
"Terimakasih untuk jamuan makan malam ini. Makanannya luar biasa enak." Puji Mr. LG setelah selesai makan malam bersama. Mereka kembali ke ruang tamu. Suasana sudah mencair, tidak sekaku seperti awal kedatangan mr. LG dan Marco. Kakek tua itu membuat suasana lebih akrab dengan tuan rumah.
Valencia yang tampil cantik dengan gaun mahalnya tidak membuang kesempatan. Ia duduk di samping Marco dan menggamit lengan tunangannya. Ia selalu menampilkan senyum manisnya.
"Kedatangan kami ke sini karena ada sesuatu yang harus kami beritahu."ucap kakek pelan. Raut mukanya mulai serius. Ia melirik sebentar ke arah Marco. "Tetapi, sebelumnya kami meminta maaf, kalau apa yang akan kami sampaikan ini akan menyinggung perasaan kalian." sambung kakek melihat kedua orangtua Valencia mulai gelisah. Apalagi nyonya Riska yang mulai curiga dan mengetahui ujung dari maksud pria tua berkharisma itu.
"Biar aku yang bicara, kek." Ujar Marco dingin. "Om, tante... maaf, kalau apa yang akan aku katakan membuat kalian kecewa, tetapi aku harus mengatakan ini." Ia menarik napas panjang sesaat. Suasana hening. Semua yang ada di ruangan itu penasaran dengan apa yang mau disampaikan Marco. "Aku tidak ingin melanjutkan pertunanganku dengan Valencia." Tegas Marco dan berhasil membuat semua mata melebar, kecuali si kakek. Kakek hanya serius menatap cucunya. "Aku merasa hubungan kami sudah tidak bisa dilanjutkan lagi." Lanjut Marco lantang.
"Sayang... " Seru Valencia shock. "Kamu jangan bercanda!" sentaknya lagi. "Kamu bohongkan?" Tanyanya tidak percaya dengan apa yang sudah ia dengar. Tuan Christo dan istrinya juga nampak kaget dan tidak percaya.
"Aku tidak bercanda, Val. Aku merasa kamu tidak serius dengan hubungan ini." Sahut Marco tenang. Ia menahan hatinya untuk tidak bersuara tinggi. Valencia yang awalnya menggamit lengan Marco pun segera melepaskan tangannya. Ia shock.
Mata Valencia berkaca-kaca dan masih tidak percaya. Ia menatap sendu mata Marco. Ia tidak menemukan cinta itu lagi di mata kekasihnya. Airmatanya semakin deras mengalir.
"Tapi kita baik-baik aja kan, sayang?" Kilah Valencia dengan terisak. Terlihat tuan Christo sudah mulai marah karena putrinya menangis sedih.
"Kita tidak baik-baik saja, Val." Tandas Marco pelan tapi sangat tegas. Nada suaranya masih bisa ia tahan agar tidak meninggi. "Kamu lebih mementingkan dunia modeling kamu. Kamu berkeliling dunia untuk pemotretan berbulan-bulan." Marco menekankan kata berbulan-bulan. "Bahkan kamu bisa tidak memberiku kabar berbulan-bulan. Apanya yang baik?" Sanggah Marco . Valencia tidak berkutik. Ia hanya menatap Marco tak percaya.
"Hubungan kita tidak bisa dilanjutkan. Kamu bebas menjalani profesi yang kamu bangga-banggakan itu sekarang." Lanjut Marco
"Cukup!" suara tuan Christo menggema. Semua mata tertuju padanya. Mukanya memerah menahan marah. "Menjadi seorang model adalah impian Valencia. Seharusnya sebagai tunangannya, kamu mendukungnya." Cecar tuan christo marah. "Kamu tidak bi... "
Belum selesai bicara, Marco sudah menyanggah perkataan mantan calon mertuanya.
"Aku sangat mendukung karier putri anda, tuan. Anda boleh bertanya padanya." Potong Marco sangar sambil menunjuk Valencia yang sedang terisak dalam pelukan mamanya. "Karena itu aku menunda pernikahan kami hanya karena dia masih ingin menjadi model." lanjutnya masih sangar. " Tapi, mau sampai kapan? Sampai kapan dia mau menunda pernikahan?" sarkas Marco. Kakek tersenyum melihat kegarangan cucunya. Dalam hati ia menertawai tuan Christo yang tidak berkutik walau pun emosinya sudah sampai pada ubun-ubun. Nyalinya belum cukup tinggi untuk menghadapi Marco, apalagi ada mr. LG di situ.
__ADS_1
"Tapi sekarang Valencia sudah bersedia menikah, Marco. Bahkan ia rela melepaskan kariernya demi kamu." Seru nyonya Riska yang sedari tadi hanya diam dan menenangkan putrinya. Ia pun segera ikut menangis, sedih melihat nasib anaknya.
Marco tersenyum sinis. Ia tidak peduli dengan airmata Valencia. Ia menatap Valencia tanpa rasa iba. Bahkan rasa yang dulu pernah menggebu-gebu di hati lenyap entah kemana.
"Maaf, tante... Aku mencoba memahami Valencia dengan mendukung kariernya. Tetapi sepertinya putri anda kebablasan. Dia terlalu menikmati kariernya sampai dia lupa bahwa aku bisa saja capek dan lelah menunggu kepastiannya." Ucap Marco sarkas. Valencia tidak menyangka jikalau selama ini Marco yang selalu setia menunggu kepastian hubungan mereka menjadi sangat marah dan kecewa padanya.
"Tapi sekarang aku sudah bersedia menikah denganmu, Marco. Bahkan aku rela meninggalkan karierku." Mohon Valencia dengan terisak.
"Tapi sayangnya waktu yang aku berikan sudah habis, Val. Batas kesabaranku sudah selasai." tandas Marco tanpa peduli keadaan Valencia yang semakin terpuruk. "Maaf... kita harus mengakhiri hubungan kita. Mulai sekarang kamu bebas berkarier tanpa memikirkan tentang pernikahan kita." lanjut Marco sinis.
"Tapi kamu tidak bisa seenaknya begitu, Marco. Apa kata orang-orang nanti? Banyak orang yang sudah mengetahui hubungan kalian. Bahkan rekan bisnis kami pun sudah banyak yang tahu, " Terdengar suara mr. Christo marah pada Marco. "Kamu memang sengaja mau mempermainkan putri kami," Sambungnya berang.
Marco tersenyum sinis. Ia menyandarkan punggungnya santai pada sandaran sofa mahal yang ia duduki, melipat tangannya di dada.
Tuan Christo terdiam. Dalam hati ia membenarkan semua perkataan Marco. Tetapi, tidak mungkin ia menyalahkan Valencia yang masih saja terisak dalam pelukan mamanya. Apalagi membiarkan hubungan putrinya hancur. Awal mereka masih tunangan saja, tuan Christo langsung menjadi sosok pebisnis yang diperhitungkan. Rasa percaya dirinya menjadi kebablasan. Ia menjadi pebisnis yang angkuh. Istrinya pun merasa mendapatkan runtuhan berlian di kepalanya. Selalu membanggakan diri karena menjadi besan mr. LG.
"Tuan Christo... "kakek bersuara. Semua mata tertuju pada lelaki tua itu. "Jangan paksakan perasaan anak-anak kita. Jika mereka sudah tidak merasa nyaman dengan hubungan mereka, lepaskan saja." tuturnya serius.
"Tetapi, Valencia sangat mencintai Marco, tuan. Anda bisa melihat sendiri bagaimana terpukulnya dia." sahut tuan Christo menahan marah. Ia melihat sendu ke arah putrinya yang masih terus menangis.
"Tetapi tidak dengan Marco." Sanggah tuan LG cepat. "Anda sudah mendengarkan semua alasan Marco tadi. Jadi saya rasa jangan paksakan hubungan mereka. Nanti mereka akan kecewa dan saling menyakiti." lanjutnya tegas tanpa ekspresi. Tuan Christo terdiam. Ia menelan salivanya gugup tetapi menahan marah dan malu.
"Val... kakek meminta maaf atas kejadian ini. Tetapi menurut kakek lebih baik saling terbuka sebelum adanya pernikahan." ucap kakek bijak. "kakek tau ini sangat mengecewakan kamu. Namun ini lebih baik. Dari pada kamu akan lebih terluka lagi saat sudah menjadi istri Marco." lanjutnya lembut.
"Tapi, kek... aku sangat mencintai Marco. Aku nggak mau berpisah dengannya." lirih Valencia dengan airmata masih mengalir di pipinya.
__ADS_1
Kakek menarik napas panjang. Ia berusaha mencari kata-kata yang baik agar tidak terlalu menyakiti gadis itu lagi.
"Tidak baik menjalani rumah tangga hanya dengan cinta sebelah pihak. Kamu akan tersakiti."ucap kakek lembut. Ia pun merasa iba pada wanita cantik itu. Tetapi, ia harus membela cucunya. Apalagi kalau sudah menyangkut hati.
"Tapi Marco mencintai aku, kek." seru Valencia. "Iya kan, sayang? Kita saling mencintai kan, sayang?" Tiba-tiba Valencia berlutut di hadapan Marco yang sedang duduk dan menggoyangkan tangan Marco. Ia berusaha meyakinkan Marco tentang cinta mereka yang sudah mereka jalani selama hampir 6 tahun. "Sayang, jawab! Kasih tau mereka kalo kita saling mencintai." Raung Valencia di hadapan Marco. Ia menangis sejadi-jadinya.
"Cukul, Val... cukup." Nyonya Riska yang tidak sanggup melihat keadaan Valencia, segera memeluk putrinya dan menangis meraung. "Cukup! Jangan merendahkan diri kamu hanya karena laki-laki ini." Pekik nyonya Valencia sambil menarik tangan Valencia untuk berdiri. Gaun malam yang mereka gunakan kusut berantakan. Dandanan Valencia untuk menyambut Marco pun sudah terlihat menghitam di bagian-bagian tertentu.
Kakek dan Marco hanya terdiam. Kakek melihatnya dengan iba. Marco hendak mendekat dan menguatkan Valencia tetapi ia dihalang tuan Christo.
"Cukup, tuan... sebaiknya anda pergi dari sini. Anda sudah sangat menyakitkan putri dan istri saya." Usir laki-laki paruh baya itu dengan amarah yang sudah tak tertahankan. Persetan dengan hubungan kerja mereka. Persetan dengan saham perusahaannya yang mungkin setelah ini akan anjlok dan kemungkinan besar ia akan bangkrut. Ia tidak bisa melihat anaknya dipermalukan seperti ini.
Ia menatap Marco dengan rasa benci.
"Pergi kalian!" Hardiknya dengan menunjuk ke arah pintu rumah agar kedua orang di hadapannya ini segera pergi.
Berry dan Raymond yang mendengar teriakan dari dalam rumah segera berlari masuk.
Berry segera berdiri di hadapan tuan Christo ketika melihat ia menantang Mr. LG dengan jarak yang sangat dekat. Tetapi, Mr. LG menolak lengan Berry pelan. Ia memberi kode lewat matanya agar Berry tenang dan mundur ke belakang.
"Tenanglah, Christo... semua bisa diselesaikan dengan baik-baik. Kita bisa mencari jalan keluar untuk mereka." tutur Mr. LG bijak. Ia tidak marah atau pun tersinggung, ketika diusir lawan bisnisnya.
"Tidak perlu, tuan. Cucu anda sudah cukup menyakiti anak saya." sanggah tuan Christo. "Jangan karena kalian orang hebat, kalian seenaknya memperlakukan orang semaunya.Aku akan membalas perbuatan kalian." Tuding Christo sambil menujuk wajah kakek. Seketika amarah Marco memuncak. Ia memegang pergelangan tangan tuan Christo dengan kuat.
"Aku tidak akan segan mematahkan tanganmu jika sekali lagi kau berani menunjuk pada kakekku." geram Marco dengan mata memerah. "Tanyakan pada putrimu kenapa aku sampai menolaknya." Ia membuang kasar tangan tuan Christo. Ayah Valencia itu tercengang dan menatap kepergian Marco dan kakeknya berjalan ke luar tanpa pamit.
__ADS_1