
Seminggu setelah Rossa meminta ijin pulang kampung, saatnya akad nikah dilaksanakan. Icha, Marco, baby Leon dan kakek pun tak mau ketinggalan ikut ke Sidoarjo, kota asal Rossa. Berry dan Raymond jangan ditanya apakah mereka juga ikut serta, karena pasti jawabannya ya, mereka harus mengikuti kemana pun tuan mereka pergi.
Keluarga terpandang itu akan menjadi saksi awal mula rumah tangga Rossa yang notabene adalah asisten rumah tangga mereka mulai dibentuk. Ia dilamar Haris, pemuda tampan di kampungnya yang sudah menyimpan rasa pada Rossa dari jaman mereka sama-sama masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.
Kehadiran majikan Rossa membuat sedikit heboh suasana di tempat pesta. Bagaimana tidak? Baru pernah terjadi di kampung ini pesta nikah dengan dekorasi mewah nan elegan dan make up artist terkenal yang didatangkan langsung dari ibu kota. Belum lagi makanan yang disiapkan juga sangat berbeda dengan makanan pesta seperti biasa.
Warga sekitar juga sudah mengetahui jika semua itu pasti difasilitasi oleh majikan Rossa. Semua mengetahui betapa beruntungnya Rossa mendapat majikan yang super kaya namun sifat rendah hati dan sederhana yang selalu mereka tunjukkan. Jika tidak, mana mungkin majikan Rossa mau membantu keluarga di kampung untuk menyiapkan pesta nikah yang memakan banyak biaya seperti ini.
Saat ini Kakek, Marco, Berry dan Raymond sudah duduk di dalam tenda tempat akad akan dilaksanakan. Sedangkan Icha sudah tak tahan mendengar rengekan putranya yang memaksa untuk bertemu Rossa. Melihat baby Leon tiba-tiba muncul di balik pintu kamarnya, Rossa langsung berlari dan memeluk Leon dengan perasaan rindu.
"L datang juga? Bibi kangen." Lirih Rossa memeluk erat baby Leon yang ia sapa L.
"L juga kangen bibi." Ucap Leon senang. "Bibi cantik." Leon mengelus pipi Rossa yang sudah didandan cantik. "Bibi tidak pulang ke rumah L lagi?" Tanya L dengan wajah sendu. Airmata Rossa tak bisa dibendung lagi. Entah kenapa perasaannya pada batita ini sangat dalam. Ia menyayangi Leon seperti sayang pada anak sendiri.
"Emang L tidak mau bibi kembali ke mansion?" Wanita muda itu bertanya balik. Leon menggeleng kuat dan memeluk leher Rossa dengan erat.
"L mau bibi kembali ke rumah L." Ia mulai terisak sedih. Icha yang melihat percakapan bayi dan pengasuhnya itu tersenyum haru.
"Bibi pasti kembali ke rumah L kok." Tutur Icha menenangkan Leon yang terang saja langsung membuat Leon tertawa riang.
"Horeeeee... bibi Osa kembali ke rumah L." Teriak bocah imut itu sambil mengangkat kedua tangannya. Rossa dan Icha tertawa bahagia melihat tingkah Leon.
"Ya udah... Leon turun, yuk. Kita ke papa di depan. Bibi Osa harus didandan lagi biar makin cantik." Bujuk Icha lembut pada anaknya.
"Tidak mau, mama... Leon mau di sini aja sama bibi." Rengek Leon sambil memeluk erat leher pengasuhnya.
"Tidak boleh, sayang.... Bibi harus bersiap..." bujuk Icha lagi.
"Tidak apa-apa, nyonya... Leon sama saya saja di sini." Bela Rossa. Ia menatap wajah Leon dan menghapus airmatanya. "Nanti Leon yang dampingi bibi ke tempat akad nikah, ya?" Tanya Rossa meminta kesediaan anak asuhnya itu. Tentu saja Leon memyambutnya dengan girang.
"Ya udah... aku ke depan ya, Ros." Pamit Icha dan segera keluar dari kamar Rossa. Ia membiarkan Leon tetap di kamar bersama pengasuhnya, karena percuma jika ia memaksa Leon untuk keluar. Apalagi sudah beberapa hari ini anak itu selalu merengek meminta bertemu Rossa.
"Leon mana, sayang?" Bisik Marco pada Icha saat sudah duduk di sampingnya.
"Masih temu kangen sama Rossa." Balas Icha dengan berbisik. Marco tersenyum lucu sambil menggeleng kepala.
"Dasar anak kamu itu." Canda Marco. Icha langsung mendelik ke arahnya.
"Anak kamu juga." Cetus Icha pura-pura kesal. "Lihat aja tingkahnya... semua persis kamu." Lanjutnya berbisik. Marco tertawa dan menggenggam tangan Icha.
__ADS_1
"Nanti kita buat adik untuk Leon di hotel, ya... siapa tau langsung jadi kalo kita cetaknya di sini." Bisik Marco menggoda istrinya. Spontan Icha melebarkan mata dan mendelik kesal pada Marco. Dicubitnya paha Marco sedikit keras.
"Awwww....sakit, sayang. Kok aku dicubit sih?" Keluh Marco merasa sakit sambil mengelus paha tempat dimana ia merasa sakit dicubit.
"Makanya jangan ngeres..." Ketus Icha melipatkan kedua tangan ke dada.
"Kok ngeres? Aku ngomong sama istri aku lho, yang. Bukan sama perempuan lain." Protes Marco berbisik. "Atau kamu mau... aku sama perempuan la..... aaaawww." Belum selesai bicara, sudah terdengar teriakan kecil Marco yang kesakitan.
"Kenapa, Marco?" Tanya kakek yang ternyata mendengar teriakan Marco tetapi langsung tertawa ketika melihat wajah kesal Icha. "Kenapa, nak?" Tanya kakek mengarah pada Icha.
"Cucu kakek ini... nyebelin." Jawab Icha cepat.
"Kamu ini... sudah punya anak juga masih aja kayak anak kecil." Omel kakek pada Marco.
"Ck... cucu mantu kakek aja yang cemburu." Sanggah Marco membela diri.
"Alaaah... kayak kamu tidak cemburuan saja." Ledek kakek membuat Marco tertawa.
Tak lama terdengar suara master of ceremony yang sudah memulai acara menuju akad nikah.
"Bapa, ibu, tamu undangan yang dimuliakan Allah... kita akan menyambut calon pengantin perempuan yang akan duduk di samping calon pengantin laki-laki. Untuk itu, para saksi boleh mengambil tempat di samping kiri kanan tempat akad." Suara bulat seorang master of ceremony mulai terdengar menggema. Mr. LG alias kakek dan Marco kompak berdiri bersama dan duduk di kursi yang disiapkan bagi mereka. Suara bisikan semua tamu undangan terdengar sedikit ribut. Banyak yang tak percaya seorang pengusaha kaya dan memiliki nama tersohor seperti Mr. LG mau duduk sebagai saksi bagi Rossa yang hanyalah seorang pembantu di keluarga Guatalla. Banyak yang memuji keberuntungan Rossa namun tak sedikit juga yang mencibir karena iri padanya.
Icha hanya menggeleng gemas melihat tingkah Leon yang memakai jas hitam dan dasi kupu-kupu warna senada. Wajah tampannya sudah berhasil membuat para tamu undangan terpesona.
"Apakah itu anak tuan Marco?"
"Waaah.... tampannya."
"Ya ampuuuun... menggemaskan sekali."
"Oh Tuhan.... calon pengeran masa depan."
Masih banyak lagi kalimat pujian terlontar dari mulut para tamu untuk Leon. Apalagi bocah kecil itu tak terlihat gugup sama sekali menambah rasa kagum banyak orang.
Semua persiapan sudah 100 persen. Marco dan kakeknya sudah duduk di tempat para saksi. Ayah kandung Rossa pun sudah menggenggam tangan calon menantunya. Dengan lantang ia menikahkan anak perempuan satu-satunya pada Ridho, lelaki yang dengan berani datang menghadap orangtua Rossa dan meminta dengan sopan agar Rossa menjadi istrinya.
"Sah?" Tanya pak penghulu sehabis Ridho mengucapkan janji nikah.
"Saaaaaaaah...." Riuh suara tepuk tangan menyambut pengantin baru yang sudah resmi menjadi sepasang suami istri.
__ADS_1
"Selamat, ya." Icha menjadi orang pertama yang memeluk dan mengucapkan selamat pada Rossa.
"Makasih, nyonya...." Tak terbendung lagi air mata Rossa. Ia membalas pelukan Icha sebagai tanda terimakasih pada majikannya itu. Kerendahan hati Icha benar-benar membuat Rossa merasa menjadi orang yang paling beruntung di kampung ini.
"Bibi... kita pulang ke rumah L, yuk." Tiba-tiba Leon menarik rok batik Rossa yang masih memeluk Ibunya. Spontan saja Icha dan Rossa tertawa lucu.
"Bibi belum boleh pulang, sayang... Nanti beberapa hari lagi baru bibi kembali ke rumah L." Terang Icha. Leon langsung memasang muka masamnya.
Rossa mulai sibuk menerima salam dari banyak tamu. Kakek, Marco, Icha dan Leon pun tak luput dari salam banyak orang. Dengan senyum ramah, Icha membalas semua jabatan tangan para tamu undangan. Wajah manis terpancar ketulusan dan kerendahan hati sangat terlihat di sana.
"Nah... sekarang kita istrahat dulu. Kumpul tenaga untuk resepsi sore nanti." Ujar kakek sambil membuka jas mahalnya. Banyak tamu yang sudah mulai meninggalkan ruangan akad nikah.
"Tuan, makanan sudah disiapkan. Mari kita makan dulu." Ayah Rossa, bapa Denda Rinjaya, membungkuk hormat mempersilahkan kakek dan yang lain menikmati makan siang.
"Iya... iya... kita makan dulu." Sahut kakek lalu merangkul pak Denda yang nampak sangat segan berhadapan dengan beliau. Namun, sikap hangat yang ditunjukkan keluarga kaya itu membuat pak Denda tak kuasa menahan airmata. Ia tak menyangka seorang Mr. LG yang sangat dikenal dengan sebutan raja bisnis memiliki sifat yang jauh berbeda dari cerita-cerita yang didengar selama ini.
"Tuan... kami tidak bisa membalas kebaikan tuan dan keluarga besar Guatalla. Tidak ada yang bisa kami berikan, tuan... selain mengucapkan terimakasih banyak." Pak Denda mengatupkan dua tangannya dan membungkuk hormat pada pria tua itu. Dengan cepat kakek memegang kedua pundak pak Denda dan menyuruhnya untuk tegak berdiri.
"Saya juga manusia yang memiliki hati, bukan hanya memiliki harta. Rossa sudah bekerja dan banyak membantu keluarga saya, jadi patutlah saya ikut berpartisipasi dalam acara bahagianya. Siapapun yang tinggal dan mrmbantu saya, pasti akan masuk dalam daftar keluarga saya, tanpa peduli status sosial atau dari mana orang itu berasal." Beber kakek panjang lebar. "Karena itu jangan terlalu merasa sungkan. Justru saya yang berterimakasih karena pak Denda mau menijinkan anak perempuan satu-satunya kerja membantu saya." Sambung kakek.
Ibu Maya dan Pak Denda, orangtua kandung Rossa menangis terharu mendengar penuturan kakek, majikan putri mereka.
"Oh iya... saya juga mau sekalian meminta ijin pada kalian untuk membawa Rossa dan Haris ke Jakarta. Mereka akan tetap pada saya. Haris boleh menjadi sopir pribadi untuk cucu saya." Ujar kakek. "Leon sudah sangat dekat pada Rossa. Lihat saja mereka." Semua mata tertuju pada Leon yang asyik duduk di pangkuan Rossa dan menerima suapan dari pengasuh kesayangannya itu. Kedua orangtua Rossa dan Haris tersenyum senang melihat keakraban tuan muda dan pengasuhnya itu.
"Kami serahkan semua pada Haris dan Rossa, tuan. Mereka yang sudah harus mengambil keputusan untuk masa depan mereka." Sahut Pak Denda.
"Gimana Haris?" Kakek bertanya pada suami Rossa. Dengan gugup Haris mengangguk setuju akan permintaan kakek.
"Dengan senang hati, tuan. Saya mau bekerja pada anda." Jawab Haris pelan.
Semua tersenyum senang. Icha merangkul Rossa karena senang mendengar Rossa dab suaminya akan kembali ke mansion.
"Baiklah.... ayo, makan. Kita harus kembali ke hotel untuk istirahat. Pengantin baru juga harus istrahat, mengumpulkan tenaga untuk resepsi sebentar." Celetuk kakek. Mereka pun menikmati makanan yang langsung diolah chef profesional yang dibayar mahal oleh Marco.
"Aku tidak yakin mereka akan istirahat, tuan." Tiba-tiba Raymond berceletuk membuat semua melihat ke arahnya.
"Kenapa?" Tanya kakek heran. Marco sudah langsung tersenyum seakan tahu apa maksud Raymond.
"Mau buka segel, tuan." Sahut Raymond sedikit berbisik tetapi masih bisa didengar semua yang sedang menikmati makan siang di meja bundar itu.
__ADS_1
"Hahahahahahaha...." Semua menyambut dengan tawa Riang. Sedangkan wajah Rossa sudah memerah seperti kepiting rebus.