanji akan segera menyelesaikan masalahnya dengan Valencia, agar hubungannya dengan Icha bisa kembali membaik.


Pagi ini Marco bersiap hendak ke perusahaannya. Selesai bersiap, ia segera turun ke lantai bawah untuk sarapan. Sudah ada kakek di sana yang menunggunya.


"Pagi, kek..."Salamnya datar. Ia menarik kursi dan segera duduk.


"Pagi, nak... Masih pagi tapi muka kamu kelihatan kusut sekali." ucap kakek meledek cucunya. Marco tidak peduli. Ia mengambil roti bakar lengkap dengan isiannya dan menggigitnya. Terasa hambar. Ia meletakkan kembali roti itu. Kakek tersenyum meledek padanya.


"Ada yang ingin aku bicarakan dengan kakek." ujar Marco serius.


"Ya... apa yang mau kamu bicarakan?"Jawab kakek lugas.


"Ini soal Valencia. Aku ingin kita bertemu orangtuanya dan memutuskan pertunangan kami, kek." Sahut Marco menatap kakek serius. Kakek manggut-manggut. Ia menghabiskan setengah gelas air putih hangat.


"Baik... sebaiknya memang kamu harus memutuskan pertunangan kalian secepatnya." tandas kakek mendukung Marco. Orangtua itu terlihat santai menanggapi permintaan Marco.


"Tapi... apa kakek nggak kuatir kalau orangtua Valencia marah dan memutuskan hubungan kerja dengan kita?" tanya Marco ragu.


"hahahahahaha... tenang saja. Christopher Agabus memutuskan hubungan kerja dengan GT Corp malah dia yang akan rugi." ujar kakek sambil terkekeh. Ia menyantap sarapannya santai. "Mungkin kakek hanya akan merasa kasihan dengan Val. Yaaaa.... Dia Pasti akan sangat kecewa dan sakit hati. Tetapi, seperti yang sudah pernah kakek katakan bahwa kalau urusan hati, kakek tidak bisa memaksa." Ujar kakek bijak.


"Makasih, kek..." Tutur Marco. "Aku hanya ingin segera hubunganku dan Marissa membaik, kek." keluhnya pelan.


"hmmm? Membaik? Maksud kamu?" tanya kakek tidak mengerti apa yang dimaksud membaik. Ia menatap Marco tajam menuntut jawaban.


Marco memang belum menceritakan masalahnya pada kakek. Ia berpikir dan berharap Icha tidak akan ngambek selama ini... ya, walaupun baru 3 hari. Namun, untuk Marco itu sudah terlalu lama. Ia merindukan gadis kalem itu.


Marco mendesah berat dan menyandarkan punggungnya ke kursi.


"Aku belum sempat jujur padanya soal hubunganku dengan Valencia, kek." papar Marco dengan tatapan hampa. "Valencia datang ke kantor dan mengacaukan segalanya."Lanjutnya geram.


"Val sudah tau hubunganmu dengan Marissa?" sanggah kakek cepat.


Marco menggeleng lemah.


"Belum, kek. Sudah hampir 4 bulan ia di


Paris. Dan aku nggak pernah berkomunikasi lagi semenjak dekat dengan Marissa." beber Marco menjelaskan lika-liku hubungannya dengan dua gadis sekaligus. "Aku terlalu larut dengan Marissa sampai lupa kalau ada yang harus aku selesaikan. Sejak ada Marissa di hidupku, aku sudah nggak peduli pada Valencia. Apalagi dia lebih mementingnya kariernya dari pada hubungan kami." sambungnya penuh sesal. "Alhasil, Marissa kecewa dan menjauh dariku." Marco benar-benar terlihat sangat menyesal telah menyakiti hati gadis lembut itu. "Aku harus gimana, kek? Aku nggak mau kehilangan Marissa." sesalnya Mendalam. Ia terlihat sangat frustrasi.

__ADS_1


Kakek menopang dagu dengan tangannya di atas meja makan.


"Jadi itu yang membuatmu beberapa hari ini kusut?" celetuk kakek menggoda cucu kesayangannya.


Ia berpikir sejenak mencari jalan keluar.


"Jalan satu-satunya kamu harus memutuskan hubunganmu dengan Valencia dan menjemput Marissa di rumah orangtua." ucap kakek serius. "Malam ini kita ke rumah Valencia. Kakek akan beritahu Berry untuk ke sana dan menyampaikan kabar kedatangan kita. Kamu harus bergerak cepat kalau tidak ingin kehilangan Marissa." papar Kakek serius dan tidak ingin dibantah. Tanpa menunggu pendapat Marco, kakek bangun dari kursinya berjalan masuk ke ruang kerja.


"Segera ke ruang kerja." terdengar suara kakek menelepon memerintah sesorang untuk menemuinya sebelum membuka pintu ruang kerja.


Tanpa menunggu lama, Berry sang asisten pribadi kakek memasuki ruang kerja kakek. Marco tidak ikut masuk, karena ia harus segera ke perusahaan. Ia menyerahkan semua pada kakek dan Berry.


"Pergilah ke rumah Christhoper Agabus, dan katakan padanya aku dan cucuku akan menemuinya malam ini. Kami akan bertandang ke rumahnya." Perintah kakek pada Berry, asisten pribadinya.


"Siap, kek." Jawab Berry sambil menunduk hormat. Berry memang diharuskan menyapa mr. LG dengan sebutan kakek. Hanya orang luar, partner bisnis atau pun lawan bisnisnya yang memanggilnya mr. LG.


Berry segera menjalankan perintah kakek tanpa bertanya ada keperluan apa kakek mau bertandang ke lawan bisnisnya itu. Setelah sampai, ia langsung disambit nyonya Riska Agabus.


Gila... masih pagi aja dandanannya udah semenor ini. Gimana sebentar malam menyambut kakek dan tuan Marco?


Gumam Marco dalam hati karena sedikit kaget dengan penampilan nyonya Agabus, mamanya Valencia.


"Selamat pagi. Mari masuk. Silahkan duduk dulu." sahut nyonya Riska senang menyambut kedatangan asisten pribadi mr. LG.


Merupakan suatu kehormatan bagi partner bisnis atau pun lawan bisnis dari laki-laki tua itu, jika ia mengutus asistennya datang untuk memberitahu sesuatu. Karena kalau bukan hal yang penting, maka Berry hanya perlu menelepon atau mengutus anak buahnya. Itu sudah menjadi rahasia umum di kalangan pebisnis.


Seperti pagi ini, ketika melihat kedatangan Berry, nyonya Riska merasa bangga dan senang. Apalagi Valencia putrinya sudah bertunangan dengan Marco, cucu kesayangan mr. LG. Nyonya Riska yakin, kedatangan asisten pribadi kakek tua itu untuk membicarakan tentang hubungan anaknya dan Marco.


"Apa yang membuat kamu pagi-pagi ke sini, Berry?" tanya nyonya Riska dengan wajah sumringah.


"Maaf, nyonya... saya diperintah mr. LG untuk menyampaikan bahwa nanti malam mr. LG dan tuan Marco akan bertandang ke rumah anda. Mr. LG ingin membicarakan hal penting dengan suami anda, dan juga anda, nyonya. Sekalian untuk bersilahturahmi." terang Berry mengenai maksud kedatangannya.


"Oh, ya ampuuuun... seharusnya kamu menelepon saja, Berry. Tidak perlu repot-repot sampai ke sini." ucap nyonya Riska hanya sekedar basa-basi.


"Tidak masalah, nyonya. Ini perintah tuan saya, jadi saya hanya mengikutinya saja." sahut Berry sopan. Ia bangkit berdiri hendak pamit ketika pembantu rumah tangga nyonya Riska muncul dengan nampan berisi segelas minuman dan beberapa cemilan.


" Kenapa buru-buru, Berry? Ayo, diminum dulu." ajak nyonya Riska.

__ADS_1


"Maaf, nyonya... saya tidak bisa berlama-lama lagi. Saya pamit." Berry menunduk memberi hormat dan segera melangkah keluar.


Nyonya Agabus sedikit tersinggung dengan sikap asisten pribadi mr. LG itu. Ia menatap punggung laki-laki tinggi itu dengan wajah meremehkan.


"Asisten aja belagu." cibirnya kesal. Ia mengambil handphonenya dan menelepon sang suami tentang rencana kedatangan mr. LG.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hingga malam pun tiba. Tuan Christhoper Agabus sudah selesai bersiap dan sedang menunggu kedatangan orang yang paling ditakuti dalam dunia bisnis.


Berbeda dengan istri dan putrinya. Mereka sibuk berdandan menyambut calon suami dan calon besan mereka.


"Selamat ya, sayang... akhirnya Marco datang untuk membicarakan tentang pernikahan kalian. Kamu harus bangga karena dari semua perempuan cantik, kamu yang dipilih menjadi menantu di keluarga Guatalla." Celoteh mamanya sambil memoles lipstik di bibirnya.


"Iya, ma... aku senang banget. Walau pun aku harus berhenti dari dunia modeling tetapi aku bisa menjadi nyonya Marco Guatalla." sahut Valencia percaya diri. Ia mematut dirinya di depan cermin.


"Perfect." Bangganya pada penampilan diri sendiri. Awalnya, ia belum mau menikah karena masih nyaman dengan dunia modelingnya.Tetapi, semenjak pulang dari Paris, sikap Marco padanya agak sedikit berubah. Itu membuat Valencia takut Marco akan meninggalkannya.


"Iya, sayang... kamu cantik banget. Pasti Marco akan lebih tergila-gila padamu." puji mamanya. "Ayo, kita ke bawah. Jangan sampai mr. LG dan Marco yang menunggu kita." Nyonya Riska menggandeng tangan Valencia ke luar kamarnya. Mereka segera menuruni tangga dan berjalan menuju ruang tamu, bertepatan dengan bunyi klakson mobil di halaman depan.


Terlihat mr. LG mengunakan baju batik mahal berlengan panjang. Pria tua itu memang sangat menyukai batik Indonesia. Ia bahkan memiliki banyak koleksi batik mahal. Sedangkan Marco, seperti biasa dengan kaos putih dilapisi blazer hitam mahal dan bercelana jeans hitam. Tampan dan tidak formal. Diikuti Raymond dan Berry di belakang mereka.


Mereka disambut ramah oleh keluarga Agabus. Valencia menampilkan senyum cantiknya berharap Marco makin jatuh cinta padanya. Tetapi, ia salah kira. Marco tidak menatapnya sama sekali.


Dua asisten kepercayaan keluarga Guatalla, Berry dan Raymond yang mengetahui maksud kedatangan tuan-tuan mereka pun saling pandang. Mereka terheran melihat penampilan nyonya Riska dan Valencia. Dandanan mereka seperti hendak ke pesta nikah. Gaun yang glamour dan dandanan yang norak. Mereka hanya tersenyum lucu dan tertunduk.


"Terimakasih, Mr. LG... anda mau berlelah untuk datang ke kediaman kami. Ini satu kehormatan bagi kami." ujar tuan Christo berpura-pura ramah. Mr. LG alias kakek bukannya tidak tahu kelicikan lawan bisnisnya ini. Tetapi, kakek selalu mempunyai trik sehingga tuan Christo tidak pernah berhasil menjatuhkannya.


Dari awal kakek mengetahui hubungan Marco dan Valencia, hati kecilnya menolak. Namun, lagi-lagi kakek tidak ingin ikut campur urusan hati dan perasaan cucunya. Jika Valencia bisa membuat Marco bahagia, kakek pasti akan mendukungnya. Walau pun kakek mengetahui tujuan licik orangtua Valencia dibalik hubungan mereka.


"Ah... tidak mengapa. Saya memang sekali-kali harus menyapa lawan bisnis saya." ucap kakek ramah tetapi penuh makna. Tuan Christo menelan salivanya gugup. Memang tidak mudah menghadapi orangtua yang satu ini. Kharismanya membuat nyali lawan menjadi ciut.


"Oh ya... Sebelum kita berbicara lebih lanjut. Ada baiknya kita menikmati makan malam terlebih dahulu, tuan." Ajak tuan Christo sambil mempersilahkan Mr. Lg dan Marco ke meja makan. "istri dan anak saya sudah menyiapkan makan malam untuk kita. Hari ini Valencia yang memasak untuk calon suaminya." sambung tuan Christo membanggakan putrinya, berharap mendapat nilai lebih dari calon besan.


"Wah... sudah bisa menjadi istri yang baik, ya." tandas mr. LG dengan tawa riang. Ya, mr. LG dikenal orang pebisnis yang selalu ceria. Ia ramah dan murah senyum. Namun, ketika ia disentil,ia akan membalas dengan sangat kejam.


Valencia tersenyum malu mendengar pujian mr. LG. Ia menatap Marco berharap Marco bangga padanya. Tetapi, lagi-lagi Marco hanya memandangnya tanpa ekspresi. Valencia kesal. Berdandan cantik pun percuma. Marco tetap datar padanya. Sikap Marco benar-benar berubah setelah ia pulang dari Paris.

__ADS_1


Mereka menikmati makan malam dengan cerita-cerita seputar bisnis.


__ADS_2