Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Penolakan Riska.


__ADS_3

Rama sudah duduk menunggu di restoran x dengan pakaian dan sepatu sederhana tapi tidak mengurangi ketampanannya. Laki-laki asli Jawa itu berpostur sekitar 182cm dengan kulit tidak terlalu putih namun memiliki lubang kecil di pipi kiri membuat auranya semakin kuat menggoda para wanita. Ia laki-laki baik dan bertanggung jawab tetapi karena keadaan perekonomian keluarga membuat ia harus menjadi seorang pria yang rela dibayar untuk melakukan apa saja, asal semua kebutuhan sang ibu terpenuhi.


Marco peka terhadap keadaan Rama sehingga ia mengajak laki-laki itu untuk bergabung di perusahaan besarnya. Sebenarnya, yang membuat Marco jatuh hati adalah kerelaan Rama untuk menggantikan dirinya melakukan satu dosa besar demi kesembuhan sang ibu, lalu dengan gentle ia pun mengakui dan mau bertanggung jawab atas kehamilan Valencia. Kalau Marco mau jahat saja, ia tak peduli atas kehamilan Valencia, toh perempuan itu sendiri yang menggali lubang dan ia sendiri pula yang terjebak di dalam lubang itu. Rama pun tak perlu bertanggung jawab karena ia dibayar jasanya untuk menolong Marco.


"Hai, Ram... udah lama?" Suara Marco mengagetkan Rama yang sedang melamun.


"Eh, tuan... baru 15 menit." Rama spontan berdiri menyambut kedatangan Rama yang selalu ditemani Raymond.


"Duduklah... kita menunggu om Christo dan tante Riska. Mereka terjebak macet di jalan utama." Dengan ramah Marco mengajak Rama duduk kembali, sedangkan Raymond menuju ke arah kasir untuk memberitahu sesuatu. Setelah itu mereka bertiga pun mulai bercerita tentang keadaan perusahaan sembari menunggu. Marco sengaja tak membuat jarak antara ia dan para asistennya.


"Kamu siap menghadapi keluarga Valencia?" Tanya Marco mengganti topik pembicaraan.


"Siap, tuan." Sahut Rama mantap.


"Om Christo orang yang baik dan pengertian. Berbeda dengan tante Riska." Marco menghentikan pembicaraan ketika seorang pelayan datang membawa pesanan Raymond tadi. "Tante Riska sedikit berpikiran primitif..." Ucap Marco membuat Raymond tertawa kecil. "Di otaknya hanya ada harta dan kekuasaan dan sayangnya Valencia pun ikut ajaran ibunya." Sambung Marco menyayangkan sifat Riska. "Aku berharap kamu bisa bertahan dan tetap mempertahankan rumah tanggamu kelak." Tutur Marco berharap kesabaran Rama. Laki-laki muda itu hanya mengangguk dan menyimak dengan baik setiap ucapan Marco.


Rama akan memasuki babak baru dalam hidup dan Marco sudah memberitahu terlebih dahulu kisi-kisi bakal rumah tangga yang akan ia jalani. Setidaknya ia tidak akan kaget lagi setelah sah masuk dalam keluarga calon istrinya yang kaya raya itu.


"Saya akan berusaha sekuat saya, tuan." Ujar Rama pelan. Tak lama terlihat seorang laki-laki paruh baya didampingi perempuan yang mungkin seumuran berjalan mendekati meja yang diduduki Marco dan para asisten.


"Selamat malam... maaf, kami terlambat." Suara ramah Christo terdengar. Raymond dan Rama segera berdiri menuduk kepala sebagai tanda penghormatan mereka pada tamu. Marco hanya tersenyum dan menerima uluran tangan Christo dan Riska.

__ADS_1


"Mana laki-laki yang sudah menghancurkan hidup Valencia?" Riska tak ikut menyalami Marco, apalagi dua laki-laki asisten Marco itu.


"Mama..." Tegur Christo cepat. Raymond dan Rama saling melemparkan pandangan karena terkejut mendengar pertanyaan Riska yang dipenuhi emarah. "Kalau kamu nggak bisa bicara baik-baik, lebih baik kamu pulang!" Geram Christo menatap nyalang pada istrinya.


"Tapi, pa... kamu lihat sendiri keadaan Val sekarang gimana." Sambar Riska sedikit meninggikan volume. Marco dan Raymond serempak tersenyum sinis melihat tingkah Riska yang sudah membuat malu Christo, suaminya.


"Duduk dulu, tante... Kita bisa bicara baik-baik." Imbuh Marco pelan namun tegas dan tidak memerlukan bantahan. Raymond menarik tangan Rama untuk duduk.


"Santai aja. Nggak usah terpengaruh sama tingkah calon mertua kamu." Bisik Raymond dekat telinga Rama. Laki-laki sederhana itu hanya mengangguk dan kembali bersemangat karena mendapat dukungan Raymond.


"Maafkan tante Riska, Marco..." Ucap Christo merasa malu pada Marco.


"Tidak apa-apa, om.. saya paham perasaan tante. Tapi..." Marco menegakkan tubuh dan menyesap minuman di depannya sebelum melanjutkan kalimat. "Saya harap tante mau mendengarkan cerita yang sebenarnya sebelum menuduh orang yang tidak-tidak." Mata dingin Marco sedikit membuat Riska salah tingkah.


"Iya, nak... tante sudah tau. Tapi kan seharusnya laki-laki itu tidak perlu meniduri Valencia." Ia menatap tajam pada Rama. "Cukup ia mengingatkan Val saja kan bisa." Sewotnya lagi.


Marco tertawa sinis. Ia mengambil gelas minum, meneguknya pelan dan meletakkan kembali ke atas meja.


"Ya... tante benar, seharusnya Rama bisa melakukan itu. Rama bisa pergi tanpa menyentuh Val. Tapi, tante menjamin Val akan baik-baik saja?" Tanya Marco penuh makna. "Seandainya kalau saat itu Rama pergi, Val bisa menggila. Karena setelah ia mandi, ia meminum obat perangsang. Tante bayangkan kalau saat obat perangsang itu sudah bekerja dalam tubuh Val, lalu Rama menghilang, sedangkan Val membutuhkan pelampiasan karena obat laknat itu, apakah dia tidak akan mencari pelampiasan ke laki-laki lain? Laki-laki yang belum tentu secara gentle mau mengaku dan bertanggung jawab atas kehamilannya." Terang Marco panjang lebar. Dari nada bicaranya terdengar sekali ia sedang menahan diri sekuat hati untuk tidak terbawa emosi. "Ini Rama... laki-laki yang menyelamatkan aku dari rencana licik Valencia. Saat itu kalau Rama tidak bersedia menggantikan aku, entah apa yang terjadi dengan keluargaku, istri dan anakku." Sambung Marco sambil menatap intens mata Riska. Tersirat sedikit amarah di sana. "Kalau bukan Rama, saat ini pasti Valencia akan menanggung sendiri buah yang ia tanam." Marco mengarahkan telunjuk kiri ke arah Rama namun matanya tetap pada mata Riska. "Kalau bukan Rama, anak dalam kandungan Val akan menjadi cemooh banyak orang. Kalau bukan Rama, harga diri dan nama baik om Christo yang dibangun susah payah hancur seketika." Marco benar-benar tak memberi jeda pada ucapannya. Ia tak memberi kesempatan Riska berbicara.


"Jangan salahkan orang lain atas kesalahan yang dibuat putri tante." Nada suara Marco terdengar makin dingin. "Asal tante tau... kalau saja saat itu memang aku yang terjebak, maka demi istri dan anakku, aku tidak akan pernah mau bertanggung jawab atas bayi Val. Aku tak peduli jika memang bayi itu darah dagingku." Kalimat sarkas Marco membuat Christo yang sedari tadi menunduk segera mengangkat kepala melihat Marco. "Maaf kalau kata-kata saya menyakitkan... tapi itu kenyaatannya." Marco beralih menatap Christo. Ia tahu ucapannya sedikit membuat Christo namun ia sengaja tidak mau tahu. "Jadi, turunkan ego tante. Terima Rama sebagai menantu tante agar harga diri dan nama baik keluarga tante dan om bisa terjaga dengan baik. Tapi, jika tidak...." Marco menahan ucapannya. Ia menatap Riska dan Marco bergantian. "Jika tidak, jangan pernah menyesal dengan penolakan kalian dan jangan sekali-kali mencari Rama, karena aku yang akan kalian hadapi." Ancam Marco membuat Riska menciut.

__ADS_1


"Om tidak mungkin menolak Rama, nak. Tidak mungkin om menolak laki-laki yang mau bertanggung jawab pada Val." Akhirnya terdengar suara Christo. "Om percaya pada pilihanmu. Kita akan segera menikahkan mereka." Tegas Christo. Riska menoleh meliha Christo dengan mata melebar.


"Nggak, pa... mama nggak mau!" Tolak Riska dengan keras. "Kita belum mengenalnya dengan baik, belum mengenal keluarganya, bibit bobot bebetnya, pekerjaannya apa." Sanggah Riska. "Apa papa mau kita menikahkan anak kita dengan preman sepertinya? May ditaruh dimana muka kita, pa?!?" Kekeh Riska menolak.


"Kamu cukup diam, biarkan aku yang mengurusnya." Bentak Christo tak kuasa menaham amarah lagi. "Cukup sibukkan diri kamu dengan teman-teman sosialitamu. Aku yang akan mengurus pernikahan Valencia." Lanjut Christo menyindir kebiasaan Riska. Suasan hening. Riska terdiam dengan menahan emosi di hati. Marco dan Raymond saling melempar pandangan dan. tersenyum sinis. Sedangkan Rama, ia akan mengikut arus kemana ia akan dibawa.


Christo menarik napas panjang dan membuangnya perlahan untuk meredakan amarah bercampur malu dengan perbuatan Riska.


"Rama..." Christo menyebut nama pemuda sederhana nan tampan itu. "Maaf, kalau karena perbuatan anak saya, kamu harus menanggung beban yang berat." Ungkap Christo.


"Tetapi, saya juga berterimakasih karena kamu mau bertanggung jawab atas bayi dalam kandungan Valencia." Sambungnya merendah.


"Saya sudah mendengar semua cerita tentang latar belakang kamu. Saya percaya pilihan Marco pasti yang terbaik." Rama terdiam mendengar kalimat demi kalimat yang diungkapkan Christo, calon mertuanya. "Kalian belum saling mengenal, tapi pasti Marco sudah menceritakan tentang karakter putri saya." Christo menarik napas panjang. "Saya percayakan putri saya, Valencia, kepadamu. Persiapkan diri kamu, karena kamu dan Valencia harus segera menikah sebelum bayimu lahir."


Betapa senangnya Rama mendengar keputusan Christo. Akhirnya, ia bisa menebus kesalahan besar yang sudah ia perbuat, walaupun dengan mata kepala sendiri ia melihat bagaimana penolakan Riska, mama Valencia, terhadap dirinya. Namun, cukup ada Marco dan Raymond ditambah restu dari Christo sudah membuat mantap langkah Rama.


Akhirnya terdengar keputusan mutlak Christo yang disetujui oleh Marco dan Raymond namun tentu saja tidak dengan Riska. Ia tak bisa membayangkan jika ia memiliki menantu yang miskin seperti laki-laki di depannya ini, apa kata teman-teman sosialitanya. Ia pasti akan dibandingkan dengan sesama menantu teman-temannya.


"Aku yang akan membantu Rama untuk urusan selanjutnya." Tegas Marco. Mereka sama sekali tidak peduli pada perempuan paruh baya yang secara terang-terangan menolak Rama menjadi menantunya.


"Terimakasih, Marco... terimakasih sudah menolong kami walaupun kamu sudah dikhianati Valencia." ungkap Christo pelan. Marco mengangguk cepat dan melemparkan senyuman tulus.

__ADS_1


"Saya tidak ingin Valencia terlalu jatuh ke dalam kesalahan dan kekeliruan yang ia perbuat, om." Tandas Marco.


"Yaaa... kamu benar. Terimakasih sekali lagi. Titip salam untuk istri dan anak kamu."


__ADS_2