
Kondisi Icha semakin hari semakin membaik. Pagi ini dengan semangat ia bangun lebih awal. Setelah mencuci muka, menyikat gigi, sholat, memberikan kecupan sayang ke suami, ia bergegas ke dapur. Sudah lama ia tidak memasak dan sarapan bareng suami dan kakek.
"Pagi, bi..." Sapa Icha pada Hartini yang sedang menyiapkan bahan untuk sarapan keluarga. "Semua udah bangun, bi?" Tanya Icha sambil melihat-lihat ke taman belakang.
"Udah, nyonya..." Sahut Hartini. "Itu pak Danang lagi beresin kebun bunga. Sedang Rosa dan Tiya lagi sapu bersih-bersih, nya." Jelas Hartini sambil menunjuk ke arah pak Danang, tukang kebun mansion.
Icha menggangguk. Ia segera membuka kulkas dan mengeluarkan bahan masakan hari ini, sekalian untuk bekal makan siang dirinya dan Marco.
"Bi... nggak usah panggil aku nyonya, ya. Panggil nama aja biar lebih akrab. Aku risih dipanggil begitu." Pinta Icha pelan. "Kan nyonya rumah ini mommy Sania. Jadi, panggil mommy aja 'nyonya'." Sambung Icha lembut.
Hartini membalas senyum istri tuannya dengan tulus. Ia bersyukur dalam hati karena tuan Marco tidak salah memilih pasangan hidup.
"Masa panggil nama? Bisa digantung bibi sama tuan Marco." Bebernya tertawa. "Emmmm... Panggil nona aja, ya?" Sambungnya meminta izin.
"emmm...?" Icha berpikir sejenak. "Boleh deh." Akhirnya ia membolehkan semua art memanggilnya nona tanpa embel-embel nyonya.
Icha memasak sambil bercerita dengan Hartini. Kelihatan seperti tidak ada jarak antara mereka. Icha juga tidak malu bertanya soal masakan atau mungkin ada bumbu yang kurang dalam masakannya. Maklum, ia juga baru belajar memasak makanan-makanan favorit keluarga ini.
"Udah beres, bi." Seru Icha lega. Ia tersenyum lebar melihat hasil masakannya. "Semoga kakek dan suamiku suka ya, bi." Harap Icha.
"Pasti suka, non... lah wong enak begini masakannya." Puji Hartini. Icha senang mendengar pujian Hartini. Bukan senang karena dipuji, tetapi senang karena ia bisa memasak makanan yang enak untuk suami dan kakeknya.
"Ya udah.. bibi siapin di meja, ya. Aku mau bangunin tuan Marco dulu, sekalian bersiap ke kantor." Pungkas Icha dan mendapat anggukan cepat dari Hartini.
"Siap, non... nanti bibi atur di meja makan." Sahut bibi.
Icha mencuci tangannya dan bergegas hendak ke kamar membangunkan sang suami. Namun, tiba-tiba Ia dihalang ibu mertua.
"Sini, kamu!" Sania menarik tangan Icha menuju ke balik tangga dan menolak dengan kasar. Badan Icha terbentur tembok tangga. Ia meringis memegang sikutnya yang kesakitan.
"Mau dengan cara apa lagi kamu membuat anak dan mertuaku semakin terperangkap dalam jebakanmu?" Ucap Sania pelan seperti berbisik karena takut didengar Marco atau kakek, tetapi penuh penekanan. Ia mencengkeram lengan kiri Icha sekuat tenaga. "Dasar munafik kamu!" Cibir Sania. "Kamu sengaja masuk dalam keluarga ini karena ada maunya, kan?" Ia semakin menuduh Icha yang tidak-tidak. "Perempuan miskin seperti kamu, pasti hanya melihat harta Marco. Iya, kan?
Icha sedikit terpancing emosi mendengar tuduhan ibu dari suaminya ini.
"Kenapa hanya harta yang ada di otak mommy?" Sahut Icha mulai panas. "Jangan samakan aku dengan mommy." Tegas Icha. "Maaf... kalau aku menuduh, tapi apa mungkin dulu mommy mau menikah dengan daddy karena orangtua mommy sudah bangkrut dan mommy memanfaatkan daddy?" Sarkas Icha pelan tapi pedas dan sangat menyinggung perasaan Sania.
Plak!
Suara tamparan terdengar begitu kuat. Icha meringis kesakitan. Ujung bibirnya sedikit mengeluarkan darah. Bahkan bekas tamparan si pipi Icha terlihat jelas.
Hartini yang mendengar keributan keluar dari dapur dan ia terpana melihat ujung bibir Icha berdarah. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa. Hanya memandang dengan air mata.
"Kurang ajar kamu!" Berang Sania pada Icha. "Kamu kira saya miskin sama seperti kamu?" Sania benar-benar marah dan tersinggung akan ucapan Icha.
"Kok mommy tersinggung?" Icha masih melakukan perlawanan meski sakit tamparan masih sangat terasa. "Mommy suka sekali menuduh orang lain dengan penilaian dari mommy sendiri. Jadi, aku juga hanya mencoba menilai mommy dari pandangan aku sendiri. Salah, kah?" Suara lembut itu justru terdengar seperti guruh yang mengganggu pikiran dan akal sehatnya.
"Aku bukan orang miskin dan kampungan seperti kamu." Geram Sania. Ia menunjuk wajah Icha dengan telunjuknya. Rasa marah dan benci menjadi satu dan sangat terlihat dari ekspresi wajahnya. "Jangan harap kamu bisa menguasai harta Marco. Aku akan membuat kamu keluar dari mansion ini secepatnya. Manusia benalu seperti kamu tidak pantas berada di sini." Ucapan Sania benar-benar membuat Icha terpukul. Sebegitu rendahkah ia di mata mama mertuanya?
__ADS_1
Sania pergi meninggalkan Icha yang terdiam dengan seribu pertanyaan di kepalanya. Air matanya pun luruh. Sakit di pipinya semakin terasa perih namun lebih perih hatinya.
"Nona...." Melihat Sania sudah menghilang ke lantai dua, Hartini segera berlari kecil ke arah Icha dan memeluk pundaknya. "Bibir nona berdarah." Ucap Hartini sedih. "Nona tunggu di sini. Bibi ambilin obat." Ia segera mengambil kotak obat, air hangat serta handuk kecil.
"Jangan di sini, bi. Boleh kita ke kamar bibi?" Ajak Icha. Ia tak ingin kakek dan Marco tiba-tiba turun dari lantai atas dan melihat keadaannya. Bibi mengangguk cepat dan membawa Icha ke kamarnya.
"Maaf, bi... Aku harus mengajak bibi ke sini." Tutur Icha pelan. Ia duduk di pinggir tempat tidur.
"Nggak apa-apa, nona..." Hartini mengompres pipi hingga ujung bibir Icha dengan hati-hati. "Dari awal, bibi udah melihat sikap nyonya ke nona tidak baik. Bibi juga melihat sewaktu lengan nona ditarik hingga berdarah." Gumam bibi dengan terus mengompres pipi Icha. "Kenapa nona diam aja? Kenapa nggak lapor ke tuan atau tuan besar?" Tanya Hartini dengan geram.
"Aku hanya nggak mau tuan ribut dengan mommy, bi. Hubungan mereka tidak baik semenjak tuan masih kecil. Aku tidak ingin menambah konflik antara mereka dan membuat hubungan mereka semakin tidak baik." Ujar Icha bijak. Sekali-kali ia meringis kesakitan saat bibi mengompres ujung bibir yang sobek. "Aku hanya heran dengan pemikiran mommy, bi." Lanjut Icha. "Kita belum saling mengenal sebelumnya. Namun, mommy sudah menuduh aku yang tidak-tidak. Menjadi benalu di keluarga ini lah, apalagi mau merebut harta suami aku sendiri." Ia menarik napas menahan sesak di dada. "Aku nggak seperti itu, bi." Icha tak bisa lagi menahan tangis. Ia terisak sedih mengingat tuduhan Sania. Bibi memeluk Icha dan mengusap punggungnya, memberi ketenangan pada istri tuannya.
"Bibi percaya nona tidak seperti itu." Ucap bibi sambil terus mengusap punggung Icha.
Icha melihat jam dinding yang tergantung di atas pintu kamar Hartini. Segera ia menghapus air mata, melihat-lihat pipinya lewat cermin kecil di atas meja rias kamar.
"Sudah aman, bi. Aku harus segera ke kamar." Ia membuka pintu kamar dan keluar. "Makasih ya, bi. Aku harap ini hanya kita yang tau." Lirih Icha pelan sebelum menutup kembali pintu kamar. Ia berharap Hartini tidak memberitahu siapa-siapa tentang kelakuan Sania padanya.
Ia bergegas ke kamar, membangunkan Marco yang masih terlelap.
"Sayang... bangun, yuk. Udah jam 6 lho. Nanti telat ke kantornya." Icha membuka jendela kamar agar terang dari luar bisa membangunkan suaminya. Marco menggeliat dan mencoba membuka mata. Namun, silau dari luar membuat matanya tidak bisa dibuka.
Cup!
Dikecup bibir Marco sekilas dan dengan cepat berlari ke kamar mandi sebelum Marco menahan dan mengurungnya di tempat tidur.
"Sayang... buka pintunya." Teriak Marco menggedor pintu yang dikunci.
"Bentaaar... dikit lagi aku selesai." Teriak Icha dari dalam. "Kalo mandi berdua nanti telat ke kantornya. Kamu bangunnya kesiangan sih." Sewot Icha lagi.
"Ck... kamu buka nggak? Kalo nggak aku dobrak nih." Ancam Marco karena merasa dipermainkan istrinya. "Cepat dibuka, yaaaang." Teriak Marco lagi.
Tak ada sahutan dari dalam, hanya terdengar bunyi siraman air dari shower. Marco menggaruk belakang kepalanya kesal. Ia berjalan lesu menuju tempat tidur, mengambil segelas air putih di atas nakas dan meneguknya hingga tandas. Lalu, berjalan ke arah balkon dan menikmati udara pagi di sana. Tubuhnya telanjang tanpa baju, hanya celana pendek yang menutup tubuh bawahnya, namun tidak membuat ia kedinginan terkena angin pagi yang cukup dingin.
Sedangkan Icha....
Sehabis mandi, ia mengoles pipi yang terkena tamparan Sania dengan foundation warna kulit. Ia harus menutupi bekas tamparan yang sudah mulai membiru. Ia tak ingin Marco melihat dan akhirnya harus terjadi percekcokan lagi.
Setelah dirasa bekas membiru itu tertutup dengan baik, Icha keluar dan melihat Marco sedang asyik menikmati udara pagi.
Hup!
Icha memeluk Marco dari belakang.
"Kok ngelamun? Ayo, mandi!" Marco menarik tangan Icha menghadap padanya. Ia merangkul erat pinggang sang istri.
"Kamu harus temani aku mandi." Protes Marco. Icja melebarkan mata.
__ADS_1
"Nggak ah... aku udah mandi." Kelit Icha berusaha melepaskan tangan Marco dari pinggangnya. Jangankan terlepas, terangkat sedikitpun tidak. "Yaaang... aku udah mandi." Rengek Icha memohon belas kasihan suaminya.
Mendengar suara manja Icha, semakin membuat Marco tersiksa. Dil*u*m*tnya bibir sang istri.
"Awwww..." Icha mengeluh sakit karena sobekan di ujung bibirnya. Marco semakin dalam mel*m*at bibir Icha karena mengira itu ******* manja istrinya. Icha menahan sakit tanpa suara.
Tak puas dengan ciuman, Marco menggendong tubuh Icha dan membawanya ke tempat tidur. Ia melepaskan bathrobe yang dipakai Icja.
"Sayang... mau apa?" Tanya Icha saat Marco sudah membuka tali pinggang baju mandinya. Marco tak menjawab, ia hanya tersenyum menggoda Icha dan terus membuka bathrobe itu dari tubuh istrinya. "Nggak mau, yaaaaaang... udah telat lho ngantornya." Semakin Icha merengek semakin semangat Marco mencumbu istrinya.
"Aaaah... hahahahaha... ampun, sayaaang." Sampai terdengar suara tawa dari Icha karena Marco mencium pinggang yang membuatnya tidak bisa menahan geli.
Pagi itu, Icha harus melayani kebutuhan biologis sang suami sebelum akhirnya mereka ke kantor tepat pukul 10 pagi. Icha pun harus mandi dua kali.
"Kalian baru mau ke kantor?" Tanya kakek heran. "Kakek kira kalian udah ke kantor pagi-pagi tadi."
Marco hanya tersenyum penuh arti. Kakek menggeleng kepala melihat tingkah sang cucu.
"Kamu itu... dasar!" Umpat kakek ikut tersenyum. Icha hanya diam seribu bahasa. Malu, sudah pasti.
Icha cepat-cepat berjalan arah ke dapur hendak menyiapkan bekal makan siang mereka. Lebih baik menghindar dari pada digoda kakek.
"Nih... bibi udah siapin. Bibi tau nona pasti masih sibuk di kamar, makanya nggak turun ikut sarapan. Malah turunnya udah siang gini." Bibi Hartini pun ikut-ikutan menggoda Icha.
"Ck... apa sih, bi?" Kelit Icha menahan malu.
"Gimana bibirnya?" Tanya bibi seketika raut wajahnya pun berubah sendu.
"Sssst..." Icha menaruh jari di bibir menyuruh bibi mengecilkan volume suaranya.
"Nggak kelihatankan memarnya?" Icha balik bertanya sambil menunjuk ke arah pipi yang terkena tamparan pagi tadi.
Bibi melihat sebentar dan menggeleng lemah.
"Nggak... udah tertutup bagus. Tapi, bengkak bibirnya kelihatan dikit." Bisik Hartini. Pelupuk matanya sudah penuh dengan air yang siap tumpah. Ia salut pada nona mudanya ini. Sangat sabar menghadapi mertua kejam.
"Bibi jangan nangis. Aku nggak apa-apa. Aku berangkat, ya." Icha mengambil bekal di tangan Hartini dan menemui Marco yang sudah menunggu di parkiran.
Sampai di ruang keluarga, ia berpapasan dengan kakek dan Sania yang memandang sinis padanya.
"Kek... Icha berangkat, ya." Ia mencium tangan kakek penuh hormat.
"Aku berangkat, mom." Icha mengulurkan tangan pada Sania dan mencium tangan mertuanya. Sania terpaksa memberikan tangan untuk disalim oleh Icha karena ada kakek di situ.
"Assalamualaikum." Pamit Icha dan bergegas keluar mansion.
Kakek melihat kepergian Icha dengan senyum bahagia. Setelah Icha menghilang dari pandangannya, ia menoleh ke arah Sania.
__ADS_1
"Jaga sikap kamu pada Marissa." Tegas kakek dan pergi begitu saja.