
"Tante... bagaimana dengan benalu itu di mansion?" Tanya Valencia setelah ia menyeruput jus alpukat kesukaannya.
"hmmm... dia masih nyaman di mansion. Bahkan semakin besar kepala karena dia sudah diperlakukan selayaknya ratu di rumah mewah itu." Sahut Sania geram. Matanya memancarkan kebencian yang amat sangat besar pada Icha.
Valencia tersenyum sinis mendengar ucapan mama Sania. Dalam hati ia tertawa senang karena tanpa mengotori tangannya, ia bisa membalas dendam pada perempuan yang sudah merebut tunangannya itu melalui Sania, ibunya Marco.
Bagus. Dasar wanita tua bodoh. Umpat Valencia dalam hati.
"Sepertinya tante harus bertindak lebih cepat dan sedikit lebih kejam lagi agar benalu itu cepat pergi dari mansion." Ujar Valencia memanas-manasi Sania. "Kalo nggak, tante akan terus nggak dianggap di rumah tante sendiri."
Sania menyeruput kasar minuman dalam gelas. Kata-kata Valencia sungguh mengganggu pikiran dan hatinya. Memang benar ucapan Valencia, menurut Sania. Tiga puluhan tahun menjadi menantu di rumah itu, ia dianggap tidak ada oleh mertuanya.
Mr. LG seperti menjaga jarak dengan istri dari putra sulungnya itu. Apalagi, Adam 'dilempar' sampai ke Amerika dengan alasan mengurus perusahaan keluarga di sana.
"Ya, kamu benar. Tante harus sedikit lebih kejam agar dia cepat pergi dan merasa trauma untuk kembali ke mansion." Gumamnya marah. "Kamu tau, Val... tiga puluh tahun lebih tante menjadi menantu Guatalla, si tua bangka itu tidak pernah mau memberikan tante perhiasan turun temurun keluarga itu. Perhiasan langka dari batu zafir dan berlian mahal." Seloroh Sania mengingat kembali saat kakek memberikan perhiasan itu kepada Icha beberapa hari setelah mereka menikah. "Malah ia memberikan perhiasan mahal itu pada perempuan sial yang baru menjadi cucu mantunya sehari."
"Hah? Maksud tante, Perhiasan yang dulu biasa dipakai istri kakek?" Saking kagetnya, Valencia hampir saja menumpahkan jus alpukat. Sania menganggukkan kepala membenarkan pertanyaan Valencia.
Semua pengusaha kaya dan rekan bisnis mr. LG pasti mengetahui soal perhiasan yang biasa dipakai oleh nyonya Guatalla sewaktu mash hidup. Begitu juga Valencia. Ia mengenal keluarga ini sedari kecil karena ayahnya termasuk dalam pengusaha kaya dan sukses. Apalagi ia pernah menjalin hubungan dengan pewaris GT Corp selama hampir 6 tahun. Ia masih sangat mengingat bagaimana kilaunya kalung yang biasa dipakai nyonya Guatalla. Ia sering bermimpi suatu saat akan memiliki perhiasan seindah itu.
"Gila!!!! Tante tau, dari kecil aku selalu memimpikan suatu saat aku bisa memakai kalung dengan kilauan zafirnya yang jernih." Ucapnya tak percaya. "Sial... seharusnya aku yang memakai perhiasan mahal dan langka itu. Bukan perempuan kampung yang tidak tau diri seperti dia." Valencia mendengus tak suka.
"Semua istri rekan bisnis daddynya Marco sudah mengetahui tentang keindahan dan kelangkaan batu zafir itu. Mereka selalu menanyakan pada mommy kenapa tidak pernah mengenakan satu set perhiasan cantik itu." Ketus Sania bercerita. "Mommy malu, Val... terpaksa mommy berbohong dengan berbagai alasan." Sambungnya tanpa sadar menggengam erat gelas minuman di tangannya.
"Kakek benar-benar tidak menganggap tante sebagai menantunya." Valencia terus membuat suasana hati Sania memanas. "Puluhan tahun tante belum dianggap juga?" Ia sengaja bertanya agar ibu dari Marco itu semakin membenci Icha.
"Seharusnya tante yang mendapatkan warisan perhiasan itu." Gumamnya tanpe peduli ada pertanyaan Valencia.
"Tante harus mengambil satu set perhiasan itu dari Marissa. Dia bukan siapa-siapa. Tante yang harus mendapatkan barang mahal itu." Timpal Valencia semangat memberi dukungan pada Sania.
"Pasti, Val... tante pasti akan mengambil kembali hak tante dari benalu itu." Ketus Sania dengan marah.
Kedua wanita beda usia itu menikmati makan siang mereka di sebuah restoran mahal sambil terus bercerita tentang Icha yang mereka juluki sebagai benalu. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedari tadi memantau pergerakan mereka.
Ya, itu adalah mata-mata yang ditugaskan Raymond untuk memantau gerak-gerik ibu dari Marco ketika ia keluar rumah. Raymond sangat mengenali karakter perempuan paruh baya itu. Sifat dendam, iri dan tamak belum hilang dari diri pribadinya. Maka, selama ia masih berada di Jakarta, ia akan selalu ada dalam pengawasan Raymond. Kecuali, di dalam mansion, ia tidak menyiapkan mata-mata. Karena, Raymond percaya Marco bisa menjaga istrinya dari sang ibunda. Apalagi ada mr. LG, pasti Sania tidak akan berani macam-macam.
Raymond yang sedang sibuk membolak balik berkas di tangannya terhenti sejenak ketika mendengar suara handphone berbunyi. Ia segera menekan timbol hijau di handphone untuk menerima panggilan.
"Ya..." Sahutnya singkat menjawab panggilan telepon. "Ya... pantau terus. Jangan sampai hilang jejak." Entah apa yang dikatakan orang dari seberang telepon tetapi yang pasti Raymond memintanya untuk terus mengawasi Sania. Raymond takut dan curiga dia akan bertemu seorang preman dan menyewanya untuk mencelakakan Marco dan Icha.
Tak lama, ia bangun dari kursinya dan berjalan ke luar ruangan. Ia menuju ke meja Icha. Dari jauh ia bisa melihat istri bosnya itu pun sedang sibuk memeriksa file di komputer.
__ADS_1
"Hai, cha..." Sapa Raymond. Kalau hanya berdua dengan Icha, ia menyapa hanya dengan nama. Namun, berbeda kalau ia sedang bersama Icha dan Marco. Ia tetap menyapa Icha dengan 'nona'.
"Iya, Ray..." Icha mengangkat kepala melihat Raymond. Namun, Ada sesuatu yang membuat Raymond menatap intens wajah Icha. Ia merasa seperti ada sesuatu yang berbeda pada wajah itu. Tetapi, ia berusaha bersikap biasa saja.
"Ini... antarkan ke tuan suami, ya." Raymond menyodorkan tumpukan berkas di hadapan Icha. Wanita lembut itu mengerutkan kening.
"Kok aku? Antar aja sendiri ke tuan kesayanganmu itu." Balas Icha menjulurkan lidah menggoda Raymond.
"Astagaaaa...." Raymond memukul jidatnya sendiri. "Aku sudah berbaik hati lho memberi kamu waktu untuk bertemu suami dan menghabiskan waktu berdua." Celetuk Raymond.
"Idiiiih... tuan asisten lupa ya kalau aku dan suamiku itu bertemu setiap hari selama 24 jam?" Icha melanjutkan pekerjaannya tanpa peduli pada berkas di hadapannya. "Pergi, sana! Mengganggu aja." Suara lembut itu terdengar bukan seperti mengusir. Raymond tertawa mengejek.
"Suara kamu itu ngusir nyamuk juga kayaknya nggak mempan." Ledek Raymond dan segera membawa berkas itu ke ruangan Marco.
"Hiiiish... rese!" Umpat Icha kesal mendengar ledekan Raymond.
Tok..tok... tok...
"Masuk!"
Raymond segera membuka pintu dan masuk menemui Marco.
"Siang, tuan... ini berkas proyek pulau x. Sudah selesai. Anda hanya tinggal tanda tangan dan mulai proses eksekusi." Jelasnya tentang proyek pembangunan di pulau x.
"emmm... tuan, ada yang ingin saya katakan." Gumam Marco serius.
"Iya... ada apa?" Melihat raut wajah Raymond antara serius dan ada sedikit kekuatiran, Marco pun menjadi penasaran. "Ada sesuatu yang terjadi pada proyek ini?"
"Oh... tidak, tidak, tuan. Ini bukan soal pengerjaan proyek. Semua sudah aman. Tapi... " Raymond menjeda ucapannya.
"Tapi apa?" Tanya Marco cepat. Ia menatap Raymond dengan harapan apa yang didengar nanti bukan sesuatu yang merugikan perusahaan.
"Ini soal nona Marissa." Lirih Raymond pelan. Marco mengerenyitkan kening.
"Ada apa dengan Marissa?" Ia langsung merasa kuatir dan suaranya pun berubah datar.
"Saya harap anda bisa menjaganya di mansion, tuan... Karena, nyonya Sania bisa saja berbuat sesuatu yang membahayakan nona." Ungkap Raymond dengan pelan dan hati-hati. Ia takut Marco akan salah paham karena Raymond mencurigai ibu kandungnya.
Marco semakin dalam mengerutkan kening. Ia tahu dan menyadari jikalau selama ini sikap mommy pada Icha tidak pernah baik, selalu saja buruk di matanya. Tetapi, apakah mommy akan sanggup berbuat sesuatu yang jahat untuk mencelakakan Icha? Rasanya Marco tidak percaya jika mommy sanggup melakukan itu.
"Maksud kamu?" Tanya Marco heran. "Apa kamu ada melihat sesuatu yang bisa membahayakan Marissa?" Ia mulai kuatir dengan keselamatan istrinya.
__ADS_1
"Maaf, tuan... jika saya lancang." Imbuhnya memohon maaf. "Coba tuan perhatikan sudut kiri bibir nona Marissa. Sepertinya terluka dan sedikit bengkak." Ucapan Raymond membuat Marco tersentak kaget. Ia paling tidak bisa memperhatikan hal-hal kecil seperti ini. Berbeda dengan Raymond. Ia akan sangat jeli melihat hal yang sangat kecil sekalipun.
"Maaf, tuan... bukannya saya menuduh nyonya. Tetapi, tuan tau sendiri bagaimana sikap nyonya pada istri tuan. Begitupun, sebaliknya. Nona akan sangat menutupi sesuatu yang terjadi pada dirinya." Raymond hanya sekedar mengingatkan Marco soal perbedaan sifat dan sikap antara mommy dan sang istri.
Marco mengangguk mengerti. Rasa kuatir terlihat di wajah tampan itu.
"Akan aku perhatikan." Janji Marco. "Terimakasih, kamu sudah mengingatkanku." Tutur Marco tulus. "Sudah waktunya istrahat. Kamu boleh istrahat dan panggilkan Marissa ke sini."
Raymond segera keluar setelah memberi hormat kepada Marco, meninggalkan laki-laki tampan itu dengan sejuta pertanyaan di benaknya hingga ia tidak menyadari kehadiran Icha di sana.
"Sayang..." Tegur Icha pelan. "Kok ngelamun?" Tanyanya sambil meletakkan bekal makan siang mereka. Ia mulai mengatur makanan dan piring untuk makan siang mereka.
Marco bangun dari kursinya, melepaskan jas, mengendurkan dasi dan menggulung lengan baju hingga sikut. Lalu, ia beranjak ke meja makan yang berada di balkon ruangannya. Ia memeluk Icha dari belakang sehingga Icha menghentikan gerakannya. Ia mengecup leher Icha seperti kebiasaannya selama ini.
"Aku harap kamu tidak menutupi segala sesuatu dari aku." Bisik Marco ke telinga Icha. "Jangan menyimpan sendiri semua masalah dalam diri kamu, sayang. Berbagilah denganku." Ungkap Marco penuh arti.
Icha terdiam. Ia merasa tersindir dengan ucapan Marco. Niatnya memang baik, untuk menghindari pertengkaran antara ibu dan anak. Justru, Icha ingin sekali agar hubungan Marco dan mommy membaik dan berjalan normal selayak ibu dan anak. Makanya, ia tidak berniat melaporkan tingkah Sania yang sudah kelewat batas. Karena, kalau sampai Marco mengetahui apa yang sudah ibunya lakukan, ia yakin Marco akan semakin marah pada Sania, bahkan mungkin Marco akan mengirimnya kembali ke Amerika sesegera mungkin. Hubungan mereka akan semakin menjauh.
Marco membalikkan tubuh Icha. Ia mengelus pipi mulus Icha sambil mengamati setiap sudut wajah manis itu. Matanya terhenti pada sudut bibir kiri Icha yang membengkak. Ia menatap mata Icha meminta jawaban.
Icha berusaha tenang dan terlihat biasa saja di depan Marco. Ia terus melemparkan senyum manis untuk mengelabui sang suami. Untungnya juga, ia memakai foundation yang bagus sehingga bekas tamparan tidak terlihat jelas.
"Kenapa ini bengkak?" Tanya Marco pelan. Matanya mulai menunjukkan amarah.
"hmmm... ini tadi... aku nggak sengaja...hmmm kaki aku tersandung dan... aku hampir terjatuh...aku...,"
"Kamu mau jujur padaku?" Tanya Marco lembut karena ia tahu Icha sedang berbohong soal bengkak di sudut bibirnya.
"Serius, sayang... tadi pagi aku tersandung di tangga waktu buru-buru mau naik ke lantai atas. Aku mau bangunin kamu ke kantor. Tapi, nggak tau gimana kaki aku tersandung dan kejedot ujung pegangan tangga." Jelas Icha meyakinkan Marco. "Serius, sayang... aku nggak bohong." Rengeknya ketika melihat tatapan Marco memgintimidasi dirinya.
"Kenapa tidak memberitahuku?" Tanya Marco lagi. Icha menunduk. Wajahnya sebisa mungkin dibuat sendu.
"Aku takut kamu marah." Sahutnya pelan. "Tapi, aku sudah obatin kok. Tadi aku dibantu bibi Hartini." Jelasnya mereda amarah Marco.
Marco mengangguk dan menarik napas panjang. Entah apa yang ada di pikirannya.
Cup.
Ia mengecup lembut sudut bibir Icha yang terluka dan mengelusnya lembut.
"Jangan pernah berbohong padaku, sayang. Apalagi menyangkut keselamatanmu." Pesan Marco tegas.
__ADS_1
"Iya... aku nggak akan berbohong." Sahut Icha dengan melemparkan senyum manisnya. "Ayo, makan. Aku lapar." Ucap Icha sedikit manja. Ia berusaha mengalihkan perhatian Marco agar suaminya tidak mencurigainya lagi
Maaf, sayang... aku harus berbohong.