
Setelah bersiap, Leon segera keluar dari kamar menuju ruang keluarga. Pasti Ninda sudah mulai kesal menunggu si kakak yang lama keluar dari kamarnya.
"Lama banget si kakaaaaak..." Rengek Ninda ketika melihat kemunculan Leon. "Untung cakep.. kalau nggak, udah ditinggal dari tadi." Sambungnya terpesona melihat ketampanan Leon. Leon hanya mengacak rambut Ninda membuat gadis itu semakin sewot. Marco, Icha dan Rossa hanya tersenyum melihat tingkah adik dan kakak itu.
Mereka segera masuk dalam mobil dan Leon bertugas menjadi sopir.
"Masih ingat jalannya, kak?" Tanya Ninda.
"Masihlah. Kamu pikir kakak lahir di Amerika." Sahut Marco sewot. "Tapi aku belum tau rumah bi Rossa." Lanjutnya.
"Nanti bibi tunjukkan jalannya." Sahut Rossa.
Mereka terus menikmati angin malam sekalian ramainya kota Jakarta sepanjang jalan menuju rumah Rossa. Ninda asyik bercerita banyak hal dan terkadang membuat mereka tertawa lucu.
"Belok kiri, nak..." Ucap Rossa saat sudah sampai di dekat rumahnya.
"Wah... lagi ramai restonya, Ros." Ujar Icha saat melihat keadaan restoran sederhana milik Rossa sudah dipenuhi banyak pelanggan.
"Iya, nyonya... alhamdulillah." Sahutnya bersyukur. "Mari tuan, non... silahkan masuk." Rossa mempersilahkan tamu kehormatannya masuk ke dalam restoran. Ia menuntun mereka menuju sebuah mejs besar yang belum ditempati pelanggan lain karena memang sudah disiapkan untuk Marco sekeluarga.
"Rumah bibi yang di samping itu?" Tanya Leon sambil melihat rumah sederhana berlantai dua di samping restoran.
"Iya, nak... tuan Marco memberikan sebidang tanah yang luas untuk kami membangun rumah serta restoran ini." Jawab Rossa terharu. Leon tersenyum dan merangkul mantan pengasuhnya itu.
"Itu rejeki bibi..." Ujar Leon lalu ikut duduk di samping sang mama.
Rossa Segera memanggil salah satu pelayan restoran lalu menyuruhnya untuk membawa makanan yang sudah disiapkan Ayu. Karena dari sore tadi, Rossa sudah menelepon Ayu untuk memasak makanan favorit di resto ini.
Dengan menunduk hormat, pelayan muda itu segera melakukan perintah Rossa.
"Tuan... maaf, kalau tempatnya tidak nyaman." Ujar Rossa merasa segan pada Marco, seorang pengusaha kaya raya yang sudi mampir dan menikmati makanan sederhana resto ini.
"Oh... tidak, Ros. Tempatnya memang sederhana namun sangat menyenangkan dan nyaman." Imbuh Marco sambil melihat-lihat keadaan sekitarnya. "Kamu pintar menata meja kursi serta pernak-pernik penghiasnya." Lanjut Marco memuji pemilik resto ini.
"Iya, bi... bunga-bunganya juga cantik. Apalagi digantung begitu. Kesannya asri dan sejuk." Timpal Ninda menyetujui ucapan sang papa. "Itu pasti idenya Ayu. Tuh anak emang hobi sama bunga." Tebak Ninda.
Tak sampai lima belas menit, pelayan tadi sudah datang membawa pesanan dengan beberapa pelayan lain. Mereka mengatur semua makanan dengan rapi dan sopan.
Terlihat Haris, suami dari Rossa yang juga mantan sopir pribadi Ninda sewaktu sekolah dulu datang tergopoh-gopoh dan menunduk hormat pada Marco dan Icha.
"Selamat malam tuan, nyonya, den Leon dan non Ninda... terimakasih sudah mau mampir ke sini." Sapa Haris penuh hormat. Leon yang mendengar suara Haris spontan saja berdiri dan menghampiri laki-laki yang sudah mulai beruban itu.
Tanpa disangka, Leon memeluk Haris seperti keluarga.
"Om Haris... apa kabar?" Tanya Leon ramah. Haris tersenyum dengan haru. Ia merasa sangat beruntung mengenal keluarga kaya namun bersahaja seperti mereka.
"Alhamdulillah... om baik, nak. Gimana keadaan nak Leon?" Haris balik bertanya. Jangan heran mengapa Rossa dan Haris tidak memanggil Leon dengan embel-embel 'tuan' karena memang itu perintah dari nyonya besar, siapa lagi kalau bukan Marissa alias Icha. Karena Icha tidak mau menciptakan jarak antara anak-anaknya dengan keluarga Rossa yang sudah mengasuh Leon dengan begitu tulusnya.
"Ayo, ris... kita makan sama-sama. Panggil juga Ayu dan Rissa." Imbuh Marco. "Di mana mereka?" Lanjutnya bertanya.
"Ayu masih sibuk di belakang, tuan... masih banyak makanan yang harus dibuat." Ujar Haris. Ia menempati kursi di samping kanan Marco atas perintah tuannya itu.
"Aku ke toilet sebentar." Leon bangun dari duduknya dan berjalan menuju ke belakang restoran. Banyak mata melihat kagum padanya. Postur tubuh yang tinggi dan tegap, wajah blasteran namun rambut hitam mengkilap membuat pesona Leon benar-benar terpancar sempurna.
__ADS_1
"Awwww...." Suara rintihan seorang gadis memggunakan masker tanpa sengaja menabrak Leon.
Deg!!!
Ternyata itu suara Ayu yang tak sengaja menabrak Leon. Ia melihat wajah tampan yang sudah sangat dirindukan sedang menatapnya dengan datar.
"Maaf, tuan..." Ayu segera menunduk dan meminta maaf, namun karena tak ingin Leon mengenalnya ia segera menghindar tanpa melihat wajah tampan itu lagi.
Leon hanya mengeritkan kening tak mengerti mengapa gadis itu seperti tidak mau melihat wajahnya. Leon pun tak mengenal siapa gadis itu karena ia menggunakan masker hitam yang menutup sebagian wajahnya.
Tak peduli dengan gadis itu, Leon melangkah menuju ke kamar mandi. Sedangkan Ayu masuk dalam kamar privasi untuk pemilik resto. Napasnya terasa berat naik turun tak karuan. Ia melepaskan masker untuk menghirup banyak udara karena dirasa seperti oksigen dalam tubuhnya habis tak tersisa.
"Ya Tuhan... jantung ini." Gumamnya pelan sambil memegang dada yang berdenyut kencang. "Semoga ia tidak mengenalku." Harapnya cemas. "Untung juga aku pake masker." Ucapnya setelah ia membuka masker yang menutupi sebagian wajah cantiknya.
tok... tok... tok...
Ayu terperanjat kaget mendengar bunyi ketukan pintu. Ia melihat dari jendela kecil di dalam kamar itu.
"Ada apa, Yan?" Tanya Ayu setelah melihat Yana, salah satu pegawai di restoran.
"Itu, mba'... Cumi hitam asam pedas sudah habis, sedangkan masih banyak pelanggan yang order." Ujar Yana sedikit cemas. Ayu tersenyum.
"Kan bumbunya udah ada di kulkas, Yan... tinggal diolah." Sahut Ayu lembut.
"Mereka maunya mba' yang masakin." ucap Yana sedikit manyun. Ayu menggelengkan kepala. Ia segera keluar dan menuju ke dapur. Tanpa banyak suara, ia mengeluarkan bumbu cumi asam pedas dari dalam kulkas dan langsung menumis secukupnya setelah Yana sudah menyiapkan kuali di atas kompor gas. Dengan lincah Ayu mengolah makanan yang menjadi favorit banyak pelanggan itu. Harumnya pun langsung tercium menyengat hidung membuat semua orang yang sedang asyik menikmati makan malam menelan ludah seakan merasa sedang menikmati pedasnya cumi hitam.
"Ros.... ini harum cumi hitam asam pedas buatan kamu, ya?" Icha pun tak kalah tergiur ketika harum masakan Ayu melewati hidung mancungnya.
"hmmmm.... pantas saja hidungku langsung mengenali masakan andalanmu." Rossa tertawa mendengar pujian Icha.
"Ayu lagi sibuk masak ya, bi? Kok nggak ikutan kita makan di sini?" Tanya Ninda yang sedari tadi asyik menikmati udang krispi kesukaannya.
"hmmmm.... kalau jam makan malam begini jangan dicari Ayunya, non. Dia lagi sibuk masak di dapur. Banyak pelanggan maunya Ayu langsung yang masakin, makanya dia selalu sibuk di dapur." Sahut Rossa tersenyum.
"Dia tuh mau jadi dokter atau koki sih sebenarnya?" Cibir Ninda masih tetap mengunyah udang krispi.
"Makan dulu. Jangan banyak bicara." Tegur Leon yang sudah ada di samping Ninda sehabis dari toilet.
Ninda hanya mendelikkan mata pada sang kakak.
"Omsetnya lumayan baik, ris?" Suara Marco terdengar menyebut nama Haris, suami Rossa.
"Alhamdulillah, tuan.... selalu naik setiap bulan." Jawab Harris cepat setelah mendengar namanya di sebut. Marco mengangguk sambil memperhatikan pelanggan resto yang keluar masuk tanpa henti.
"Ramai juga ya, om." Leon bersuara.
"Alhamdulillah, den... sudah semakin ramai." Sahut Haris ramah.
Setelah selesai menikmati makan malam mereka masih melanjutkan cerita sampai waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Ninda yang sudah tak bisa menahan kantuk merengek meminta papanya untuk segera pulang.
"Pulang, pa...." Rengek gadis manja itu sambil bersandar di pundak sang papa.
"Kita tunggu Leon sebentar." Sahut papanya pelan. "Dia masih ke toilet." Lanjut Marco sambil mengusap lengan Ninda.
__ADS_1
Memang, tadi Leon pamit ke toilet. Tapi sebenarnya ia menuju ke kasir untuk membayar makanan yang mereka makan. Ia tahu ketika ia meminta ijin membayar ke kasir pasti Haris dan Rossa akan menolak dengan tegas, sedangkan ia tidak mau membuat mantan baby sitternya merugi walaupun sedikit.
'Minta bill meja nomor satu." Suara bass Marco seketika membuat Ayu mengangkat kepala melihat ke pemilik suara itu.
Wajah kaget dan panik Ayu membuat gadis itu segera memakai masker yang sempat dibukanya tadi. Marco hanya mengeritkan kening. Lampy samar yang sengaja dipasang Haris pada ruang kasir membuat Marco tidak terlalu memperhatikan wajah gadis ini. Apalagi dengan cepat ia memakai masker.
"Meja satu tanpa bill, tuan..." Suara lembut Ayu dibuat setenang mungkin.
"Hitung semuanya. Saya akan membayar." Tegas Leon tanpa senyum.
"Tapi, tuan.... tadi kami sudah diberitahu kalau meja satu tanpa bill." Sanggah Ayu cepat karena memang itu kenyataannya. Tak mungkin ia meminta bayaran pada orang yang sudah memberi orangtuanya modal untuk membuka usaha ini secara cuma-cuma.
"Hitungkan billnya sekarang. Saya akan membayar." Suara datar Leon mulai terdengar mendesak.
"Tapi, tuan.... ka-kami tidak mencatat menu makanan yang tuan pesan." Ayu masih mencoba mencari alasan.
"Jangan bodoh. Biarpun gratis kamu harus tetap mencatat semua pengeluaran untuk menghitung untung ruginya." Imbuh Leon tetap mendesak Ayu.
"Di mana Ayu? Anak pemilik resto ini? Saya akan membayar padanya jika kamu masih saja membantah." Ancam Leon.
Deg...
"Oh, berarti ia tidak mengenaliku." gumam Ayu dalam hati.
"Oh... nanti saya lihat dulu menunya, tuan. Tunggu sebentar." Tak mau identitasnya diketahui Leon, ia segera memanggil Yana dan menyuruhnya menghitung semua harga makanan sesuai pesanan Leon dan keluarganya tadi.
"Jumlah semuanya 587rb, tuan... tapi..." Kali ini Yana yang berusaha memberi pengertian pada Leon.
Mendengar kata tapi, Leon mengerenyitkan kening dan menatap tajam ada Yana. Pelayan itu tertunduk segan.
"Kami takut dimarahi ibu Rossa jika menerima uang dari anda, tuan. Karena tadi ibu sudah berpesan untuk tidak boleh menerima uang dari anda dan keluarga anda. Karena anda dan keluarga adalah tamu istimewa ibu dan pak Haris." Jelas Yana berusaha meyakinkan Leon. Bukan ia mengarang cerita tetapi memang begitulah pesan Rossa pada semua pelayannya.
Tak peduli dengan omongan Yana, Leon mengambil EDC atau Electronic Data Capture dan menggessek kartu kreditnya lalu menekan angka sesuai yang dikatakan Yana.
"Kalian tidak perlu memberitahu tante Ros, maka kalian aman." Ucap Leon datar sambil memasukkan kembali kartu kredit ke dalam dompetnya.
"Dan kamu...." Tunjuk Leon pada Ayu. Seketika Ayu langsung menatap mata Leon. "Tatap mata lawan bicaramu ketika sedang ngobrol." Sambungnya dingin.
Mata mereka saling menatap. Namun, ada yang aneh dengan mata gadis ini. Leon merasa pernah mengenal bentuk bola mata pelayan ini. Tapi, siapa pemilik bola mata yang familiar di bayangannya?
Tak ingin mengingat hal yang tidak penting, Leon segera pergi meninggalkan Ayu dan Yana.
"Gimana ini, mba'? Nanti ibu bisa marah lho." Ujar Yana cemas.
"Tidak apa-apa. Nanti aku yang akan bicara pada ibu." Jawab Ayu namun matanya masih memandang langkah Leon yang sudah semakin menjauh lalu menghilang.
"Lama banget, kak.... aku ngantuk nih." Omel Ninda saat melihat kemunculan Leon. Laki-laki tampan itu hanya tersenyum dan mengacak rambut Ninda hingga sedikit berantakan.
"Kakaaaaaaaak...!" Teriak Ninda kesal. "Kebiasaan." Lanjut Ninda sambil menyisir rambut dengan jarinya.
"Udah nggak ngantuk, kan?" Malah Leon semakin menggoda adiknya hingga ia mendapat pelototan mata dari Ninda.
Tak lama mereka pun pamit pulang.
__ADS_1