Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Membeli Saham Valencia.


__ADS_3

Tak terasa kehamilan Icha sudah memasuki bulan ke tujuh. Rumah tangga mereka pun dijalani dengan saling percaya dan menjaga komunikasi. Permasalahan yang pernah terjadi hingga hampir memisahkan hubungan mereka pun dijadikan pelajaran positif untuk menapak tangga berikutnya.


Marco selalu menjadi suami siaga bagi istrinya. Couvade syndrome yang pernah dialami Marco sudah lama tak dirasakan lagi. Ia sudah kembali normal dalam selera makanan dan minuman. Sekarang, Marco lebih posesif pada Icha yang sedang mengandung anak mereka.


"Sayang... kira-kira jenis kelamin baby apa, ya? Kamu maunya apa?" Tanya Icha saat mereka sedang di perjalanan menuju dokter kandungan untuk pemeriksaan rutin Icha. Selama kehamilan sampai memasuki bulan ke tujuh, Marco selalu menemaninya. Sesibuk apa pun ia di kantor akan menyempatkan waktu mengantar sang istri memeriksa kandungan. Ia tak ingin melewatkan masa pertumbuhan bayinya.


"Apa aja nggak masalah. Laki-laki atau perempuan, ia akan menjadi bagian terpenting dalam hidupku." Jawab Marco diakhiri dengan memberikan senyuman manis pada Icha. Tangan kanannya menyetir sedangkan tangan kirinya mengelus lembut perut Icha yang sudah membulat.


"Awww... Dia bergerak, yang." Seru Marco girang merasakan tangannya ditendang sang bayi. Marco berhenti saat lampu hijau di perempatan jalan diganti lampu merah. Dengan segera ia menunduk dan mencium perut Icha.


"Hei... nakal kamu, ya. Masa nendang mulut papa." Protes Marco saat tendangan bayi mengenai mulutnya. Icha tertawa senang mendengar celetukan ayah sang bayi yang dikandungnya. Marco terus menyerang dengan ciuman hingga lampu hijau memberi tanda untuk segera jalan.


"Nggak sakit perutnya, yang... kalo anak kita aktif gitu?" Tanya Marco kuatir.


"Nggaklah... agak geli dikit aja." Sahut Icha senang. "Nggak sabar deh pengen liat kakinya yang kecil. Pasti menggemaskan." Lanjut Icha senang. Marco membelokkan mobil ke sebuah klinik mewah. Setelah memarkir mobil di tempatnya, mereka segera masuk dan bertemu dokter pribadi yang sudah dihubungi Marco sebelumnya.


"Malam, tuan... mari silahkan duduk." Dokter perempuan berusia sekitar 45 tahun mempersilakan Marco dan Icha untuk mengambil tempat tepat di depannya.


"Selama sebulan ini ada keluhan, nyonya?" Tanya dokter ramah.


"Tidak, dok... bayinya anteng aja. Saya nggak terlalu repot atau merasa ada keluhan." Sahut Icha pelan.


"hmmm... bayinya pinter, ya. Nggak ngerepotin ibunya." Canda dokter. "Nyonya naik ke brankar, ya. Kita akan lihat keadaan bayi."


Icha langsung naik ke atas brankar dibantu Marco yang hanya menyimak percakapan mereka. Dokter mulai menggosok gel di perut Icha dan memasang alat ultrasonografi untuk mengecek keadaan bayi di dalam perut.


"Waaaah... liat bayinya, nyonya, tuan. Dia sangat sehat." Dokter mengarahkan alat itu tepat di kandungan Icha. Marco dan Icha tertawa senang. "Tuan dan nyonya ingin tau jenis kelaminnya?" Tanya dokter.


Marco dan Icha saling memandang. Senyuman bahagia tak pernah lepas dari bibir keduanya.

__ADS_1


"Gimana, yang?" Tanya Icha.


"Tidak usah, dok. Biar itu nanti jadi surprise buat kami." Tolak Marco. Sebenarnya ia ingin sekali mengetahui jenis kelamin bayi pertamanya namun ia juga ingin itu menjadi surprise bagi dirinya dan Icha agar mereka tetap penasaran sampai kelahiran nanti.


"Baiklah... tapi bayi anda aktif sekali. Anda merasakan keaktifannya?" Tanya dokter lagi. Icha tertawa pelan.


"Iya, dok... saya merasakan tendangannya tiap hari dan sangat sering." Jawab Icha bersemangat.


"Bagus. Bayi sehat harus aktif bergerak." Ucap dokter. Ia membersihkan perut Icha yang ditaruh gel, menurunkan bajunya dan menyuruh Icha untuk bangun dan duduk kembali. Marco pun dengan sigap membantu istrinya bangun dan turun dari brankar.


"Sudah memasuki usia 7 bulan, nyonya harus mulai banyak bergerak. Cukup jalan pagi tanpa alas kaki. Yoga kehamilan juga bagus sekali untuk menenangkan pikiran." Nasehat dokter sambil menulis resep obat yang harus ditebus Icha. "Ini vitamin dan obat penambah darah yang harus rutin diminum." Marco mengambil kertas putih itu dan membacanya sekilas.


Setelah pemeriksan, pasangan suami istri itu segera pamit. Selesai menebus obat, mereka kembali ke mansion.


"Mobil siapa ini?" Gumam Icha saat melihat mobil mewah sedang terparkir di halaman mansion. Marco menggandeng tangan Icha saat mereka sudah turun dati mobil.


"Eh... kalian udah pulang?" Kakek langsung menyapa Marco saat melihat cucu dan istrinya masuk. Marco mengerutkan kening melihat kehadiran tuan Christo, mantan calon mertuanya alias ayah si Valencia sedang asyik berbincang dengan kakek.


"Nak marco..." Christo ikut menyapa Marco. Suami Icha itu hanya menatap datar pada Christo. "Apa kabar, nak? Selamat ya, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah." Ucap Christo terlihat tulus. Marco masih belum menjawab. Icha yang melihat raut tak suka nampak dari wajah Marco, merasa tak enak hati dengan Christo.


"Terimakasih, Om... Alhamdulillah, kami baik. Gimana kabar om dan tante?" Icha membalas sapaan dari Christo. Marco masih berdiam dengan wajah tanpa senyum. Ia seperti mencurigai sesuatu.


"Alhamdulillah... om, tante dan Valencia juga sehat." Sahut Christo cepat.


"Ayo, aku antar kamu ke kamar." Ajak Marco langsung menggandeng tangan Icha dan berlalu dari sana. "Kek, aku antar Marissa dulu."


"Ya... ya... silahkan." Sahut kakek. "Semenjak istrinya hamil, Marco jadi posesif. " Sambung kakek. Terlihat senyuman bahagia tersungging di bibirnya. Christo tertawa mendengar cerita kakek. "Kita tunggu Marco turun. Setelah itu kamu boleh membicarakan soal saham padanya. Aku sudah menyerahkan semua urusan perusahaan pada cucuku itu."


"Saham apa?" Tiba-tiba terdengar suara bass Marco yang sudah muncul di balik pintu tengah. Ia langsung duduk di samping kakek dan memangku kaki di depan Christo.

__ADS_1


Kakek sudah paham sifat Marco. Jika ia tak suka akan kehadiran seseorang, ia akan tunjukkan langsung pada orang tersebut. Apalagi jika ada yang berbuat curang padanya, Marco tak segan langsung menghancurkan orang itu. Seperti malam ini, Marco seperti tidak menyukai kehadiran Christo. Ia merasa ada sesuatu yang perlu dicurigai dari laki-laki paruh baya ini.


"Chriato ingin bicara padamu, nak." Ujar kakek melaporkan keperluan Christo hingga berada di mansion ini.


"Ada apa, tuan Christo?" Marco tidak menyapanya om lagi seperti dahulu sewaktu ia masih menjadi tunangan Valencia.


"Begini, nak..." Christo mulai membuka suara. "Om ingin minta tolong. Perusahaan om yang di Malaysia lagi collaps. Om sudah berupaya sekuat tenaga untuk membangunnya kembali, tapi...." Christo menjeda ucapannya. Ia menarik napas panjang. "Om masih kekurangan dana. Om sudah mengucurkan banyak dana dari perusahaan di sini. Tapi belum juga mencukupi." Desahnya sedih. "Om mau minta tolong padamu, nak... agar bisa membantu om sedikit dana." sambungnya sedikit ragu.


Marco mendengar dengan seksama, namun belum juga ada segurat senyum di bibirnya.


"Om sangat berharap kamu bisa membantu om sejumlah dana untuk membangun kembali perusahaan om." Christo masih terus berbicara. "Om kasian sama ribuan karyawan om kalo sampe perusahaan om bangkrut." Ucapnya getir.


Marco menurunkan kaki. Ia melipat tangannya di dada.


"Jika alasannya karena karyawan maka saya tidak akan membantu mengucurkan dana." Ujar Marco datar. Christo sedikit tersentak mendengar ucapan laki-laki muda ini. "Tapi, saya akan membeli seluruh saham perusahaan itu." Sambungnya meyakinkan. "Bagaimana?" Tawar Marco. Christo terlihat gugup. Dalam hatinya, ia tidak ingin menjual perusahaannya. Namun, jika Marco tidak membantu pun sama saja. Tidak ada gunanya ia mempertahankan perusahaan itu. "Jika tuan tidak mau, maka perusahaan itu akan runtuh. Dan ribuan karyawan akan menderita. Bukan tidak mungkin mereka akan menuntut anda untuk membayar pesangon mereka." Beber Marco. "Anda bukan pengusaha kemarin sore, tuan. Kenapa perusahaan itu bisa collaps?" Tanya Marco heran. Tuan Christo menunduk dan menarik napas. Ia melihat sendu ke arah Marco.


"Perusahaan itu om percayakan pada Valencia. Semenjak berpisah denganmu, ia menjadi lebih pendiam dan selalu murung dan menangis. Ia menyalahkan dirinya yang terlalu sibuk menjadi model, hingga mengabaikan hubungan kalian." Jelas Christo pelan. "Hingga ia putuskan untuk berhenti dari dunia modeling. Lalu, om tawarkan perusahaan di Malaysia, Valencia bersedia. Ia juga ingin melupakan kamu, karena itu ia menerima tawaran om untuk memimpin perusahaan di Malaysia." Christo menarik napas lagi. "Sayangnya, ia ditipu oleh seseorang yang mengaku mencintainya." Christo mendesah sedih. "Hingga perusahaan iti kini goyah, nak. Valencia hampir bunur diri gara-gara kejadian ini."


Sunyi sepi. Marco dan kakek hanya mendengar cerita sedih Christo tentang putrinya dan perusahaan yang ia pimpin. Perusahaan besar yang bergerak di bidang kecantikan. Beberapa produk make up dan skincare sudah menjadi andalan mereka. Namun, kini perusahaan itu berada di ujung tanduk karena keteledoran pemiliknya sendiri.


"Keputusan saya tetap pada awal tadi. Saya tidak akan bantu mengucurkan dana. Namun, saya akan membeli semua saham perusahaan itu." Tegas Marco. "Tapi, tuan tidak perlu kuatir. Valencia boleh menjadi direktur utama di perusahaan itu. Namun, saya yang menjadi pemilik barunya. Bagaimana?" Ada sedikit angin segar ketika Marco tetap menjadikan Valencia direktur utama.


"Baiklah, nak... om setuju. Kamu boleh membeli semua saham dan kamu akan menjadi pemilik sahnya. Om akan siapkan semua surat-surat penting yang diperlukan Sebelum serah terima dan tanda pembelian saham." Sahut Christo sedikit bersemangat.


"Sampaikan pada Valencia. Saya tidak mau ada kesalahan kecil yang merugikan perusahaan. Karena kalau sampai itu terjadi, saya tidak segan-segan untuk mendepaknya dari kedudukannya sekarang." Ucapan Marco membuat Christo sedikit bergidik ngeri. Ia berpikir bahwa Marco dan Valencia pernah saling mencintai dan menjalin hubungan yang cukup lama karena itu tidak mungkin Marco akan menyakiti anak gadisnya. Namun, ia salah persepsi. Dalam bisnis, Marco tak pernah mengenal mantan tunangan atau apalah namanya.


"Ba-baik, nak... akan om sampaikan padanya." Jawabnya gugup. "Silahkan tuan lanjut ngobrol dengan kakek. Saya harus membuat susu untuk istri saya." Tanpa malu, Marco pamit dengan alasan yang tidak masuk akal, menurut Christo.


"hahahaha... tidak usah kau terpana begitu mendengar ucapan Marco. Selama istrinya hamil dialah yang membuat susu ibu hamil untuk Marissa. Ia paling hafal jadwal minum susu istrinya." Kakek tertawa melihat ekspresi menganga Christo yang tidak percaya mendengar Marco membuat susu untuk istrinya. "Marco sangat mencintai Marissa. Ia selalu menjaga istrinya bukan hanya fisiknya saja, namun makan minum, segala keperluan Marissa, Marco sangat perhatikan. Walau pun ia sibuk di kantor, tapi ia tak pernah melewatkan kewajiban sebagai suami." Penjelasan kakek membuat Christo merasa menyesal dahulu Valencia menyia-nyiakan hubungannya dengan Marco. Dan kini, Valencia harus menelan pil pahit setelah mengetahui dirinya ditipu habis-habisan oleh laki-laki tidak bertanggung jawab. Bertopengkan cinta, Valencia tergoda dengan rayuan dan janji manis laki-laki biadap.

__ADS_1


__ADS_2