
"Berry... " Suara bass Marco mengagetkan Berry, asisten mr. LG yang sedang duduk santai di taman mini mansion sambil ngopi sore.
Marco baru sampai di mansion dari perusahaan. Ia langsung mencari kakek untuk membicarakan sesuatu yang penting.
"Iya, tuan... " Berry berdiri dan menunduk hormat pada tuan mudanya.
"Di mana kakek?" Tanya Berry. "Aku mencari ke ruang kerjanya, tapi kakek tidak ada."
"Oooh... Tuan besar lagi ke istal kuda, tuan. Kata penjaga istal, salah satu kuda kesayangan tuan besar sedang sakit." sahut Berry dengan hormat. Marco hanya mengangguk dan kembali masuk ke dalam.
"Bi... tolong buatkan kopi mocca. Antarkan ke kamar." Perintah Marco pada asisten rumah tangga yang sudah sangat lama mengabdi pada mr. LG. Semua asisten rumah tangga direkrut mr. LG dari kota x, kota asal mendiang istri tercinta. Bibi mengangguk patuh.
Marco masuk ke dalam kamar, segera membuka jas dan pakaian kantornya dan langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh dari keringat sejak pagi tadi.
Selesai mandi, Marco yang sudah terlihat segar menyeka rambut basahnya menggunakan handuk kecil dan berjalan menuju balkon. Sudah ada segelas kopi mocca di sana. Ia mengambil kopi itu dan meneguk sedikit. Terasa sensasi pahit dan manis di mulut. Persis seperti kehidupan. Ada pahit tetapi ada manisnya juga. Tergantung setiap insan yang menjalani.
Marco menatap jauh ke depan. Malam ini ia harus mengambil keputusan untuk segera menikahi Icha. Ia tidak ingin mengulur waktu lagi. Ia akan bicara dengan kakek dan kedua orangtuanya yang kebetulan sedang di Jakarta.
tok... tok...tok
Terdengar suara ketukan pintu. Marco berjalan mendekati pintu dan membukanya.
"Ada apa?" Tanya Marco melihat Berry berdiri di depan pintu kamar.
"Dipanggil kakek anda, tuan." Sahut Berry.
Marco hanya mengangguk. Ia masuk kembali ke kamar dan menutup pintu. Menjemur handuk di balkon dekat kamar mandi, mengacak sebentar rambutnya di cermin dan keluar dari kamar menuruni anak tangga menuju lantai 1. Ternyata, kakek dan kedua orangtuanya sudah berada di ruang keluarga.
Marco yang tampil dengan baju kaos putih dan celana pendek rumahan nampak lebih muda dari umurnya. Ia segera duduk di samping kakeknya berhadapan dengan papa Adam dan mama Sania.
"Daddy mau bicara tentang pernikahanmu." Ujar Adam serius. Marco dan kakek tampak tenang. Marco juga membiarkan Adam bicara terlebih dahulu.
"Daddy dan Mommy sudah memutuskan minggu depan kamu harus menikah dengan Valencia. Daddy juga sudah bertemu orangtua Val. Mereka sangat menginginkan pernikahan ini segera dilaksanakan. Apalagi kalian sudah lama menjalin hubungan." Tegas daddy yang terkesan memaksakan kehendak. Marco menyimak dengan senyuman sinis yang sulit dimengerti.
"Tuan Christo juga tidak mempermasalahkan kejadian tempo hari di rumahnya. Asalkan kamu dan Valencia jadi menikah." Lanjut Adam menjelaskan hasil pertemuannya dengan orangtua Valencia.
Kakek malah tersenyum lebar dan mengangguk-anggukkan kepala, terkesan mencemooh laporan Adam. Memangnya apa yang bisa ia lakukan jika Marco tetap tidak mau menikahi Valencia? Kutu busuk saja sok main ancam. Kakek bergumam dalam hati.
__ADS_1
"Daddy dan mommy yakin Val adalah wanita yang tepat untuk kamu." Lanjut Adam. "Kakek juga setuju dan merestui hubungan kamu dan Val. Iya kan, kek?" Karena melihat kakek tersenyum senang, Adam mengira laki-laki tua itu mendukung keputusannya.
"Kalo kakek terserah pada Marco. Toh, nantinya dia yang menjalani. Asalkan perempuan itu membawa aura positif untuk Marco." Jawab kakek santai.
"Mommy harap kamu tidak mengecewakan mommy, nak. Menikahlah dengan Val yang bibit bebet bobotnya jelas. Kami tidak ingin kamu terjebak oleh perempuan yang hanya mempermainkan uang kamu." Tukas mama Sania panjang lebar membuat Marco bertambah sinis dalam senyum.
"Jadi, bersiaplah.... Minggu depan kalian menikah. Jangan terlalu capek, jaga kesehatan kamu agar tetap fit di hari-H nanti. Kamu jangan kuatir, daddy dan mommy yang akan mengurus segala sesuatunya." Seloroh Adam percaya diri. Ia yakin putranya tidak akan membantah perintahnya.
Marco menatap tajam pada kedua orangtuanya. Ia melipat tangan di dada dan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa mahal.
"Kalian sudah selesai bicara?" Suara datarnya mulai terdengar. Adam dan Sania saling memandang satu sama lain. Aura dingin sangat terkesan dari cara bicara Marco.
"Aku mau menikah minggu depan... " Ungkap Marco membuat mama Sania tersenyum lebar dan memeluk suaminya dari samping. Ia senang bukan kepalang karena akhirnya akan memiliki menantu sesuai kriterianya.
"Tapi tidak dengan Valencia!" Lanjut Marco.
Deg!
Otomatis Adam dan Sania terlonjak kaget. Mereka melihat Marco dengan mimik wajah yang tidak bisa dibayangkan.
"Kamu diam dulu! Biarkan Marco bicara. Dari tadi dia diam saja mendengar ocehanmu. Sekarang giliran kamu mendengarkan dia." Timpal kakek pada anak sulungnya, Adam. Adam pun terdiam.
"Yang pertama.... aku memang sangat ingin menikah tetapi tidak dengan Valencia. Aku akan menikah dengan gadis yang aku cintai." Ungkap Marco tenang. "Kedua, gadis yang akan aku nikahi berasal dari keluarga yang bibit bebet bobotnya sangat jelas." Tegas Marco penuh penekanan. "Ketiga, ia juga bukan perempuan yang gila harta dan sampai detik ini ia tidak meminta sesuatu yang aneh yang bisa menguras uangku." Lanjutnya mengurai isi hati.
Terlihat wajah Adam dan Sania menjadi tegang. Kemarahan mulai menguasai Adam. Wajahnya memerah. Tetapi, mereka tidak bisa berbuat apa-apa selagi kakek masih berdiri di samping Marco sebagai pembela.
"Dan yang terakhir... " Masih Marco yang berbicara. "Aku bukan anak kecil yang bisa kalian atur seenak hati kalian." Lirih Marco sambil menahan amarahnya. "Oh ya... jika daddy dan mommy bersedia, kalian boleh mengurus konsep pernikahan seperti keinganan kalian." Racau Marco sekenanya. Dan berhasil membuat kakek tertawa.
"Sudahlah, Adam... yang mau berumah tangga ini Marco, bukan kamu. Kenapa harus kalian berdua yang mengatur soal pasangannya?" Celetuk kakek masih dengan nada tenang dan santai. "Biarkan dia menikah dengan wanita pilihannya."Lanjut kakek lagi.
"Tidak bisa, Ayah... Marco harus menikah dengan Valencia yang levelnya sama dengan kita." Sanggah mama Sania cepat.
Marco tertawa sinis. Kakek yang tadinya berusaha untuk menjadi penengah mendadak serius melihat ke arah mama Sania.
"Level yang seperti apa maksud kamu?" Tanya kakek mulai terbawa emosi. "Kamu tinggal di negara besar dengan kemajuan yang luar biasa, tetapi sayang... cara berpikir kamu masih sangat kuno." Cercah kakek membuat mama Sania terpojok. "Sebelum menilai orang, lihatlah ke belakang, Sania. Siapa dan dari mana kamu." Adam dan Sania terdiam. seribu bahasa. Sania tertunduk malu dengan wajah memerah. Marco pun kaget dengan ucapan sarkaisme sang kakek. Namun, Marco menyetujui pendapat kakek.
Memang, mama Sania terlahir dari keluarga kaya raya. Tetapi, karena perselingkuhan yang dilakukan ayahnya, alias kakeknya Marco, membuat keluarga Sania berantakan dan bangkrut. Untungnya, Mr. LG tidak memandang seseorang dari harta dan masa lalu yang buruk, karena itu ia merestui hubungan Adam dan Sania karena mereka saling mencintai.
__ADS_1
Dan hari ini ia membicarakan tentang 'level' seseorang yang membuat mr. LG sedikit naik pitam. Namun, pria berusia di atas 80an tahun itu masih menjaga intonasi agar tidak sampai terjadi keributan di mansion mewah itu. Ia tidak ingin semua art terbangun dan menyaksikan pertengkaran yang tidak berfaedah ini.
"Apa keputusan kamu, Marco?" Tanya kakek pada cucu kesayangannya. Adam hanya melirik kesal pada dua orang beda usia itu. Pantas saja Marco menjadi cucu kesayangan kakek karena dari dua anaknya dan semua cucunya, hanya Marco yang bisa memahami jalan pikiran kakek. Mereka berdua memiliki sifat dan karakter yang sama.
"Minggu depan aku akan menikahi Marissa, kek." Sahut Marco lantang. Matanya terarah ke kedua orangtua di depannya. "Aku harap kakek mau mendampingiku untuk melamar Marissa pada orangtuanya." Lanjut Marco dengan mata yang masih melihat ke arah Adam dan Sania. Ia sengaja berbicara lantang karena ingin mengetahui reaksi mereka berdua. Adam pun menatap tajam pada putra tunggalnya. Putra yang lebih dekat secara emosional pada ayahnya, mr. LG, dari pada dengan ia dan istrinya yang notabene adalah orangtua kandung Marco.
"Pasti... kakek akan mendampingimu untuk melamar cucu mantu kakek." sahut kakek meyakinkan Marco.
"Kalian berdua bersiaplah untuk melamar Marissa. Tidak ada penolakan." Tekan kakek pada Adam dan Sania.
Setelah berkata demikian, kakek bangun dari duduknya dan mengajak semua untuk makan malam. Walaupun masing-masing sedang dengan rasa hati yang berbeda, tetapi mereka tetap menuruti perintah kakek. Adam dan Sania masih diam seribu bahasa menahan amarah di hati.
"Kita bicarakan rencana pernikahan Marco di meja makan." Kakek berjalan terlebih dahulu ke meja makan, menarik kursi kebesarannya dan duduk dengan tenang. Bibi Tini, art tertua di mansion ini, sudah dianggap keluarga oleh kakek dan Marco. Ia bertugas untuk menyendokkan nasi dan lauk pauk ke piring kakek. Ia sudah paham betul porsi dan menu makan kakek.
"Bagaimana dengan maharnya, Marco?" Tanya kakek sebelum memasukkan sesendok nasi ke mulutnya.
"Aku harus bicara dengan Marissa dulu, kek." Jawab Marco.
"Tidak perlu memberi mahar yang mahal." Akhirnya suara Sania terdengar cukup ketus. Mr. LG tertawa mendengar ucapan menantunya itu.
"Kamu tidak perlu kuatir, Sania. Calon cucu mantuku itu gadis yang sederhana. Aku mengenalnya dengan baik." Sahut kakek sengaja menyindir Sania. Wanita bergaya sosialita itu langsung terdiam. Ia melanjutkan makan walau pun terasa hambar.
"Oh ya... kalian berdua belum mengenal Marissa, ya? Dia gadis yang manis berasal dari kota x. Kota asal ibu kamu, Adam." Lanjut kakek ceria memgingat cucu mantu yang berasal dari kota yang sama dengan mendiang istri.
Marco tertawa sinis pada ibunya. Ia heran kenapa memiliki orangtua yang sangat berbeda dengan pemikiran kakek.
"Aku juga yakin Marissa tidak ingin mahar yang mahal." Tandas Marco santai. "Sekali pun ia meminta yang mahal, aku pasti akan mengabulkan permintaannya." lanjutnya sambil terus menikmati makanannya.
"hahahahahahahaha.... kakek setuju, Marco. Toh, nanti setelah menjadi istrimu, ia juga berhak atas hartamu."
Deg!
Terasa pukulan telak di jantung Sania dan Adam. Untung Sania masih dalam keadaan duduk, jika saja saat ini ia sedang berdiri, maka dipastikan ia akan pingsan mendengar tentang harta duniawi yang akan dikuasai calon mantunya.
"Baiklah... Ini keputusan final. Aku akan melamar Marissa minggu depan." Ujar Marco di akhir suapannya. Ia mengambil segelas air putih dan meminumnya hingga tandas.
Marco segera bangun dari duduknya, pamit pada kakek dan menuju ke kamar.
__ADS_1