Cukup Di Hati Saja

Cukup Di Hati Saja
Awal kejatuhan Valencia.


__ADS_3

Valencia berteriak histeris dalam kamarnya saat ia mendapatkan pesan what's up berupa beberapa foto dari nomor Icha, musuh bebuyutannya saat ini. Awalnya, ia heran karena Icha berani mengirimkan pesan padanya walaupun ia belum tahu apa isi pesan itu. Namun, saat ia membuka isi what's up itu betapa terkejutnya ia melihat kemesraan Icha dan Marco di atas ranjang. Icha mengambil gambar saat mereka berdua baru selesai mencapai puncak surgawi di mana Marco sedang terlelap karena kecapekan dengan selimut menutupi setengah badannya yang telanjang, sedangkan Icha sengaja menujukkan bahunya yang terbuka. Sama persis gambar yang Valencia kirimkan padanya, namun bedanya wajah Marco menghadap ke arah Icha hingga bisa terlihat dengan jelas di dalam gambar. Berbeda dengan laki-laki yang bersama Valencia malam itu yang tidak bisa terlihat dengan jelas wajahnya.


"Sial... dasar perempuan sial." Teriaknya sambil menghancurkan semua barang di atas meja rias. "Marco milikku. Malam itu membuktikan kalau Marco milikku." Ucapnya dengan geram. "Apa Marco sudah kembali ke Jakarta? Kenapa dia tidak menemuiku sebelum ke Jakarta?" Tanyanya pada diri sendiri dengan gusar. Ia kembali melihay isi pesan yang baru saja masuk.


*Terimakasih sudah mengembalikan suamiku dengan selamat ke dalam pelukan aku, istri sahnya. Mau dengan cara licik apapun kamu menjebak suamiku, ia akan tetap kembali padaku karena memang ia milikku.


Oya, kamu yakin kalau waktu itu kamu dan Marco menikmati malam panjang di hotel? Kamu yakin laki-laki itu Marco? Wah, berapa ronde kalian habiskan malam itu?


Ucapan Icha pada isi pesan itu benar-benar membuat Valencia gusar. Ia dilema karena terpengaruh dengan ucapan itu.


"Malam itu memang Marco yang bersamaku bukan laki-laki lain. Aku tidak mungkin salah orang." Gumamnya meyakinkan diri sendiri. "Aku berharap aku bisa hamil anak Marco, supaya itu bisa menjadi senjata aku untuk melawannya." Harap Valencia. "hmmm.... kau boleh bersenang-senang dulu, perempuan j*l*ng. Kita liat saja nanti. Jika aku hamil, maka kau akan aku depak dari kehidupan Marco." Ketusnya dengan geram. Ia kembali melihat semua foto yang ia kirimkan pada Icha malam itu, mencoba untuk melihat dengan sesama laki-laki dii sampingnya. Ia mulai memgerutkan kening antara percaya tak percaya.


"Ini Marco. Aku yakin. Malam itu Marco benar-benar perkasa menggagahiku." Gumamnya percaya diri. Ia tersenyum sinis. "Tunggu saja tanggal mainnya. Aku yakin aku akan hamil karena malam itu Marco benar-benar tak membuang kesempatan. Berulang kali ia menumpahkan s*e*ma ke dalam rahimku." Selorohnya mengingat kejadian panas malam itu. Ia tersenyum penuh kemenangan dan sangat yakin bahwa tidak lama lagi ia akan kembali mendapatkan Marco.


Memang Marco kembali ke Jakarta tanpa memberitahu Valencia, tapi ia yakin itu karena Marco malu bertemu dengannya atau laki-laki idamannya itu memang harus kembali karena kesibukannya. Dan akhirnya Valencia tertidur dengan khayalan akan Marco.


Esok pagi, Valencia bangun lebih awal dan segera bersiap. Ia harus bertemu Denta untuk menanyakan soal Marco, karena selama Marco di Malaysia, Dentalah orang yang selalu menemani Marco, selain Rano.


"Pagi, ibu direktur..." Banyak karyawan yang menyapa Valencia dengan menunduk hormat, namun mantan model itu tetap memasak wajah angkuh dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.


"Denta... Cepat ke ruanganku sekarang." Sesampai di dalam ruangan kerjanya, Valencia mengangkat intercom dan menghubungi nomor ruangan sekretaris. Tak sampai lima menit, Denta mengetuk pintu dan masuk menghadap bosnya.


"Pagi, nona... ini jadwal anda hari ini." Denta segera menyerahkan jadwal direktur yang disimpan dalam tab.


"Aku tidak butuh jadwal itu." Ketus Valencia. "Di mana Marco?" Sambungnya angkuh. "Selama di sini, dia selalu bersama kamu dan sopir yang nggak tau diri itu." Ia melipat tangan di dada dan berkata dengan nada kesal.


Denta mengangkat alis terkejut mendengar omelan Valencia yang tanpa sebab.


"Jawab! Kenapa malah bengong kayak orang bego gitu?" Hardik Valencia kesal.


"Tuan sudah kembali ke Jakarta, nona. Banyak pekerjaan yang menanti tuan di sana." Sahut Denta dengan nada pelan.


"Memangnya kamu kenal dekat sama Marco? Sampai-sampai kamu tau kalo dia banyak pekerjaan di sana." Timpal Valencia tak terima dengan jawaban Denta.


"Maaf, nona... tuan yang memberi tau saya begitu." Masih dengan suara pelan Denta menjawab.


"Ada pesan apa untukku?" Tanya Valencia percaya diri.


"Tidak ada, nona." Sahut Denta singkat.


"Sibuk apa sih sampai nggak bisa menemuiku." Lirihnya pelan. "Apa ia lupa kenikmatan malam itu?"

__ADS_1


Tanpa Valencia sadari Denta mendengar ucapannya. Laki-laki berparas tampan itu tersenyum sinis tapi tak terlihat.


"Ya sudah... kamu boleh pergi."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bagaimana dengan pergantian nama ValCare?" Marco yang sedang sibuk menandatangi beberapa dokumen bertanya pada asisten andalannya. Siapa lagi kalau bukan Raymond.


"Besok Denta dan Rano akan mengumumkan nama baru pengganti ValCare melalui pers conference, tuan. Perubahan juga sudah dibuat dalam akta notaris. Semua pemegang saham sudah menyetujui. Tinggal membuat pengumumannya saja." Jawab Raymond lancar. "Dan yang pasti Valencia belum mengetahuinya, tuan. Denta melakukan semua sesuai perintah anda. Dan untungnya, semua pemegang saham percaya pada Denta. Mereka juga sudah tidak nyaman bekerja sama dengan ValCare karena buruknya manajemen." Jelas Denta panjang lebar. Marco mengangguk paham.


"Dia belum perlu mengetahui tentang kejatuhannya. Karena aku ingin melihat ia jatuh dalam sekejap sampai ia lupa cara untuk bangun kembali." Ujar Marco penuh dendam. "Hampir saja ia membuat hubungan aku dan Marissa hancur berantakan." Geramnya lagi. "Kau tau, Ray... Ia mengirim foto pada Marissa. Untungnya, saat itu Rocky yang sudah berada di sampingnya, bukan aku. Kau bisa bayangkan kalau kalian belum menjemputku, dan aku yang ada di foto itu? Aku tidak bisa membayangkan perasaan Marissa akan sakit seperti apa." Lirihnya marah.


"Jadi, nona sudah tau kejadian itu??" Tanya Raymond kaget. Marco mengangguk mengiyakan pertanyaan Raymond.


"Iya, Marissa sudah tau." Marco menyandarkan kepala pada sandaran kursi. "Aku bersyukur, Marissa bukan tipe istri yang langsung percaya begitu saja pada apa yang ia dengar. Dan ia menyakini kalau Rocky di foto itu bukan aku." Ujarnya tersenyum bangga mengingat tanggapan Marissa pada foto itu. Raymond pun ikut tersenyum senang. "Karena itu, aku ingin sekali melihat reaksi Valencia besok setelah ia mendengar pengumuman tentang ValCare yang dibangga-banggakan itu." Tandas Marco penuh penekanan.


"Ya, tuan... saya juga jadi tidak sabar melihat reaksinya. Saya tidak menyangka jika ia berani mengirim foto pada nona. Itu artinya memang dia mempunyai rencana jahat untuk merusak hubungan anda dan nona." Timpal Raymond ikutan geram. "Saya yakin dia juga akan bertambah shock lagi setelah mengetahui jika Denta yang akan menggantikan posisinya. Karena selama ini dia selalu menjadikan Denta hanya sebagai mesin kerjanya tanpa menghargai keringat Denta. ValCare menjadi nama yang besar karena kerja keras Denta." Terang Raymond. "Tuan Christo yang menemukan bakat dan kinerja Denta hingga membawanya masuk dalam ValCare." Lanjut Raymond. "Namun, Valencia hanya menganggapnya sebagai anak panti asuhan yang dipungut oleh ayahnya." Nada bicara Raymond semakin terdengar emosi.


"Bagaimana kau bisa mengenal Denta?" Tanya Marco penasaran mendengar cerita Raymond.


"Dari Rano, tuan. Mereka berteman dari masa sekolah dulu. Rano yang mengenalkan kami." Sahut Raymond cepat. "Anda tidak perlu kuatir akan kinerja dan tanggung jawab seorang Denta, tuan. Dia pantas memimpin ValCare." Ujar Raymond meyakinkan Marco.


"Belum saatnya, tuan... Besok moment yang paling tepat untuk menyebut nama baru perusahaan kosmetik itu." Sahut Raymond mengajak Marco bercanda. Marco hanya mendelik kesal mendengar ucapan Raymond.


"Baiklah... aku ingin pulang makan siang bersama istriku. Jam dua aku sudah akan berada di kantor lagi." Marco bangun dari kursi kebesarannya dan mengambil jas lalu mengenakannya. "Kau pergilah makan siang dengan Wulan. Ingat, setelah selesai urusan perusahaan di Malaysia, bersiap-siaplah untuk melamar Wulan." Setelah memberi ultumatum pada Raymond, Marco keluar dari ruangannya meninggalkan Raymond yang masih berdiri mematung mencerna ucapan Marco.


"Melamar?" Matanya melebar saat mulai memahami perkataan Marco. "Ya ampun, tuan... aku pikir kau sudah melupakan masalah ini." Desisnya sendiri sambil menepuk jidat.


Sampai di mansion, Marco masuk ke dalam dan langsung menuju ke kamar.


"Sayaaang..." Teriak Marco mencari istrinya dalam kamar. Tak ada sahutan. "Ck... dimana sih dia?" Ia kembali turun ke bawah dan menuju dapur.


"Mana Marissa?" Tanya Marco pada Rossa yang sedang menyiapkan makan siang.


"Ada si kebun bunga, tuan... Baru saja nona ke sana setelah selesai memasak." Jawab Rossa sopan.


"Kalian masih membiarkan Marissa memasak?" Sergah Marco kesal. Rossa tak menjawab, hanya menunduk takut.


"Marissa sendiri yang mau memasak, Marco. Jangan salahkan mereka. Lagian tidak salah juga kan istrimu memasak?" Bukan Rossa yang menjawab namun suara kakek yang terdengar. "Ayo, panggilkan Marissa. Kita makan siang bersama." Perintah kakek. Marco tak menyahut. Ia langsung melangkah menuju kebun bunga mencari istrinya.


Dari jauh ia sudah bisa melihat Marissa sedang membersihkan bunga-bunga dari daun yang sudah kering.

__ADS_1


Hup!


Marco memeluk Icha dari belakang. Sesaat Icha terkejut, tak lama ia menyadari jika pasti Marco sedang berada di belakangnya


"Kok pulang?" Tanya Icha heran. Ia berbalik melihat Marco.


"Pengen makan siang di rumah sama kamu." Jawab Marco. Ia segera menunduk untuk menegur anak dalam kandungan.


"Hei, anak papa... lagi apa?" Tanya Marco. "Udah makan belum?" Lanjutnya lucu. "Makan yang banyak supaya bisa main sepak bola sama papa, ya." Celetuk Marco asal. Icha tertawa melihat tingkah Marco.


"Kalau aku cewek... gimana dong, pa?" Icha bertanya dengan suara dibuat seperti seorang anak kecil.


"Kalau cewek???" Ulang Marco. "emmmm... apa, ya?" Marco sengaja memikirkan sesuatu. "Oh, papa tau... kalo cewek kita main bulu tangkis aja deh. Biar hebat kayak Susi Susanti." Tukas Marco membuat Icha makin terbahak.


"Udah ah... kamu tuh aneh-aneh aja." Mereka tertawa bahagia bersama.


"Ayo, ke dalam... kakek memanggil untuk makan siang bersama." Marco menggandeng tangan Icha dan mengajaknya masuk. Icha berjalan pelan sambil memegang pinggang belakangnya.


"Kenapa?" Tanya Marco kuatir. Mereka terus berjalan masuk.


"Nggak apa-apa. Dedek bayinya udah makin gede, jadi kadang pinggang suka sakit kalo terlalu lama berdiri atau pun duduk." Sahut Icha pelan. Marco menjadi kasihan melihat istrinya seperti keberatan dengan perutnya yang sudah membesar. Ia tetap berjalan pelan mengikuti langkah kaki Icha.


"Nona... pinggangnya sakit?" Tanya Hartini ketika melihat raut wajah Icha yang meringis kesakitan. Icha hanya mengangguk lemah. "Ya, udah... nona makan dulu. Abis makan bibi pijit pijit pelan belakang nona, biar enak." Ucap Hartini tulus.


Mereka pun makan bersama. Ada kakek, Marco, Icha dan pastinya Berry di samping kakek.


"Gimana ValCare, Marco?" Tanya kakek.


"Besok nama perusahaan itu sudah diganti, kek. Sekalian pergantian pimpinan juga." Sahut Marco santai. Icha sedikit kaget mendengar ucapan Marco.


"Valencia gimana?" Tanya kakek penasaran dengan nasib wanita itu.


"Nggak gimana-gimana, kek. Dia harus terima keputusan RUPS." Jawab Marco lagi. "Lagian semua pemegang saham sudah tidak mau bekerja sama dengan ValCare lagi karena menejemen yang buruk." Terang Marco. Ia meneguk air putih hingga tak tersisa. "Mau tidak mau ia harus menerima keputusan RUPS." Imbuh Marco.


"Yaaaa... dia baru mulai terjun di dunia bisnis, makanya dia tidak paham soal manajemen perusahaan. Seharusnya Christo bisa lebih keras lagi mengajarinya soal itu." Tutur kakek. Ada rasa iba juga pada wanita itu.


"Bukan soal baru atau belum diajari tuan Christo, kek. Valencia memang susah diajak kerjasama. Ia tidak pernah menghargai pendapat atau masukan dari orang lain. Apalagi bawahannya." Ujar Marco membeberkan sifat Valencia.


Berry dan Icha hanya mendengar dan mengamati dua laki-laki beda generasi itu berbicara soal perusahaan. Sekali-kali Berry menimpali dengan memberi pendapat. Berbeda dengan Icha. Ia sementara membayangkan nasib Valencia yang akan didepak dari ValCare.


Kasian juga dia. Tapi, memang dia harus diberi pelajaran. Jika tidak, ia semakin melonjak tidak tau diri.

__ADS_1


__ADS_2