
Marco sudah bersiap dengan kemeja hitam yang digulung tangannya hingga nyaris menyentuh sikut, celana jeans biru tua, dan sepatu kets abu-abu yang bisa membuat pangling setiap mata yang melihat penampilannya.
"Ganteng banget suami aku." Icha yang baru masuk langsung terpesona melihat ketampanan Marco. Laki-laki itu tersenyum dan mendekap istrinya dari belakang.
"Dari mana?" Tanya Marco sambil mengelus perut Icha.
"Biasa.... olah raga kecil di taman bareng kakek. Aku nggak tega bangunin kamu makanya aku olahraga bareng kakek aja." sahut Icha. Marco menghirup harum tubuh pada ceruk lehernya.
"Keringat, yang... aku belum mandi." Icha hendak menjauhkan tubuh dari pelukan Marco namun ditahan suaminya.
"Aku suka bau tubuh kamu."Lirih Marco pelan. Icha tertawa lucu.
"Aneh kamu..." Icha mencubit gemas tangan Marco yang melingkar di perutnya. "Berapa hari di Malaysia?" Tanya Icha.
"Paling lama dua hari. Aku usahakan untuk selesaikan semua tidak lebih dari dua hari." Sahut Marco berjanji.
"Ketemu mantan dong..." Goda Icha. Ia melirik dan menggoda Marco melalui kaca rias besar yang terpampang di depan mereka.
"Cemburu?" Marco balas menggoda. Ia tetap memeluk Icha dari belakang.
"Nggak..." Sahut Icha cepat.
"Yakin?" Marco semakin menggoda istrinya. Icha memberengutkan wajah. "hahahahaha... katanya nggak cemburu." Marco membalikkan tubuh Icha, memegang dagunya dan mengarahkan wajah Icha adanya. "Percaya padaku... aku mencintaimu dan tak akan pernah mengkhianati cintamu." Ungkap Marco lembut. "Satu yang aku minta, apapun yang terjadi, tetap percaya padaku. Aku tidak mungkin menyakiti hatimu." Icha tersenyum mendengar ungkapan Marco.
Cup.
Icha mengecup bibir Marco.
"Kalau aku tidak percaya padamu, aku sudah meninggalkanmu dari awal masalah mengganggu hubungan kita. Tapi, karena aku percaya sepenuhnya padamu, aku tidak lari menjauh darimu." Ujar Icha meyakinkan Marco sambil mengelus dada laki-laki itu. "Aku percaya pada cintamu. Sejauh mana pun kamu melangkah, kamu akan tetap kembali padaku." Senyuman Icha membuat hati Marco berdesir. Tak menunggu lagi, ia mengecup bibir Icha dengan penuh cinta.
"Sepertinya aku belum bisa pergi sebelum mendapatkan sesuatu darimu..." Ujar Marco membuat Icha mengerutkan kening bingung.
"Apa?" Tanya Icha heran. Marco memberikan senyuman mesumnya yang tentu saja membuat Icha melebarkan mata setelah mengetahui maksud Marco.
"Nggak...!" Tolak Icha cepat. "Kamu sudah harus berangkat, sayang. Kasian Raymond udah nunggu kamu di bawah." Alasan Icha menolak kemauan Marco.
"Ck... Dosa lho nolak suami." Ancam Marco berdalih agama. "Lagian masih lama check-in nya."
"Tapi kamu harus segera berangkat, say.....hmmmmp." Icha tak kuasa menolak keinginan Marco. Sebenarnya, tidak munafik jika Icha juga menginginkannya. Hormon kehamilan membuat Icha selalu ingin bercinta dengan suaminya. Namun, tidak di pagi ini karena Marco harus segera berangkat ke Malaysia.
Marco tak membiarkan Icha mencari-cari alasan lagi untuk menolak. Tanpa menunggu Icha selesai bicara, Marco sudah ******* bibir manis itu dan memberi sensasi lain pada ciumannya.
"Sayaaaamg..." Desah Icha. Marco benar-benar membuatnya melayang. Mereka terus mereguk kenikmatan tanpa peduli matahari sudah mengintip di balik jendela. Tentunya, Marco harus berhati-hati. Ia melakukannya dengan lembut karena tidak mau membuat Icha merasa tak nyaman karena perutnya yang besar.
"Sayaaaang... kamu.... nikmat banget." Erang Marco mencapai puncak. Ia terjatuh di samping kanan Icha dengan napas masih memburu.
"Makasih, sayang." Ucapnya ke telinga Icha dan mengecup sayang keningnya. Sedikit lelah karena memang Marco yang memegang kendali. Ia tak ijinkan Icha terlalu banyak bergerak mengingat kondisi perutnya yang sudah membucit besar.
"Sayang... ayo, mandi." Setelah lima belas menit berdiam sejenak, Marco mengajak Icha untuk mandi. Keduanya segera ke kamar mandi dan membersihkan diri.
"Nggak enak sama Raymond. Pasti udah jenuh nunggu kamu di bawah." Seloroh Icha saat mengambil pakaian ganti di lemari.
"Nggak apa-apa. Paling sekarang dia lagi temani kakek sarapan."
__ADS_1
Mereka berdua segera bergandeng tangan menuruni tangga setelah selesai semua ritual di kamar.
"Lama banget, Marco." Keluh kakek. "Kasian Raymond udah karatan nungguin kamu."
Marco tak menjawab. Ia menarik kursi dan mempersilakan Icha untuk duduk.
"Kakek nggak sarapan?" Tanya Marco karena tak melihat piring bekas makan kakek di meja.
"Ini udah jam berapa? Kamu baru nanya sarapan." Kakek menggerutu mendengar pertanyaan Marco. Icha hanya tersenyum malu mendengar ocehan kakek. Sedangkan Raymond yang mengerti apa yang sudah terjadi dalam kamar beberapa jam ke belakang hanya tersenyum simpul. Marco tetap menikmati makan paginya tanpa merasa terganggu dengan omelan kakek.
"Nanti Wulan datang temani kamu di sini, biar kamu nggak kesepian." Ujar Marco di sela makannya. "Dia akan nginap di sini."
"Memangnya kamu berapa lama di sana?" Tanya kakek.
"Paling lama dua hari, kek. Aku juga harus mengurus pergantian nama perusahaan." Sahut Marco tetap sambil menikmati sarapannya.
"Memangnya kenapa dengan nama yang lama?" kakek heran karena Marco hendak mengganti nama perusahaan yang sudah memiliki banyak konsumen. "Awas mengganggu jumlah konsumen yang selama ini sudah percaya pada produk itu." Nasehat kakek mengingatkan.
"Tenang aja, kek. Aku akan mengurus semua menjadi baik dan tetap stabil." ujar Marco santai. Selesai sarapan, ia berpamitan pada kakek, memeluk dan memberi ciuman pada istrinya, dan mencium perut Icha sebelum masuk dalam mobil dan meninggalkan mansion menuju bandara.
Sampai di bandara, Marco masuk ke dalam dan mengikuti prosedur yang ada. Tak lama terlihat ia sudah duduk manis di ruang tunggu bandara.
Raymond mengambil telepon seluler dan melakukan panggilan pada seseorang.
"Denta... tuan sudah menunggu di bandara untuk berangkat ke sana. Ingat! Perketat penjagaan. Firasatku agak kurang baik. Aku yakin Valencia tidak akan membiarkan tuan tenang dan hidup bahagia. Dia tidak akan membuang kesempatan ini." Suara datar Raymond terdengar sedikit ada kekuatiran. Ia segera menutup panggilannya setelah mendengar balasan suara dari seberang dan pergi meninggalkan bandara.
Tak menunggu lama, Marco sudah berdiri di antrian untuk masuk dalam pesawat. Ia masuk dalam ruang VIP. Bisa saja ia berangkat dengan jet pribadinya, namun jarak Indonesia ke Malaysia yang tidak terlalu jauh, hanya membutuh waktu sekitar 2 jam, membuat Marco memutuskan untuk menumpang pesawat reguler.
Perjalanan Indonesia Malaysia hanya memakan waktu 2 jam 5 menit. Selama dalam perjalanan pun Marco tak tidur. Ia sibuk mengerjakan pekerjaan lewat laptopnya. Hanya membuat beberapa konsep baru untuk ValCare.
Sampai di Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur, sudah ada sebuah mobil lengkap dengan sopir sudah menunggu untuk menjemput Marco.
"Silahkan, tuan..." Seorang laki-laki berbadan tegap menyapa Marco. Ia membuka pintu mobil dan mempersilahkan Marco masuk dalam mobil. Setelah itu ia duduk di depan dan menyetir mobil membawa Marco menjauhi bandara.
"Siapa namamu?" Tanya Marco.
"Saya Rano, tuan. Saya yang ditugaskan Raymond untuk mengantar jemput kemana pun tuan pergi." Jawabnya sopan. Marco mengangguk.
"Terimakasih." Ucap Marco sedikit melemparkan senyum tipis. Rano agak kaget mendengar nada suara Marco yang merendah dan tidak ada kesan kejam dan datar seperti yang sering ia dengar. "Antarkan saya ke hotel, saya harus bersiap menuju ValCare." Perintah Marco namun nada suaranya seperti meminta tolong. Rano pun mengangguk cepat.
"Baik, tuan."
Marco mengaktifkan kembali telepon genggamnya yang sedari Jakarta tadi ia matikan sampai ia lupa menghidupkan setelah turun dari pesawat.
Baru saja telepon genggamnya aktif, banyak notifikasi yang masuk.
"Udah sampe, sayang? Udah ketemu mantan? Cerita apa aja sih? Aku kangen kamu. Kok hape belum aktif? Sayaaaaang???"
Marco tertawa pelan membaca pesan what's up istrinya. Ah, baru beberapa jam berpisah, Marco sudah sangat merindukan Icha. Rindu suara lembut dan manjanya.
Tak terasa mobil yang ditumpanginya memasuki halaman hotel bintang lima di ibu kota Kuala Lumpur. Marco segera keluar dan masuk dalam lobi hotel. Ia tak perlu repot check-in karena Rano sudah mengurus semua. Ia hanya mengambil kunci kamar berupa kartu mini. Tak sabar masuk dalam kamar dan melakukan video call dengan istrinya.
"Hai, sayang...." Marco langsung tersenyum senang melihat wajah Icha di layar handphone. "Kok di kamar aja?" Tanya Marco.
__ADS_1
"Kangen...." Rengek Icha. Marco tak tahan mendengar suara rengekan itu.
"Ck... kamu jangan siksa aku, sayang. Aku baru sampai dan belum mengerjakan apa-apa di sini." Keluh Marco tak kuat mendengar rengekan istrinya. Rasanya ia ingin segera kembali ke Jakarta. "Udah minum susu?" Tanya Marco perhatian. Icha mengangguk lemah.
"Udah ketemu mantan?" Celetuk Icha sedikit cemburu. Marco tertawa mendengar pertanyaan Icha yang bernada cemburu.
"Kenapa?" Marco balik menggoda Icha.
"Tau ah..." Rajuk Icha memanyunkan bibir. Marco tertawa lepas.
"Aku rindu bibir itu." Ucap Marco merayu istrinya agar jangan berpikir macam-macam. Icha tetap manyun. "Aku belum ketemu Valencia. Sedikit lagi aku bersiap ke sana." Terang Marco lembut. "Jangan berpikir macam-macam. Aku hanya mengurus pekerjaan di sini. Tidak lebih. Percaya padaku!" Ungkap Marco berusaha menenangkan istrinya yang lagi dalam mode cemburu. "Ya, sudah... aku mau bersiap ke ValCare. Kamu istirahat, ya. Jaga kandungan kamu, sayang." Setelah selesai memberi kabar, mereka memutuskan sambungan telepon. Marco bersiap hendak ke ValCare.
Rano yang selalu setia mendampingi Marco bukan hanya sebagai sopir tetapi juga sekaligus bodyguard yang bertugas menjaga Marco ikut bersama masuk dalam gedung ValCare. Kedatangan mereka langsung saja menjadi perhatian banyak orang di gedung mewah itu. Karyawan yang sebagian besar perempuan banyak yang terpana melihat Marco. Mereka berpikir Marco adalah tamu perusahaan yang mungkin ada janji ingin bertemu pimpinan. Apalagi, Marco langsung disambut oleh Denta, tangan kanan pemilik ValCare.
"Selamat datang, tuan..." Denta menunduk hormat menyambut pemilik baru ValCare yang belum diketahui semua karyawan. Denta juga tersenyum pada Rano. Mereka saling mengenal karena satu tim di bawah pimpinan Raymond.
"Di mana Valencia?" Tanya Marco tak membalas salam Dante, yang juga orang kepercayaan Raymond untuk memata-matai Valencia.
"Sedang ada di ruangannya, tuan."
Dante berjalan terlebih dahulu sebagai penunjuk jalan menuju ruang direktur. Dalam perjalanan, Marco juga mengamati seluruh isi perusahaan. Lumayan mewah. Memang mantan calon mertuanya mempunyai selera yang tinggi dalam penampilan, begitu juga terlihat dalam design gedung ValCare.
Sampai di depan ruangan direktur, Marco langsung membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Marco..." Valencia terkejut dengan kehadiran Marco. Ia berseru senang melihat laki-laki yang pernah lama mengisi hari-harinya bahkan masih mengisi hatinya sampai saat ini. Saking senangnya ia berlari dan hendak memeluk Marco, namun dengan sigap Rano menghadangnya.
"Jaga sikap anda, nona!" Dengan tegas Rano menegur Valencia. Gadis seksi itu kaget dan segera mundur. Ia menatap nyalang pada Rano.
"Kamu nggak usah sok melarang saya untuk dekat dengan Marco. Saya teman lamanya Marco. Kami saling mengenal dengan baik." Ketus Valencia marah.
"Hanya berteman tidak perlu sampai memeluk kan, nona?" Sindir Rano datar. "Saya hanya menjaga tuan atas pesan nona saya." Sambungnya sengaja menyebut nama Marissa dengan 'nona'. Marco yang melihat betapa posesifnya anak buah yang diperintah Raymond hanya bisa tersenyum tak kelihatan. Denta pun ikut tersenyum geli.
"Sudah, Rano... sudah." Marco melerai perdebatan bodyguard dan mantan calon tunangannya. Tanpa dipersilahkan ia duduk di sofa panjang yang disediakan untuk tamu perusahaan. Rano dan Denta pun berdiri di samping Marco.
"Untuk apa kalian di sini?" Bentak Valencia tak senang melihat kedua laki-laki itu masih mengekori Marco. "Saya mau berbicara berdua dengan Marco. Kalian tidak perlu ada di sini." Usir Valencia dengan angkuh.
"Saya permisi, nona." Denta mundur diri dan keluar, namun Rano tetap bergeming berada di samping Marco.
"Kamu? Ngapain kamu masih di sini?" Giliran Rano yang dibentak karena masih betah berdiri di samping Marco.
"Sudahlah, Val... Kamu duduklah. Kita harus bicara soal ValCare." Sanggah Marco cepat. Rano tersenyum sinis.
"Tapi ngapain dia di sini?" Tanya Valencia tak suka.
"Dia orang kepercayaanku. Tidak masalah dia di sini." Bela Marco mulai tak suka dengan tingkah Valencia. "Dalam satu jam kumpulkan semua perwakilan divisi. Aku ingin berbicara penting dengan mereka." Perintah Marco.
"Baik. Aku akan perintahkan Denta untuk mengumpulkan semua." Sahut Valencia cepat. "Aku juga senang kamu masih mempercayakan aku untuk memimpin perusahaan ini. Aku...." Tiba-tiba Valencia tertunduk dan menangis terisak. "Aku minta maaf... aku sudah ditipu oleh seorang pria, hingga nyaris perusahaan ini bangkrut. Untung ada kamu yang mau membantu." Ucapnya di sela tangisan. Marco bergeming. Ia menatap Valencia dengan tatapan biasa saja. Tidak ada rasa iba apalagi rasa yang dulu pernah ada, semua sudah sirna.
"Tidak masalah. Aku senang bisa membantu." Jawab Marco masih tanpa senyum.
"Kamu nggak akan mengganti nama perusahaan ini, kan? Aku tau kamu nggak akan bisa mengganti nama ValCare karena ada nama panggilan aku yang paling suka kamu panggil." Ucap Valencia percaya diri. Marco tersenyum sinis.
"Aku pasti akan menggantikan nama itu." Ucapan Marco membuat Valencia melebarkan mata tak percaya. "Perusahaan ini aku beli atas nama Marissa, istriku. Tidak mungkin aku biarkan perusahaan ini memakai embel-embel namamu." Pungkas Marco yang terasa tajam dan pedas di telinga Valencia. Ia tak mampu berbicara hanya menelan saliva. Kalau saja tidak ada Rano di sini, pasti Valencia akan mendekati Marco. Dengan sejuta pesona yang ada pada dirinya, mustahil Marco menolaknya. Begitu pikir Valencia, sang mantan tunangan.
__ADS_1